Indonesia
NovelToon NovelToon
SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:21.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.

Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."

Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.

Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Bukan Lagi Perempuan yang Sama

Aksa menggeleng tanpa ragu. "Gak perlu, Ma. Aku gak mau ketemu dia."

"Tapi, Sa..." Asti mencoba membujuk. "Bagaimanapun juga dia istrimu."

"Untuk sementara," potong Aksa dingin. "Setahun lagi kami cerai."

Asti menghela napas. "Mama cuma minta kamu bertemu dengannya. Gak ada salahnya mengenal istrimu sendiri sedikit lebih jauh."

"Aku gak tertarik." Aksa kembali melangkah.

"Sa, setidaknya—"

"Mama gak perlu khawatir." Aksa berhenti sejenak tanpa menoleh. "Aku gak akan mengubah keputusan. Pernikahan ini tetap berakhir setelah satu tahun."

Setelah mengatakan itu, Aksa melanjutkan langkahnya dan meninggalkan ruang keluarga.

Asti hanya bisa memandang punggung putranya yang semakin menjauh.

Ia menghela napas panjang. "Kalau saja kamu tahu seperti apa Nara sebenarnya, Sa..."

***

Pagi harinya, Aynara dan Riva sudah duduk berhadapan di meja makan. Di atas meja hanya ada dua piring berisi roti bakar dan segelas minuman hangat.

Malam sebelumnya, mereka sempat berbelanja kebutuhan sehari-hari di minimarket. Berkat belanjaan itu, pagi ini mereka tidak perlu repot mencari sarapan.

Riva menggigit roti bakarnya sambil memandangi sekeliling apartemen. "Ra, aku masih gak percaya bisa tinggal di tempat semewah ini."

Aynara hanya tersenyum sambil mengambil roti.

"Rasanya kayak mimpi." Riva mengedarkan pandangan dengan mata berbinar. "Kalau ini benar-benar mimpi, jangan bangunin aku."

"Udah, makan." Aynara melirik jam tangannya. "Aku gak mau terlambat interview."

"Aku juga gak mau telat masuk kantor," balas Riva.

"Ya sudah, cepetan," kata Aynara, lalu menggigit rotinya.

Riva buru-buru menghabiskan roti di tangannya. Namun baru beberapa detik kemudian, ia seperti teringat sesuatu.

"Tapi kamu belum cerita soal suamimu, Ra."

Kunyahan Aynara terhenti.

"Sejak kemarin yang kamu ceritain cuma ibu peri kamu."

"Ibu mertua," koreksi Aynara.

"Ya, itu." Riva mengangguk. "Tapi suamimu gimana? Dia juga tinggal di sini sama kamu?"

Ekspresi Aynara perlahan berubah. Senyum di wajahnya menghilang. "Ada beberapa hal yang gak bisa aku ceritain ke kamu."

Riva yang menangkap perubahan itu langsung mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh. "Oke. Kalau belum mau cerita, gak apa-apa."

Aynara menatap sahabatnya sejenak lalu tersenyum tipis. "Aku sudah selesai sarapan. Yuk, berangkat."

"Siap, Bos!"

 

Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Aynara melaju menuju Aksara Group.

Sesekali Aynara melirik jam di dashboard. Ia masih merasa sedikit heran. Baru kemarin menyerahkan lamaran, tetapi hari ini sudah mendapat panggilan interview.

"Riv."

Riva menoleh. "Hm?"

"Memangnya proses rekrutmen di Aksara Group secepat ini?"

Riva yang duduk di kursi penumpang mengangguk santai. "Memang biasanya begitu kalau mereka sedang buka lowongan. HRD langsung menyaring CV yang dianggap memenuhi kualifikasi, kemudian kandidat yang lolos seleksi awal dipanggil secepatnya."

"Kenapa harus buru-buru?"

"Ya biar lamaran gak numpuk." Riva mengangkat bahu. "Kalau kandidat yang cocok sudah ditemukan, buat apa HRD menunggu sampai berbulan-bulan?"

Aynara mengangguk. Penjelasan itu cukup masuk akal.

Beberapa menit kemudian, mobil memasuki area parkir gedung Aksara Group.

Begitu kendaraan berhenti, Riva langsung turun dan berjalan dengan gaya berlebihan seolah-olah baru saja turun dari mobil seorang direktur.

Aynara hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya. "Dasar."

Riva menoleh. "Apa? Aku harus menjaga wibawa sebagai staf penting."

"Resepsionis." Aynara mengingatkan.

"Jangan menghina profesiku." Riva memasang wajah tersinggung. "Aku kenal hampir semua pejabat tinggi di kantor. Aku tahu siapa yang datang, siapa yang pergi, siapa yang janjian dengan siapa. Pengalaman bertahun-tahun, Nona."

Aynara tertawa kecil. "Kenapa jawaban kamu template banget? Bener-bener resepsionis."

Mereka kemudian berjalan menuju gedung utama.

Sesampainya di lobby, Riva langsung menuju meja resepsionis, sedangkan Aynara menuju area interview. Namun baru beberapa langkah, Aynara melihat seseorang yang tidak asing baginya.

Langlang.

Pria itu juga baru tiba dan tampaknya sedang menunggu giliran untuk mengikuti proses rekrutmen.

Mata Langlang langsung tertuju pada Aynara. Ia hampir tidak mengenali perempuan yang berdiri beberapa meter di depannya.

Pakaian sederhana yang dikenakan Aynara tampak jauh berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Rambutnya tertata rapi, wajahnya tanpa riasan berlebihan, tetapi justru membuat kecantikannya terlihat semakin jelas.

"Nara..."

Langlang hendak melangkah mendekat.

Aynara yang menyadarinya hanya mengangguk kecil sebagai sapaan.

"Kamu juga mau interview?" tanya Langlang.

"Iya," jawab Aynara singkat.

Langlang tersenyum. "Kalau begitu kita bisa—"

"Maaf, Lang." Aynara memotong dengan sopan. Ia melirik jam tangannya. "Aku harus fokus. Aku gak mau terlambat interview."

Langkah Langlang terhenti.

Aynara tidak memberinya kesempatan untuk melanjutkan percakapan. Ia segera mengalihkan pandangan dan berjalan menuju ruang interview.

Langlang hanya bisa memandangi punggungnya. "Dia benar-benar berubah."

Dulu Aynara selalu menyambutnya dengan senyum dan antusiasme. Sekarang, perempuan itu bahkan terlihat berusaha menjaga jarak darinya.

Langlang mengernyit. "Apa yang terjadi sama Nara?"

***

Aynara mengetuk pintu sebelum masuk ke ruang interview.

"Silakan duduk, Nona Aynara," ujar seorang pria dari balik meja.

"Terima kasih, Pak."

HRD itu membuka berkas lamaran Aynara. Matanya sekilas membaca riwayat pendidikannya.

"Lulusan S2 Manajemen Bisnis?"

"Iya, Pak."

"Nilai akademiknya juga sangat baik."

Aynara hanya tersenyum sopan.

"Anda melamar untuk posisi sekretaris?"

"Benar, Pak. Saya merasa kemampuan yang saya miliki cukup sesuai dengan posisi tersebut."

HRD itu mengangguk. Beberapa pertanyaan kemudian ia ajukan, mulai dari pengalaman organisasi, kemampuan mengoperasikan perangkat kerja, hingga kemampuan berkomunikasi dan mengatur jadwal.

Aynara menjawab semuanya dengan tenang dan percaya diri.

Setelah beberapa menit, HRD menutup berkas di hadapannya.

"Baik. Dari hasil wawancara dan kualifikasi yang Anda miliki, kami rasa Anda cocok untuk posisi ini."

Aynara sedikit terkejut. "Jadi saya diterima, Pak?"

"Anda lolos untuk posisi sekretaris," ujar HRD setelah menutup berkas lamaran Aynara. "Kalau Anda bersedia, Anda bisa mulai bekerja besok."

Mata Aynara langsung berbinar. "Besok, Pak?"

"Benar. Saat ini kami sedang membutuhkan tambahan tenaga untuk bagian sekretaris manajemen."

Aynara mengangguk cepat. "Saya bersedia, Pak."

"Baik. Setelah ini silakan menuju bagian administrasi HR untuk menyelesaikan proses penandatanganan kontrak. Di dalam kontrak sudah tercantum posisi, penempatan, serta ketentuan kerja Anda."

"Baik, Pak. Terima kasih."

"Selamat bergabung di Aksara Group."

"Terima kasih, Pak."

Aynara berdiri lalu membungkukkan kepala dengan sopan sebelum meninggalkan ruangan.

Begitu pintu tertutup, HRD kembali melihat CV yang tadi dibacanya.

"Latar belakang pendidikan bagus, kemampuan sesuai, dan cara berkomunikasinya juga baik."

Ia mengangguk puas. "Sepertinya kami gak salah memilih."

***

Setelah selesai menjalani interview, Aynara langsung menuju bagian administrasi HR untuk menyelesaikan proses penandatanganan kontrak.

Di lorong, Langlang yang baru keluar dari ruang tunggu melihat Aynara berjalan dengan wajah berbinar. Ia hendak memanggilnya.

"Nara—"

Namun sebelum sempat melanjutkan, namanya justru dipanggil oleh petugas HR untuk masuk ke ruang interview.

Langlang terpaksa mengurungkan niatnya.

 

Beberapa menit kemudian, setelah menyelesaikan seluruh proses administrasi, Aynara meninggalkan ruangan HR. Ia berjalan menyusuri lorong sambil memeriksa ponselnya, lalu berbelok menuju lift.

Ting.

Pintu lift terbuka. Aynara melangkah mendekat. Namun baru satu langkah, gerakannya terhenti. Matanya perlahan melebar.

Wajahnya seketika membeku saat melihat siapa yang berdiri di dalam lift.

 

...🔸🔸🔸...

...“Jangan biarkan penghinaan seseorang menentukan seberapa berharga dirimu. Terkadang, saat seseorang meremehkan kita, hidup justru sedang memberi kesempatan untuk membuktikan bahwa kita mampu berdiri lebih tinggi tanpa harus menjatuhkan siapa pun.”...

...“Kehilangan seseorang bukan berarti kehilangan masa depan. Ada kalanya Tuhan menjauhkan kita dari sesuatu yang kita kira kebahagiaan, agar kita memiliki ruang untuk menemukan diri sendiri dan memulai kehidupan yang jauh lebih baik.”...

...“Bantuan dari orang lain bukanlah tanda bahwa kita lemah. Yang membuat seseorang kuat adalah ketika ia tetap berusaha berdiri dengan kakinya sendiri, meski ada tangan yang bersedia membantunya.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
asih
kamu bakalan mulai pusing Nara setiap Hari bakal ketemu ma Mangan dan suami hahaha membuat hidupmu lebih berwarna 😀😀😀 semangat Nara
Sugiharti Rusli
apa kali ini Nara bisa mengjindari dari si Aksa saat dia mulai bekerja di bagian manajemen🤔🤔🤔
Sugiharti Rusli
bisa saja dia akan memanfaàtkan posisi Nara kelak yah,,,
Sugiharti Rusli
dan yah si Langlang memang harus menjaga batasannya ssndiri, apalagi setelah Nara tahu pribadi Langlang aslinya
Sugiharti Rusli
karena mau bagaimanapun kehidupan pernikahan Nara dan suaminya sekarang dan ga ada yang tahu, tapi statusnya sekarang seorang istri orang,,,
Sugiharti Rusli
tapi kata" Riva memang benar" menohok sih yah kepada si Langlang tentang mantannya itu,,,
Sugiharti Rusli
oh si Langlang rupanya yang bertemu mereka di meja reswpsionis
Kadek Sri
yang semangat kerjanya ya Aynara, walaupun ketemu Aksa melulu
Hanima
Lanjutt
Cicih Sophiana
Riva emang sahabat setia... setia ngabisin makanan... setia numpang tidur dan setia numpang ke kantor tdk bayar...🫢😂😂😂😂
abimasta
berani melangkah untuk merubah hidup
Hanima
👍👍👍
Hanima
👍👍
Anitha
Aksa kah...?
yang berbicara depan Resepsionis dengan Karyawan?
Sugiharti Rusli
apa laki" itu si Aksa yah, dia mau cari tahu tentang identitas Nara, yang padahal bini nya sendiri😅😅😅
Sugiharti Rusli
kalo dia ga boros,nuang buat bayar kontrakan dan transport bisa dia tabung kan, apalagi dia makan juga gratis pas malam,,,
Sugiharti Rusli
dan Riva juga tipikal teman yang tahu diri lha, sudah dikasih tumpangan gratis, dia juga ikutan sedikit beberes lha di sana yekan🤪🤪🤪
Siti Jumiati
lanjuuuut
Sugiharti Rusli
tapi paling tidak kamu juga ga kesepian di apartemen mewah milik ibu mertua kamu itu sih😁😁😁
Sugiharti Rusli
teman modelan Riva terkadang bisa menghibur, tapi terkadang juga bikin pusing sama ocehanya yah Ra🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!