Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.
Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.
Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.
Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA PELARIAN
SEL BLOK_E
Malam telah kembali turun di balik jeruji ADX. Di Sel Block_E, suasananya jauh berbeda dari biasanya.
Tidak ada suara tawa. Tidak ada percakapan keras. Bahkan langkah kaki para napi yang sesekali melewati koridor terdengar seperti suara yang terlalu jauh untuk mengusik kesunyian di dalam sel.
George duduk di ujung ranjang besi.
Kedua tangannya bertumpu di atas lutut, sementara tatapannya kosong mengarah ke lantai.
Di seberangnya, Alex berdiri bersandar pada dinding. Wajahnya terlihat lebih muram dari biasanya. Tatapannya beberapa kali jatuh pada ranjang kosong di sudut sel.
Ranjang milik Aldra...
George menarik napas panjang.
“Siapa yang membunuh nya"
Suara George terdengar rendah, Alex tidak langsung menjawab.
“Aldra punya banyak musuh,” katanya akhirnya.
“Tapi kita tahu siapa yang paling sering berurusan dengannya.”
George mengangkat wajah, namun sekarang wajah itu nampak serius.
“Pria itu.”
Satu kalimat, Namun cukup untuk membuat suasana di dalam sel terasa semakin berat.
Alex mengangguk pelan, Mereka tidak memiliki bukti. Tidak ada saksi yang benar-benar bisa mereka percaya. Namun bagi mereka, ada satu hal yang terasa terlalu mencurigakan untuk diabaikan. Aldra pernah bermasalah dengan pria itu.
George mengepalkan tangannya.
“Kalau dia memang ada hubungannya dengan kematian Aldra…”
Ia berhenti sejenak.
“…Aku sendiri yang akan mencincang-cincang tubuhnya”
Alex menatapnya.
“kau punya rencana?”
Senyum tipis muncul di wajah George.
“Wanita itu”
Ruangan itu kembali sunyi, Alex mulai memahami maksudnya.
“Kau pikir dia akan datang?”
“Dia selalu datang.”
George berdiri dari tempatnya.
“Setiap kali kita berurusan dengan wanita itu, Dia selalu ada... jadi bukan hanya sebuah kebetulan"
Tatapannya berubah tajam.
“Kita hanya perlu membuat Wanita itu berada dalam masalah.”
Alex terdiam beberapa detik, Lalu ia mengangguk.
“Aku akan mempersiapkan beberapa orang untuk membantu kita"
George menatap dalam kearah Alex, sorot matanya penuh kilatan amarah dan dendam. seolah sebelum pria itu mati ia tidak akan pernah bisa tenang. Lalu pria botak itu menatap ranjang kosong milik Aldra untuk terakhir kalinya.
“Lebih banyak, bahkan lebih baik lagi"
"Kita mulai malam ini?" tanya Alex dan hanya di angguki oleh George.
"Biar aku yang mengurus Wanita itu"
Namun mereka tidak menyadari satu hal.
Rencana yang mereka susun malam itu bukan hanya akan membawa mereka semakin dekat pada orang Yang mereka cari. Tetapi juga akan membuka pintu menuju sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
***
MARKAS RAHASIA
Kael berdiri di salah satu sisi meja.
Wajahnya tetap datar seperti biasa, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa malam itu bukan sekadar pertemuan biasa.
Darren berdiri di sebelah kanan, Sedangkan Dante duduk di sebelah Darren. Cowok itu sedang malas berdiri, Namun Kael tidak menghiraukannya. Di atas meja terdapat denah ADX Florence.
Kael menatapnya cukup lama.
“Kita keluar dari sana.”
Suara Kael rendah.
Dante mengangkat alis.
“Pelarian?”
Kael mengangguk.
“Bukan cuma aku.”
Tatapannya berhenti pada satu nama yang tertulis di salah satu berkas.
Alesya.
Ruangan mendadak hening, Darren memahami maksudnya.
“Kalau kita bergerak sembarangan, paman anda akan tahu.”
“Justru itu yang tidak boleh terjadi.”
Kael mengangkat wajah.
“Dia tidak boleh tahu aku masih hidup.”
Dante menyandarkan kedua tangannya pada meja.
“Jadi kita kabur diam-diam?”
“Benar"
Jawaban Kael membuat Dante mangguk-mangguk. Kael mengambil sebuah foto ADX dan meletakkannya di tengah meja.
“Kita buat dia percaya bahwa aku tidak pernah berhasil keluar.”
Darren menatap foto tersebut beberapa detik, Kemudian ia memahami maksud Kael.
“Ilusi kematian.”
Kael tidak menjawab, Namun tatapannya sudah cukup. Dante menghela napas pendek.
“Kalau begitu, kita butuh sesuatu yang cukup besar untuk membuat semua orang percaya.”
Kael menatapnya.
“Ledakan.”
Satu kata itu membuat ruangan kembali sunyi. Kael tidak bermaksud sekadar menghancurkan sebuah bangunan.
Tujuannya jauh lebih besar. Sebuah kekacauan besar akan menjadi tirai. Di tengah kepanikan, evakuasi, asap, dan kerusakan, identitas mereka akan menghilang.
Dan jika semuanya berjalan sesuai rencana, dunia luar akan menerima satu kesimpulan sederhana—
Kael mati di dalam ADX Florence.
Pamannya akan berhenti mencarinya. Musuh-musuhnya akan menurunkan kewaspadaan. Dan orang-orang Kael yang masih tersembunyi di luar akan mendapatkan kesempatan untuk bergerak.
Kemudian Darren menatap Kael dengan serius.
“Bagaimana dengan dia?”
Kael diam.
Beberapa detik berlalu.
“Kita Harus membantai semua napi terlebih dahulu, sebelum membawanya keluar"
Nada suaranya berubah sedikit, Tetap tenang, Tetap dingin. Tetapi kali ini ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya.
Kekhawatiran.
“Kita tidak boleh membuatnya berada di tengah kekacauan.”
Darren mengangguk.
“saya akan mengatur jalurnya.”
Kael hanya mengangguk, Untuk sesaat, ekspresi dinginnya retak, Hanya sepersekian detik. Namun Darren melihatnya, Dante juga.
Kael segera kembali seperti semula.
“Tidak ada yang boleh menyentuh Alesya.”
Darren mengangguk.
“Dimengerti.”
Kael kemudian menunjuk beberapa titik pada denah.
“Setelah kekacauan dimulai, kita berpencar.”
Dante menyeringai tipis.
“Dan setelah itu?”
“Kita menghilang.”
“Berapa lama?”
“Selama yang diperlukan.”
Kael mengambil korek api dari sakunya. Ia menyalakannya, Api kecil menari di depan wajahnya. Kemudian ia membakar salah satu foto yang ada di tangannya.
Foto dirinya sendiri.
Dante memperhatikannya tanpa berkata-kata. Kael membiarkan foto itu terbakar sampai hanya menyisakan abu.
“Mulai saat itu…”
Ia menjatuhkan abu tersebut ke atas meja.
“…Kael harus mati.”
Darren menatap abu di hadapannya.
“Dan orang yang kembali nanti?”
Kael mengangkat wajah.
Tatapannya tajam.
“Bukan Kael yang mereka kenal.”
Ruangan kembali sunyi, Tidak ada seorang pun yang tersenyum. Mereka semua tahu bahwa rencana tersebut bukan sekadar pelarian. Ini adalah keputusan untuk menghapus keberadaan Kael dari dunia.
“Dan pamanmu?” ucap Dante
Kael berdiri tegak.
“Biarkan dia merayakan kematianku.”
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
“Karena ketika dia sadar bahwa aku masih hidup…”
Tatapannya berubah menjadi penuh ancaman.
“…semuanya sudah terlambat.”
Dante kembali menatap denah ADX yang terbentang di atas meja. Berbeda dari Darren yang lebih banyak memikirkan informasi dan jalur, Dante justru memahami bagian yang paling berbahaya dari rencana itu.
“Kalau kalian ingin membuat semua orang percaya ADX benar-benar hancur…”
Dante menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Serahkan bagian itu padaku.” Kael menatapnya.
“kupercayakan padamu”
Dante tersenyum tipis.
“Aku tidak butuh banyak hal untuk membuat suara yang cukup besar.”
Darren meliriknya.
“Jangan sampai suara itu ikut mengubur kita.”
“Tenang,” jawab Dante santai.
“Aku tahu apa yang kulakukan.”
Kael kembali menatap denah.
"Pastikan semuanya lenyap tanpa tersisa, para sipir bahkan semua tahanan "
Darren dan Dante mengangguk.
Namun, Tanpa mereka sadari, di balik tembok ruangan itu ada seseorang yang sejak tadi diam-diam mendengarkan setiap percakapan mereka.
Ia tidak bergerak, tidak pula mengeluarkan suara sedikit pun.
Setelah memastikan semua yang perlu didengarnya telah selesai, sosok itu perlahan menjauh dari tembok, lalu pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa jejak.
***