Sebagai anak dari selir rendahan, Xiu Ying Nona Ke-9 dari Kediaman Utama selalu hidup tertindas, pasrah, dan dianggap sebagai "sampah" oleh ayah serta saudara-saudaranya. Namun, sebuah insiden di kolam teratai mengubah segalanya. Xiu Ying yang terperosok ke dalam air dingin bangkit sebagai sosok yang sama sekali baru: dingin, cerdik, dan tak lagi sudi diinjak-injak.
Guna menyingkirkan Xiu Ying yang mulai sulit dikendalikan dan demi menyelamatkan putri-putri kesayangannya dari pernikahan politik yang merugikan, sang ayah dengan tega menikahkan Xiu Ying dengan Zhen Yu—Pangeran Ke-7 yang dituduh "idiot" dan kerap dijadikan bahan tertawaan di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13
Pagi itu, udara musim gugur di Istana Zhen terasa sangat menyegarkan. Sinar matahari keemasan memantul di permukaan kolam teratai yang tenang, menciptakan kilau yang menari-nari di dinding paviliun kayu. Di halaman rumput yang luas, Pangeran Zhen Yu tengah berlarian riang mengejar kupu-kupu kuning dengan jaring kecil di tangannya. Tawa lepasnya yang renyah dan kekanak-kanakan sesekali menggema, memecah keheningan istana yang biasanya sepi.
Xiu Ying duduk santai di paviliun, bersandar pada bantal sutra sambil menikmati secangkir teh melati hangat. Pandangannya tak lepas dari sosok suaminya yang bertubuh gagah namun bertingkah laksana bocah lima tahun itu. Ada sebersit ketenangan di hati Xiu Ying melihat tawa tanpa beban tersebut—sebuah kontras yang tajam dengan intrik kejam yang selalu mengelilingi kehidupan bangsawan.
"Nyonya," panggil Susu pelan, melangkah masuk ke paviliun dengan kepala tertunduk hormat. "Ada utusan dari Kediaman Utama Keluarga Xiu di gerbang depan. Ia membawa surat resmi dan bersikeras ingin menyerahkannya langsung ke tangan Anda."
Xiu Ying meletakkan cangkir tehnya perlahan. Alis cantiknya terangkat sebelah. "Utusan dari Kediaman Xiu? Suruh dia masuk."
Tak lama kemudian, seorang pelayan pria paruh baya yang mengenakan seragam abu-abu berbordir lambang Keluarga Xiu melangkah mendekat. Ia adalah Paman Zhou, salah satu orang kepercayaan Nyonya Besar. Meskipun ia menundukkan kepala dan berlutut memberi salam, bahasa tubuhnya tidak sepenuhnya memancarkan rasa hormat yang pantas ditunjukkan kepada seorang Istri Pangeran.
"Hamba memberi salam kepada Istri Pangeran Ke-7," ucap Paman Zhou. Ia mengeluarkan sebuah gulungan surat berlapis kain sutra merah cerah dengan wangi dupa yang menyengat, lalu menyodorkannya ke depan. "Hamba diutus oleh Tuan Besar dan Nyonya Besar Xiu untuk mengantarkan undangan resmi ini secara langsung kepada Anda."
Susu maju untuk menerima surat tersebut dan menyerahkannya kepada Xiu Ying.
Xiu Ying membuka gulungan sutra itu dengan gerakan pelan. Matanya yang tajam menyapu rentetan kaligrafi indah di atas kertas wangi tersebut. Surat itu berisi undangan Perjamuan Musim Gugur besar-besaran yang akan diadakan di Kediaman Xiu lusa. Kalimatnya ditulis dengan sangat manis, menyebutkan kerinduan sang ayah dan ibu tiri kepada putri mereka, dan sangat mengharapkan kehadiran Xiu Ying beserta Pangeran Ke-7.
Satu detik setelah membaca kalimat terakhir, Xiu Ying mendengus pelan, lalu tertawa sinis. Tawa itu begitu dingin hingga membuat Paman Zhou diam-diam menelan ludah.
"Perjamuan Musim Gugur?" gumam Xiu Ying, suaranya terdengar meremehkan. "Paman Zhou, sampaikan pujianku pada Nyonya Besar. Tulisannya sungguh indah, menutupi niat busuknya dengan sangat sempurna."
Paman Zhou mendongak, terkejut. "N-Nyonya... apa maksud Anda? Nyonya Besar mengadakan perjamuan ini murni untuk merayakan pergantian musim dan menjalin tali silaturahmi antar bangsawan. Ini adalah kehormatan besar bagi Anda untuk diundang kembali ke rumah asal."
"Kehormatan besar?" Xiu Ying melempar gulungan surat itu kembali ke atas meja dengan bunyi benturan yang tajam. "Jangan membuang ludah untuk membual di hadapanku. Nyonya Besar baru saja membebaskan Nona Ketiga dari kurungannya, bukan? Perjamuan ini hanyalah panggung yang dibangun Nyonya Besar untuk mencarikan muka bagi Xiu Mei di hadapan para pangeran dan pejabat."
Xiu Ying mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap utusan itu dengan pandangan mengintimidasi. "Dan mengundangku beserta suamiku? Nyonya Besar hanya ingin menggunakanku sebagai batu pijakan. Dia ingin mempermalukan Pangeran Ke-7 di hadapan para bangsawan, lalu menggunakan kejatuhanku untuk membuat Xiu Mei terlihat semakin bersinar, benar begitu?"
Paman Zhou berkeringat dingin. Tepat sasaran. Semua yang dikatakan wanita di hadapannya ini adalah rencana pasti dari Nyonya Besar.
"Nyonya Utama, Anda terlalu banyak berpikir..." elak Paman Zhou dengan nada memelas yang dipaksakan. "Tuan Besar sendiri yang meminta Anda hadir. Jika Anda tidak datang, apakah Anda tidak takut dicap sebagai putri yang tidak berbakti? Keluarga Xiu bisa kehilangan muka jika Istri Pangeran Ke-7 menolak undangan ayahnya sendiri."
"Kehilangan muka?" Xiu Ying kembali bersandar, menyilangkan lengannya dengan angkuh. "Statusku saat ini adalah menantu Kekaisaran. Prioritasku, kesetiaanku, dan waktuku sepenuhnya milik Istana Zhen dan suamiku, bukan lagi tunduk pada perintah Halaman Belakang Kediaman Xiu. Kembalikan surat itu."
"T-Tapi, Nyonya..."
"Katakan pada Tuan Besar dan Nyonya Besar," potong Xiu Ying dengan nada suara yang membeku laksana es. "Aku, Istri Pangeran Ke-7, menolak hadir. Suamiku membutuhkan perawatanku di istana ini, dan aku tidak memiliki waktu luang untuk menghadiri perjamuan tak berguna. Jika Nyonya Besar merasa keberatan, silakan adukan masalah ini pada Ibu Suri."
Paman Zhou terbelalak. Mengadukan ini pada Ibu Suri sama saja dengan bunuh diri, karena Ibu Suri sangat membenci keributan antar pejabat. Menyadari bahwa ia tidak akan menang melawan ketegasan Xiu Ying, utusan itu akhirnya memungut kembali surat undangannya dengan tangan gemetar.
"B-Baik... hamba akan menyampaikan pesan Anda," ucap Paman Zhou sebelum bergegas mundur dan melarikan diri dari paviliun tersebut secepat mungkin.
Setelah bayangan utusan itu menghilang di balik gerbang, suasana paviliun kembali hening.
Tiba-tiba, ujung lengan gaun Xiu Ying ditarik pelan dari bawah.
Xiu Ying menunduk dan mendapati Zhen Yu sudah berdiri di sampingnya. Pria bertubuh tinggi itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya. Jaring kupu-kupunya tergeletak begitu saja di atas rumput. Ujung-ujung jarinya saling bertaut dengan gelisah.
"Kakak Cantik..." cicit Zhen Yu dengan suara parau yang menyiratkan ketakutan.
"Ada apa, Pangeran? Apakah kupu-kupunya lepas?" tanya Xiu Ying lembut, sikap kasarnya tadi menguap seketika.
Zhen Yu menggeleng perlahan. Ia mendongak, menatap Xiu Ying dengan mata hitam pekat yang kini berkaca-kaca. Bibirnya melengkung ke bawah menahan tangis.
"Paman jahat tadi bilang... Kakak Cantik harus pulang ke rumah... tapi Kakak Cantik tidak mau," gumam Zhen Yu dengan suara bergetar. Ia meraih tangan Xiu Ying dan menggenggamnya erat-erat. "Apakah Kakak Cantik tidak mau bertemu keluarga Kakak gara-gara harus menjaga Yu-er? Apakah Yu-er merepotkan? Apakah Kakak Cantik marah pada Yu-er karena Yu-er bodoh dan tidak bisa diajak ke pesta?"
Melihat raut wajah penuh rasa bersalah dan ketakutan akan ditinggalkan itu, dada Xiu Ying terasa sesak. Wanita modern yang biasanya tidak mudah tersentuh ini merasakan kelembutan yang asing merayapi hatinya.
Ia menarik Zhen Yu untuk duduk di bangku paviliun bersamanya, lalu menangkup wajah tampan suaminya itu dengan kedua belah tangannya.
"Dengarkan aku, Yu-er," ucap Xiu Ying dengan tatapan yang sangat lekat dan tulus. "Aku menolak undangan itu sama sekali bukan karena kau merepotkan. Kau tidak pernah menjadi beban untukku."
Zhen Yu mengerjapkan matanya, sebutir air mata lolos dari sudut matanya. "B-Benarkah?"
"Benar," Xiu Ying tersenyum manis, mengusap air mata suaminya dengan ibu jarinya. "Di mataku, tempat itu bukan lagi keluargaku. Orang-orang di sana jahat dan penuh tipu muslihat. Jika kita pergi ke sana, mereka hanya akan menertawakan kita dan mencoba menyakitimu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menertawakan suamiku."
Xiu Ying menunjuk ke arah tumpukan buku kas dan setumpuk perak di atas meja. "Lagipula, ada hal yang jauh lebih penting daripada membuang waktu di perjamuan konyol. Aku harus menghitung uang kita, merenovasi istana ini, dan memastikan Yu-er bisa makan enak setiap hari. Bagaimana aku bisa pergi ke pesta sementara istana kita masih harus diurus?"
Mendengar penjelasan yang logis namun penuh perhatian itu, wajah Zhen Yu seketika cerah kembali. Binar ketakutan di matanya berganti dengan kelegaan yang luar biasa.
"Jadi... Kakak Cantik lebih memilih menghitung uang dan menjaga Yu-er daripada pergi ke pesta paman jahat?!" seru Zhen Yu riang.
"Tentu saja. Uang tidak akan pernah mengkhianatiku, dan Yu-er selalu menemaniku," balas Xiu Ying sambil tertawa pelan.
"Hore! Kakak Cantik di sini sama Yu-er!" Zhen Yu bersorak gembira, langsung menghambur memeluk pinggang Xiu Ying dan menyandarkan kepalanya di pangkuan wanita itu dengan manja.
Di balik pelukan erat itu, wajah Zhen Yu yang tersembunyi dari pandangan Xiu Ying menyunggingkan senyuman tipis yang sangat dalam. Matanya berkilat penuh kekaguman. Istriku yang cerdas... kau menyadari jebakan itu dengan sangat cepat. Kau bahkan menolak kesempatan untuk kembali ke masyarakat bangsawan hanya demi menjaga kedamaian di kediaman ini. Xiu Ying... aku benar-benar tidak salah memilih ratuku.
**
Beberapa hari kemudian, tibalah hari Perjamuan Musim Gugur yang sangat dinanti-nantikan oleh seluruh kalangan bangsawan ibu kota.
Sejak pagi hari, Kediaman Utama Keluarga Xiu telah disibukkan oleh lalu-lalang para pelayan yang memasang lampion sutra merah, menata ratusan pot bunga krisan langka dari selatan, dan menggelar karpet merah sepanjang gerbang hingga aula utama. Kemewahan yang dipamerkan oleh Nyonya Besar hari itu benar-benar luar biasa, seolah ingin meneriakkan kepada seluruh ibu kota bahwa Keluarga Xiu adalah keluarga yang paling berkuasa dan makmur.
Menjelang siang, kereta-kereta kuda berlapis emas mulai berdatangan. Para nona muda dari keluarga menteri dan saudagar kaya turun dengan balutan gaun sutra berlapis-lapis yang gemerlap, diiringi oleh para tuan muda yang memamerkan kipas giok dan puisi puitis mereka. Tawa anggun dan bisik-bisik gosip terdengar saling bersahutan di taman utama kediaman.
"Apakah kalian dengar? Nona Kesembilan konon diundang, tapi ia menolak hadir," bisik seorang putri menteri keuangan di balik kipasnya.
"Benarkah? Ckck, sungguh memalukan. Kudengar pangeran idiot itu bahkan tidak bisa memegang sumpit dengan benar. Mungkin Nona Kesembilan terlalu malu untuk membawa suaminya ke hadapan publik," cibir nona lainnya sambil tertawa meremehkan.
Di tengah riuhnya bisik-bisik, suara kasim istana mendadak menggelegar dari arah gerbang, membungkam seluruh percakapan di taman.
"Yang Mulia Pangeran Ke-4 dan Yang Mulia Pangeran Ke-8, tiba!"
Seluruh tamu undangan, dipimpin oleh Tuan Besar Xiu dan Nyonya Besar yang wajahnya berbinar penuh harap, segera berlutut memberikan penghormatan.
Dua sosok pria berjalan beriringan melintasi karpet merah. Di sebelah kanan adalah Pangeran Ke-8, seorang pemuda yang tampak santai dengan senyum ramah dan kipas lipat di tangannya. Namun, seluruh mata tertuju pada sosok di sebelah kiri—Pangeran Ke-4, Sang Putra Mahkota.
Mengenakan jubah sutra hitam legam berhiaskan sulaman naga emas bermata zamrud, Pangeran Ke-4 memancarkan aura dominasi yang sangat kuat, dingin, dan ambisius. Langkahnya mantap, wajah tampannya sedingin pualam, dan tatapannya yang tajam bagai belati menyapu seluruh halaman tanpa emosi. Pria inilah pewaris takhta masa depan, sosok yang paling diperebutkan oleh seluruh keluarga pejabat.
Nyonya Besar diam-diam menyenggol lengan putrinya. Xiu Mei yang hari itu didandani luar biasa cantik dengan gaun merah muda berlapis mutiara, melangkah maju dengan anggun dan membungkuk hormat, mencoba memikat pandangan sang Putra Mahkota.
"Bangunlah, tidak perlu terlalu formal. Hari ini kita hanya menikmati musim gugur," ucap Pangeran Ke-4 dengan suara berat yang menggetarkan hati para wanita di sana.
Saat para tamu mulai berdiri dan perjamuan resmi dibuka, mata Nyonya Besar diam-diam menyapu seluruh halaman dengan perasaan gusar yang ditahan-tahan. Ketidakhadiran Xiu Ying benar-benar menghancurkan rencana besarnya.
Jalang licik itu... dia berani merusak rencanaku! batin Nyonya Besar penuh amarah, meremas sapu tangannya di balik lengan gaun. Jika dia tidak datang untuk kupermalukan di sini, maka aku sendiri yang akan mencari cara untuk menghancurkannya di sarangnya!
(Bersambung)