Arif Wicaksono, pewaris ilmu medis kuno dan ketua organisasi rahasia Biro Akasa, turun gunung hanya untuk dihina dan ditolak mentah-mentah saat menagih janji perjodohan dari Keluarga Baskoro. Namun, nasib justru membawanya bertunangan dengan Shinta Liem, gadis bawel berenergi Yin murni penawar racun di tubuhnya, sekaligus memulai perjalanannya membuat orang-orang sombong yang meremehkannya berlutut menangis darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Tepat empat puluh lima menit kemudian, suara sirine ambulans meraung-raung memasuki kawasan perumahan elit Keluarga Liem.
Niuuu! Niuuu!
Ambulans itu berhenti dengan decitan ban yang kasar tepat di depan gerbang yang masih terbuka lebar.
Pintu belakang ambulans terbuka dengan cepat, dan beberapa petugas medis bergegas menurunkan brankar pasien.
Di atas brankar itu, terbaring tubuh kurus kering Baskoro yang sudah dipasangi selang oksigen dan monitor detak jantung portabel.
Hana dan Rizki turun dari mobil sedan di belakang ambulans dengan wajah sangat panik.
"Cepat bawa ayahku masuk ke halaman!" teriak Hana memberi instruksi pada petugas medis.
Roda brankar itu berderak kasar saat didorong melewati jalan setapak berbatu menuju ke tengah taman berumput.
Surya Liem, Nana, dan Shinta yang sudah berganti pakaian santai, berdiri menonton dari teras dengan wajah tegang.
Bahkan para pelayan rumah ikut mengintip dari balik pilar-pilar besar.
Arif berjalan turun dari teras dengan langkah sangat tenang, tangannya memegang gulungan kain hitam.
"Berhenti di situ," perintah Arif saat brankar itu sampai di tengah hamparan rumput hijau.
Para petugas medis langsung berhenti dan menatap Arif dengan kebingungan.
"T-Tuan, di mana ruang perawatannya? Kondisi pasien sangat kritis, kami harus memindahkannya ke ruangan steril," lapor salah satu petugas medis kebingungan.
"Ruang perawatannya adalah rumput ini," jawab Arif datar menunjuk ke bawah.
"Pindahkan tubuhnya ke atas tanah sekarang juga."
Para petugas medis itu melotot tak percaya mendengar perintah gila tersebut.
"T-tapi Tuan, itu sangat tidak higienis! Pasien bisa terkena infeksi bakteri!" protes petugas medis itu.
Arif menatap petugas itu dengan dingin.
"Lakukan atau bawa dia pulang dan siapkan kuburannya."
Hana yang mendengar ancaman itu langsung mendorong petugas medis dengan kasar.
"Lakukan saja apa yang dia suruh! Cepat angkat ayahku ke rumput!" jerit Hana histeris.
Dengan sangat enggan dan hati-hati, dua petugas medis mengangkat tubuh lemah Baskoro dan meletakkannya langsung di atas rumput.
Selang oksigen masih menempel di hidungnya, namun nafas Baskoro terlihat sangat tipis dan tersengal.
Garis hitam di wajahnya sudah menyebar nyaris ke seluruh bagian, membuatnya terlihat seperti mayat hidup.
Arif berjongkok di samping tubuh Baskoro dan memindai denyut nadinya di pergelangan tangan.
"Karmanya sudah menyumbat sembilan puluh persen meridian kehidupannya," batin Arif menganalisis.
"Ini akibat dari membatalkan sumpah yang dibuat oleh orang yang menyelamatkan nyawanya dari malaikat maut."
Arif membuka gulungan kain hitamnya dan menampilkan deretan jarum perak yang berkilau tertimpa sinar matahari siang.
Dia mengambil tiga jarum perak terpanjang sekaligus.
"Mundur kalian semua," perintah Arif tanpa menoleh.
Hana, Rizki, dan petugas medis langsung mundur beberapa langkah memberi ruang.
Arif menarik nafas panjang dan memusatkan energi Qi murni ke ujung jari telunjuk dan jari tengahnya.
Wush!
Aura yang tak kasat mata mengalir menyelimuti jarum-jarum perak tersebut hingga bergetar dan mendengung pelan.
Ngiing.
Jleb! Jleb! Jleb!
Tangan Arif bergerak sangat cepat menusukkan tiga jarum itu secara bersamaan ke titik vital di dada Baskoro.
Baskoro yang tadinya setengah sadar langsung mengejang hebat ke atas.
"Arghhhh!" jerit Baskoro dengan suara sangat serak dan parau, matanya terbuka lebar menatap langit.
Hana langsung menutup mulutnya menahan jeritan melihat ayahnya kesakitan.
"Jangan ikut campur, ini proses pemaksaan racun karma keluar dari organ dalamnya," ucap Arif dingin.
Arif kembali mengambil lima jarum berukuran sedang.
Kali ini dia menusukkannya ke titik saraf di sekitar perut, paha, dan terakhir tepat di pangkal tenggorokan Baskoro.
Krek!
Tubuh Baskoro membungkuk ke depan dan dari mulutnya keluar gumpalan cairan hitam kental bercampur darah busuk.
Huek!
Cairan hitam berbau sangat menyengat itu tumpah mengotori rumput hijau Keluarga Liem.
Bau busuknya membuat beberapa pelayan dan petugas medis menutup hidung mereka karena mual.
"T-Tuan Arif, a-apa itu?" tanya Rizki dari kejauhan dengan wajah pucat pasi.
"Itu adalah karma dan kesombongan yang mengendap di tubuh ayahmu," jawab Arif tanpa ampun sambil terus menekan jarum di tenggorokan Baskoro.
Begitu cairan hitam itu keluar, warna kehitaman di wajah Baskoro berangsur-angsur memudar dengan cepat.
Nafasnya yang tadi putus-putus mulai terdengar lebih lancar meski masih sangat lemah.
Baskoro jatuh terkulai lemas di atas rumput, kesadarannya perlahan kembali normal.
Dia menatap langit biru dan wajah pemuda yang baru saja menariknya kembali dari gerbang neraka.
"T-Tuan... Dokter..." rintih Baskoro dengan air mata mengalir dari sudut matanya.
Namun, di saat Baskoro mulai pulih, keadaan berbalik menimpa Arif.
Penggunaan Qi murni yang sangat besar untuk memaksa keluar racun karma membuat pertahanan tubuh Arif jebol.
Deg!
Racun Api di meridian jantung Arif meledak tanpa peringatan.
Gelombang panas yang sangat dahsyat menyapu seluruh organ dalamnya bagai api neraka yang berkobar.
Tubuh Arif langsung terhuyung ke belakang dan jatuh berlutut dengan satu kaki.
Wajah dan lehernya berubah menjadi semerah besi yang dipanaskan di tungku pandai besi.
Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari sekujur tubuhnya membasahi kemejanya.
"Argh," rintih Arif tertahan sambil memegangi dada kirinya.
Semua orang terkejut melihat perubahan tiba-tiba pada pemuda sakti itu.
"Tuan Arif! Ada apa dengan Anda?!" teriak Nana panik dan hendak berlari mendekat.
"Jangan mendekat! Hawa panasnya bisa membakarmu!" cegah Arif dengan susah payah mengangkat sebelah tangannya.
Memang benar, udara di sekitar tubuh Arif terasa sangat panas seperti berdiri di dekat api unggun besar.
Surya Liem langsung menatap putri bungsunya yang berdiri di dekatnya.
"Shinta! Cepat tolong dia! Hanya energi Yin milikmu yang bisa menekan hawa panasnya!" perintah Surya Liem mendesak.
Shinta membelalakkan matanya melihat kondisi Arif yang tampak sangat kesakitan.
Biasanya pemuda udik itu selalu terlihat santai dan menyebalkan, tapi sekarang dia terlihat sangat rapuh.
Gengsi dan rasa malunya seketika lenyap digantikan oleh rasa khawatir yang mendalam.
Tanpa mempedulikan tatapan heran dari Hana, Rizki, dan para pelayan, Shinta langsung berlari kencang menerjang hawa panas itu.
Tap! Tap! Tap!
Gadis itu menjatuhkan dirinya berlutut di depan Arif tepat di atas rumput.
"Udik! Kau masih hidup kan?!" jerit Shinta dengan mata berkaca-kaca.
Arif mengangkat wajahnya yang memerah dan menatap wajah panik Shinta.
Meski kesakitan, sudut bibirnya masih sempat melengkung membentuk senyuman tipis yang lemah.
"Bawel... sini tanganmu," bisik Arif dengan sisa tenaganya.
Shinta tidak ragu-ragu lagi, dia langsung meraih kedua tangan Arif dan menggenggamnya erat-erat.
Zras!
Pertemuan energi Yin murni dan Racun Api itu menghasilkan benturan hawa yang kasat mata di sekitar mereka.
Rasa dingin yang sangat menyegarkan langsung mengalir deras dari tubuh Shinta menuju dada Arif.
Api yang membakar organ dalam Arif perlahan-lahan mulai padam.
Suhu tubuh Arif yang mendidih perlahan turun kembali ke angka normal.
Huuuh.
Arif menarik nafas sangat panjang dan menyandarkan tubuhnya ke depan karena kelelahan.
Bruk.
Karena tidak punya tenaga lagi, dagu Arif bertumpu pelan di pundak Shinta.
Shinta terkesiap karena tubuh Arif kini menyandar sepenuhnya pada tubuh mungilnya.
Wajah gadis itu langsung memerah padam menyadari puluhan pasang mata sedang menonton adegan pelukan intim mereka di tengah taman.