Soraya anak bungsu dari tiga bersaudara, ceria, mudah bergaul dan sedikit pintar. Keluarganya berkecukupan tapi sederhana. Hari Pertama SMA kelas 10 bertemu Aldrian yang kelas 12, Aldrian orang yang pendiam, perhatianya tidak diucapkan. Soraya dan Aldrian memiliki hari hari yang canggung disekolah. Banyak interaksi tak pernah terjalin komunikasi. Soraya akhirnya harus terpisah dengan Aldrian. Aldrian yang sudah lebih dulu lulus pergi tanpa kata tanpa berpamitan, membuat hari hari Soraya disekolah selalu mengingat Aldrian.
Setelah 2 tahun terpisah akhirnya mereka bertemu kembali. Aldrian mempunyai keberanian untuk menemui Soraya dirumahnya.
Soraya dan Aldrian dari keluarga yang sangat berbeda, keyakinan yang berbeda membuat mereka mempunyai banyak cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MayRedN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maksudnya apa coba... ???
Deg.... Pandanganku terhenti seketika, alih alih melihat kak Arya diantara banyak wajah aku memandang dia.
Didepan tepat dia melihat kearahku, tanpa sengaja mata kami bertemu 5 detik.
Seperti mentari pagi yang baru bersinar, sejuk, teduh menyilaukan pandangan.
Dia berdiri diseberang, aku berdiri di sini. Kami diam tanpa suara. Kali ini dia menyudahi pandanganya, menoleh ke arah temanya.
Dia nggak tahu diseberangnya masih ada mata yang menjaganya, merekam gerak geriknya dari kejauhan.
"Udah apa belum liatnya?" Suara Tamiya mengangetkanku.
"Ohh.. Udah udah... Udah faham" jawabku dengan terbata bata.
Rifta datang menghampiri kami "Liatin siapa sih?"
Tamiya "Tuh kata Putri sebelahnya kak Aldrian, kak Arya yang jadi kapten basket"
Rifta langsung matanya melirik Putri "Ngarang, bukan tau... Kapten basket tuh kak Aldrian, kalau kak arya tu center nya"
Putri dengan tatapan yang tidak terima "Kata siapa Rif?!! kemarin aku denger kok kak Arya kapten basket"
Rifta "Sana tanya sendiri keorangnya kalau nggak percaya!! Bisa jadi mungkin waktu kak Aldrian lagi nggak ada jadi kak Arya yang gantiin jadi kapten"
Aku mencoba memisah perdebatan Putri dan Rifta "Udah udah, nggak usah diributin, ntar juga tau sendiri kalau udah mulai aktif ekskulnya"
Tamiya sambil berjalan "Pada nggak laper apa, aku pergi dululah ke kantin belakang"
"Tam tunggu, aku ikut" aku memanggil Tamiya dengan suara yang agak keras.
Aku berpamitan ke Putri dan Rifta "Aku ikut Tamiya dulu ya"
Aku dan Tamiya jalan beriringan, melewati kelas kelas yang lain.
"Soraya" ada yang manggil namaku didepan kelas 10.1, setelah kucari ternyata Estia, dia berjalan keluar menghampiri kami didepan kelasnya.
Estia sambil makan jajan yang ada ditanganya "Jadinya ikut ekskul apa kemarin?"
"Basket aja sih kemarin" jawabku dengan santai
Estia senyum senyum "Ohh basket, ketemu kakak Al dong ntar"
Tamiya "ngapain ntar?? Kemarin juga udah ketemu waktu distand basket"
Estia "Kelas kalian bersebrangan juga ya, Aya sebelum disekolah udah kenal kakak Al?"
Aku langsung menjawab pertanyaan Estia tanpa ragu "Belum lah, baru juga ketemu disini hari Senin"
Estia masih dengan wajah yang nggak percaya lalu berbisik ditelingaku "kemarin kamu dikasih coklat kakak Al ya?"
Tamiya menelisik isi kelas 10.1 dari jendela kaca sambil berjalan pelan meninggalkan kami "Kalian ngobrol aja dulu, aku mau cari mas Adit, berangkat kan Es??"
Estia "Ada didalem tadi sama sama Bona"
Aku masih dengan wajah kaget dengan pertanyaan Estia. Estia senyum senyum melihat kearahku sambil.berkata "Kamarin yang lalu waktu kak Fir dari minimarket bawa kresek, trus aku buka kreseknya ada coklatnya, aku ambilah coklat diantara permen permen yang banyak kak Fir marah marah tau"
Aku menyela cerita Estia "Trus apa hubunganya sama kak Aldrian???"
Mata Estia membulat bibirnya terkatup rapat dan menipis lalu berkata "makanya dengerin dulu!!! Trus kakak Al dateng waktu aku mau masuk kedalam kak Fir bilang "Emang kamu berani ngasih ke Aya?" Aya kamukan? Aya mana lagi coba selain kamu??"
Aku cuma senyum senyum mau jawab apa, Berarti adegan pas aku maju permennya habis udah diskenario, sengaja banget biar bisa ngasih coklatnya. Maksudnya apa coba... ???
"Iya udah berani ngasih coklatnya ke aku udah gitu doang nggak ada kata kata atau apapun"
Estia terheran heran demgan menggeleng ngelengkan kepala "Bisa bisa nya..."
Aku dari jendela depan kelas Estia manggil manggil Tamiya "Tam buruan katanya laper keburu masuk"
Tamiya dari dalam menjawab "iya" lalu berjalan keluar menghampiri aku dan Estia.
Estia "Tar kapan kapan kita lanjut lagi ya?"
"OK kita turun dulu ya Es" jawabku sambil jalan
"Bye.." Jawab Tamiya ke Estia
Dari kelas Estia kita belok ke kanan lalu menuruni ditangga sebelah kiri.
"Tam kamu masuk aja dulu aku nitip roti kacang keju, mau ke toilet bentar" Aku masuk ke toilet sedangkan Tamiya masuk ke kantin sebelah toilet.
Setelah dari toilet aku nyusul Tamiya ke kantin, aku mencari cari Tamiya yang ternyata ada disebelah kiri. Didalam ada 3 Bapak bapak yang jualin.
Bapak 1 datang "Kacang kejunya tinggal 1 buat mas nya soalnya tadi mas nya duluan yang bilang"
Tamiya "Ya Ya habis kacang kejunya mau ganti apa"
Dari kerumunan ada suara cowok "Buat dia aja pak"
Aku "nggak usah, aku bisa ganti coklat keju kok"
Cowok tadi mendekat ngasih roti kacang keju yang ternyata... kak Arya.
Kak Arya sambil tersenyum ramah "Udah buat kamu aja, masak cowok mau berebut sama cewek"
"Makasih" jawabku singkat lalu keluar dari kantin
Aku dan Tamiya duduk di bangku panjang didepan kantin sambil makan roti.
Kak Arya duduk disebelahku sambil ngasih botol air mineral "Nih buat kamu biar nggak seret"
Aku sambil tersenyum tipis "Makasih, jadi ngerepotin 2x"
Biarpun kami belum kenal tapi tadi dibalkon Putri udah cukup memperkenalkan kak Arya.
Kak Arya menatapku sambil mengulurkan tanganya dan kamipun saling berkenalan
Kak Arya "Aku udah liat kamu beberapa hari didepan kelas, kamu temenya Tomy kan?"
"Kok kakak tau" tanyaku sambil menatap kak Arya
Kak Arya "Aku kakaknya Tomy, aku biasa liat kamu waktu nganter sekolah, Gimana kalau manggilnya Arya aja, nggak usah pakai kak"
Aku "Ohh pantes mirip, manggil nama aja entar dikira ngga sopan"
"Ehemmm... Sepertinya saya pamit naik duluan, silahkan ngobrolnya dilanjutkan"
Arya berdiri dari duduknya "Ya udah ayo kita naik bareng bareng"
Aku dan Tamiya ikut berdiri, kami bertiga berjalan bersama tetapi Tamiya memilih dibelakang.
Aku dan Arya bercerita tentang beberapa kali pertemuan kami yang aku sendiri tidak pernah menyadarinya waktu SMP.
Arya "Aku anterin sampai kelas ya?"
Aku dengan wajah yang ngga enak banget "nggak usah Ar, sana lurus aja nggak usah ikut belok!"
Kami saling tertawa, dan akhirnya sepanjang jalan kami bercanda, Arya ikut berhenti didepan kelas 10.5 masih melanjutkan obrolannya tadi.
Triinggggggg...... Triinggggggg......
Bel masuk kelas berbunyi,
Arya berpamitan sambil berjalan "Balik dulu ya"
"Bye" aku masuk ke kelas, sudah ada Putri, Rifta dan Tamiya, mereka bertiga melihat, melirik dengan tatapan yang penuh tanya.
"Pada kenapa sih" tanyaku sambil melihat mereka satu persatu.
Putri "Ternyata kamu udah kenal sama kak Arya, kenapa nggak bilang bilang dari tadi"
Rifta "Sok sok an lagi nyari nyari yang namanya Arya"
Aku menghela nafas berat "Ceritanya panjang"
Aku mulai bercerita dari A - Z lengkap tidak ada yang kurang.
Tamiya "Tapikan aneh masak kamu nggak inget kak Arya, sedangkan kak Arya bisa inget dengan detail tentang kamu"
"Gimana ya, aku emang tau Tomy punya kakak cowok tapi aku bener bener nggak ngeh kalau Arya kakaknya Tomy" jawabku masih dengan kebingunganku juga kenapa bisa Arya inget detail tentang aku.
Kami mulai hening, bu Dewi datang masuk ke kelas memberikan penjelasan panjang lebar tentang peraturan peratuan sekolah.
Bu Dewi "Kita keluar tunggu bel dulu ya, hati hati dijalan, jangan lupa besok pemilihan ketua kelas"
Kami bersiap siap pulang
Triinggggggg...... Triinggggggg......
Akhirnya bel sekolah berbunyi, setelah bu Dewi keluar kamipun berhamburan keluar.
Putri "Ya, kamu bawa motorkan? Aku ikut ya"
Aku "Tapikan rumah kita nggak searah Put, rumahmu lebih jauh dari rumahku"
Putri "Ya gapapa muter dikit, kan setelah pasar burung kamu biasa ngiri. Entar lurus aja.
Aku sudah tidak bisa berkata kata lagi. Akhirnya aku dan Putri pulang bareng, kami berjalan beriringan menuju parkiran sepeda motor,
Putri "Kenapa sih lewatnya sini, muter tau. Deketan juga lewat depan"
Aku "Udah diem aja! Mau dianterin pulang nggak?"
Kami memasuki area parkir, tapi sepertinya motorku lagi di duduki cowok cowok yang masih menggerombol, kami mendekat ke arah motor,
"Permisi" kataku sambil melihat ke arah cowok cowok yang ternyata ada kak Aldrian, Arya dan beberapa yang aku nggak tau namanya
"Ay..." Arya menyapa sambil tersenyum lebar memandang ke arahku.
"Motor kamu yang mana?" tanya Arya
Seketika perkataan Arya membuat semua mata melihat ke arahku, termasuk sepasang mata yang seringkali bertatapan denganku.