Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.
Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.
Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.
Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.
Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Dasar Danau dan Benih Kehancudan
Malam di Kota Naga Langit tidak pernah benar-benar gelap. Ribuan lentera qi menerangi jalanan dan paviliun, mengubah ibu kota menjadi lautan cahaya yang megah. Namun, bagi Lin Tian, cahaya itu hanyalah topeng yang menutupi busuknya fondasi kekaisaran.
Mengenakan pakaian malam berwarna hitam pekat yang ia curi dari cincin spasial Zhao Yan, Lin Tian bergerak melintasi atap-atap gedung dengan kecepatan yang tidak memancarkan suara sedikit pun. Topeng porselen penyamarannya telah ia lepaskan, membiarkan wajah aslinya yang dingin dan pucat terpapar angin malam. Di wilayah inti musuh ini, penyamaran sebagai "Li Fan" justru akan menarik perhatian patroli malam. Menjadi bayangan adalah pilihan terbaik.
Tembok luar Istana Kekaisaran menjulang setinggi lima puluh meter, dibangun dari batu giok hitam yang diukir dengan ribuan rune pendeteksi. Setiap inci tembok ini dipantau oleh Formasi Mata Naga. Seekor nyamuk yang membawa aura kultivasi asing pun akan langsung memicu alarm yang membangunkan seluruh pasukan ibu kota.
Lin Tian berhenti di atas dahan pohon willow raksasa yang menjuntai dekat tembok. Ia memejamkan mata, membiarkan Segel Dewa Penelan Langit di dantiannya berputar lambat. Ia tidak menghancurkan rune itu, melainkan mengalirkan qi hitamnya setipis benang sutra, menyusup ke dalam celah mikro formasi dan "memakan" sebagian kecil energi pendeteksinya.
Sebuah titik buta seukuran tubuh manusia terbuka di jaringan formasi selama tiga detik. Cukup.
Lin Tian melesat, melompati tembok raksasa itu tanpa memicu satu pun lonceng alarm, dan mendarat tanpa suara di taman dalam istana.
Di hadapannya terbentang Danau Cermin Bulan. Permukaan airnya tenang dan jernih, memantulkan cahaya bulan purnama dengan sempurna. Pemandangan yang sangat damai. Namun, indra spiritual Lin Tian yang telah diasah oleh darah naga dan lautan qi iblis melihat kenyataan yang sesungguhnya.
Air danau itu bukan air biasa. Itu adalah cairan ilusi yang menutupi pusaran qi pembunuh. Di sekeliling danau, belasan Pengawal Bayangan Kekaisaran—pembunuh elit berzirah perak yang kultivasinya mencapai Puncak Pondasi Awal—berpatroli dalam keheningan mutlak.
Lin Tian menunggu dengan sabar, napasnya menyatu dengan ritme angin malam. Saat dua Pengawal Bayangan berpaling untuk memeriksa sudut taman, Lin Tian meluncur ke tepi danau. Ia mengeluarkan token giok berbentuk sisik naga milik Tetua Gui dan menuangkan sedikit qi ke dalamnya.
Token itu berdenyut, memancarkan gelombang frekuensi khusus. Permukaan air danau di depannya bergetar, lalu terbelah tanpa menimbulkan riak, membuka celah ilusi yang cukup untuk satu orang. Lin Tian langsung menyelam masuk, dan celah di atasnya segera menutup rapat.
Begitu masuk ke dalam air, suhu langsung anjlok ke titik beku. Arus air di bawah permukaan ternyata berisi ribuan bilah qi pedang mikroskopis yang berputar liar, dirancang untuk mencincang siapa pun yang masuk tanpa izin. Bilah-bilah qi itu menghantam kulit Lin Tian, namun hanya menghasilkan suara ting pelan saat bersentuhan dengan lapisan sisik naga hitam tak kasat mata di bawah kulitnya.
Ia berenang menuju dasar danau yang gelap gulita. Di kedalaman seratus meter, ia menemukan sebuah pintu batu raksasa yang tertanam di dinding tebing bawah air. Pintu itu tidak memiliki lubang kunci, hanya sebuah cekungan berbentuk sisik naga. Lin Tian menekan token gioknya ke cekungan tersebut.
Pintu batu bergeser perlahan, memungkinkannya masuk ke dalam terowongan kering yang menurun tajam ke perut bumi.
Semakin dalam ia melangkah, suhu udara berubah dari dingin menggigit menjadi panas yang menyesakkan. Bau amis darah yang pekat dan belerang menguap dari celah-celah batu, begitu kuat hingga bisa membuat kultivator biasa pingsan.
Lin Tian tiba di ujung terowongan yang bermuara pada sebuah bibir tebing di dalam gua bawah tanah raksasa. Ia bersembunyi di balik stalakmit raksasa, menatap ke bawah. Pemandangan di bawah sana membuat darah di nadinya mendidih, namun pikirannya tetap sedingin es.
Ini adalah jantung dari Formasi Pencuri Naga.
Sebuah kawah buatan selebar satu kilometer telah digali tepat di atas persimpangan Urat Naga Bumi Kekaisaran. Di dasar kawah, terdapat danau berisi darah mendidih yang gelembungnya memancarkan uap merah pekat. Rantai-rantai besi hitam raksasa menancap di dinding gua, mengikat ratusan kultivator yang diculik dari berbagai sekte. Darah mereka terus-menerus disedot melalui tabung-tabung perunggu, mengalir masuk ke dalam danau darah di bawah.
Di tengah danau darah, terdapat sebuah altar giok. Di atas altar itu, seorang pria berjubah merah darah sedang duduk bersila. Rambutnya putih panjang, dan auranya begitu menekan hingga udara di sekelilingnya berdistorsi.
Tetua Xue Tu.
Tubuh Xue Tu saat ini terbungkus setengah jalan oleh kepompong darah yang berdenyut seperti jantung raksasa. Ia sedang menyerap esensi Urat Naga Bumi yang dicampur dengan darah ratusan kultivator, memaksakan terobosan ke ranah Inti Emas. Tekanan spiritual yang dipancarkannya sudah melampaui batas Pondasi Awal, menyentuh ranah yang membuat jiwa manusia biasa gemetar.
"Jika aku menyerangnya sekarang, kepompong darah itu akan meledak dan membunuh semua tawanan di sini, sekaligus meruntuhkan gua ini," analisis Lin Tian dalam hati. "Dan Xue Tu mungkin bisa lolos menggunakan teknik darah terlarang."
Mata Lin Tian menyapu sekeliling kawah, mencari titik lemah. Formasi sebesar ini tidak bisa berdiri hanya dengan satu pusat energi. Ia melihat delapan pilar batu obsidian yang tertancap di tepi kawah, memancarkan cahaya merah yang menghubungkan danau darah dengan Urat Naga Bumi di bawahnya. Itu adalah delapan mata formasi penstabil.
Sebuah rencana gila dan kejam terbentuk di benaknya. Ia tidak akan mengganggu Xue Tu malam ini. Ia akan membiarkan pria itu merasa aman, membiarkannya berpikir bahwa terobosannya akan sukses pada malam gerhana tiga hari lagi.
Lin Tian bergerak tanpa suara, menggunakan bayangan stalakmit dan rantai besi raksasa sebagai jalan. Ia mendekati pilar batu obsidian pertama yang letaknya paling terpencil dan minim cahaya.
Ia menempelkan kedua telapak tangannya ke permukaan pilar yang panas itu. Segel Dewa Penelan Langit tidak diaktifkan untuk menelan, melainkan untuk memuntahkan.
Lin Tian memompa qi hitam berurat emas yang paling korosif dan destruktif langsung ke dalam inti pilar tersebut. Qi hitam itu tidak merusak fisik pilar, melainkan merasuk ke dalam jalur energi formasi, bertindak seperti racun laten yang akan bereaksi keras saat formasi ini dijalankan pada kapasitas penuh. Ia menggerogoti fondasi rune dari dalam, menyisakan cangkang luar yang tampak normal.
Satu pilar selesai. Lin Tian bergerak ke pilar kedua, ketiga, dan keempat. Setiap kali ia menyuntikkan qi iblisnya, ia bisa merasakan formasi raksasa ini sedikit bergetar, seolah monster yang sedang tidur merasa gatal.
Setelah merusak empat dari delapan pilar penstabil secara diam-diam, Lin Tian menghentikan tindakannya. Merusak lebih dari setengahnya akan memicu alarm otomatis dari kesadaran Xue Tu. Empat pilar yang rusak sudah lebih dari cukup untuk menciptakan penyimpangan fatal saat ritual mencapai puncaknya.
Lin Tian menatap punggung Tetua Xue Tu untuk terakhir kalinya dari atas tebing.
"Nikmati tidurmu, Xue Tu," bisik Lin Tian, matanya memancarkan kilatan iblis yang gelap. "Karena saat gerhana tiba, darah yang kau minum akan menjadi racun yang merobek perutmu sendiri."
Ia berbalik, melebur kembali ke dalam bayangan terowongan, meninggalkan benih kehancuran yang telah ditanamnya di jantung Kekaisaran. Tiga hari lagi, Ibu Kota Naga Langit akan menyaksikan hujan darah yang sesungguhnya.