Setelah menyelesaikan masa militernya, Jiang Ming mendapati dirinya terjebak dalam kerasnya realita sebagai pemuda tanpa uang, pekerjaan, maupun koneksi, yang harus memutar otak demi menghidupi adik perempuannya.
Di tengah himpitan utang dan cibiran orang-orang yang meremehkannya, sebuah aplikasi aneh bernama "Toko Dewa Tiga Alam" tiba-tiba terinstal secara paksa di ponsel bututnya.
Aplikasi tersebut menjual berbagai barang supranatural dan keajaiban dari dimensi para dewa, namun ironisnya, semua benda ajaib itu hanya bisa dibeli jika Jiang Ming memiliki uang.
Alih-alih menjadi pahlawan super, Jiang Ming menggunakan kecerdasan dan insting bisnisnya untuk memanfaatkan barang ajaib termurah demi membangun kekayaan dari nol, perlahan memutarbalikkan nasibnya dari seorang pengangguran rendahan menjadi sosok yang mengendalikan kekuatan Tiga Alam di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Wush.
Angin malam berhembus masuk melalui jendela apartemen yang terbuka.
Jiang Ming melepaskan Jubah Ilusi Malam Bulan dari bahunya dan melipatnya dengan sangat hati-hati.
Begitu kain sutra tipis itu terlepas, tubuhnya kembali terlihat jelas di bawah pantulan cahaya lampu ruang tamu.
Dia berjalan menuju dapur dan menuangkan segelas air es untuk menyegarkan tenggorokannya.
Gluk gluk gluk.
Air dingin itu mengalir deras, namun tidak mampu memadamkan rasa panas yang masih bergejolak di dalam dadanya.
Jiang Ming berjalan mendekati jendela kaca besar dan menatap hamparan lampu kota Jinhai di bawah sana.
Dia mengeluarkan ponselnya dan menatap angka tujuh juta yuan yang tertera di layar perbankannya.
Dulu, melihat angka sepuluh ribu yuan saja sudah cukup untuk membuatnya melompat kegirangan dan menangis haru.
Namun malam ini, deretan angka tujuh juta itu terasa sangat hampa dan tidak lagi memacu adrenalinnya.
'Uang fana tidak lagi menjadi tujuan utamaku,' batin Jiang Ming menyadari perubahan besar dalam dirinya.
Uang hanyalah alat bantu untuk membangun perisai di dunia manusia, seperti Perusahaan Alam Hijau dan identitas Tuan Wu Ming.
Tapi di luar cangkang dunia manusia itu, ada sebuah realitas tak terbatas yang jauh lebih mengerikan dan menantang.
Tring.
Layar ponselnya tiba-tiba berkedip dengan cahaya ungu yang sangat menyilaukan mata.
Aplikasi Toko Tiga Alam terbuka dengan sendirinya tanpa dia sentuh sedikit pun.
Namun kali ini antarmukanya tidak menampilkan katalog barang atau saldo koin emasnya.
Layar itu dipenuhi oleh garis-garis statis yang bergerak acak seperti televisi rusak.
'Apa yang terjadi? Apakah sistemnya mengalami gangguan jaringan?' batin Jiang Ming mengerutkan kening.
Klak.
Jendela obrolan dengan CS Peri Ling langsung muncul menerobos layar statis tersebut.
Pesan dari peri itu masuk dengan huruf kapital semua, menandakan kepanikan yang luar biasa.
[CS Peri Ling: TUAN BOS! TARIK KEMBALI AURA PETIR ANDA SEKARANG JUGA!]
Jiang Ming tersentak kaget dan buru-buru membalas pesan tersebut.
"Aku sudah mematikan petirku sejak keluar dari markas preman itu, Peri Ling. Ada apa ini?"
[CS Peri Ling: Aura Naga petir biru yang Anda gunakan tadi terlalu murni untuk ukuran dunia fana!]
[CS Peri Ling: Ditambah dengan efek Jubah Ilusi dan panen karma dari lukisan naga, Anda telah menciptakan Resonansi Dimensi!]
Jiang Ming duduk tegak di tepi sofa, matanya menyipit membaca istilah baru yang terdengar sangat berbahaya itu.
"Jelaskan padaku dengan bahasa yang bisa dimengerti manusia, Peri Ling. Apa itu Resonansi Dimensi?"
[CS Peri Ling: Dunia fana Anda ibarat sebuah ruangan kedap suara yang tertutup rapat dari alam lain.]
[CS Peri Ling: Penggunaan barang-barang langit secara beruntun telah melubangi dinding kedap suara tersebut.]
[CS Peri Ling: Sekarang, koordinat kota Jinhai Anda bersinar sangat terang seperti mercusuar di mata entitas dimensi lain!]
Napas Jiang Ming seketika tercekat di tenggorokan.
"Entitas dimensi lain? Maksudmu para dewa akan turun ke bumi untuk mencariku?" ketik Jiang Ming dengan tangan sedikit gemetar.
[CS Peri Ling: Jika para dewa yang turun, Anda masih bisa bernegosiasi menggunakan Koin Emas.]
[CS Peri Ling: Yang menjadi masalah adalah alam bawah, alam siluman, dan roh-roh buangan yang selalu kelaparan mencari celah menuju dunia fana.]
Jiang Ming menelan ludahnya susah payah.
Selama ini dia mengira Toko Dewa Tiga Alam adalah jalan satu arah di mana dia bisa membeli kekuatan gaib dengan aman.
Dia tidak pernah menyangka bahwa kekuatannya justru menjadi undangan terbuka bagi hal-hal gaib lainnya untuk datang ke dunianya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah lubang dimensi itu bisa ditutup kembali?" tanya Jiang Ming menuntut solusi.
[CS Peri Ling: Lubang itu akan menutup dengan sendirinya dalam waktu beberapa bulan jika Anda berhenti menggunakan kekuatan besar.]
[CS Peri Ling: Tapi untuk sementara waktu, Anda harus sangat waspada terhadap anomali di sekitar Anda.]
Sring.
Layar obrolan itu berkedip sesaat dan sebuah menu baru muncul di bagian bawah aplikasi.
[CS Peri Ling: Sistem telah membuka fitur Radar Takdir untuk Anda secara gratis sebagai kompensasi atas bahaya ini.]
[CS Peri Ling: Gunakan fitur itu untuk melacak apakah ada eksistensi asing yang berhasil menyusup masuk melalui celah yang Anda buat.]
Jiang Ming segera menekan tombol Radar Takdir tersebut tanpa membuang waktu.
Layar ponselnya berubah menjadi sebuah peta digital kota Jinhai yang sangat detail.
Sebuah lingkaran pemindai berwarna hijau mulai menyapu peta itu dari titik pusat lokasi apartemennya.
Ping. Ping. Ping.
Suara pemindai itu berbunyi dengan ritme yang pelan dan teratur.
Jiang Ming menatap layar itu dengan dada berdebar kencang, berharap petanya akan tetap bersih tanpa tanda apa pun.
Ping.
Tit.
Sebuah titik merah berkedip pelan di ujung utara peta kota Jinhai.
Jiang Ming mematung, darah di tubuhnya serasa berhenti mengalir.
Tit. Tit. Tit.
Tiga titik merah lainnya muncul secara bersamaan di wilayah timur dan pusat kota.
"Ini... ini tidak mungkin," gumam Jiang Ming dengan suara serak.
Dia memperbesar peta itu dan melihat bahwa salah satu titik merah itu berada tidak jauh dari lokasi kampus adiknya, Jiang Lin.
Rasa dingin yang sangat menusuk langsung menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubunnya.
"Peri Ling, apakah titik-titik merah ini adalah monster dari alam lain yang baru saja masuk?" ketik Jiang Ming dengan panik.
[CS Peri Ling: Tidak semuanya, Tuan Bos. Beberapa mungkin roh buangan yang baru masuk, tapi sebagian besar sepertinya sudah bersembunyi di dunia Anda sejak lama.]
[CS Peri Ling: Resonansi Dimensi yang Anda ciptakan hanya memaksa mereka keluar dari persembunyiannya.]
Penjelasan itu bagaikan palu godam yang menghancurkan seluruh pandangan Jiang Ming tentang dunianya.
Ternyata, dunia manusia ini tidak pernah benar-benar bersih dari hal-hal supranatural.
Siluman, roh jahat, atau entitas tak dikenal lainnya sudah hidup berdampingan dengan manusia biasa di kota ini dalam diam.
Dan sekarang, akibat ulah Jiang Ming yang memamerkan kekuatan petir dewa, mereka semua mulai terbangun dan menyadari kehadirannya.
Klak.
Jiang Ming mematikan layar ponselnya dan meletakkannya di atas meja dengan tangan gemetar.
Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan dan tertawa sumbang di tengah kesunyian apartemen.
Hahaha.
"Bodohnya aku. Aku mengira aku adalah satu-satunya serigala di tengah kumpulan domba."
"Ternyata aku hanyalah anak serigala yang baru saja melolong keras dan mengundang kawanan monster yang jauh lebih buas."
Tawa Jiang Ming perlahan mereda, digantikan oleh ekspresi wajah yang menjadi sangat keras dan mematikan.
Dia bangkit berdiri dan berjalan kembali ke depan jendela kaca.
Matanya menatap titik-titik lokasi di kota Jinhai tempat anomali gaib itu bersembunyi.
"Grup Tianyu dan Zhao Tianhua kini tidak lebih dari sekadar tumpukan sampah yang tidak perlu kutakuti lagi."
Masalah dunia fana yang sempat membuatnya pusing kini terasa sangat remeh dan tidak berarti.
Ancaman yang sesungguhnya baru saja menampakkan diri dari balik tirai kegelapan.
Jiang Ming mengangkat tangan kanannya dan membiarkan percikan petir biru kecil melompat di ujung jarinya.
Zzzt.
"Jika kalian para entitas gaib berani menyentuh adikku atau menghancurkan kehidupanku di kota ini."
"Aku bersumpah akan menggunakan seluruh isi Toko Tiga Alam untuk membantai kalian sampai tidak tersisa satu jiwa pun."
Jiang Ming tidak lagi merasa takut.
Ketakutan itu telah berevolusi menjadi tekad bulat untuk melindungi wilayah kekuasaannya dengan cara apa pun.
Babak pertama dari perjalanannya sebagai manusia fana yang mencari keadilan telah resmi berakhir malam ini.
Mulai besok pagi, Jiang Ming harus bersiap melangkah masuk ke dalam dunia bayangan yang sesungguhnya.
Dunia di mana kekuatan, sihir, dan intrik lintas dimensi akan saling berbenturan untuk memperebutkan kendali atas takdir.
Dia bukan lagi sekadar pelanggan VIP di Toko Tiga Alam.
Jiang Ming telah resmi menjadi jembatan hidup yang akan menentukan keseimbangan antara dunia manusia dan dunia supranatural di kota Jinhai.
Dan sang penguasa baru ini tidak akan pernah menyerah pada takdir yang mendikte jalannya.