"Ayo bercerai, Mas!"
kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.
Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.
Anna hanya...lelah.
Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.
Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.
Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.
Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?
Temukan jawabannya di novel ini👋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 30, Harapan
Hari Minggu datang dengan langit yang sedikit mendung.
Rumah sewa Sherly jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari biasanya. Tidak ada suara langkah kaki terburu-buru, tidak ada sering telpon pekerjaan, bahkan tidak ada bunyi kendaraan yang berlalu lalang terlalu ramai di depan rumah.
Anna duduk bersila di atas karpet ruang tengah, sedangkan tumpukan pakaian berada di hadapannya.
Satu per satu ia melipat dengan rapi, kemudian memasukkannya kedalam keranjang pakaian bersih.
Di depan mereka, televisi menyala dengan volume sedang. Sementara itu, Sherly duduk bersandar di ujung sofa sambil memainkan ponselnya.
Sudut bibirnya terangkat.
Anna melirik ke arah Sherly. "Dean lagi?"
Sherly buru-buru mengirimkan pesan teks kepada rekan kerjanya.
"Bukan. Tapi temen kerjaku, ini loh. Salah satu karyawan kita yang semalam telpon aku tiba-tiba gak bisa di hubungi." Ujar Sherly seraya meraih toples camilan.
Anna mengerutkan kening. "Jadi, semalam dia gak telpon lagi?"
"Nggak." Jawab Sherly, lalu teringat sesuatu. "Sebelumnya, dia pernah bilang sama aku loh, Na."
Anna masih melipat pakaian. "Bilang apa?"
"Empat hari yang lalu, dia bilang pas pulang shift malam...dia kaya ada yang ngikutin gitu." Kata Sherly santai.
"Ngikutin? Terus?" Anna masih fokus ke baju-baju.
"Ya udah, gak ada terusannya. Cuma, besoknya dia chat salah satu temannya. Katanya mau ambil cuti selama satu Minggu." Ujarnya lagi.
"Satu Minggu?"
"Masa cuti sampe satu Minggu. Mana ada bos yang ngizinin itu. Akhirnya kami memberikan cuti selama tiga hari. Dan sampai saat ini, dia gak masuk-masuk." Sherly mulai menaruh penasaran.
"Mungkin dia sakit, Sher." Kata Anna santai seraya meletakkan celana yang sudah di lipat ke atas tumpukan.
Percakapan mereka berhenti saat sebuah suara pembawa berita dari televisi membuat perhatian keduanya teralihkan.
"... masyarakat kembali diimbau meningkatkan kewaspadaan menyusul kasus penculikan perempuan yang terjadi beberapa pekan terakhir."
Tangan Anna berhenti di atas tumpukan pakaian. Sherly perlahan menurunkan toples camilan ke atas meja.
Di layar televisi tampak rekaman kamera pengawas sebuah jalan yang remang. Sosok seorang pria terlihat melintas mengenakan sebuah sepeda motor.
Wajahnya tidak terlihat, kepalanya tertutup helm berwarna hitam.
"Pria misterius yang hingga kini belum berhasil diidentifikasi tersebut diduga berkaitan dengan dua kasus penculikan perempuan."
Gambar berganti.
Foto lokasi kejadian muncul di layar. Anna menatap tanpa berkedip.
"Kedua korban ditemukan dalam kondisi telah meninggal dunia. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, terdapat indikasi bahwa korban mengalami kekerasan seksual sebelum akhirnya dibunuh."
Ruangan yang sebelumnya di penuhi percakapan santai mendadak berubah sunyi. Anna menurunkan pakaian yang berada di tangannya.
Tatapannya terpaku pada televisi.
"...pihak berwenang belum dapat memastikan identitas pelaku. Namun berdasarkan keterangan sejumlah saksi dan rekaman kamera pengawas, pelaku di duga menggunakan helm berwarna hitam untuk menutupi wajahnya."
Anna menoleh ke arah Sherly, mata mereka bertemu. Tidak ada yang mengatakan apa-apa, mereka teringat percakapan semalam di rooftop.
Tentang bawahan Sherly yang diikuti, tentang pria yang tak dikenal, tentang rumor dari mulut ke mulut.
"Astaga..." bisik Sherly.
Pembawa berita kemudian menyampaikan imbauan pemerintah agar masyarakat, terutama perempuan yang beraktivitas seorang diri pada malam hari, harus meningkatkan kewaspadaan, menghindari tempat sepi, serta segera melapor apabila sedang merasa diikuti.
Anna meraih remote dan mengecilkan volume televisi.
Anna kembali menoleh ke belakang. "Sherly," panggilnya.
"Hmm? Kenapa?"
"Kamu harus hati-hati mulai sekarang, Sher. Kamu kan sering pusing malam." Jawab Anna.
Anna sedang tidak bercanda.
Untuk pertama kalinya sejak mereka mendengar rumor itu, wajah sahabatnya benar-benar menunjukkan ketakutan.
Anna memandang lagi ke arah televisi. "Kalau begitu... setiap kamu pulang shift malam, aku bakal jemput kamu."
Sherly menyela, ia terkekeh. "Nggak perlu, kamu tahu sendiri aku jago bela diri."
"Tapi aku khawatir, Sher." Ucap Anna tulus.
"Nggak usah. Lagian...aku udah balikan kok sama Dean, dia yang akan jemput aku kalau pulang malam." Ujar Sherly nyengir.
Anna langsung menoleh dan menatap sahabatnya. "What? Kamu balikan sama Dean? seriusan?"
Sherly terkekeh bangga. "Ya ampun Anna...kamu kaya gak kenal Dean aja. Dia tuh sukanya cuma sama aku, cuma ya...dia agak plin plan aja. Tapi selebihnya oke, lah. sekarang juga...dia...udah lebih pinter."
Anna mengeryit. "Pinter? Maksud kamu?"
Sherly mencoba menggoda Anna, perempuan ceria itu memonyongkan bibirnya membuat Anna menggeleng pelan.
"Gila ya kamu...kalau ayahmu tahu..."
Sherly menyerobot sambil menyanyi sumbang. "Mati aku...ayahku tahu...kalau aku sedang berkencan dengannya...."
Anna lagi-lagi menggeleng kepala heran dengan tingkah Sherly. Ya, Anna tidak terlalu jauh mengurusi soal gaya pacaran mereka. Yang jelas, jika salah satu dari mereka di sakiti, maka mereka akan maju paling depan.
"Oh iya. Irene mau ke sini gak nanti sore?" tanya Sherly mengalikan pembicaraan.
"Katanya ada kerjaan yang harus dia beresin. Maklum, dia kan sibuk kerja." Ujar Anna.
"Enak ya jadi Irene. Kuliah di Amerika, terus dapet kerjaan bagus di perusahaan besar." Ucap Sherly seraya menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
Anna terkekeh. "Kita lihat sih memang seperti enak, Sher. Tapi belum tentu kita tahu seberapa kesusahannya Irene. Dari dulu, Irene kan mau jadi CEO, tapi kenyataannya ia tetap berjalan di tempat. Kaya kamu gak tahu sendiri, hidup di jaman seperti ini...mau mencapai sesuatu yang dari nol itu susah, kecuali orang-orang yang punya. Ibarat kita naik bus...mereka naik kereta cepat. Kita baru ngasih karcis, mereka udah sampe duluan."
Sherly terkekeh, ucapan yang di lontarkan oleh sahabatnya memang benar adanya. Menurut pandangan mereka, di jaman sekarang...percuma pintar dan mendapatkan nilai tertinggi jika uang tidak mereka genggam.
"Bener sih." Utas Sherly.
...🌴🌴🌴...
Sore hari, ketika matahari sudah sepenuhnya tenggelam dan hanya meninggalkan siluet berwarna jingga.
Tampak Anna dan Sherly menikmati makan malam mereka di sebuah kedai sate yang tak jauh dari tempat tinggal mereka.
Debur ombak yang pecah di pantai terdengar jelas, kedai sate tersebut cukup ramai pengunjungnya. Anna dan Sherly memesan dua porsi sate ayam lengkap dengan lontongnya.
"Udah lama ya, kita gak denger ombak." Ujar Sherly seraya memandang ke arah Utara.
Anna tersenyum. "Iya."
"Eh, kamu inget gak? Pas pertama kali kita ketemu Irene?" tanya Sherly seraya tertawa.
"Inget dong. Kalian dulu kenapa sih gak pernah akur?" tanya Anna.
"Lagian dulu Irene nyebelin banget. Tapi...sejak kejadian salah kirim surat, kita akhirnya jadi deket." Tawanya riang, "aku jadi kangen sama Irene..." keluhannya dengan bibir mengerucut.
"Irene lagi nyiapin persentase buat meeting besok katanya." Ujar Anna.
"Lagi-lagi sibuk kerja, hahhh memang beda ya. Aku sama Irene? Kaya bumi dan langit. Dia sekarang udah makan belum ya? Apa nanti kita mampir sambil bawain sate?"
"Boleh tuh. Ide bagus." Kata Anna setuju.
Pesanan mereka akhirnya datang, keduanya menikmati satu porsi sate dan lontong tersebut.
"Oh iya, Sher. Besok... kayanya aku mulai nyari kerjaan deh. Bosen juga kalau di rumah sendirian." Ucap Anna.
"Memangnya gak papa? Kamu kan masih masa pemulihan..."
Anna tersenyum di tengah kunyahannya. "Nggak kok, lagian...aku juga butuh uang. Masa iya aku tinggal di Jakarta gak ada pemasukan sama sekali."
Sherly mengangguk. "Baiklah. Jadi, kamu mutusin buat nulis lagi?"
Seketika Anna terdiam...
...🌴🌴🌴...
Kira-kira Anna kenapa?
Temukan jawabannya di bab selanjutnya 🫶
...BERSAMBUNG ...