Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Langit siang itu tampak cerah kebiruan dengan sedikit awan putih melayang di ufuk barat, saat Anindya bergegas keluar dari pintu kontrakan kecil tempatnya tinggal. Hansen sudah menunggu di depan mobil sedan hitam yang terparkir rapi di pinggir jalan, tepat pukul satu siang.
"Tuan Reynand sudah menunggu di dalam mobil, Anindya. Silakan," ucap Hansen sopan sambil membukakan pintu bagian belakang.
Di dalam mobil, Reynand duduk di sisi kanan sambil menatap berkas laporan di tangannya. Saat Anindya masuk dan duduk, ia menutup berkas itu perlahan, lalu mengangguk sapaan.
"Selamat siang, Pak."
"Selamat siang. Semua dokumen lengkap?"
"Sudah, Pak. Saya periksa ulang sebelum berangkat."
Reynand sedikit tersenyum tipis.
"Bagus. Kerapian dan ketelitian adalah hal yang paling aku hargai."
Perjalanan menuju bandara berlangsung lancar, namun saat tiba di lokasi tujuan, pertemuan bisnis yang dijadwalkan ternyata berlangsung lebih lama dari perkiraan. Diskusi berlanjut panjang, hingga matahari benar-benar terbenam dan langit berubah sepenuhnya gelap sebelum mereka sempat berpamitan dan bergegas menuju hotel.
Sesampainya tiba di lokasi, lampu-lampu kota sudah menyala berkelap-kelip di kejauhan. Mereka melangkah masuk ke lobi hotel yang luas dan mewah, lantai marmernya memantulkan cahaya lampu gantung yang hangat. Suasana malam di sana terasa lebih tenang dan eksklusif dibandingkan siang hari.
Reynand melangkah menuju meja resepsionis, sementara Anindya berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil memeluk tas dokumen dan tas pakaiannya. Petugas resepsionis menyambut mereka dengan ramah dan sopan.
"Selamat malam, Tuan. Pemesanan atas nama siapa?"
"Atas nama Reynand Ardian," jawabnya singkat.
Petugas itu mengetik sejenak di komputernya, lalu mengangkat wajah dengan senyum sopan namun terlihat sedikit ragu.
"Baik, Tuan Reynand. Berikut adalah kartu akses untuk kamar Anda."
Reynand mengernyitkan dahi saat tangan petugas itu hanya menyodorkan satu kartu akses.
"Maaf, bukankah dipesan dua kamar? Saya dan sekretaris saya."
Petugas itu kembali mengecek layar komputernya dengan teliti.
"Mohon maaf, Tuan. Di sistem kami tercatat hanya satu kamar Suite Eksekutif yang dipesan atas nama Anda. Hotel kami sedang penuh karena ada acara besar perusahaan."
Reynand terdiam sejenak, lalu mengambil ponselnya dan menekan nomor Hansen.
"Hansen. Kenapa hanya satu kamar yang tersedia? Bukankah sebelumnya sudah diatur dua?"
Suara Hansen terdengar sedikit cemas di seberang sana.
"Mohon maaf, Tuan. Saat saya melakukan pemesanan ulang setelah jadwal rapat diperpanjang, sistem menunjukkan kamar penuh di hotel itu maupun hotel setara di sekitar kawasan. Hanya tersisa satu Suite Eksekutif. Karena sudah larut malam dan Anda pasti ingin segera beristirahat setelah pertemuan tadi, saya putuskan memesan yang satu itu saja dulu."
Reynand menghela napas panjang, melirik sekilas ke arah Anindya yang berdiri menunggu dengan wajah datar namun terlihat lelah dan cemas.
"Baik... aku mengerti. Tidak apa-apa. Lanjutkan urusan lain sesuai jadwal."
Ia mematikan sambungan telepon, lalu menoleh kembali ke arah resepsionis.
"Baik, terima kasih. Kami akan mengambil kamarnya."
"Terima kasih, Tuan. Kamar Anda berada di lantai dua puluh satu. Lift eksekutif ada di sebelah kanan. Selamat beristirahat."
Reynand menerima kartu akses itu, lalu melangkah menuju Anindya yang masih berdiri menunggu di dekat area tempat duduk lobi.
"Maaf, Anindya. Ternyata terjadi kekeliruan dalam pemesanan," ucapnya jujur. "Hotel penuh karena ada acara besar. Hanya tersisa satu kamar Suite Eksekutif. Dan karena sudah larut malam, sulit mencari penginapan lain yang setara di sekitar sini."
Anindya tertekan sejenak, namun segera mengatur ekspresi wajahnya agar tetap tenang.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya bisa mencari penginapan lain di sekitar sini yang lebih terjangkau. Biaya dari kantor nanti saya klaim saja."
Reynand menggeleng pelan.
"Jangan. Sudah larut malam, dan lokasi di sini cukup asing bagi kamu. Selain itu, besok pagi kita harus berangkat ke lokasi pertemuan pukul delapan tepat. Tidak efisien jika kamu menginap di tempat yang jauh dan harus menempuh perjalanan kembali ke sini pagi-pagi sekali."
"Tapi... Pak, bagaimana jika kita satu kamar? Itu tidak pantas, bukan?"
"Kamar Suite Eksekutif itu memiliki ruang tengah terpisah dari kamar tidur utama. Ada sofa panjang yang cukup lebar dan empuk di ruang tengah, bisa dijadikan tempat beristirahat. Aku akan tidur di kamar tidur utama, dan kamu di ruang tengah. Pintu kamar tidur bisa dikunci dari dalam jika kamu merasa perlu. Bagaimana?"
Anindya menimbang sejenak, melirik ke arah pintu kaca putar hotel yang sudah sepi pengunjung di luar sana. Pikirannya berkecamuk antara rasa sungkan dan kesadaran bahwa tawaran itu memang paling masuk akal di jam yang sudah selarut ini.
"Baiklah, Pak. Jika Bapak tidak keberatan, saya ikut saja. Terima kasih banyak atas pengertian Bapak."
Mereka berdua melangkah berdampingan menuju lift eksekutif. Pintu terbuka mulus, dan sesampainya di lantai dua puluh satu, mereka berjalan menyusuri lorong yang beralih karpet tebal dan lembut, diterangi lampu dinding yang temaram namun hangat. Pintu kamar terbuka saat kartu akses ditempelkan ke sensor.
Di dalamnya, suasana sangat luas dan nyaman. Ruang tengah terpisah dengan jendela kaca besar yang memandang ke arah hamparan lampu kota di bawah sana. Langit-langitnya tinggi, pencahayaannya lembut dan menenangkan. Di sudut ruang tengah itu terdapat sofa kulit yang panjang dan terlihat sangat empuk, serta meja kerja kecil yang lengkap dengan lampu baca.
"Ini ruang tengahnya," tunjuk Reynand seraya melepaskan jasnya dan menyampirkannya di lengan kirinya. "Sofa ini cukup nyaman untuk beristirahat."
Anindya meletakkan tas pakaiannya di kursi dekat jendela, menatap sekeliling ruangan dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
"Terima kasih banyak, Pak."
Reynand melangkah masuk ke kamar tidur utama, meletakkan kopernya di sudut ruangan. Pintu kamar sengaja dibiarkan sedikit terbuka, menyisakan celah yang cukup untuk membiarkan cahaya samar dari lampu kamar tidur menyinari sebagian ruang tengah yang kini ditempati Anindya.
Anindya yang sedang berdiri di dekat jendela menoleh sekilas saat mendengar bunyi resleting koper yang terbuka, namun ia segera memalingkan wajah kembali ke arah pemandangan kota di luar sana, berusaha bersikap seolah tidak memperhatikan apa pun yang terjadi di ruangan sebelah.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu kamar mandi yang tertutup rapat, diikuti bunyi keran air yang mengalir. Anindya menarik napas panjang, lalu duduk perlahan di tepi sofa kulit yang empuk itu. Jantungnya berpacu tidak menentu, ini adalah pertama kalinya dia berada di dalam satu kamar bersama seorang pria.
"Kendalikan dirimu, Anindya. Jangan menyimpang dari jalur profesionalisme."
Anindya menarik napas panjang, lalu membuka tasnya dan mengeluarkan pakaian ganti. Ia menatap sofa panjang itu dan terdiam sejenak, menyadari ia butuh selimut tambahan untuk malam ini. Dengan langkah pelan dan hati-hati, ia melangkah menuju pintu kamar tidur utama yang sengaja dibiarkan terbuka itu.
Di dalam kamar itu, cahayanya sedikit lebih hangat. Ia melangkah menuju lemari di sisi dinding, membukanya perlahan, dan meraih selembar selimut tebal yang terlipat rapi di rak paling atas. Menariknya ke pelukan, ia berbalik badan hendak kembali ke ruang tengah dengan selimut yang menutupi sebagian dadanya.
Namun tepat saat ia berbalik, pintu kamar mandi terbuka tiba-tiba.
Reynand melangkah keluar hanya dengan mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya, sementara di tangan kirinya masih ada handuk lain yang sedang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah. Otot-otot di bahu dan lengannya terlihat jelas di bawah cahaya lampu kamar yang lembut, rambutnya yang lembap meneteskan air pelan di pelipisnya.
Anindya terbelalak seketika, wajahnya langsung merona merah padam hingga ke telinga. Ia buru-buru memalingkan wajah, menatap lantai di kakinya.
"Maaf... saya tidak bermaksud mengganggu..." ucapnya terbata-bata, suaranya hampir hilang ditelan keheningan ruangan.
Ia melangkah cepat, namun kakinya tersandung tepi karpet tebal yang menghampar lantai kamar tidur. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, dan ia terhuyung ke depan.
"Hati-hati!"
Reynand langsung menjatuhkan handuk yang ada di tangannya, berlari cepat ke arah wanita itu sebelum sempat terjatuh ke lantai. Ia meraih kedua pergelangan tangan Anindya, menarik tubuhnya ke arahnya sendiri, namun momentum gerakan mereka berdua justru membuat mereka kehilangan keseimbangan bersama-sama.
Keduanya jatuh berguling pelan ke atas permukaan ranjang yang empuk itu. Reynand berada di atas tubuh Anindya, kedua lengannya menahan berat badannya di samping kepala wanita itu agar tidak menindih sepenuhnya. Jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter saja. Napas mereka saling beradu, sama-sama memburu dan hangat.
Anindya memejamkan mata rapat karena gugup, wajahnya semakin merah. Selimut yang tadi ia peluk erat kini tergeletak terurai di samping pinggang mereka sebelum akhirnya jatuh ke lantai.
"Maaf..." bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
Reynand juga tertegun, menatap wajah wanita yang kini berada di bawahnya dengan napas yang tertahan. Matanya menelusuri setiap inci wajah itu — dari dahi yang berkeringat tipis, hingga bibir yang sedikit terbuka karena terkejut.
Waktu seakan ikut berhenti berputar pada detik itu.
-
-
-
Bersambung...