Indonesia
NovelToon NovelToon
Selir Favorit Sang Mafia

Selir Favorit Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Senja sastrala

Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

Pintu helikopter pribadi yang memutar baling-balingnya di helipad utama Puri Moretti masih terbuka lebar. Namun, Nyonya Eleanor Moretti tidak melangkah naik.

Wanita tua itu berdiri mematung di pelataran dengan tongkat berujung perak yang tertancap kuat di atas batu jalanan. Angin kencang dari hisapan baling-baling mengibarkan gaun hitam elegannya, memamerkan raut wajah yang tidak lagi sekadar dipenuhi oleh amarah, melainkan kemurkaan murni dari seorang penguasa yang harga dirinya baru saja diinjak-injak.

Bagi Eleanor, membangkang pada keputusannya adalah sebuah dosa besar. Namun membangkang pada Sang Ratu Tua wanita yang pernah membantai belasan petinggi mafia demi mempertahankan takhta saat suaminya terbunuh adalah hal yang sangat keterlaluan dan tidak ampun.

"Mengusirku?" bisik Eleanor dengan suara bergetar oleh amarah yang membakar dada. "Anak yang kubesarkan dengan darah dan keringatku berani mengusirku demi seonggok daging rendahan?"

Eleanor membalikkan tubuhnya kasar, menatap bangunan puri batu tua yang berdiri megah di hadapannya. Manik matanya yang setajam elang menyipit memancarkan bahaya mematikan.

Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memberi sinyal mutlak kepada kapten unit elit Black Vipers pasukan komando pribadi yang hanya tunduk pada perintahnya.

"Hentikan persiapan helikopter," perintah Eleanor dingin, suara berbariton tuanya menembus deru mesin udara. "Tutup seluruh akses puri. Putus jaringan komunikasi internal."

Kapten unit Black Vipers segera membungkuk dalam. "Perintah Anda, Nyonya Besar?"

"Bocah itu butuh pengingat keras tentang siapa penguasa sebenarnya di dalam dinasti ini," tegas Eleanor, jemarinya meremas kepala tongkat perak dengan dendam yang memuncak. "Dia mengira karena dia memegang gelar Don, dia bisa bertindak semaunya? Aku yang memberikannya tahta itu, dan aku pula yang bisa menyeretnya turun untuk berlutut di hadapanku!"

"Namun Tuan Gabriel didampingi oleh Marco dan unit Bravos, Nyonya..."

"Lumpuhkan Marco terlebih dahulu!" potong Eleanor cepat tanpa sedikit pun keraguan. "Marco adalah tulang punggung dan perisai utamanya. Tanpa pria itu di sampingnya, Gabriel hanyalah seorang anak nakal yang buta oleh wanita. Tembak Marco, patahkan perlawanannya, lalu seret Gabriel berlutut di depanku!"

"Baik, Nyonya Besar!"

Sementara itu, di dalam aula utama Puri Moretti, Gabriel baru saja selesai mengantar Aurora kembali ke dalam kamar utama setelah situasi dirasa aman. Sang Don melangkah turun ke tangga tengah dengan santai, berniat memastikan kendaraan ibunya benar-benar telah melayang meninggalkan perimeter puri.

Marco berjalan setia dua langkah di belakangnya, menggenggam tablet enkripsi untuk memantau pergerakan helikopter Eleanor.

"Helikopter Nyonya Besar belum lepas landas, Tuan," ujar Marco seraya mengernyitkan dahi. "Sinyal radionya mendadak mati, dan..."

DOR! DOR! DOR!

Sebelum Marco sempat menyelesaikan kalimatnya, tiga dentuman tembakan berperedam suara memecah keheningan aula dari arah balkon lantai dua.

JASSSH!

Satu timah panas menerobos bahu kiri Marco dengan presisi mengerikan, disusul tembakan kedua yang menghantam paha kanannya. Darah segar menyembur deras. Marco terdorong ke belakang, membentur pilar batu besar sebelum akhirnya ambruk berlutut di atas lantai marmer dengan napas terengah parah.

"Marco!" teriak Gabriel, refleks membalikkan badan dengan kecepatan mematikan.

Senjata otomatis Glock 19 di balik jas Gabriel meluncur ke tangannya dalam hitungan detik. Pria itu mengarahkan moncong senjatanya ke atas, memuntahkan tembakan balasan ke arah para penembak tersembunyi.

BANG! BANG! BANG!

Seorang anggota Black Vipers tewas seketika dari balkon, tubuhnya jatuh terhempas ke lantai dasar. Namun, serangan itu bukan sekadar penyergapan kecil.

Pintu depan puri terbanting terbuka secara paksa. Belasan anggota unit elit Black Vipers menerobos masuk dengan tameng anti-peluru dan senapan serbu laras panjang, mengepung posisi Gabriel dan Marco yang bersimbah darah dalam formasi ketat tanpa celah.

"Tuan... pergi..." erang Marco seraya berusaha menegakkan tubuhnya kembali. Tangan kanannya yang gemetar hebat mencoba mencabut senjata di pinggangnya, namun pendarahan parah di bahu dan pahanya membuat pergerakannya lumpuh total.

Dua anggota Black Vipers melompat mendekati Marco. Dengan hantaman popor senapan yang telak di belakang kepalanya, Marco roboh tersungkur, terkunci rapat di bawah injakan sepatu taktis para pengawal Eleanor.

"Lumpuhkan Tuan Gabriel! Jangan tembak organ vital!" teriak kapten unit lawan dari balik tameng.

Mata Gabriel membara oleh kebuasan gila saat melihat Marco dilumpuhkan di depan matanya sendiri. Darah murni Moretti yang haus akan pembantaian meledak sepenuhnya di dalam aliran darah sang Don.

"Tikus-tikus tak tahu diri!" geram Gabriel dengan suara yang bergetar oleh amarah raksasa.

Gabriel bergerak cepat bagaikan bayangan hitam. Ia memanfaatkan pilar batu aula sebagai perlindungan, memuntahkan tembakan demi tembakan yang merusak tameng dan menembus leher dua pengawal di depannya. Setiap tembakannya adalah eksekusi mati. Ia memutar tubuhnya, mencabut pisau komando dan menancapkannya tepat di tenggorokan anggota lawan yang mencoba mendekatinya dari belakang.

Darah menyembur keras, membasahi wajah dan kemeja putih Gabriel.

Namun, jumlah musuh terlalu banyak, dan mereka adalah pasukan elit yang dilatih khusus oleh Eleanor untuk mengantisipasi gaya bertarung Gabriel.

BANG!

Sebuah tembakan peluru penumpas menghantam kaki kanan Gabriel dari arah samping, membuat keseimbangan sang Don terganggu. Gabriel meringis rendah saat rasa panas membakar tulang kakinya. Belum sempat ia membalas, tiga hantaman tameng baja menghantam dadanya dari depan dan samping secara bersamaan, menghempas tubuh tegapnya ke lantai marmer dengan benturan keras.

Empat pengawal elit langsung menindih punggung dan mengunci kedua tangan Gabriel di belakang tubuhnya, menekan kepalanya secara paksa ke lantai yang basah oleh darah.

"Lepaskan aku, brengsek!" amuk Gabriel seraya meraung dahsyat. Otot-otot lengannya menegang hebat mencoba mendobrak kuncian empat pria bertubuh kekar tersebut, namun kuncian taktis yang menekan persendiannya membuat gerakannya terkunci rapat.

Langkah kaki bertumit keras yang berirama dingin perlahan mendekati aula.

Suara dentukan tongkat berujung perak bergaung dengan nada kemenangan yang menyiksa.

Nyonya Eleanor Moretti melangkah masuk ke dalam aula yang dipenuhi oleh bau amis darah dan asap mesiu. Wajah cantiknya yang dimakan usia memancarkan keangkuhan mutlak seorang Ratu Tua yang berhasil menegakkan hukumnya kembali.

Eleanor berhenti tepat di depan Gabriel yang sedang ditindih paksa di atas lantai. Pria yang tadi berani mengusirnya kini terbaring tak berdaya di bawah kakinya.

"Paksa dia berlutut!" perintah Eleanor dingin tanpa sedikit pun rasa iba pada anak kandungnya sendiri.

Para pengawal menarik tubuh Gabriel secara kasar, menarik rambut belakangnya dan menekan kedua lututnya hingga menghantam lantai marmer tepat di hadapan Eleanor.

Gabriel mendongak secara paksa. Manik mata hitamnya yang dipenuhi guratan merah darah menatap ibunya dengan dendam yang begitu pekat dan membakar. Wajah tampannya bersimbah darah musuh dan peluhnya sendiri, namun raut keangkuhannya sama sekali tidak luntur.

"Apakah kau sudah paham sekarang, Gabriel?" bisik Eleanor, membungkukkan tubuhnya sedikit hingga wajahnya berjarak hanya beberapa senti dari anaknya. "Siapa penguasa sebenarnya di dalam dinasti Moretti?"

Eleanor mengangkat tongkat peraknya, menekan ujung perak yang dingin itu tepat di bawah dagu Gabriel, memaksa kepala anaknya makin mendongak tinggi.

"Kau dibesarkan oleh tanganku. Tahta yang kau duduki disiram oleh darah yang kukumpulkan!" tegar Eleanor dengan suara berbariton yang teramat menakutkan. "Kau mengira karena kau sudah memakai jas mahal dan dipanggil Don, kau bisa membangkang padaku demi seorang wanita murah?"

Gabriel memamerkan gusi dan giginya yang bersimbah darah, menyunggingkan senyuman miring yang teramat membahayakan.

"Kau... tidak akan pernah bisa mengendalikanku lagi, Ibu..." desis Gabriel serak, suaranya sarat akan ancaman kematian yang begitu nyata. "Kau bisa melumpuhkan Marcoku... kau bisa menekan lututku ke lantai hari ini... tapi begitu aku berdiri dari tempat ini, aku akan memusnahkan seluruh orang yang berdiri di belakangmu!"

PLAK!

Sebuah tamparan keras dari tangan Eleanor mendarat di pipi Gabriel, meninggalkan bekas merah yang kentara di kulit wajah tampan sang Don.

"Tutup mulutmu!" bentak Eleanor, napasnya memburu oleh kebencian yang mendalam. "Kau tidak akan berdiri sampai wanita itu mati di depan matamu!"

Eleanor menegakkan tubuhnya kembali, membalikkan badan ke arah para pengawalnya seraya mengarahkan tongkat peraknya ke arah lantai atas tempat kamar utama berada.

"Cari selir itu di seluruh sudut puri ini!" perintah Eleanor mutlak pada sisa anggota Black Vipers. "Seret dia turun ke aula ini. Aku ingin membantainya di depan mata Gabriel agar anak bodoh ini tahu apa konsekuensinya jika berani membangkang pada Ratu Tua!"

"Jangan sentuh dia, Eleanor!" raung Gabriel dahsyat, dadanya membumbung tinggi mencoba mematahkan kuncian di lengannya saat mendengar nama Aurora disebut.

Namun, enam pengawal tambahan melompat menindih bahu dan punggung Gabriel, menahan sang Don agar tetap berlutut dalam posisi terkunci rapat di hadapan sang ibu, sementara belasan pengawal lainnya mulai melangkah cepat menaiki tangga menuju kamar Aurora dengan senjata terkokoh penuh.

1
King Kas
👍🏻👍🏻
King Kas
lanjut kak....!!!
jennn
💪💪💪
jennn
💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!