Keira Anindita menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan besar demi menjaga harga diri Arsen, pria yang pernah menolongnya dan kemudian menjadi suaminya. Selama empat tahun, Keira diam-diam membantu Arsen membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan yang disegani.
Namun, kesuksesan membuat keluarga Arsen berubah. Keira yang dulu begitu disayang, kini dianggap perempuan miskin yang tidak pantas mendampingi Arsen.
Puncaknya terjadi dalam sebuah pesta ketika ibu mertuanya memperkenalkan Clarissa sebagai calon istri Arsen. Saat Keira diperlakukan bak pembantu yang melayani para tamu, Arsen hanya diam. Malam itu juga Keira pergi tanpa membawa satu pun harta keluarga Wijaya.
Tak lama kemudian, fondasi perusahaan Arsen mulai runtuh karena Keira melucuti semua dukungan.
Saat Arsen akhirnya mengetahui identitas asli istrinya, penyesalan datang terlambat. Keira telah bertemu Elvano, pria jauh lebih berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Jangan Membawa Masa Lalu Ke Sini
.
Clarissa akhirnya mendapatkan jadwal pertemuan dengan Keira setelah menunggu dua hari. Ia ingin memastikan mantan istri Arsen itu tidak kembali ke kehidupan suaminya.
Pagi itu, Clarissa datang ke kantor KA Grup dengan penampilan elegan. Seorang karyawan menunjukkan lift yang akan langsung sampai di depan ruangan keira.
Ketika melihat kedatangan Clarissa, Keira menyambutnya secara profesional, tanpa menunjukkan ketertarikan selain sebagai tuan rumah yang menerima tamu.
“Silakan duduk, Bu Clarissa.” Keira menunjuk sebuah kursi yang berada di seberang meja kerjanya. “Saya punya waktu sekitar lima belas menit. Apa yang ingin Anda bicarakan?”
Clarissa duduk dan langsung menyampaikan maksud kedatangannya. “Aku ingin membicarakan Arsen.”
Keira menutup dokumen di hadapannya. “Kalau menyangkut hubungan pribadi Anda dengannya, sebaiknya Anda berbicara langsung kepada suami Anda.”
“Tentu saja ini juga menyangkut dirimu, karena itu aku datang ke sini.” Clarissa menatapnya tajam. “Sejak mengetahui siapa dirimu sebenarnya, Arsen dan Ibu mertua mulai berharap kalian kembali bersama. Aku tidak ingin kau memanfaatkan keadaan ini untuk mendekatinya lagi.”
Keira mengernyit tipis. “Apa menurut Anda saya akan melakukan itu?”
“Kalian pernah menikah. Kau pasti merasa senang Arsen sekarang menyesali keputusannya.” Clarissa tersenyum seakan mengejek.
“Penyesalannya bukan urusan saya,” jawab Keira datar.
Seketika itu juga senyum di wajah Claris sama memudar. “Jangan berpura-pura tidak peduli. Kau sekarang punya kekuasaan dan kekayaan. Kamu pasti bangga kan melihat Arsen sekarang mengejarmu?”
Keira menatapnya tenang. “Saya tidak pernah meminta Arsen kembali. Pernikahan kami sudah berakhir, dan saya tidak berniat memungut kembali sampah yang sudah saya buang. Jadi, Anda tidak perlu datang ke kantor saya hanya untuk memastikan hal itu.”
“Dasar wanita sombong,” balas Clarissa, mulai kesal.
“Karena ada yang pantas untuk saya sombongkan, Bu Clarissa. Dan anda sudah melihat semuanya kan?” dengan wajah angkuh Keira menyadarkan tubuhnya dengan dua tangan menyilang di depan dada.
Clarissa mengepalkan tangan di atas pangkuannya. Ia datang untuk memberi peringatan pada Keira, tetapi semua kata-katanya seolah mental di hadapan Keira. Dalam hatinya ia harus mengakui, Keira memang pantas menjadi pimpinan tertinggi.
Belum sempat Clarissa membalas, terdengar ketukan di pintu. Darren masuk setelah mendapat izin.
“Maaf mengganggu, Bos. Pak Arsen Wijaya baru tiba di lobi. Beliau meminta waktu untuk bertemu dengan Anda.”
Clarissa langsung menoleh. Kedatangan Arsen membuatnya terkejut sekaligus curiga. Ia tidak tahu suaminya akan datang menemui Keira.
“Apakah beliau sudah memiliki janji?” tanya Keira.
Daren menggeleng singkat. “Belum, Bos. Beliau mengatakan ada urusan penting yang ingin dibicarakan.”
Keira mengangguk tapi matanya menatap ke arah Clarissa. "Sebenarnya saya tidak pernah menerima tamu tanpa janji sebelumnya," ucapnya. "Tapi karena kebetulan Bu Clarissa ada di sini, persilakan beliau masuk!”
"Baik." Darren mengangguk lalu keluar.
Clarissa menatap Keira dengan sorot mata tajam. “Kebetulan sekali. Aku baru saja membicarakan Arsen denganmu, sekarang dia datang sendiri. Apa jangan-jangan kalian sudah membuat janji sebelumnya?”
“Saya tidak tahu beliau akan datang,” jawab Keira datar. “Dan bukankah itu bagus? Anda bisa mendengar langsung apa yang akan dikatakan oleh suami Anda."
Tak lama kemudian, Darren kembali bersama Arsen. Pria itu terlihat terkejut ketika mendapati Clarissa berada di ruangan tersebut.
“Kamu juga di sini?” tanyanya.
"Justru aku yang seharusnya bertanya, apa yang sedang kamu lakukan di sini?” Clarissa mendapat wajah arisan dengan dua tangan mengepal di atas paha.
Arsen sedikit gelagapan. Padahal dia datang seperti saran ibunya yang ingin mengajak Keira untuk rujuk. Tapi jika ada Clarissa di dalam ruangan yang sama, bagaimana caranya dia bicara dengan Keira?
“Aku datang untuk membicarakan Wijaya Group.” Alasan itulah yang akhirnya ia ucapkan.
Keira menunjuk kursi yang bersebelahan dengan Clarissa. “Silakan duduk, Pak Arsen. Apa yang ingin Anda bicarakan?”
Arsen duduk, lalu mulai menjelaskan keadaan perusahaannya. “Wijaya Group sedang mengalami kesulitan keuangan. Beberapa investor menarik dukungan, sementara proyek yang kami harapkan tidak berjalan sesuai rencana. Aku ingin meminta bantuanmu.”
Clarissa terdiam, tetapi matanya terus mengawasi suaminya.
“Bantuan seperti apa?” tanya Keira.
“Aku berharap KA Grup bersedia menjadi mitra strategis atau memberikan investasi untuk membantu memulihkan kondisi perusahaan. Aku tahu kemampuan finansialmu cukup besar. Dengan dukunganmu, Wijaya Group mungkin bisa melewati masa sulit ini.”
“Maaf, saya tidak bisa membantu,” jawab Keira setelah mendengarkan sampai Arsen selesai berbicara.
Arsen tampak kecewa. “Kau bahkan belum mempertimbangkannya.”
Keira menatap pria itu dengan syarat matanya yang datar. “Saya tidak perlu mempertimbangkannya. Karena saya merasa tidak memiliki kewajiban untuk menyelamatkan perusahaan Anda.”
“Aku tahu kita sudah berpisah, tetapi kita pernah menjadi keluarga,” kata Arsen, berusaha membuatnya mengubah keputusan. “Aku berharap hubungan kita di masa lalu masih berarti bagimu.”
Keira menatap Arsen dengan ekspresi dingin. “Selama bertahun-tahun, saya sudah membantu Wijaya Group. Saya melakukannya karena saat itu saya masih menjadi bagian dari keluarga Anda. Namun, keluarga Anda menganggap saya tidak pantas berada di sisi Anda. Jadi kenapa saya harus terus berkorban?”
Arsen menunduk. “Aku menyesali semua yang terjadi.”
“Penyesalan Anda tidak membuat saya berkewajiban membantu Anda sekarang.”
Ruangan itu mendadak sunyi. Arsen menatap Keira, berharap masih ada celah yang bisa digunakannya untuk membujuk perempuan itu. Namun, Keira sama sekali tidak menunjukkan keraguan.
“Keputusan saya sudah final, Pak Arsen. KA Grup tidak akan memberikan investasi ataupun bantuan dana kepada Wijaya Group. Saya harap Anda menghormati keputusan ini dan tidak membawa persoalan masa lalu ke kantor saya.”
Arsen tidak mampu menjawab, sementara Clarissa justru merasa lega. Setidaknya, ia tahu bahwa Keira tidak mungkin kembali menjadi menantu keluarga Wijaya.
“Apa kamu tidak malu terus memohon seperti itu,” katanya sambil berdiri. “Kamu seperti laki-laki yang sama sekali tidak punya harga diri.”
Arsen mengeraskan rahang yang mendengar ucapan Clarissa yang begitu menohok. Dan akhirnya pria itu ikut berdiri. Sebelum pergi, ia sempat menatap Keira sekali lagi.
“Kalau suatu hari kau berubah pikiran, aku…”
“Keputusan saya tidak akan pernah berubah.” Keira memotong sebelum Arsen menyelesaikan ucapannya.
Arsen akhirnya melangkah keluar bersama Clarissa. Sesampainya mereka berdua di dalam lift, Clarissa melirik suaminya.
“Sekarang kau sudah tahu jawabannya. Jangan berharap terlalu banyak kepadanya.”
Arsen hanya diam dengan segala pikiran yang berkecamuk dalam benaknya.
Clarissa mengira penolakan Keira akan membuat suaminya berhenti. Namun, ketika melihat Arsen masih murung, ia mulai curiga bahwa kedatangannya ke kantor KA Grup bukan semata-mata demi menyelamatkan Wijaya Group.
Tadi di dalam ruangan Keira, ia memang mendengar alasan yang disampaikan suaminya, tetapi ia merasa sebenarnya suaminya datang bukan untuk itu.
"Ba'jingan kau, Arsen. Lihat saja, aku pasti akan membuatmu menyesal telah memperlakukan aku seperti ini."
Soryyyy yeee......😛😛😛