Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Om Level Dewa

Sistem Om Level Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Hidup tenang Bayu sebagai karyawan sekaligus selebgram hancur seketika saat ia harus mengasuh enam keponakan perempuannya yang super aktif. Namun, kemunculan "Sistem Om Level Dewa" mengubah segalanya dengan menjanjikan kekayaan tak terbatas asalkan ia berhasil membuat para keponakannya bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Dia tahu Sinta adalah anak yang sangat peka terhadap kondisi keuangan keluarganya.

"Jangan dengarkan ucapan nenek sihir itu Sinta, dia hanya iri pada Om."

"Mulai sekarang, kalian tidak akan pernah kelaparan atau hidup susah lagi selama ada Om di sini."

Bayu mengelus puncak kepala Sinta dengan lembut menggunakan tangan kirinya.

"Besok sepulang kerja, Om akan mencari rumah baru yang jauh lebih besar dari apartemen kita."

Sinta menoleh menatap Bayu dengan mata berbinar penuh harapan.

"Rumah yang ada kolam renangnya seperti di televisi itu Om?"

"Tentu saja, bahkan jika kalian meminta rumah yang ada lapangan golfnya pun Om akan membelikannya."

Sinta tertawa pelan mendengar janji pamannya yang terdengar sangat berlebihan itu.

"Om jangan terlalu banyak membual, rumah dengan kolam renang saja sudah cukup untuk kami."

Perjalanan pulang itu terasa sangat singkat hingga akhirnya mereka tiba di area parkir apartemen Bayu.

Bayu harus membangunkan keponakannya satu per satu untuk turun dari mobil.

Mereka berjalan menyusuri lorong apartemen dengan langkah gontai karena masih mengantuk.

Cklek.

Bayu membuka pintu apartemennya dan langsung disuguhi pemandangan yang sangat memprihatinkan.

Ruang tamu yang ukurannya hanya sepetak itu dipenuhi dengan mainan dan pakaian yang berserakan.

Bungkus makanan ringan dan remah-remah biskuit berceceran di atas karpet berbulu miliknya.

"Astaga, aku lupa kalau kapal pecah ini belum sempat dibereskan sejak pagi tadi."

Bayu menghela nafas panjang melihat kekacauan yang ada di depan matanya.

"Om, Rara mau tidur lagi di kasur yang empuk," rengek Rara sambil mengucek matanya.

"Iya sana langsung masuk ke kamar dan tidur bersama yang lain ya."

Keenam keponakannya langsung masuk ke dalam kamar tidur satu-satunya di apartemen tersebut.

Bayu berjalan menuju sofa yang penuh dengan tumpukan baju dan merebahkan tubuhnya di sana.

Kriet.

Suara per sofa yang sudah usang berbunyi pelan saat menahan beban tubuh Bayu.

Bayu menatap langit-langit apartemennya yang mulai menguning karena rembesan air hujan.

"Apartemen ini benar-benar tidak layak untuk ditinggali oleh enam anak perempuan yang sedang dalam masa pertumbuhan."

"Besok aku harus segera membeli rumah besar agar mereka bisa bermain dengan leluasa."

Bayu lalu memejamkan matanya dan memanggil sistem di dalam kepalanya.

"Sistem, coba tampilkan panel informasiku sekarang."

[Ding!]

[Menampilkan Panel Informasi Tuan...]

Sebuah layar biru transparan kembali muncul melayang di depan wajah Bayu.

[Nama: Bayu Pratama]

[Status: Paman Baru Kaya]

[Saldo Pribadi: Rp 47.050.000]

[Aset: Lamborghini Aventador, Toyota Alphard]

[Item Khusus: Kartu Blackcard Tanpa Limit]

[Poin Kasih Sayang Keponakan: 10/100]

Bayu mengerutkan dahinya melihat ada satu baris informasi yang baru dia lihat.

"Sistem, apa maksudnya dengan Poin Kasih Sayang Keponakan ini?"

[Poin Kasih Sayang adalah indikator tingkat kebahagiaan dan kepercayaan keponakan terhadap Tuan.]

[Jika poin mencapai angka 100, sistem akan membuka fitur toko khusus yang menjual item dari luar dunia ini.]

"Item dari luar dunia ini? Maksudmu seperti ramuan sihir atau kekuatan super begitu?" tanya Bayu antusias.

[Informasi tersebut terkunci sampai Tuan berhasil mengumpulkan 100 poin kasih sayang.]

Bayu berdecak pelan karena merasa penasaran dengan jawaban menggantung dari sistem tersebut.

"Baiklah, aku akan membuat mereka sangat bahagia setiap hari agar poinnya cepat penuh."

Bayu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam.

Perutnya sudah terasa kenyang dan tubuhnya mulai menuntut untuk diistirahatkan.

Namun dia teringat akan satu hal yang selalu menjadi beban pikirannya setiap hari Minggu malam.

Besok adalah hari Senin, hari di mana dia harus kembali menghadapi kenyataan pahit di kantornya.

Bayu bekerja sebagai staf pemasaran di sebuah perusahaan rintisan bernama PT Cipta Kreasi.

Gajinya hanya sebatas UMR namun beban kerjanya setara dengan tiga orang karyawan sekaligus.

Yang paling menyebalkan dari pekerjaan itu bukanlah tugasnya, melainkan atasannya yang bernama Pak Yono.

Pak Yono adalah tipe bos yang hobi mencari kesalahan bawahan dan mencuri hasil kerja keras mereka.

"Pak Yono botak itu pasti akan menagih laporan evaluasi bulanan besok pagi."

"Biasanya aku akan begadang semalaman untuk mengerjakannya agar tidak dimaki-maki di depan umum."

Bayu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan Kartu Blackcard miliknya.

Dia menatap pantulan wajahnya di permukaan logam kartu hitam tersebut dan tersenyum miring.

"Tapi sekarang situasinya sudah sangat berbeda jauh."

"Aku memiliki uang yang bahkan bisa membeli seluruh saham perusahaannya jika aku mau."

Bayu memasukkan kembali kartu itu dan memejamkan matanya dengan perasaan sangat tenang.

"Besok akan menjadi hari yang sangat menarik di kantor."

"Aku tidak sabar melihat wajah botak Pak Yono saat aku menolak mengerjakan laporannya."

Bayu akhirnya tertidur pulas di atas sofa usang itu dengan senyuman yang masih menghiasi bibirnya.

Pagi harinya, sinar matahari kembali menembus masuk ke dalam ruang tamu apartemen Bayu.

Kicauan burung dari luar jendela menjadi alarm alami yang membangunkan pemuda tersebut.

Bayu meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku karena tidur semalaman di atas sofa sempit.

Kretek.

Bunyi tulang yang bergeser terdengar cukup keras dari area punggungnya.

"Ukh, badanku rasanya seperti habis dipukuli oleh preman pasar."

"Aku benar-benar harus segera membeli kasur pijat mahal di rumah baruku nanti."

Bayu berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan menggosok gigi.

Saat dia keluar dari kamar mandi, dia melihat Sinta sudah bangun dan sedang merapikan mainan yang berserakan di karpet.

"Selamat pagi Sinta, tumben kamu bangun pagi sekali hari ini." Sinta menoleh dan tersenyum tipis ke arah pamannya.

"Selamat pagi Om Bayu, aku harus menyiapkan seragam sekolah untuk Kania dan Bella."

"Hari ini mereka berdua ada acara pentas seni di sekolah dasar mereka."

Bayu menepuk dahinya dengan keras saat mendengar ucapan keponakannya itu. Plak.

"Astaga Om benar-benar lupa kalau hari ini mereka ada pentas seni."

"Tahun lalu Om melewatkannya karena harus pergi dinas ke luar kota mendadak."

"Lalu siapa yang akan mengantar dan mendampingi mereka di sekolah hari ini?" Sinta mengangkat bahunya dengan gerakan santai.

"Biasanya Mama yang akan menemani mereka, tapi karena Mama sedang dinas jadi mungkin mereka tidak akan hadir."

"Tidak apa-apa Om, Kania dan Bella pasti mengerti kalau Om harus sibuk bekerja di kantor hari ini."

Mendengar nada pasrah dari Sinta, hati Bayu terasa sedikit teriris.

Dia tahu betapa pentingnya kehadiran orang tua bagi anak-anak di acara sekolah seperti itu.

[Ding!]

[Misi Insidental Diberikan!]

[Tugas: Jadilah wali yang membanggakan bagi Kania dan Bella di acara sekolah mereka hari ini.]

[Hadiah: Tambahan 10 Poin Kasih Sayang, Uang Tunai Seratus Juta Rupiah.]

Suara mekanis dari sistem kembali berbunyi tepat di saat yang paling dibutuhkan.

Bayu membaca detail misi tersebut dengan mata berbinar penuh semangat.

"Sinta, tolong bangunkan adik-adikmu sekarang juga dan suruh mereka mandi."

"Hari ini Om yang akan mengantar kalian semua ke sekolah menggunakan mobil Alphard baru kita."

Sinta menatap Bayu dengan tatapan bingung dan sedikit ragu.

"Tapi bagaimana dengan pekerjaan Om di kantor?"

"Bukankah bos Om yang botak itu sangat galak jika Om datang terlambat?"

Bayu tertawa lepas mendengar julukan yang diberikan Sinta untuk atasannya.

"Jangan khawatirkan si botak itu Sinta, Om bisa mengatur semuanya dengan mudah sekarang."

"Pekerjaan utama Om hari ini adalah membuat keponakan-keponakan Om menjadi anak paling bahagia di dunia."

Sinta tersenyum lebar dan segera berlari masuk ke dalam kamar untuk membangunkan adik-adiknya.

1
Adelina Lin
thor,gimana ibunya anak anaknya gk diceritakan lagi
kiyoe: heheh iyaa nanti muncul kok kak ibu dari keenam anak² itu 🙏
total 1 replies
Wega Luna
yu, ponakan2 mu itu bisa dibuat model juga🤣🤣🤣🤣🤣
Wega Luna
apa gunanya sistem kalo tidak memberi peringatan, jangan sampai lah terjebak terlalu jauh ,semoga ketahuan,
Adelina Lin: thor jangan sampai rencana busuknya si vanya terlaksana, kasihan bayu dan keponakannya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!