Indonesia
NovelToon NovelToon
MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GOSIP

Meski sudah dilarang Juned dan Ratih, Anyara akhirnya nekat ikut arisan RT minggu itu—alasannya sederhana, ia yang membawa uang setoran bulanan ke rumah Bu Wati selaku bendahara, jadi sekalian saja ia duduk sebentar sebelum pulang.

Begitu masuk ke ruang tamu Bu Wati yang sudah dipenuhi ibu-ibu kompleks, obrolan yang tadinya ramai langsung meredup sesaat, lalu berlanjut dengan nada yang dibuat-buat biasa saja.

"Eh, Anyara! Jarang banget ikut kumpul-kumpul," sapa Bu Wati, sambil menyodorkan kursi kosong.

"Iya, Bu, kebetulan lagi longgar," jawab Anyara, duduk dengan sopan, menaruh amplop setoran di meja.

Di sebelahnya, Bu Ida—tetangga yang terkenal paling cerewet sekomplek—langsung menyambar topik yang sepertinya sudah dibicarakan sebelum Anyara datang.

"Ngomong-ngomong soal itu ya, Anyara. Kamu tau nggak, kemarin ada yang lihat suamimu di daerah Kemang, jalan berduaan sama cewek, naik mobil bagus. Katanya mesra banget."

Ruangan itu tiba-tiba senyap. Semua mata tertuju ke arah Anyara, menunggu reaksinya seperti menonton adegan sinetron.

Anyara tersenyum tipis, mencoba tenang meski dadanya berdegup lebih cepat. "Mungkin itu temen kantornya, Bu. Juned kan kerja di perusahaan besar, banyak rekan kerja perempuan."

"Ih, tapi kata yang lihat, mereka pegangan tangan lho," timpal Bu Ida lagi, matanya berbinar seolah menikmati momen ini. "Aku sih cuma nyampein aja ya, biar kamu waspada."

"Bu Ida, udahlah, nggak semua yang kita liat itu benar," Bu Wati mencoba menengahi, meski suaranya kurang tegas.

"Lho, aku kan cuma jujur. Mendingan Anyara tau dari sekarang daripada nanti kaget."

Anyara meremas ujung amplop kosong di tangannya, berusaha menjaga suaranya tetap datar. "Terima kasih infonya, Bu. Nanti saya tanyakan langsung ke Mas Juned."

"Nah gitu dong, jangan cuma diem aja. Perempuan itu harus tegas, jangan mau dibodohin suami."

Obrolan berlanjut ke topik lain—harga cabai yang naik, rencana lomba 17 Agustus—tapi Anyara sudah tidak benar-benar mendengarkan. Pikirannya melayang ke noda lipstik samar di kerah kemeja Juned beberapa hari lalu, ke ponsel yang selalu terkunci rapat, ke "meeting penting" dan "lembur" yang belakangan makin sering.

Ia pamit pulang lebih awal dari biasanya, dengan alasan mertuanya menunggu.

Sesampainya di rumah, Ratih sudah menunggu di ruang tamu dengan wajah masam.

"Dari mana aja? Katanya cuma nganter setoran, lama banget."

"Maaf, Bu, tadi kebetulan ada obrolan sebentar."

"Obrolan apa? Gosip ya? Udah Ibu bilang, jangan nongkrong-nongkrong sama ibu-ibu itu, kerjaannya cuma ngomongin orang."

Anyara ingin sekali membalas, "Justru mereka lagi ngomongin anak Ibu," tapi ia menahan diri, hanya mengangguk dan masuk ke kamar.

Malam itu, ketika Juned pulang seperti biasa, terlambat dengan alasan lembur, Anyara memberanikan diri bertanya sambil menyiapkan makan malamnya di meja.

"Mas, tadi siang ada yang bilang lihat Mas di Kemang, jalan sama cewek, pegangan tangan segala."

Juned yang tadinya sedang melepas sepatu, sempat terdiam sepersekian detik sebelum menjawab dengan nada yang dibuat setenang mungkin. "Siapa yang bilang gitu? Ngawur banget. Aku dari pagi di kantor terus, meeting sampe sore."

"Bu Ida yang cerita. Katanya lihat langsung."

"Ya udah, itu salah orang kali. Emang muka aku aja yang mirip-mirip orang lain apa," Juned tertawa kecil, tapi tawanya terdengar dipaksakan. "Kamu percaya aja sama omongan ibu-ibu kompleks? Mereka kan emang doyan ngarang cerita."

Anyara menatap wajah suaminya lekat-lekat, mencoba mencari kejanggalan, tapi Juned sudah keburu berjalan ke kamar mandi sambil melanjutkan, "Udah ah, aku mandi dulu, capek."

Anyara berdiri diam di dapur, memandangi piring makan malam yang belum tersentuh. Ada sesuatu dalam nada suara Juned barusan—terlalu cepat membantah, terlalu buru-buru mengalihkan—yang membuat kecurigaannya semakin kuat, meski ia sendiri masih berusaha meyakinkan diri bahwa mungkin saja itu memang salah orang.

Keesokan harinya, saat Anyara sedang mencuci piring, ponselnya berbunyi. Pesan dari nomor yang sudah tersimpan sebagai "Hans (Gang Minimarket)".

"Mbak Anyara, maaf ganggu. Cuma mau tanya kabar aja. Semoga selalu sehat."

Anyara menatap layar itu cukup lama sebelum akhirnya membalas.

"Baik, Pak. Terima kasih sudah tanya."

Balasan datang cepat.

"Kalau boleh tahu, Mbak kerja di mana? Atau ibu rumah tangga?"

Anyara ragu sejenak sebelum mengetik jawabannya.

"Ibu rumah tangga, Pak. Sekalian momong mertua di rumah."

"Wah, hebat. Ngurus rumah tangga itu nggak gampang, apalagi kalau sambil ngurus mertua juga. Saya salut sama Mbak Anyara."

Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat dada Anyara terasa hangat, sesuatu yang jarang ia rasakan belakangan ini. Bukan pujian berlebihan, hanya pengakuan kecil atas sesuatu yang selama ini dianggap biasa saja oleh orang-orang di sekitarnya—bahkan oleh suaminya sendiri.

"Terima kasih, Pak. Tapi biasa aja kok, semua istri juga gitu."

"Nggak semua orang bisa sabar kayak gitu, Mbak. Oh iya, kapan-kapan kalau ada waktu luang, boleh lho kita ngopi santai. Nggak usah buru-buru jawabnya, saya tunggu aja."

Anyara tidak langsung membalas. Ia meletakkan ponselnya di rak dapur, melanjutkan mencuci piring yang tersisa, tapi pikirannya terus melayang ke percakapan singkat itu.

Ada sesuatu yang aneh dalam dirinya—bukan rasa bersalah karena berbicara dengan pria lain, karena toh ia tidak melakukan kesalahan apa pun. Tapi lebih ke rasa heran, kenapa perhatian sekecil itu dari orang asing bisa terasa lebih berarti dibanding kata-kata suaminya sendiri belakangan ini.

Sore harinya, saat menjemur pakaian, Ratih tiba-tiba muncul di belakangnya, memergoki Anyara sedang tersenyum sendiri menatap ponsel.

"Senyum-senyum sendiri, lagi chat sama siapa?"

Anyara buru-buru memasukkan ponsel ke saku. "Nggak ada, Bu. Cuma baca berita."

"Berita apa sampe senyum-senyum begitu. Awas ya, jangan macem-macem kamu. Kamu itu istri anak saya, jaga nama baik keluarga."

"Iya, Bu, saya nggak ngapa-ngapain," jawab Anyara, suaranya sedikit tercekat, bukan karena merasa bersalah, tapi karena lelah terus-menerus dicurigai atas hal-hal yang tidak pernah ia lakukan—sementara kecurigaan yang sesungguhnya, yang lebih pantas dipertanyakan, justru ada pada anak Ratih sendiri.

Malam itu, sebelum tidur, Anyara membuka lagi pesan dari Hans, membaca ulang kalimat "saya salut sama Mbak Anyara" berkali-kali, lalu akhirnya mengetik balasan singkat.

"Boleh, Pak. Kapan-kapan kalau saya longgar, saya kabari."

Ia menekan tombol kirim, lalu buru-buru mengunci ponselnya, seolah takut ketahuan melakukan sesuatu yang salah—padahal ia sendiri tidak yakin, apa yang sebenarnya membuatnya merasa segugup ini.

1
Heny
Apa anyana gk punya tlp orang kantor bisa di tanya kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!