Indonesia
NovelToon NovelToon
Bangkitnya Kaisar Dewa

Bangkitnya Kaisar Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Di lima alam kultivasi yang bertingkat — Dunia Fana, Dunia Roh, Dunia Dewa, Dunia Dewa Kuno, hingga Dunia Kekosongan — seorang Kaisar Dewa gagal menembus batas tertinggi dan tubuhnya hancur menjadi debu. Namun jiwanya yang tak pernah mati terlahir kembali ke dunia fana sebagai Ye Hu, anak tertua seorang Marquis yang dicap sampah karena dantian-nya hancur akibat keracunan tiga tahun lalu.

Dengan ingatan ribuan tahun dan pengetahuan alkimia serta teknik kuno yang telah hilang dari dunia, Ye Hu bangkit perlahan. Ia menyembuhkan dantian-nya sendiri, menciptakan pil dengan kemurnian mustahil bagi siapa pun di tingkatnya, dan mengungkap pengkhianatan di dalam keluarganya sendiri —

Ini barulah awal perjalanannya, Selanjutnya dia menemui keturunan dari murid-muridnya sedang menderita di dunia dana ini. Dengan kondisi tubuh yang terbatas, Ye Hu berusaha untuk membantu buyut dari murid-muridnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Resep Kuno

Pegawai toko obat menyerahkan sebutir Pil Pembersih Racun berwarna putih pucat di atas telapak tangan. Ye Hu menerimanya tanpa menunda, lalu mengeluarkan selembar kertas kasar yang berisi daftar bahan ramuan yang telah ia susun di dalam kamar tadi. Saat ia menyerahkan kertas itu, wajah pegawai toko berubah menjadi bingung — alisnya berkerut kuat, matanya menatap tulisan-tulisan itu seakan sedang melihat bahasa asing yang tidak pernah ia temui seumur hidupnya.

“Ini… apa maksud dari nama-nama bahan ini?” gumam pegawai itu sambil menggelengkan kepala. “Akar Penyu Langit, Bunga Bulan Terbalik, Daun Embun Abadi… tidak ada bahan obat dengan nama seperti itu di toko ini, bahkan di seluruh Kota Awan.”

Suara bingungnya menarik perhatian orang lain di ruangan itu. Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya yang bertugas sebagai kepala pegawai datang mendekat, lalu mengambil kertas itu untuk diperiksa. Semakin ia membaca, wajahnya semakin gelap, dan akhirnya ia meletakkan kertas itu di meja dengan kasar.

“Anak muda, kau sedang mempermainkan kami ya?” ucap pria itu dengan nada tidak senang. “Nama-nama ini tidak masuk akal. Tidak ada satu pun bahan yang bernama seperti itu. Datang ke rumah obat dengan daftar bahan yang tidak ada, itu sama saja dengan menghina pekerjaan kami. Jika kau hanya ingin bercanda, silakan pergi dari sini!”

“Saya tidak bercanda,” jawab Ye Hu tenang, suaranya datar namun tegas. “Bahan-bahan itu bukan benda langka berumur ratusan tahun. Semuanya adalah tanaman biasa yang bisa ditemukan di hutan pinggiran kota maupun di rak toko ini. Hanya saja… mungkin kalian menyebutnya dengan nama yang berbeda.”

“Cukup! Jangan cari alasan!” Kepala pegawai itu hendak mengusir Ye Hu ketika suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Seorang pria tua berjalan turun perlahan, mengenakan jubah berwarna cokelat tua dengan lambang bunga api perak di dadanya — tanda seorang Peracik Pil Tingkat Dua. Ia adalah Wan Tung, penanggung jawab utama Toko Obat Sumber Kehidupan.

“Ada apa dengan keributan ini?” tanya Wan Tung, suaranya rendah namun membawa wibawa yang membuat seluruh ruangan seketika hening.

Kepala pegawai itu segera melapor dengan nada penuh tuduhan. “Tuan Wan Tung, pemuda ini datang dengan daftar bahan yang namanya tidak dikenal sama sekali. Ia seolah-olah sedang mengejek pengetahuan kami, dan itu sama saja dengan menghina seluruh rumah alkemis!”

Wan Tung mengerutkan kening, lalu mengambil kertas itu. Matanya menyapu setiap baris tulisan, dan perlahan-lahan tatapan di wajahnya berubah — dari curiga menjadi terkejut, lalu menjadi sangat serius. Ia menatap Ye Hu tajam, seakan sedang mencoba menembus pikiran pemuda di depannya.

“Siapa gurumu?” tanya Wan Tung tiba-tiba. “Siapa yang mengajarkanmu nama-nama ini?”

Ye Hu terdiam sejenak. Ia tidak bisa mengatakan kebenaran — bahwa gurunya adalah dirinya sendiri, seorang Kaisar Dewa dari masa lalu. “Gurunya… tidak ingin namanya disebutkan di depan umum,” jawabnya tenang.

Wan Tung mengangguk pelan, seakan memahami. “Benar, terkadang seorang ahli memang ingin menyembunyikan kemampuannya agar tidak dikejar orang-orang yang berniat buruk.” Ia menunjuk beberapa nama di kertas itu. “Ini semua adalah nama kuno yang sudah tidak dipakai ratusan tahun yang lalu. Akar Penyu Langit yang kau tulis ini, sekarang disebut Akar Kura-kura Air. Bunga Bulan Terbalik adalah Bunga Bintang Malam. Dan Daun Embun Abadi… itu adalah Daun Sisir Angin. Semuanya ada di rak belakang, bahan biasa dan mudah didapat.”

Kepala pegawai ternganga mendengarnya. Segera ia bergegas mengambilkan semua bahan yang diminta Ye Hu, wajahnya pucat karena malu dan takut. Setelah semua bahan terkumpul di atas meja, Wan Tung menghitung harganya lalu memberikan diskon besar-besaran, hingga harganya menjadi kurang dari setengah harga aslinya.

“Tolong sampaikan hormatku kepada gurumu,” kata Wan Tung dengan nada penuh harap saat menyerahkan bungkusan bahan itu. “Resep ini adalah untuk meracik ramuan pemulih organ dalam — ramuan yang sudah lama hilang dari dunia ini. Bahkan guruku sendiri pun pernah mempelajarinya namun tidak berhasil meraciknya. Hanya seorang alkemis yang hidup sangat lama yang bisa mengetahui nama-nama kuno ini. Jika boleh, aku ingin berkenalan dengannya.”

Ye Hu hanya mengangguk tipis tanpa berjanji. Setelah ia pergi, Wan Tung menatap punggungnya yang menjauh, lalu berpesan kepada para pegawainya dengan suara berat. “Ingat baik-baik. Mulai sekarang, hormati setiap kedatangan Tuan Muda Ye Hu. Gurunya kemungkinan besar adalah seorang alkemis tingkat tiga atau lebih — sosok yang bahkan aku pun harus tunduk hormat. Jangan pernah lagi menghinanya.”

 

Sesampainya di kediaman, Ye Hu langsung menuju halaman belakang yang sepi, lalu masuk ke gudang tua di dekat kandang kuda — tempat yang berdebu, jarang dikunjungi orang, dan paling cocok untuk meracik ramuan tanpa diganggu. Ia tidak memiliki tungku perakitan khusus, tidak ada alat penyulingan, tidak ada api spiritual. Yang ada hanyalah sebuah tungku masak tua yang sudah berkarat, dan kayu bakar biasa yang ia temukan di sudut gudang.

Sebelum memulai, ia menelan Pil Pembersih Racun yang tadi dibeli. Rasa dingin perlahan menyebar ke seluruh tubuh, menarik keluar racun Rumput Agony yang tersisa di pembuluh darah. Setelah memastikan tubuhnya bersih, ia mulai menata bahan-bahan itu di atas tanah yang bersih. Ia membuang tanaman hias yang tumbuh di dalam tungku tua itu, lalu mengisinya dengan air bersih dan menyalakan api kayu di bawahnya.

“Tidak ada api spiritual, tidak ada kekuatan qi untuk mengatur suhu… tapi aku tidak butuh itu,” pikir Ye Hu sambil memasukkan bahan-bahan ke dalam air mendidih sesuai urutan yang tepat. “Aku adalah Xuan Ling — seseorang yang pernah melihat ribuan ramuan lahir dan musnah. Bahkan dengan api biasa sekalipun, aku bisa membuat ramuan yang tidak bisa dibuat oleh alkemis tingkat mana pun di dunia ini.”

Di dalam kesibukannya, pandangan kesadarannya menyusup ke dalam lautan jiwanya sendiri — ruang kesadaran yang luas tanpa batas, di mana berdiri ribuan prasasti batu kuno yang bercahaya redup. Setiap prasasti itu mewakili sebuah teknik hebat yang pernah ia serap dari musuh-musuh yang pernah ia kalahkan dan bunuh sepanjang hidupnya yang panjang — dari para ahli iblis, raja siluman, tetua ras iblis, hingga dewa-dewa purba. Semua kemampuan mereka, semua pengetahuan mereka, kini tersimpan di dalam dirinya. Itulah satu-satunya hal yang bisa ia bawa dari Dunia Dewa ke Dunia Fana. Segala yang lain — istana, harta, senjata keramat, binatang peliharaan ilahi — semuanya musnah terbakar petir tribulasi.

Ia tidak mengambil salah satu prasasti itu sekarang. Yang terpenting adalah menyelesaikan ramuan ini dulu.

Setelah beberapa jam mengatur api dan mengaduk ramuan dengan tangan kosong, cairan di dalam tungku berubah warna menjadi hitam pekat dengan aroma yang tajam namun menyegarkan. Ramuan itu belum sempurna — ia tahu itu — karena tanpa kekuatan qi, ia tidak bisa menyempurnakan proses kristalisasi menjadi pil. Namun esensinya tetap ada.

Ye Hu meminum seluruh cairan itu dalam sekali teguk.

Seketika itu juga, rasa sakit yang luar biasa meledak di perutnya, seolah-olah ada api yang membakar organ dalamnya dari dalam. Tubuhnya yang lemah berguncang hebat, keringat dingin seketika membasahi seluruh pakaiannya hingga menempel di kulit. Giginya bergemeretak menahan rasa sakit yang tak tertahankan, napasnya tersengal-sengal seakan ia sedang mati perlahan. Ia tahu itu akan terjadi — memperbaiki dantian yang hancur tanpa kekuatan apa pun adalah hal yang melanggar akal sehat, dan harganya adalah rasa sakit yang maha dahsyat.

Akhirnya, tubuhnya tumbang dan ia jatuh pingsan di lantai gudang.

 

Ketika kesadarannya kembali, matahari sudah terbenam. Ye Hu bangkit perlahan, tubuhnya terasa sakit semua, namun ada sesuatu yang berbeda — di dalam dadanya, tepat di tempat dantian berada, ada denyutan lemah yang sebelumnya tidak ada. Dantian itu belum sempurna, masih rapuh dan kecil, tidak sekuat dulu, tapi ia sudah pulih. Ia kembali memiliki fondasi untuk berkultivasi.

Tanpa membuang waktu, ia kembali masuk ke dalam lautan jiwanya dan berdiri di depan ribuan prasasti. Matanya menyapu satu per satu, mencari teknik yang cocok untuk tubuh yang lemah ini. Akhirnya pandangannya berhenti di sebuah prasasti hitam pekat yang memancarkan aura gelap dan mengerikan — Prasasti Teknik Kultivasi Kekacauan.

Teknik ini tidak membutuhkan dantian yang sempurna, tidak membutuhkan energi langit yang murni. Sebaliknya, ia menyerap segala energi — baik yang baik maupun yang buruk, yang murni maupun yang kotor — dan mengubahnya menjadi kekuatan murni yang liar dan kuat. Namun harganya mahal: setiap peningkatan tingkat akan disertai rasa sakit luar biasa, dan jika kehilangan kendali, tubuh bisa hancur atau bahkan lumpuh permanen.

“Resiko itu tidak ada artinya dibandingkan dengan jatuh dari puncak langit ke tanah,” batin Ye Hu. Ia meletakkan tangannya di atas prasasti itu dan memulai jalan kultivasi yang berbeda dari siapa pun di dunia ini.

Energi langit di dunia fana ini sangat tipis dan lemah, namun Teknik Kekacauan tidak peduli pada itu. Ia menyerap segala hal yang ada di sekitarnya tanpa memilih. Hari pertama — tubuhnya bergetar hebat, rasa sakit seperti dihantam palu di setiap tulang. Hari kedua — rasa sakit itu berubah menjadi panas yang membakar, namun ia terus bertahan. Hari ketiga — sebuah denyutan kuat meledak di dalam dirinya.

Ketiga hari itu berlalu baginya seperti tiga tahun penuh penderitaan, namun ketika ia membuka matanya, cahaya tajam berkilat di matanya.

Tingkat Satu — Kondensasi Qi.

Dari nol, ia kembali berdiri di jalur kultivasi. Dan kali ini, ia tidak akan berhenti sampai ia kembali ke puncak langit.

1
Nanik S
Chu Hua sangat licik
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ........
Nanik S
Chu Hua juga bengis dan kejam
Nanik S
Menuju jalan didepan yang yak terbatas
Nanik S
Ye Ba... dan seluruh keluarga harus mengetahui
Nanik S
Apakah Pemuda tampan itu Ayah Xuan Ling
BOIEL-POINT .........
very very very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
Nanik S
Kesepakatan yang bmenguntungkan
Nanik S
Ambil saja sekalian lempenganya
Nanik S
Rhu Shun ketua bayangan malam
Nanik S
Keren dan keren ... apakah bisa didapat lempenganya
Nanik S
Sebenarnya Ye Hu anak siapa
Nanik S
Banyak sekali musuhnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!