“Paman, kenapa ini besar sekali?” tanya Lucia bingung.
“Kau menyukainya?”
“Memangnya itu apa?”
“Jadi kau tidak tahu ini apa? Kau yang membangkitkannya dan kau tidak tahu cara menidurkannya?!”
Lucia polos hanya menggeleng lugu, membuat sang mafia paling ditakuti di seluruh Italia itu menepuk jidatnya kuat-kuat.
****
Disiksa kemiskinan di desa terpencil Calabria dan dijual oleh pamannya sendiri ke sebuah klub malam, Lucia pasrah menunggu takdir kelamnya.
Namun, sebuah penggerebekan menyelamatkannya dan membawanya bekerja sebagai pelayan di mansion megah milik Alessandro Frederick–bos mafia dingin berdarah dingin yang menderita alergi parah terhadap sentuhan manusia.
Satu sentuhan dari orang lain bisa membunuh Alessandro. Tetapi, saat jemari Lucia tak sengaja menyentuhnya, tidak ada rasa terbakar.
Bagaimana bisa seorang mafia kejam menaklukkan hati gadis lugu hingga mengira elusan in-tim adalah usapan rasa kasihan dan ciuman adalah penyembuh rasa sakit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
“Lepaskan gadisku!”
Suara berat dan dingin nan mematikan itu menggema mengalahkan deru hujan yang sedang mengamuk.
Pintu mobil terbuka kasar. Alessandro keluar dengan rahang mengeras penuh murka. Urat-urat di leher kokohnya menonjol tegang, matanya berkilat semerah darah melihat milik kesayangannya disentuh, ditarik dan dibekap secara kasar oleh pria bedebah kotor.
Jhony yang panik melihat kedatangan Alessandro mencoba menyeret tubuh mungil Lucia lebih kuat menuju mobil van.
“Diam kau, Gadis Bodoh! Cepat ikut aku atau kubunuh kau di sini!”
Di tengah kepanikan, napas yang tersengal dan guyuran hujan yang membasahi piyamamya, otak polos Lucia tiba-tiba berputar.
Ia teringat pesan Alessandro sebelum pria itu pergi tadi, “Benda emas ini untuk melubangi kepala orang jahat.”
Dengan panik, meronta, dan tangan gemetar kedinginan, Lucia merogoh saku piyamanya. Ia mencabut pistol emas kecil berukir indah pemberian sang mafia.
“Paman Jhony jahat! Rasakan cetakan kue Paman Tampan!” jerit Lucia dengan mata tertutup rapat.
Dor!
Lucia asal menarik tuas pelatuk. Ia membelalak kaget hingga nyaris terjengkang ke belakang saat tolakan pistol itu memantul keras di tangannya.
Sementara itu, timah panas yang melesat tanpa perhitungan justru bersarang telak menembus tempurung lutut kaki kanan Jhony.
“Aaaargh! Kaki-kakiku! Sialan!” teriak Jhony histeris. Cengkeramannya terlepas seketika.
Pria bertubuh besar itu jatuh bergulingan di atas genangan lumpur sambil memegangi kakinya yang memuntahkan darah.
Dari balik rimbunnya semak-semak luar gerbang, dua anak buah Marco yang bersembunyi langsung melompat keluar.
Mereka mencabut senjata otomatis dan mengarahkannya tepat ke dada Lucia yang masih berdiri kebingungan menatap pistol emas di tangannya.
“Mati kau!”
Sebelum moncong senjata musuh sempat memuntahkan peluru ke arah Lucia, Alessandro sudah melesat cepat bagai bayangan maut dari neraka.
Dengan ketepatan seorang pembantai berdarah dingin, ia mengangkat senjatanya. Dalam hitungan detik, Alessandro menembak kepala kedua anak buah Marco berturut-turut tanpa berkedip.
Bruk!
Tubuh kedua penjahat itu roboh seketika menghantam tanah basah, tak bernyawa.
Alessandro tidak berhenti di situ. Dengan langkah pelan yang memancarkan aura kematian pekat, ia menghampiri Jhony yang sedang merayap ketakutan di atas lumpur.
“Jangan... ampun, Tuan! Ampun! Ini perintah Marco!” ratap Jhony memohon belas kasihan.
Alessandro menatap Jhony dengan kilatan mata pembunuh.
Tanpa sepatah kata pun basa-basi, tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang sedingin es, Alessandro mengarahkan pistolnya dan menembak tepat di telapak tangan Jhony. Tangan kotor yang tadi dipakai untuk membekap mulut Lucia!
“AAARRGH!” teriak Jhony, tubuhnya kejang memegangi tangannya yang kini hancur dan berdarah.
“Tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh milikku,” desis Alessandro sadis. Rahangnya terkatup rapat menandakan bahaya mutlak.
Ia menoleh sekilas, mengisyaratkan para pengawalnya yang baru berani mendekat.
“Seret bajingan ini ke ruang bawah tanah!”
Pria tegap itu lalu berbalik, membuang senjatanya yang berharga jutaan dolar begitu saja ke atas tanah berlumpur.
Alessandro menghampiri Lucia yang berdiri gemetar di bawah hujan. Tangan kekarnya menyambar tubuh mungil Lucia, menariknya ke dalam pelukan yang teramat erat, posesif, seolah ingin menyatukan gadis itu ke dalam tulang rusuknya.
“Kau gila!” bentak Alessandro parau di balik ceruk leher Lucia yang basah kuyup.
Ketakutan akan kehilangan gadis itu nyaris membuat jantungnya berhenti berdetak.
“Kenapa kau nekat keluar?! Jika aku terlambat satu detik saja, kau bisa mati ditembus peluru!”
Lucia yang mulanya kaget dipeluk begitu erat hingga sesak napas, perlahan membalas memeluk leher Alessandro. Bukannya menangis trauma karena baru saja melihat adegan pembunuhan berdarah di depan matanya, gadis desa itu malah memiringkan kepala dan mengadu dengan raut wajah polos nan cemberut.
“Paman Tampan! Pemantik api kuenya berbunyi keras sekali! Telinga Lucia sampai pengang dengarnya!” keluh Lucia gemas, menyandarkan kepalanya di dada Alessandro tanpa rasa takut.
“Terus, Paman Jhony itu jahat sekali, mulutnya bau tembakau dan sepertinya belum mandi tiga hari! Lucia sampai terpaksa gigit tangannya saking baunya!”
Alessandro memejamkan mata rapat-rapat. Ia mengusap punggung basah gadisnya seraya menahan kekehan frustrasi yang nyaris meledak.
Ya Tuhan, betapa konyolnya. Sang penguasa mafia paling ditakuti, pria yang rela mempertaruhkan nyawa dan memacu mobil secepat angin demi kembali, kini berdiri di tengah hujan hanya untuk mendengarkan keluhan soal bau mulut?
Lucia benar-benar penjinak berhati polos yang tak mengerti betapa gelapnya dunia ini.
“Ikut aku masuk,” bisik Alessandro seraya mengangkat Lucia ke dalam gendongannya seperti menggendong anak koala. “Dan malam ini, jangan harap kau bisa lepas dari pandanganku walau sedetik.”
Lucia mengalungkan tangannya dengan nyaman. Matanya melirik ke arah bibinya yang sedang dipapah pengawal.
“Paman Tampan, bagaimana dengan Bibi Sofia? Bolehkah dia tinggal di sini bersama kita, Paman? Kasihan, dia basah kuyup dan berdarah.”
Alessandro melirik tajam ke arah Sofia yang seketika gemetar ketakutan ditatap olehnya.
“Terserah. Asal dia tak membahayakanmu. Bila perlu, bawa seluruh keluargamu dan orang sekampungmu kemari. Sekalian jadikan mansion miliaran dolarku ini penginapan gratis kalian,” ucapnya dingin.
Alih-alih tersinggung atau menangkap nada sindiran tajam itu, wajah Lucia justru berbinar cerah.
Lucia langsung mendaratkan satu kecupan manis yang berbunyi nyaring di pipi basah pria itu.
“Terima kasih, Paman Tampan! Paman memang sangat baik hati. Aku suka Paman!” seru Lucia riang.
Alessandro menghentikan langkahnya. Tubuhnya mendadak kaku dibawah guyuran hujan.
Apa gadis ini bilang tadi? Suka? Dia menyukaiku?
makanya sekolahkan dia
biarkan dia cerdas
dia pasti akan memilihmu ,, dalam keadaan apapun
jd aku rasa perlu belajar deh dia biar pinter 🤭
bnr2 saling melengkapi ni si Lucia dg Ale Ale rasa 🍌 ,, 🤭🤭🤭
kasihan Vincent yg trus nahan ketawa ,, takut kembung Dy tuh ,,
semoga Lucia selalu aman dsna jgn sampai ini cuma jebakan biar si ale2 keluar mansion sdang kn target sebenarnya Lucia ,,