Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Nathan Wijaya berusia enam belas tahun dan dia merasa dunia berubah sejak adik perempuannya lahir. Dulu, dia adalah pusat perhatian keluarga. Ayahnya selalu meluangkan waktu untuk bermain bola dengannya. Ibunya selalu menanyakan kabar sekolahnya. Kakeknya selalu memujinya setiap kali dia meraih prestasi. Tetapi sejak Adeline datang, semuanya berubah.
Ayahnya pulang lebih awal untuk melihat Adeline tersenyum. Ibunya menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menidurkan Adeline. Kakeknya selalu memanggil Adeline dengan panggilan sayang dan membelikan mainan baru setiap minggu. Nathan tidak benci pada adiknya, tetapi dia merasa kehilangan. Dia merasa seperti tamu di rumahnya sendiri.
Selama bertahun-tahun, Nathan mengamati Adeline dari kejauhan. Dia melihat bagaimana adiknya sering mengatakan hal-hal aneh yang membuat orang dewasa bingung. Dia mendengar bisikan-bisikan tentang Adeline yang bisa mendengar suara hati. Pada awalnya, Nathan menganggap itu semua hanya kebohongan untuk menarik perhatian. Dia pikir Adeline hanya anak manja yang ingin selalu menjadi pusat perhatian.
Tetapi semua itu mulai berubah setelah kejadian dengan Kevin. Nathan yang saat itu berada di kamarnya, mendengar keributan dari bawah. Dia turun dan melihat adiknya menangis di pelukan ayahnya. Dia mendengar bagaimana Adeline telah memperingatkan ayahnya tentang Kevin dan bagaimana peringatan itu terbukti benar. Untuk pertama kalinya, Nathan mulai bertanya-tanya apakah dia salah menilai adiknya.
Suatu sore, Nathan duduk di ruang keluarga sambil mengerjakan tugas sekolah. Di sudut ruangan, Adeline duduk dengan tenang sambil menggambar di buku sketsanya. Gadis kecil itu terlihat damai, tetapi Nathan memperhatikan bagaimana matanya sesekali menatap kosong ke arah jendela seperti sedang mendengarkan sesuatu.
"Ada apa denganmu?" tanya Nathan akhirnya, tidak tahan dengan keheningan yang canggung.
Adeline menoleh dan tersenyum kecil. "Tidak apa-apa, Kak. Adeline hanya mendengar suara-suara."
Nathan mengerutkan kening. "Suara apa?"
"Suara hati orang," jawab Adeline dengan polos. "Kadang keras, kadang pelan. Hari ini tidak terlalu ramai. Mungkin karena cuaca cerah."
Nathan terdiam. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan adiknya, tetapi ada sesuatu dalam nada suara Adeline yang membuatnya merasa aneh. Gadis kecil itu tidak terdengar seperti sedang berbohong atau mencari perhatian. Dia terdengar seperti sedang menceritakan fakta sederhana tentang hari-harinya.
"Kamu benar-benar bisa mendengar itu?" tanya Nathan lagi, suaranya lebih pelan. "Aku pikir semua orang hanya bercanda."
Adeline menggeleng. "Aku tidak bercanda, Kak. Aku memang bisa mendengar. Kadang aku tidak suka mendengarnya karena suara-suara itu sering jahat. Tapi aku tidak bisa mematikan telingaku."
Nathan menatap adiknya dengan perasaan yang rumit. Selama ini dia mengira Adeline hanya anak manja yang suka membuat cerita. Tetapi sekarang dia melihat kegelisahan di mata gadis kecil itu, kelelahan yang tidak seharusnya dimiliki oleh anak seusianya.
"Mereka sering jahat?" tanya Nathan hati-hati.
Adeline mengangguk. "Ayah bilang aku tidak boleh mendengarkan suara-suara jahat. Tapi aku tidak bisa. Suara-suara itu selalu datang. Paman Victor, Tante Marissa, Paman Daniel. Mereka semua terlihat baik-baik saja di luar, tetapi di dalam hati mereka jahat. Mereka ingin menyakiti keluarga kita."
Nathan merasakan dadanya sesak. Dia ingat bagaimana dia sering mengabaikan adiknya, bagaimana dia menganggap semua peringatan Adeline hanya omong kosong. Dan sekarang dia menyadari bahwa adiknya selama ini berjuang sendirian, mendengar kebencian dari orang-orang yang seharusnya menjadi keluarga, dan tidak ada yang benar-benar percaya padanya.
"Kak," kata Adeline tiba-tiba, menatap Nathan dengan mata jernihnya. "Kak Nathan sedih. Kak Nathan menyesal karena dulu tidak percaya padaku."
Nathan terkejut. "Bagaimana kamu tahu?"
"Aku dengar, Kak," jawab Adeline dengan lembut. "Suara hati Kakak berbisik. Kakak merasa bersalah. Tapi tidak apa-apa, Kak. Adeline tidak marah pada Kakak."
Nathan tidak bisa menahan perasaannya lagi. Dia mendekati adiknya dan duduk di sampingnya. "Maafkan aku, Adeline," katanya dengan suara bergetar. "Aku selalu mengira kamu hanya mencari perhatian. Aku tidak tahu bahwa kamu benar-benar menderita."
Adeline tersenyum dan memeluk lengan kakaknya. "Adeline sayang Kakak. Adeline tidak mau Kakak sedih. Kakak percaya padaku sekarang, kan?"
Nathan mengangguk. "Aku percaya, Adeline. Mulai sekarang, aku akan selalu percaya padamu. Dan aku akan melindungimu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu atau meragukanmu lagi."
Adeline tertawa kecil dan memeluk kakaknya erat. "Kakak janji?"
"Aku janji," jawab Nathan dengan tegas. "Kakak akan menjadi pelindungmu. Apa pun yang terjadi, kita berdua akan melindungi keluarga ini bersama-sama."
Sejak hari itu, hubungan Nathan dan Adeline berubah. Nathan mulai menghabiskan lebih banyak waktu dengan adiknya. Dia menemani Adeline bermain, membantunya mengerjakan tugas sekolah, dan yang terpenting, dia mendengarkan setiap kata yang diucapkan adiknya. Ketika Adeline mengatakan bahwa dia mendengar sesuatu yang mencurigakan, Nathan tidak pernah mengabaikannya. Dia segera memberitahu orang tua mereka atau mencari tahu sendiri kebenarannya.
Adeline merasa lebih tenang dengan kehadiran kakaknya. Untuk pertama kalinya, dia memiliki seseorang yang selalu percaya padanya tanpa ragu. Nathan adalah tempat dia bisa berbagi semua ketakutannya tanpa takut dihakimi. Dan Nathan, di sisi lain, menemukan tujuan baru dalam hidupnya. Dia tidak lagi merasa kehilangan perhatian dari orang tuanya. Sebaliknya, dia merasa bangga karena bisa menjadi pelindung bagi adiknya yang istimewa.
Suatu malam, ketika mereka duduk berdua di kamar Nathan sambil menonton film, Adeline berbicara dengan suara pelan. "Kak, aku takut. Aku mendengar Paman Victor lagi. Dia merencanakan sesuatu yang buruk."
Nathan memeluk adiknya erat. "Jangan takut, Ade. Kakak ada di sini. Kita akan hadapi semuanya bersama-sama. Selama kita bersatu, tidak ada yang bisa menghancurkan keluarga kita."
Adeline tersenyum dan menempelkan kepalanya di bahu kakaknya. Dia merasa aman untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama. Dengan kakaknya di sisinya, dia tahu bahwa dia tidak harus berjuang sendirian lagi. Mereka berdua akan melindungi keluarga Wijaya, apa pun yang terjadi.