Bertahun-tahun setelah sebuah pembantaian menghapus keluarga Black Rose dari dunia mafia, Elena kembali dengan identitas sebagai seorang pelayan.
Tidak seorang pun tahu siapa dirinya atau alasan sebenarnya ia memasuki keluarga Bianchi.
Namun, putra pertama keluarga Bianchi, Leon mulai mencurigai wanita itu. Kebiasaan aneh dan tato yang wanita itu miliki, membangkitkan potongan ingatan dari masa lalu yang tidak pernah bisa ia pahami.
Sampai sebuah kesalahpahaman memaksa mereka untuk menikah.
Leon melihat kesempatan untuk mengawasi Elena lebih dekat. Sementara Elena menerima pernikahan itu demi satu tujuan yaitu membalas dendam.
Dua orang dengan tujuan tersembunyi terikat dalam satu pernikahan.
Dan, tanpa mereka sadari, pernikahan itu akan membuka rahasia yang menghubungkan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pandai Mempermainkan
Sepanjang pesta, Leon terlihat gelisah.
Konsentrasinya terpecah. Di satu sisi, ia harus tetap mengawasi Elena dan memastikan tidak ada yang mendekati wanita itu. Tapi, di sisi lain, pikirannya terus tertuju pada markas The Raven.
Apa yang sebenarnya terjadi di sana?
Bagaimana penyusup itu bisa masuk tanpa sepengatahuan anak buahnya?
Dan, bagaimana orang-orang Elena bisa melumpuhkan anggota The Raven yang berjumlah banyak dalam waktu singkat tanpa pertumpahan darah?
Trik apa yang sebenarnya mereka gunakan?
Ia ingin segera kembali ke markas dan memastikan semuanya dengan mata kepalanya sendiri.
Tapi, Ia terpaksa menahan diri. Setidaknya sampai pesta berakhir.
Jika ia tiba-tiba meninggalkan acara tanpa alasan yang jelas, Victor pasti akan curiga. Terlebih, malam ini Elena baru saja memainkan permainan yang cukup berbahaya di depan Victor.
Leon tidak boleh membuat satu kesalahan pun.
Meski begitu, dari semua kejadian yang berlangsung malam ini, Leon merasa tindakan orang-orang Elena tidak terlalu fatal karena tidak ada serangan terbuka dan tidak ada korban.
Mereka hanya masuk, mengambil sesuatu, lalu pergi. Atau... Mungkin itu hanya perasaannya saja.
Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya Victor berpamitan kepada pemilik acara. Leon yang sejak tadi menunggu kesempatan itu langsung berdiri dan keluar dari hotel. Leon bahkan tidak menunggu Sean ataupun sopirnya.
Ia langsung menuju mobil dan mengemudikannya sendiri.
Mesin mobil meraung saat ia melaju meninggalkan area hotel. Kecepatannya terus bertambah, tetapi Leon tetap berusaha mengendalikan mobil agar tidak menarik perhatian.
Elena yang duduk di kursi penumpang hanya meliriknya sekilas.
"Tidak perlu terburu-buru," ucap Elena tiba-tiba. "Aku yakin, Sean sudah melakukan semuanya dengan baik."
Tangan Leon justru semakin erat mencengkeram setir. Ia tidak berniat menanggapi ucapan Elena. Tapi, justru itulah yang membuatnya semakin kesal.
Malam ini, untuk pertama kalinya, Leon merasa seperti seorang badut yang hanya mengikuti permainan Elena tanpa pernah benar-benar mengetahui aturan mainnya.
Dan, ia sangat membenci perasaan itu.
"Selama Sean menjalankan semuanya sesuai perintahmu, semuanya akan baik-baik saja," lanjut Elena dengan santai.
Leon menggeram pelan. Ia kembali menginjak pedal gas sehingga mobil melaju semakin cepat menembus jalan malam.
Elena hanya bersandar tenang di kursinya. Tidak ada sedikit pun kepanikan di wajahnya.
Berbeda dengan Leon yang sejak meninggalkan hotel tidak bisa memikirkan hal lain selain markasnya.
Tidak lama kemudian, mobil akhirnya berhenti tepat di depan kediaman keluarga Bianchi.
Leon menginjak rem dengan keras.
"Keluar!" ucapnya dengan suara dingin. Bahkan, ia tidak menoleh sedikitpun pada Elena.
Elena menatapnya beberapa detik. Sudut bibirnya terangkat tipis, seolah memahami kegelisahan pria itu.
Tanpa membantah, ia membuka pintu dan turun dari mobil.
Tapi, baru saja pintu tertutup, Leon langsung menginjak pedal gas.
Mobil itu melesat meninggalkan kediaman keluarga Bianchi, membawa Leon menuju markas The Raven.
Ia harus melihat sendiri apa yang telah Elena lakukan. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan wanita itu mempermainkan dirinya lagi.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Leon akhirnya berhenti tepat di depan markas The Raven.
Begitu mesin dimatikan, Leon langsung turun dari mobil.
Tatapannya menyapu beberapa bodyguard yang berjaga di depan pintu utama. Dari luar, mereka masih terlihat baik-baik saja. Mereka berdiri tegak dan menjalankan tugas seperti biasanya.
Namun, ada sesuatu yang aneh.
Tubuh mereka tampak sedikit gemetar. Mata mereka memerah, sementara sesekali salah satu dari mereka mengusap pelipis seolah sedang menahan sakit kepala.
Leon menyipitkan mata. Ia tidak mengatakan apa-apa dan langsung melangkah masuk.
Semakin jauh memasuki markas, semakin banyak hal aneh yang ia temukan.
Beberapa anggota The Raven masih berjaga di lorong. Namun, kondisi mereka tidak jauh berbeda dengan bodyguard di depan. Wajah mereka terlihat pucat, mata memerah, dan gerakan mereka tampak lebih lambat dari biasanya.
Beberapa bahkan terlihat memijat tengkuk atau pelipis.
Leon menghentikan langkahnya sejenak.
Kini ia menyadari jika semua itu adalah efek obat tidur.
Namun, obat itu tidak membuat mereka benar-benar kehilangan kesadaran dalam waktu lama. Setelah efeknya berkurang, mereka hanya mengalami pusing, lemas, dan mata memerah.
Leon kembali berjalan dengan langkah cepat. Sampai akhirnya, ia melihat Sean berdiri di depan sebuah pintu ruang dokumen.
"Sean!"
Sean yang sejak tadi menunggu langsung menoleh. Ia segera membungkuk.
"Tuan."
Leon menghampirinya dengan wajah tegang. "Katakan. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Sean tampak ragu sebelum akhirnya menjawab. "Be-begini, Tuan. Setelah saya mengantar Anda ke pesta, saya langsung kembali ke markas."
Ia menarik napas. "Begitu sampai, saya menemukan semua orang dalam keadaan tidak sadarkan diri."
Tatapan Leon mengeras. "Lalu?"
"Saya segera memeriksa keadaan mereka. Setelah memastikan mereka masih hidup, saya menyisir seluruh ruangan."
Sean menunjuk ke arah pintu di belakangnya. "Saya menemukan seseorang di ruangan ini."
"Di ruang dokumen?"
Sean mengangguk. "Dia berada tepat di depan brankas. Tapi, sepertinya tidak ada satu pun dokumen yang diambil."
Leon menatapnya tidak percaya. "Tidak ada yang dia ambil?" tanyanya tak percaya. "Dia membuat seluruh markas pingsan hanya untuk berdiri di depan brankas?"
"S-saya juga tidak tahu, Tuan," jawab Sean. "Saya hanya melihat pria itu memegang ponsel."
Leon terdiam.
"Ponsel?" batinnya.
Jelas-jelas, Elena mengatakan sendiri jika incaran mereka adalah dokumen penting tentang The Black Rose. Jika bukan untuk mengambil dokumen itu, lalu apa yang pria itu lakukan di depan brankas?
"Lalu, apa yang terjadi setelah itu?" tanya Leon. "Kamu tahu siapa dia?"
Sean menggeleng. "Tidak, Tuan. Tapi, dia mengenakan seragam The Raven dan memakai masker. Jadi, saya tidak bisa melihat wajahnya."
Leon mengepalkan tangan. "Lalu, bagaimana dia bisa masuk tanpa dicurigai?"
"Kami masih menyelidikinya."
Sean menundukkan kepala sedikit. "Setelah saya memeriksa ruangan ini lebih teliti, saya menemukan sesuatu yang sengaja dipasang. Sebuah Perangkat yang mengandung obat bius."
Leon menatap Sean. "Perangkat?"
"Ya, Tuan. Sepertinya perangkat itu saling terhubung. Ada beberapa titik yang dipasang di ruangan berbeda dan semuanya bekerja dalam satu sistem."
Sean menunjuk ke beberapa bagian lorong.
"Kalau salah satu bagian inti dibuka atau dilepas, sistem lainnya akan ikut bereaksi. Itu sebabnya, semua orang di sini tidak sadarkan diri."
Leon terdiam.
Orang itu bukan hanya masuk dengan persiapan matang.
Mereka bahkan sudah memikirkan bagaimana memastikan seluruh markas tetap tidak berdaya selama dirinya berada di sini.
"Bagaimana dengan CCTV?"
Sean menggeleng pelan. "Saya langsung pergi ke ruang keamanan untuk memeriksa rekaman CCTV. Tapi, semua rekaman malam ini sudah dihapus."
Kedua mata Leon menyipit. "Semua?"
"Iya, Tuan. Bahkan, rekaman dari kamera luar. Tidak tersisa satu pun."
Leon terdiam. Pandangannya beralih pada pintu ruang dokumen di hadapannya.
Penyusup berseragam The Raven, memakai masker saat obat bius bekerja. Dan, CCTV yang sudah dihapus.
"Penyusup itu tidak mengambil dokumen yang Elena katakan. Tapi, dia hanya menggenggam ponsel," gumamnya. "Begitu rupanya. Jadi, tidak ada yang hilang dan Victor tidak akan curiga."
"Apa maksud anda, tuan?" tanya Sean.
Leon menggeleng. "Tidak ada," jawab Leon. "Setelah ini, kamu kumpulkan semua orang dan beritahu mereka untuk merahasiakan apa yang terjadi malam ini."
"Ke-kenapa begitu, Tuan?" tanya Sean bingung.
"Penyusup itu adalah orang Elena."
Kedua mata Sean membelalak. "Apa?"
Leon mengangguk. "Mereka mengincar dokumen rahasia The Black Rose. Dia tidak mengambil dokumen itu karena tidak ingin Victor curiga jika dokumen nya sudah di curi. Itu sebabnya, dia meminta kita membereskan semua ini, sekaligus menghapus jejak mereka."
Sean menggeleng pelan. "Saya tidak menyangka, Elena bisa merencanakan semuanya dengan sempurna."
"Itu sebabnya, aku memintamu memberitahu mereka untuk merahasiakan semua ini."
Sean membungkuk. ."Ba-baik, tuan." Sean segera pergi, menjalankan perintah Leon.
Sementara Leon masih berdiri di sana, menatap rumah dokumen.
Sedetik kemudian, tangannya terangkat, mengusap bibirnya. "Kamu memang pandai mempermainkanku, Elena."
💖💖💖
nyogok biar dobel up🤭
huh benalu menyusahkan👊