Indonesia
NovelToon NovelToon
I Love You Mas Mayor Galak

I Love You Mas Mayor Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.

Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Bayangan dari Masa Lalu dan Barikade Batalyon

Acara makan malam di kediaman Purnawirawan Jenderal Dudung yang semula cair dan hangat mendadak diselimuti kembali oleh atmosfer tegang saat jam dinding kuno berdentang sembilan kali.

Langkah kaki tergesa-gesa dari luar ruang tengah memecah obrolan Ibu Diah dan Mayang yang baru saja membicarakan seragam Persit.

Letnan Dua Teguh Ajudan Pribadi Jenderal Dudung masuk ke ruangan dengan napas sedikit memburu.

Sikap badannya seketika tegak sempurna, memberi hormat komando yang sangat kaku di hadapan Jenderal Dudung dan Mayor Aris.

"Lapor, Jenderal! Lapor, Mayor!" ujar Letda Teguh dengan suara bergetar namun ditahan.

"Di luar pagar depan... ada kendaraan roda empat milik keluarga Kolonel Sugeng. Ibu Clarissa beserta putrinya, Dokter Siska, memohon izin untuk menghadap malam ini. Mereka menyatakan ada urusan mendesak terkait berkas mutasi medis Batalyon."

Deg!

Suara desiran dingin seketika menghantam ruang tengah.

Muka Ibu Diah yang tadinya penuh senyum langsung mengeras. Kapten Farhan yang sedang menyeruput teh hangat mendadak meletakkan cangkirnya dengan gerakan patah.

Mayang membetulkan posisi kacamata tebalnya, menatap Aris yang berdiri kaku di sampingnya.

Nama "Siska" seolah memicu ingatan Mayang pada ucapan Ibu Diah beberapa jam lalu di meja makan soal mantan tunangan Aris.

Mayor Aris mengepalkan kedua tangannya di samping paha.

Wajahnya yang kaku bertambah dingin, rahangnya mengetat keras hingga urat-urat di lehernya menonjol jelas.

Aura ketegangan militer yang sangat pekat menguar hebat dari tubuh sang Komandan Batalyon.

"Teguh," suara Aris terdengar begitu rendah, dalam, dan dipenuhi penolakan yang sangat dominan.

"Katakan pada mereka, ini sudah di luar jam dinas. Rumah orang tua saya bukan tempat untuk mengurus berkas mutasi Batalyon."

"Tapi, Mayor..." sela Letda Teguh ragu-ragu, "...Ibu Clarissa membawa surat pengantar langsung dari Markas Besar. Beliau memaksa masuk."

Sebelum Letda Teguh menyelesaikan kalimatnya, suara ketukan sepatu hak tinggi beradu nyaring dengan lantai marmer teras luar.

Dua wanita berpenampilan sangat elegan melangkah masuk ke dalam ruang tamu tanpa menunggu izin penuh.

Wanita paruh baya dengan pakaian glamor itu adalah Ibu Clarissa, istri pejabat tinggi dinas kesehatan militer.

Dan di sampingnya, berdiri seorang wanita muda berparas jelita, mengenakan pakaian medis formal yang sangat rapi dengan rambut disanggul sempurna, Dokter Siska.

Dokter Siska mantan tunangan Aris yang dulu membatalkan ikatan pernikahan demi melanjutkan pendidikan spesialis di luar negeri kini berdiri anggun di tengah ruangan keluarga.

Matanya yang tajam langsung mengunci sosok Mayor Aris, sebelum akhirnya pandangannya berganti menatap Mayang dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan yang sangat dingin.

"Selamat malam, Jenderal Dudung, Tante Diah," sapa Ibu Clarissa dengan nada suara yang dibuat sehalus mungkin, namun menyiarkan dominasi.

"Maaf kami bertamu tanpa janji. Siska baru saja resmi dipindah-tugaskan sebagai Kepala Tim Medis Utama di Batalyon Aris per minggu depan. Kami hanya ingin menyerahkan dokumen kepindahan ini secara langsung."

Dokter Siska melangkah maju dua tapak. Senyum tipis yang penuh percaya diri terukir di bibirnya yang berpoles lipstik merah.

"Selamat malam, Mas Aris. Sudah lama kita tidak bertemu secara langsung. Saya sangat bersyukur bisa kembali bertugas di Batalyon yang kamu pimpin."

Atmosfer di dalam rumah besar itu seketika menjadi sangat rumit, penuh intrik, dan menegangkan. Pertemuan ini jelas bukan kebetulan belaka.

Pindahnya Dokter Siska ke Batalyon tempat Aris bertugas adalah sebuah langkah taktis yang dirancang sengaja untuk merebut kembali posisi yang pernah ia tinggalkan.

Mayang merasa dadanya sedikit sesak.

Berdiri di samping Dokter Siska yang begitu sempurna, cantik, berpendidikan tinggi, dan berasal dari keluarga militer terpandang membuat Mayang merasa bagaikan gumpalan tanah di samping batu permata.

Kacamata tebalnya dan gaun terakota sederhananya terasa makin kontras.

Jenderal Dudung berdiri dari kursinya, melangkah tegap mendekati rombongan tamu tersebut. "Clarissa, prosedur administrasi Batalyon seharusnya diserahkan ke Mako besok pagi, bukan ditunjukkan di rumah kediaman malam-malam begini."

Ibu Clarissa tersenyum tenang.

"Ah, Jenderal... ini kan sekalian menyambung tali silaturahmi keluarga kita yang sempat terputus. Bagaimanapun juga, Siska dan Aris punya sejarah panjang yang tidak bisa dihapus begitu saja, bukan?"

Dokter Siska lalu memutar tubuhnya, menatap Mayang dengan pandangan menilai yang sangat dingin.

"Dan... maaf, siapa gadis ini? Apakah dia staf administrasi baru di rumah Tante Diah? Gaya pakaiannya cukup... unik untuk ukuran lingkungan purnawirawan."

Kata-kata bernada hinaan halus itu menusuk telinga seluruh orang di ruangan.

Mbak Rina yang memantau dari kejauhan mengelus dada, sementara Kapten Farhan sudah bersiap hendak menyela.

Namun, sebelum siapapun sempat bereaksi, Mayor Aris melangkah satu tapak besar ke depan.

Tubuh tingginya yang tegap secara sempurna membentengi Mayang dari pandangan Dokter Siska dan ibunya.

Wajah Aris memancarkan kekejaman komando yang sangat menakutkan, membuat aura dingin di ruangan itu makin mencekam.

"Jaga bicaramu, Dokter Siska," tegas Aris dengan nada suara yang begitu tajam bagaikan belati baja.

"Gadis yang berada di belakang saya ini bukan staf administrasi. Namanya Mayang. Dia adalah wanita yang saya pilih, calon pendamping hidup saya, dan calon Ibu Ketua Persit di Batalyon saya kelak."

Brak!

Pernyataan tegas tanpa ragu dari mulut sang Komandan Batalyon itu menghantam ruangan bagaikan ledakan meriam taktis!

Dokter Siska terperangah, senyum percaya dirinya seketika luntur seketika. Wajah Ibu Clarissa memerah padam karena terkejut atas penolakan terbuka di depan Jenderal Dudung.

Mayang yang berdiri di balik punggung lebar Aris terpaku.

Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya bergetar.

Rasa minder yang sempat menyusup ke dalam hatinya hancur berkeping-keping digantikan oleh kehangatan dan rasa bangga yang luar biasa. Pria tegas ini tidak pernah ragu sedikit pun untuk pasang badan membelanya di depan siapa saja.

Ibu Diah melangkah maju, memegang tongkat kayunya dengan ketukan mantap. "Clarissa, keputusan Aris sudah bulat.

Rumah tangga dan masa depan putra saya adalah hak penuh Aris untuk menentukan. Dan malam ini, Mayang adalah tamu kehormatan keluarga kami."

Ibu Diah menatap Mayang dengan tatapan penuh kehangatan, memberikan sinyal dukungan total kepada gadis berkacamata tebal itu.

Jenderal Dudung menunjuk ke arah pintu keluar dengan gesture tegas seorang komandan perang.

"Teguh! Antar Ibu Clarissa dan Dokter Siska kembali ke kendaraan mereka. Berkas mutasi bisa diserahkan esok hari di Markas Batalyon sesuai jalur resmi!"

"Siap, Jenderal!" sahut Letda Teguh lantang.

Dengan wajah menahan malu dan kekecewaan mendalam, Ibu Clarissa dan Dokter Siska terpaksa berbalik arah dan melangkah keluar dari kediaman keluarga Jenderal Dudung.

Namun sebelum melangkah melewati pintu, Dokter Siska sempat melirik Mayang dengan tatapan penuh dendam dan janji persaingan yang belum usai. Batalyon minggu depan akan menjadi medan pertempuran baru.

Setelah kepergian tamu tak diundang tersebut, Aris berbalik badan.

Beliau menatap Mayang dalam-dalam. Jemari tangannya yang kekar bergerak perlahan meraih kedua tangan Mayang yang dingin, meremasnya lembut di depan mata ayah dan ibunya.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Aris dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat lembut dan penuh rasa khawatir.

Mayang mendongak, merapikan kacamata tebalnya, lalu menyunggingkan senyuman paling ceria yang ia miliki meski ada sedikit kilat keharuan di matanya.

"Tidak apa-apa kok, Mas Mayor Gantengku!" sahut Mayang nyaring.

"Mayang kan calon Ibu Ketua Persit yang tangguh! Jangankan Dokter Spesialis, dikirim ke medan perang sama Mas Mayor pun Mayang siap!"

Jenderal Dudung dan Ibu Diah tertawa kecil menyaksikan balasan polos nan penuh semangat dari Mayang.

Di bawah sorotan lampu ruangan, Mayor Aris menatap gadis ajaib di hadapannya dengan rasa cinta yang makin mengakar kuat.

Lika-liku dan ujian baru mungkin baru saja membentang di Mako Batalyon minggu depan dengan kedatangan sang mantan, tetapi Aris tahu pasti, barikade cintanya untuk Mayang tidak akan pernah bisa ditembus oleh siapa pun.

1
pena putih
seru banget ditunggu updatenya ya
pena putih
Yuk mampir👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!