Indonesia
NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Pedagang Rahasia Dan Syarat Yang Beresiko

Cedric menoleh ke arah putranya, sedikit terkejut namun mengangguk. "Benar. Tuan Valian bukan orang biasa. Dia bilang tanaman ini terlalu berharga untuk diperdagangkan secara terbuka. Jika ia menerimanya begitu saja tanpa jaminan, ia bisa dicurigai mencuri barang berharga dari bangsawan atau perbendaharaan kerajaan."

Cedric menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

"Permintaannya begini: dia tidak ingin datang ke sini atau melihat tempat tumbuhnya. Tapi dia harus melihat sendiri tanaman itu masih hidup dan tumbuh segar, bukan sekadar daun kering. Ia meminta kita membawa sebatang tanaman lengkap dengan akarnya ke kota, atau memintanya datang ke tempat yang kita tentukan untuk melihatnya sekilas saja."

Elena menggeleng cemas. "Kita tidak bisa membiarkan orang lain tahu lokasi bukit itu. Jika dia berniat buruk, kita tidak punya cara untuk menghentikannya."

"Itulah masalahnya," sambung Cedric. "Tuan valian juga memberi batas waktu. Kita harus memutuskan dalam tiga hari ke depan. Jika kita setuju, dia akan membawa uang langsung sepenuhnya saat itu juga. Jika tidak, dia akan menganggap kita tidak serius dan tidak akan membicarakan hal ini lagi."

Suasana ruangan menjadi hening seketika. Peluang itu ada di depan mata, namun ada bahaya yang mengintai di baliknya.

Arlen berdiri diam sambil berpikir mendalam. Arlen tahu risiko membiarkan orang lain melihat tanaman itu, tapi dia juga sadar kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang dua kali. Tuan Valian terdengar berhati-hati, tapi apakah dia bisa dipercaya sepenuhnya?

" Ayah,Apa ciri-ciri orang bernama Valian itu, ?" tanya Arlen tiba-tiba. "Apakah dia mengenakan pakaian tertentu? Apakah ada tanda khusus di tubuhnya atau benda yang selalu dia bawa?"

Cedric mengingat-ingat kembali pertemuannya tadi siang. "Dia sudah tua, berjanggut putih tipis, berjalan sedikit pincang pada kaki kirinya. Ia selalu memegang tongkat kayu berukir pola sulur-sulur halus. Dia tidak memakai lambang keluarga apa pun, tapi matanya... tajam seolah bisa membaca apa yang kau pikirkan."

Saat mendengar deskripsi itu, ingatan Arlen berputar jauh ke masa ribuan tahun silam. Ada sekilas bayangan orang yang mirip dalam ingatannya-sekelompok orang yang bergerak diam-diam mengumpulkan barang kuno dan peninggalan masa lalu. Mereka berbahaya jika ada yang berniat jahat, tapi bisa menjadi sekutu yang sangat berharga jika didekati dengan cara yang benar.

"Kita tidak boleh membawanya ke bukit itu," ucap Arlen tegas setelah mempertimbangkan segala hal. "Tapi kita juga tidak boleh melewatkan kesempatan ini."

Arlen mendekat ke meja, menatap kedua orang tuanya bergantian.

"Kita buat kesepakatan lain. Katakan padanya: kita tidak bisa membiarkan lokasi diketahui karena alasan keamanan. Tapi kita akan datang sendiri ke kedainya membawa tanaman lengkap dengan akar dan tanahnya yang dibungkus kain tebal. Ia boleh memeriksanya sepuasnya di sana. Jika ia puas, transaksi selesai. Jika ia tidak mau menerima syarat itu... kita harus mencari jalan lain."

Elena tampak ragu. "Tapi jika kita membawanya ke kota, bagaimana jika ada orang lain yang melihat atau mengikuti kita pulang?"

"Kita bisa berhati-hati," jawab Arlen mantap. "Dan... jika ada yang berniat mengikuti atau berbuat jahat... aku akan menjaga agar mereka tidak berhasil."

Arlen mengucapkannya dengan nada yang begitu tenang namun penuh keyakinan, sehingga kedua orang tuanya sejenak tertegun melihat putra mereka.

Cedric menghela napas panjang lalu mengangguk perlahan. "Saran Arlen masuk akal. Lebih baik kita yang mengatur syarat dari pada membiarkan orang lain masuk ke wilayah kita. Besok pagi aku akan kembali ke kota untuk menyampaikan usulan itu padanya."

Pembicaraan itu berakhir saat senja mulai turun. Namun Arlen tahu, keputusan ini membawa risiko baru. Jika Tuan Valian memiliki hubungan dengan Lingkaran Suci atau dengan pihak Penguasa Wilayah, hal ini justru bisa menjadi jebakan.

Malam itu, Arlen kembali menyelinap ke bukit hitam. Dia membawa sebatang tanaman Daun Perak Dingin yang paling sehat dan besar. Arlen berjongkok di sebelahnya, lalu perlahan mengalirkan sedikit Aura ke dalam tanah di sekitar akarnya, mengikatnya agar tidak mudah rusak saat dicabut dan di bawa jauh.

Ia juga memperkuat lapisan penyamaran energi di sekeliling seluruh bukit itu. menambahkan pola sedikit lebih rumit-sebuah pengalih perhatian sederhana yang pernah dia gunakan dulu untuk menyembunyikan markas kecilnya. Jika ada orang yang mencoba mencari dengan sihir, mereka hanya akan merasakan kabur dan kebingungan seolah tersesat, lalu berjalan menjauh tanpa sadar.

Saat sedang sibuk mengatur itu, Arlen kembali merasakan kehadiran lain di dekatnya. Arlen tidak menoleh, hanya berbicara pelan ke arah kegelapan.

"Kau datang lagi ya?"

Dari balik bayangan bebatuan, muncul sosok serigala kelabu yang dulu dia temui. Kali ini ia tampak lebih tenang, bulunya juga terlihat lebih berkilau dan sehat seiring membaiknya kondisi lingkungan di bukit itu. Ia berjalan perlahan mendekat, lalu duduk diam di samping Arlen seolah menjadi penjaga setianya.

Arlen tersenyum tipis sambil mengusap kepala hewan itu pelan. "Besok aku harus pergi jauh sebentar. Tolong jaga tempat ini saat aku tidak ada, ya? Jangan biarkan hewan lain merusak tanaman ini."

Serigala itu mengerang pelan seolah mengerti, lalu menjilat sedikit tangan Arlen sebelum kembali duduk diam mengawasi sekeliling.

Arlen merasa sedikit lebih tenang. Kehadiran hewan ini adalah tanda bahwa alam di sini mulai merespons keberadaannya.

Keesokan paginya, Cedric berangkat lebih awal kembali ke kota. Ia membawa pesan usulan dari Arlen. Siang berganti sore hingga matahari hampir terbenam, namun Cedric belum juga pulang. Elena mulai gelisah, berjalan mondar-mandir di depan pintu. Arlen berdiri diam di sampingnya, matanya sesekali melirik ke arah jalan setapak yang kosong, namun ia tetap tenang.

Hingga akhirnya, saat langit mulai berubah warna menjadi ungu gelap, bayangan tunggangan Cedric terlihat kembali. Ia pulang sendirian, namun dari raut wajahnya yang tampak sedikit lega namun serius, Arlen tahu dia membawa kabar jawaban itu.

Begitu masuk dan duduk untuk beristirahat sejenak, Cedric langsung berbicara.

"Dia setuju," ucapnya singkat. "Tapi ia memberi syarat tambahan: kita harus datang dua hari lagi tepat saat matahari terbenam, lewat pintu belakang kedainya yang sepi. Ia tidak mau ada orang lain yang tahu pertemuan ini. Dan... Dia memperingatkan agar kita tidak membawa pengawal atau orang asing."

Cedric menatap Arlen dan Elena bergantian. "Ini kesempatan kita, tapi rasanya semakin seperti masuk ke dalam perjanjian gelap."

Arlen mengangguk. "Kita akan pergi. Ibu tetap tinggal menjaga rumah. Hanya Ayah dan aku yang pergi."

Elena hendak menolak karena Arlen masih terlalu kecil, namun saat dia melihat tatapan tegas putranya dan rasa percaya diri yang terpancar dari wajah nya, ia hanya bisa mengangguk pelan.

"Baiklah... tapi berjanjilah padaku untuk berhati-hati. Kembalilah dengan selamat apa pun yang terjadi."

Malam itu, Arlen bersiap sepenuhnya. Dia menyadari bahwa pertemuan di kota itu akan menjadi langkah pertamanya berinteraksi dengan dunia luar yang lebih luas dan berbahaya. Dia harus berhati-hati, namun juga harus siap menghadapi apa pun yang terjadi.

Di balik jubah kecilnya yang sederhana, dia menyembunyikan kekuatan yang sudah mulai tumbuh: kekuatan Aura Perunggu yang siap dia gunakan untuk melindungi dirinya dan ayahnya jika bahaya datang.

Dua hari kemudian, saat matahari mulai condong ke arah barat, perjalanan panjang mereka akhirnya memperlihatkan hasil. Dari atas bukit berbatu sebelum jalur menurun, Cedric menarik tali kekang kudanya, membuat hewan itu berhenti melangkah. Arlen yang duduk di belakang ayahnya ikut melihat ke depan.

Di kejauhan, siluet Kota Oakhaven-pusat perdagangan wilayah tersebut-berdiri megah memotong garis langit yang mulai memerah. Menara-menara pengawas dari batu hitam menjulang tinggi, dikelilingi tembok benteng besar yang permukaannya dipenuhi ukiran simbol mantra kuno untuk penolak monster. Aliran mana yang tipis sesekali menyala biru redup di sepanjang tembok tersebut. Dari jarak sejauh ini, kota itu tampak seperti tumpukan bangunan batu yang diselimuti kabut tipis dan asap dari ribuan cerobong rumah penduduk.

Cedric kembali menghentakkan kakinya ringan, menuntun kuda mereka berjalan perlahan menuruni bukit menuju gerbang utama. Gerbang itu dijaga oleh para petugas kota yang mengenakan jubah sihir berlapis pelindung mana ringan. Di dada mereka, tertanam sebuah kristal mana kecil yang berfungsi sebagai pendeteksi energi sihir asing yang masuk.

Begitu melewati pos pemeriksaan, atmosfer langsung berubah total. Suasana sepi di sepanjang jalan setapak lenyap, digantikan oleh hiruk-piruk yang ramai. Cedric menuntun kudanya berjalan lambat di sela-sela kerumunan orang agar tidak menyenggol siapa pun.

Kota itu terasa sangat padat dan bising. Bau jerami pakan hewan berbaur dengan aroma ramuan obat yang direbus dari kedai-kedai alkemis pinggir jalan. Gemerincing koin, derit roda kereta barang yang digerakkan oleh mesin mana sederhana, serta teriakan para pedagang kain saling bersahutan memekakkan telinga.

Di atas kepala mereka, deretan bangunan kayu dan batu berlantai tiga berdiri begitu rapat, menyisakan celah langit yang sempit dan membuat suasana di bawahnya terasa temaram meski matahari belum sepenuhnya terbenam.

Bagi Arlen yang menyimpan ingatan ribuan tahun lalu, kota ini terasa asing namun memicu nostalgia. Struktur bangunan modern ini dibangun di atas fondasi sihir murni masa lalu yang kini telah memudar, menyusut, dan kehilangan keajaiban aslinya.

Untuk menghindari perhatian orang, Arlen menarik kerudung jubah panjangnya lebih dalam, menyembunyikan wajahnya di balik bayangan kain wol yang kasar.

Mereka akhirnya tiba di tempat penitipan hewan di dekat pasar bawah. Setelah Cedric turun dan menyerahkan tali kendali kudanya kepada petugas, mereka melanjutkan dengan berjalan kaki, membelok ke arah gang-gang kecil yang semakin sepi dan sempit. Di sini, jalanan berganti menjadi tanah becek yang berbau lembap. Cahaya matahari hampir tidak bisa menembus dinding-dinding tinggi di kanan-kiri mereka.

Sesuai petunjuk Tuan Valian, langkah mereka terhenti di depan sebuah bangunan kayu tua tak terawat. Bangunan itu tampak mati tanpa papan nama, dengan jendela-jendela yang dipaku mati. Hanya ada sebuah pintu kecil di bagian belakang yang sedikit terbuka.

Cedric mengetuk pintu tersebut tiga kali dengan irama tertentu sesuai perintah. Pintu pun terbuka perlahan dari dalam, memperlihatkan lorong remang yang berbau rempah kering serta aroma tajam menyerupai karat logam.

"Masuklah," sebuah suara berat terdengar dari kegelapan.

Mereka melangkah masuk secara perlahan sebelum pintu segera ditutup rapat di belakang mereka, memutus seluruh kebisingan kota di luar. Di ujung ruangan yang temaram, duduk seorang pria tua di balik meja kayu gelap yang dipenuhi tumpukan gulungan kertas serta benda-benda aneh yang memancarkan pendar sihir redup. Sosok berjanggut putih itu tampak pincang saat bergeser, persis seperti cerita yang beredar, dengan sebuah tongkat kayu berukir indah bersandar di sampingnya. Itulah Tuan Valian.

Sang pemilik kedai mengangkat wajah untuk menyambut kedatangan mereka. Tatapan matanya yang sehitam arang menyapu penampilan Cedric , lalu berhenti sejenak, menatap tajam pada sosok kecil Arlen yang berdiri tenang di samping ayahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!