Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Sang Pangeran, Bertahta Di Hati Kaisar

Dibuang Sang Pangeran, Bertahta Di Hati Kaisar

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam / Time Travel / Tamat
Popularitas:510.5k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.

Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.

Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.

Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?

_____________

"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KAISAR ZANE CALIBER

Point yang menyatakan bahwa pertunangan hanya bisa dibatalkan secara sepihak oleh Pihak Kekaisaran jika salah satu pihak terbukti melakukan tindak kejahatan berat.

"Percobaan pembunuhan sudah lebih dari cukup untuk membuat nama Luis hancur," bisik Aura dingin.

Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk pelan dari luar.

Tok

Tok

Tok

"Aura, ini Ibu, Sayang," suara Duchess Clara terdengar lembut di balik pintu.

Aura segera menyimpan dokumen itu kembali ke laci, lalu berjalan membuka pintu.

Ceklekk

"Masuklah, Ibu," ucap Aura.

Duchess Clara masuk membawa nampan berisi semangkuk sup hangat dan segelas teh, beliau meletakkannya di atas meja kecil di dekat tempat tidur Aura.

"Makanlah sedikit, Sayang, tubuhmu masih sangat pucat," ucap Duchess Clara sembari mengusap lembut pipi Aura.

Aura duduk di tepi ranjang dan menerima mangkuk sup yang disodorkan ibunya.

"Terima kasih, Ibu," ucap Aura, hati nya merasa menghangat.

"Aura... jujur pada Ibu. Apa kamu benar-benar yakin dengan rencanamu untuk hadir di pesta Ulang Tahun Kaisar?" tanya Duchess Clara menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.

"Tentu saja aku yakin, Ibu," jawab Aura tenang sebelum menyesap sup hangat itu perlahan.

"Tapi Nak, Kaisar Zane itu pria yang sangat berbahaya," bisik Duchess Clara khawatir.

"Beliau sangat kejam dan tidak ragu menghabisi siapa saja yang berani mengacaukan ketenangan nya. Ibu takut kamu malah masuk ke dalam bahaya yang lebih besar," ucap Duches Clara khawatir.

"Biarkan Ayah mu yang menyelesaikan ini semua sayang, kalau kamu memang ingin pertunangan dengan pangeran Luis di batal kan," lanjut Duches Clara, menggenggam lembut tangan Aura.

Aura menyunggingkan senyum tipis, menatap ibunya dengan tatapan penuh percaya diri yang belum pernah diperlihatkan oleh Aura yang dulu.

"Ibu tenang saja, pria seperti Kaisar Zane tidak bisa dipengaruhi oleh tangisan atau godaan murahan," ucap Aura santai.

"Tapi dia adalah seorang penguasa sejati, dia hanya tertarik pada keuntungan dan penawaran yang masuk akal," lanjut Aura tersenyum penuh rencana.

"Penawaran apa yang mau kamu berikan pada Kaisar?" tanya Duchess Clara mengerutkan keningnya heran.

"Sebuah alasan untuk menyingkirkan Pangeran Luis tanpa harus mengotori tangannya sendiri," jawab Aura tegas.

Duchess Clara terpaku mendengar ucapan tajam dari putri tunggalnya itu, rasanya benar-benar aneh melihat perubahan sifat Aura yang mendadak menjadi begitu dewasa dan penuh perhitungan.

"Kamu... benar-benar sudah berubah ya, Aura," gumam Duchess Clara pelan.

Aura meletakkan mangkuk sup nya yang sudah kosong di atas meja, lalu menatap ibunya hangat.

"Aku hanya belajar dari kesalahanku, Ibu, maaf karena selama ini Aura selalu membuat ibu dan Ayah malu," ucap Aura, mengingat kelakukan Aura asli yang tidak tahu malu.

"Apapun yang mau kamu lakukan, Ibu dan Ayahmu akan selalu berdiri di belakangmu," ucap Duchess Clara menghela napas panjang, lalu memeluk putrinya erat.

"Terima kasih, Ibu," jawab Aura, membalas pelukan hangat itu.

"Yasudah sekarang kamu tidur, istirahat, ibu keluar dulu," ucap Duches Clara, berdiri.

Setelah ibunya keluar dari kamar untuk membiarkannya beristirahat, Aura berjalan mendekati jendela besar kamarnya, dia menatap langit malam yang ditaburi bintang-bintang, membayangkan wajah Pangeran Luis dan Elisabeth yang saat ini mungkin sedang merayakan kematiannya.

"Tertawa lah mumpung kalian masih bisa tertawa," gumam Aura dingin, mengusap kaca jendela yang berembun.

"Karena saat itu tiba, aku sendiri yang akan mencabut semua senyuman dari wajah kalian," lanjut Aura tersenyum miring.

Di waktu yang sama di istana kerajaan Caliber, Kaisar Zeno masih ada di ruang kerja nya, masih fokus dengan beberapa laporan.

"Yang Mulia, ini laporan dari wilayah timur, tahun ini hasil panen, tiga kali lipat dari tahun lalu," ucap Nico, tangan kanan sekaligus asisten pribadi sang Kaisar

Kaisar Zane Caliber hanya melirik sekilas berkas yang disodorkan Nico di atas meja kerjanya, jarinya yang panjang dan tegas mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu mahoni yang dipoles mengilap.

"Simpan saja di sana," ucap Kaisar Zane dingin, suaranya yang berat memecah keheningan ruangan.

"Baik, Yang Mulia," jawab Nico sembari menaruh berkas itu dengan rapi di sudut meja.

Zane menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya, menatap keluar jendela besar ruang kerjanya yang memperlihatkan pemandangan malam ibu kota. Wajahnya yang tegas dan tampan tampak begitu datar, tak tersentuh oleh emosi apa pun.

"Bagaimana dengan persiapan pesta tiga hari lagi?" tanya Kaisar Zane tanpa beralih pandang.

"Semua berjalan sesuai rencana, Yang Mulia. Seluruh pangeran dan bangsawan dari berbagai wilayah sudah mengonfirmasi kehadiran mereka," jawab Nico sigap, berdiri tegap di samping meja.

"Pesta yang membosankan, mereka semua datang hanya untuk bermuka dua dan mencari muka di hadapanku," ucap Kaisar Zane terkekeh sinis.

Nico hanya diam, dan menundukkan kepalanya, tidak berani berkomentar apa-apa, karena itu memang kenyataan nya.

"Yang Mulia, mata-mata kita melaporkan bahwa malam ini Pangeran Luis kembali menemui Lady Elisabeth, bahkan mereka terang-terangan bermesraan di depan umum," ucap Nico, hati-hati.

Pangeran Zane mengeram rendah, dengan aura membunuh yang begitu pekat.

"Anak itu!" geram Kaisar Zane.

"Awasi anak itu, jangan biarkan kelakuan bodoh nya, mempermalukan kerajaan," ucap Kaisar Zane, mengepalkan tangannya kuat.

"Baik Yang Mulia," jawab Nico, sopan.

Kaisar Zane menyenderkan kepalanya, memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, ingatan nya kembali ke kejadian delapan belas tahun yang lalu, saat dirinya masih menjadi seorang pangeran Mahkota, seorang wanita tiba-tiba datang dan mengaku mengandungnya anak nya.

Waktu itu dirinya sudah menyangkal nya dengan keras, bahwa dirinya tidak mengenal wanita itu, tapi mendiang Ayah nya memaksa nya untuk bertanggung jawab, dengan tegas tentu saja Kaisar Zane menolak, hingga akhir nya, wanita itu melahirkan.

Kaisar Zane dengan terpaksa membawa bayi itu ke istana nya, tapi tidak dengan wanita itu.

Kaisar Zane menghela napas kasar, mengingat betapa menyebalkannya situasi delapan belas tahun lalu itu.

Bayi yang terpaksa dia akui sebagai anaknya sekaligus dibesarkannya di istana itu kini tumbuh menjadi pria tidak tahu diri seperti Luis.

"Harusnya sejak awal aku tidak perlu kasihan dan membiarkan anak itu hidup nyaman di istana," gumam Kaisar Zane sinis.

"Yang Mulia, Pangeran Luis masih muda dan emosinya belum stabil, tapi tindakan beliau yang terus-terusan mengabaikan Lady Aura demi Lady Elisabeth memang sudah sangat keterlaluan," ucap Nico dengan hati-hati.

Kaisar Zane mendengus pelan, menatap Nico dengan tatapan dinginnya.

"Gadis dari keluarga Luminar itu juga sama bodohnya," ucap Kaisar Zane datar.

"Sudah tahu Luis memanfaatkan posisinya, tapi dia masih saja mengejar-ngejar anak itu seperti orang tidak punya harga diri," lanjut Kaisar Zane, sinis.

1
Dwi Wahyu
harusnya dibunuh saja dari batu
Erna Masliana
terus kenapa gak bertindak tol**
Erna Masliana
ya karena kalian para pejabat dan para orang tua tolol yang gampang dibodohi... Raja terdahulu juga termasuk tolol
Erna Masliana
lah kamu sendiri pelayan rendahan yang ngimpi naik tahta
Erna Masliana
rencana yang gampang kebaca sebenarnya
Erna Masliana
meningkatkan keamanan saja tidak cukup kalo dalangnya dibiarkan hidup
Erna Masliana
ya iyalah... kamu lelet ngatasi musuh ya musuh bertindak duluan lah
Erna Masliana
langsung ajalah.. gak usah ngasih celah musuh
Erna Masliana
lah karena bukan anaknya
Erna Masliana
nah ini salah satu kelemahan Zein tidak menumpas tuntas ibu Luis dan Luis sendiri.. sekuat apa sih mereka hingga Zein tidak berkutik kalah dg wanita rendahan yg jebak dg ngaku ngaku doang
Erna Masliana
iya itu padahal jalan terbaik... apalagi Kaisar gak ada selir gak ada teman masa kecil atau maen ke rumah bordil
Erna Masliana
tapi tidak berbuat apapun sampe Luis dewasa...bikin skenario di racun atau dibunuh bandit pun tidak.. bukankah itu terlihat lemah.. mengatasi hal seperti ini saja mengandalkan Aura jiwa masa depan yang bertindak dulu
Erna Masliana
belum
Erna Masliana
harusnya di racun ye
Tika
baru gabung Thor 🤭
Omah Tien
kirain benaran g adu aku sampai sedih ya gmn anak nya kan ms kecil
Omah Tien
salah nya musuh g di matinin
Omah Tien
sy sk anak kembar ada jg ya
Omah Tien
kalau crt kerajaan ky nya g pernah ada anak kembar ya tau ada g
Omah Tien
kadang bc lihat aura sok sobong nya selagit tua nanti jg jd suami kamu jg dsr sbg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!