Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 7, DI ATAS PUNCAK
Berita tentang tiga pengembara menyebar lebih cepat daripada kuda pacu, berjalan dari mulut ke mulut di pasar-pasar, di perapian desa, di tempat persembunyian para pemberontak. Di beberapa tempat, orang-orang bersiap menyambut mereka dengan roti dan garam sebagai tanda hormat. Di tempat lain, prajurit berpatroli dua kali lipat, menangkap siapa pun yang berani menyebut nama mereka.
Zhoo merasakan beban itu semakin berat setiap harinya. Ketika mereka memasuki sebuah desa di kaki pegunungan Lythandar, petani-petani berhenti bekerja dan menatapnya—bukan sebagai pemuda biasa, tapi sebagai seseorang yang akan menyelamatkan mereka. Beberapa bahkan berlutut saat ia lewat.
“Jangan berlutut,” katanya pada seorang petani tua yang berlutut di jalanan tanah. “Aku tidak tuhan. Aku tidak bisa menghentikan hujan atau membuat gandum tumbuh. Aku hanya orang biasa seperti kalian.”
Petani itu mendongak, matanya penuh air mata. “Kami tahu, Tuan. Tapi setidaknya kau berjalan menuju bahaya, bukan menjauhinya. Itu sudah lebih dari apa yang dilakukan penguasa mana pun.”
Malam itu, saat mereka berkemah di tepi hutan purba, Zhoo duduk sendirian di bawah pohon raksasa, menatap api unggun yang menyala pelan. Bahunya terasa berat seolah memikul beban seluruh benua.
“Mereka menaruh harapannya padaku,” katanya pelan saat Elara duduk di sampingnya. “Tapi apa yang bisa kuberikan? Aku tidak memiliki pasukan, tidak memiliki emas, tidak memiliki kekuatan ajaib. Jika aku gagal, mereka tidak hanya akan kecewa—mereka akan hancur karena mempercayaiku.”
Elara mengambil sebatang ranting dan memutarnya di antara jari-jarinya. “Rakyat tidak bodoh, Zhoo. Mereka tahu kau bukan dewa. Mereka tidak meminta mukjizat. Mereka hanya meminta seseorang yang tidak akan menjual mereka demi kekuasaan. Mereka tidak berharap kau sempurna—mereka hanya berharap kau peduli. Dan kau peduli, itu cukup.”
“Cukup untuk apa? Untuk mati bersama mereka saat pasukan Vereon datang?”
“Cukup untuk memberi mereka keberanian agar tidak takut mati sendirian,” jawab Elara lembut namun tegas. “Itu sudah lebih berharga daripada semua mahkota di benua ini.”
Kael bergabung dengan mereka, wajahnya serius. “Besok kita memasuki wilayah Lythandar. Hutan purba ini bukan hutan biasa—pohon-pohonnya hidup, dan para penjaga hutan melihat dan mendengar segalanya sebelum kau melangkah masuk. Kita harus berhati-hati dengan setiap kata yang diucapkan.”
Keesokan paginya, saat kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan, mereka melangkah masuk ke Lythandar. Udara langsung berubah—sejuk, lembap, dan penuh dengan aroma daun basah dan kayu tua. Pohon-pohonnya begitu tinggi hingga puncaknya menghilang di awan, batangnya begitu lebar hingga puluhan orang bergandengan tangan tidak bisa mengelilinginya. Cahaya matahari menembus dedaunan dalam berkas-berkas emas yang bergerak pelan saat angin berhembus.
Mereka belum berjalan sejauh satu mil sebelum dikelilingi. Puluhan penjaga hutan muncul dari balik pohon dan semak belukar—berpakaian kulit kayu dan kain berwarna daun, wajah mereka dicat dengan warna hijau dan cokelat, memegang busur kayu dengan anak panah sudah ditarik dan diarahkan tepat ke dada mereka.
Pemimpin mereka melangkah maju—seorang pria berusia lanjut dengan rambut putih seperti kabut, matanya tajam dan hijau seperti lumut. “Tidak ada orang asing yang melanggar masuk ke jantung hutan tanpa izin,” katanya, suaranya dalam dan bergetar seolah berasal dari bumi di bawah kaki mereka. “Katakan maksud kalian, atau jadilah makanan akar pohon sebelum matahari mencapai puncaknya.”
Zhoo melangkah maju selangkah, meletakkan tangannya di atas dada, tidak meraih pedang sedikit pun. “Kami tidak datang untuk merampok, tidak untuk menaklukkan, dan tidak untuk memerintah. Kami datang karena benua Est sedang sakit, dan kami mendengar kalian memiliki pengetahuan yang bisa membantu menyembuhkannya. Kami tidak meminta pasukan atau emas. Kami hanya meminta diperbolehkan mendengarkan.”
Pemimpin penjaga hutan menatapnya lama, meneliti setiap gerakan, setiap kedipan mata, mencari kebohongan. Perlahan, ia menurunkan busurnya. “Kau berbicara dengan rendah hati, namun matamu penuh tekad. Banyak yang datang ke sini dengan permintaan manis lalu berniat mencuri rahasia kami. Tapi kau… kau seolah sudah tahu betapa beratnya beban yang kau minta pikul.”
Ia memberi isyarat dengan tangan. “Ikutlah. Tetapi ingat: di sini, setiap kata memiliki berat, setiap langkah meninggalkan jejak yang tidak bisa dihapus. Berhati-hatilah agar tidak menabrak kebenaran yang belum siap kau terima.”
Mereka dibawa masuk lebih dalam, melewati sungai yang airnya jernih hingga dasar sungai terlihat jelas, melewati pohon-pohon yang batangnya diukir dengan simbol-simbol kuno yang bahkan Kael tidak kenal. Di jantung hutan, di atas platform raksasa yang terbuat dari batang pohon hidup yang tumbuh melengkung ke atas, tinggal para Tetua Lythandar—tujuh orang tua yang duduk melingkar di atas bantal lumut, wajah mereka penuh kerutan seperti kulit pohon tua, namun mata mereka jernih dan waspada.
Zhoo berdiri di hadapan mereka dan menceritakan semuanya—mulai dari perjanjian rahasia, ketakutan rakyat, mimpinya tentang benua yang bersatu bukan karena pedang tapi karena keinginan bersama. Ia berbicara sederhana, tanpa kata-kata indah atau janji kosong, karena ia tahu orang-orang ini tidak bisa ditipu dengan kata-kata.
Ketika ia selesai berbicara, keheningan menyelimuti ruangan itu selama waktu yang terasa tak berakhir. Kemudian Tetua tertua, wanita yang rambutnya terurai putih seperti air terjun, berbicara dengan suara lembut namun bergema di dada setiap orang:
“Impianmu indah, anak muda. Namun benua Est tidak dibangun di atas kebaikan hati. Ia dibangun di atas kekuasaan dan ketakutan. Untuk menyatukan tujuh kerajaan, kau harus menjadi lebih kuat dan lebih kejam daripada raja-raja itu sendiri. Dan jika kau melakukan itu, jika kau mengubah dirimu menjadi monster untuk mengalahkan monster, siapa yang akan menjamin kau tidak akan menjadi tiran yang lebih buruk dari mereka yang kau lawan?”
Pertanyaan itu menembus jantung Zhoo seperti pedang. Ia terdiam, berpikir dalam-dalam sebelum menjawab dengan jujur:
“Aku tidak tahu. Aku tidak memiliki jawaban untuk itu. Aku hanya tahu bahwa membiarkan keadaan seperti sekarang berarti jutaan orang akan mati tanpa alasan. Jika aku harus berjuang setiap hari agar tidak menjadi kejam, maka aku akan berjuang. Selama ada orang-orang di sampingku yang akan memegang cermin dan berkata ‘lihatlah siapa dirimu’, aku berharap aku tidak akan pernah tersesat sepenuhnya.”
Para Tetua saling berpandangan, berkomunikasi dengan cara yang tidak bisa dilihat orang luar. Kemudian wanita tua itu berkata:
“Kami tidak akan memberikan pasukan kepadamu. Hutan ini tidak berperang untuk siapa pun. Tapi kami akan memberikan sesuatu yang lebih berharga dan lebih berbahaya: Pengetahuan tentang Tujuh Segel Kekuasaan. Benda-benda kuno yang diciptakan oleh pendiri benua Est, tersembunyi di setiap kerajaan. Katanya, siapa pun yang menguasai ketujuh segel itu akan memiliki kekuatan untuk mengubah tatanan dunia—bukan dengan memindahkan gunung atau membelah laut, tapi dengan memengaruhi hati dan kehendak manusia.”
Seorang Tetua menyerahkan selembar kulit kayu tipis yang dilipat dengan hati-hati. Di atasnya tergambar peta kuno dengan tanda-tanda kecil di tujuh lokasi yang berbeda.
“Namun dengarkan peringatan kami,” lanjut Tetua itu, matanya menatap lurus ke mata Zhoo. “Segel itu tidak memberikan kekuatan apa pun. Ia hanya mencerminkan kekuatan yang sudah ada di dalam dirimu. Jika hatimu penuh ambisi dan keinginan berkuasa, segel itu akan membakar dan menghancurkanmu. Jika hatimu penuh kebijaksanaan dan pengorbanan… mungkin, hanya mungkin, ia akan membantumu. Banyak yang telah mencari segel ini. Tidak ada yang kembali sama seperti saat mereka pergi.”
Zhoo menerima peta itu, merasakan getaran halus seolah kulit kayu itu hidup di tangannya. “Aku mengerti risikonya.”
Namun keheningan yang damai itu tiba-tiba pecah. Seorang penjaga hutan berlari masuk, napasnya terengah-engah, wajahnya pucat.
“Pasukan Ironhold!” serunya. “Ribuan prajurit mengepung batas hutan! Mereka dipimpin oleh seorang ksatria muda dengan zirah hitam berkilauan—ia menuntut penyerahan pengembara atau ia akan membakar pinggiran hutan!”
Darah Zhoo membeku. Ia berlari bersama yang lain ke tepi hutan, dan di sana, di padang rumput yang luas, melihatnya—barisan pasukan baja yang tak berujung, tombak-tombak terangkat tinggi, matahari memantul di ribuan zirah. Dan di barisan depan, menunggangi kuda perang hitam yang besar, berdiri Arvin.
Zirah Arvin berkilauan hitam dengan hiasan emas, jubah merah melambai di punggungnya, dan di dadanya terpasang lambang singa emas—tanda ksatria kepercayaan Raja Vereon. Wajahnya keras, matanya dingin dan tajam, namun saat ia melihat Zhoo, tangannya mencengkeram kendali kuda hingga buku jarinya memutih, dan untuk sesaat tatapan itu retak—di balik zirah ksatria, masih tersembunyi anak desa yang dulu berbagi roti dan mimpi dengan Zhoo.
“Zhoo!” teriak Arvin, suaranya terdengar jelas di antara deru angin. “Menyerahlah! Raja Vereon menawarkan ampunan untukmu dan teman-temanmu jika kalian datang bersamaku dengan damai! Jangan paksa aku melakukan hal yang akan kusesali seumur hidupku!”
Zhoo melangkah maju, keluar dari perlindungan pohon, berdiri sendirian di antara hutan dan pasukan. “Arvin, pulanglah. Jangan biarkan raja menggunakanmu untuk melawan orang yang kau cintai. Kita tidak perlu saling membunuh agar memiliki arti di dunia ini.”
“Dunia tidak peduli pada apa yang kita butuhkan!” jawab Arvin, suaranya bergetar antara kemarahan dan keputusasaan. “Kau tahu berapa banyak yang kulewati untuk mendapatkan tempat ini? Kau tahu berapa kali aku hampir mati di pelataran latihan, di perbatasan, di penjara rahasia? Aku melakukan ini untuk kita! Agar kita tidak lagi miskin dan tidak berdaya! Tapi jika kau menolak… jika kau melawan… aku tidak bisa melindungimu lagi. Perintah adalah perintah!”
Mereka menatap satu sama lain—dua sahabat yang tumbuh bersama, kini berdiri di tepi jurang yang terbuat dari kewajiban dan pilihan. Tidak ada yang salah, namun juga tidak ada yang benar. Hanya dua jalan yang berjalan berlawanan arah.
“Kalau begitu lakukanlah apa yang harus kau lakukan, Arvin,” kata Zhoo pelan namun tegas. “Tapi ketahuilah: pedang yang kau pegang pada akhirnya akan memotong tanganmu sendiri. Dan saat itu terjadi, aku harap kau ingat bahwa aku tidak pernah menentangmu—aku hanya menentang jalan yang kau pilih.”
Arvin mengangkat busur perak di tangannya, menarik tali hingga ujung anak panah menyentuh busur. Matanya tertutup sejenak, lalu terbuka kembali dengan tatapan yang hancur. Anak panah melesat—bukan ke arah dada Zhoo, melainkan ke langit tinggi, melengkung indah lalu menghilang di balik dedaunan hutan.
“Mundur!” teriak Arvin pada pasukannya, suaranya pecah dan penuh amarah pada dirinya sendiri. “Kita pergi!”
Saat barisan baja berbalik dan pergi, meninggalkan awan debu di belakangnya, Zhoo tetap berdiri diam di padang rumput. Air mata menetes di pipinya, bukan karena kemenangan, tapi karena ia tahu—Arvin tidak kalah hari ini. Ia hanya menunda pertarungan itu. Dan suatu hari nanti, di medan perang yang luas, mereka tidak akan seberuntung ini lagi.