Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamiku Pak Dosen Killer

Suamiku Pak Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.

Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.

Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bekal yang Tertukar

Siang hari pukul 12.15 WIB. Ruang Kantin Fakultas Seni dan Desain dipenuhi riuh rendah suara mahasiswa yang mengantre makanan, denting sendok beradu dengan piring, dan gelak tawa di tiap sudut meja.

Nadhira melangkah gontai menuju meja kayu panjang di pojok kantin tempat Kania dan Dimas sudah membooking tempat. Perutnya sudah berbunyi nyaring sejak setengah jam yang lalu saat kelas Teori Warna berakhir.

"Duh, laper banget gue!" keluh Nadhira seraya mendaratkan bokongnya di kursi kayu. Ia meletakkan totebag kanvas motif floral tempat ia menyimpan kotak bekalnya.

"Samaan ihh, otak gue serasa diperas habis-habisan sama materi Pak Kris tadi," sahut Kania yang sedang menikmati semangkuk mie ayam bakso.

"Lo bawa bekal apa hari ini? Tadi pagi gue lihat lo bawa tempat makan lumayan gede."

Nadhira tersenyum lebar, membayangkan isi kotak makanannya. "Biasa lah hari ini gue masak lauk favorit sepanjang masa, kombinasi maut antara nugget goreng renyah, sosis bakar kecap manis, sama telur dadar gurih yang tebel. Pakai nasi hangat yang banyak, beh nikmat mana lagi yang kau dustakan."

Dimas yang sedang mengunyah batagor sampai menoleh. "Anjir, makanan bocah SD banget lauk lo, Nad. Kagak ada sayurnya sama sekali?"

"Sayur itu cuma hiasan, Dim! Yang penting gizi protein rasa nikmat," kelakar Nadhira bangga.

Nadhira merogoh totebag-nya dan mengeluarkan sebuah kotak makan Tupperware berbentuk persegi panjang warna abu-abu gelap yang sangat minimalis dan elegan.

Tunggu... Nadhira mengerutkan dahi sejenak. Perasaan kotak bekal gue warnanya merah muda deh?

"Wuih, tempat makan lo keren amat, Nad. Estetik, abu-abu doff gitu," puji Dimas melihat wadah makanan tersebut. "Beli di mana tuh?"

"E-eh... ini..." Nadhira terkaku.

Pikirannya mendadak melayang ke peristiwa tadi pagi di dapur rumah. Waktu itu suasana sangat kacau karena Nadhira hampir terlambat lagi. Di atas meja dapur ada dua kotak bekal yang sudah terbungkus rapi dekat tas masing-masing.

Karena terburu-buru menyambar tas ransel sambil mengunyah roti tawar, Nadhira secara asal meraih kotak makan di meja tanpa melihat lagi warnanya.

"Mati gue... ini kan kotak bekalnya Pak Reyhan!" batin Nadhira menjerit histeris. Kepalanya mendadak terasa dingin.

"Ayo buka dong. Gue mau lihat penampakan sosis bakar buatan lo," desak Kania penasaran.

Dengan tangan gemetar dan senyum kecut, Nadhira perlahan merenggut kait pengunci kotak makan abu-abu tebal itu.

Ketika tutupnya diangkat, bau yang tercium bukannya aroma gurih gurih minyak gorengan sosis atau gurihnya telur dadar, melainkan aroma minyak zaitun, perasan lemon segar, dan daun seledri.

Tiga pasang mata di meja itu seketika melotot menatap isi kotak makan tersebut.

Di dalam wadah abu-abu itu, tersusun dengan presisi yang teramat sangat tinggi layaknya karya seni minimalis.

Potongan dada ayam rebus tanpa kulit yang ditaburi sedikit oregano.

Tumpukan salad sayur mentah berupa kale, brokoli rebus, tomat ceri, dan peterseli.

Dua butir telur rebus yang dipotong simetris sempurna menjadi empat bagian.

Di selipan samping kotak, terdapat botol shaker bening berisi cairan kental berwarna cokelat pucat, susu protein tanpa gula.

Kantin seolah mendadak hening di sekitar meja mereka.

Kania mengedipkan matanya tiga kali, lalu menatap Nadhira dengan raut wajah syok berat. "Nad... lo... lo lagi kesurupan apa gimana?"

Dimas bahkan sampai menghentikan sendok batagornya di udara. "Ini... ini makanan atlet binaraga mau kompetisi, Nad? Mana nugget sosis kecap manis yang lo bangga-banggakan tadi?"

Nadhira mematung. Mukanya merona merah padam karena menahan malu tingkat dewa. "I-ini..."

"Lo sejak kapan demen makan sayuran mentah kayak ulat daun begini?" cerocos Kania heboh, menunjuk-nunjuk potongan brokoli rebus dingin yang tampak sangat hambar itu.

"Sejak gue kenal lo dari semester satu, lo tuh manusia paling anti sama yang namanya sayur hijau. Lo kalau makan mie ayam aja daun sawinya lo pinggirin satu per satu pakai sumpit. Lah ini..." lanjut Kania.

"Iya lagi, terus itu botol apaan lagi? Jus lumpur?" tambah Dimas tak kalah heran.

Nadhira memutar otak setengah mati untuk menyelamatkan reputasinya. Tidak mungkin ia jujur kalau bekalnya tertukar dengan milik dosen paling killer se-fakultas yang juga merupakan suaminya.

"A-anu... kalian nggak paham," sahut Nadhira heboh dengan nada suara tinggi penuh kebohongan. "Gue... gue lagi menjalani pola hidup sehat baru."

Kania menaikkan sebelah alisnya curiga. "Pola hidup sehat? Lo? Sejak kapan?"

"Sejak... sejak kemarin lusa," potong Nadhira cepat, mencoba berakting sejujur mungkin meski air matanya hampir menetes melihat dada ayam rebus dingin di depannya.

"Gue sadar, kita kan udah semester enam. Tugas makin banyak, begadang terus. Kalau gue makan micin sama gorengan terus, nanti imun gue drop. Makanya gue memutuskan buat... Clean Eating."

"Clean eating?" ulang Dimas bingung.

"Iya, makanan bersih tanpa minyak, tanpa garam berlebih, kaya serat dan protein," cerocos Nadhira asal meniru istilah-istilah yang pernah ia dengar dari Reyhan saat suaminya itu sedang ceramah soal nutrisi di rumah.

"Lihat nih, dada ayam kaya protein. Brokoli buat serat, susu protein buat kekuatan otot jemari gue pas menggambar," jelas Nadhira.

Kania mengamati isi bekal itu sekali lagi, lalu menatap Nadhira penuh selidik. "Tapi tatanannya rapi banget, Nad. Potongan telur rebusnya presisi banget. Tipe-tipe orang perfeksionis yang bikin. Lu mana bisa menata makanan serapi ini? Biasanya tempat makan lo acak-adut kayak kapal pecah."

Jantung Nadhira serasa mencelos. "Aduh Kania, detektif gadungan ini instingnya kenapa tajam banget sih?!" batin Nadhira.

"G-gue belajarnya dari tutorial YouTube!" tembak Nadhira panik. "Gue belajar seni menata makanan di wadah bekal biar estetis. Udah ah, kalian jangan nanya-nanya terus, gue mau menikmati makanan sehat gue nih."

Dengan senyum terpaksa yang amat tersiksa, Nadhira menyambar garpu plastik. Ia menusuk sepotong brokoli rebus dingin tanpa bumbu, lalu memasukkannya ke dalam mulut.

"HOEK! Tawar banget kayak rasa kehidupan," batin Nadhira menjerit meratapi nasib.

Namun di depan Kania dan Dimas, ia harus berpura-pura mengunyahnya dengan raut wajah penuh kenikmatan. "Mmm...segar banget, berasa hidup gue makin sehat."

Kania dan Dimas saling berpandangan, lalu menggeleng-gelengkan kepala prihatin. "Gila... Nadhira udah beneran stres gara-gara tugas akhir semester," bisik Dimas pelan.

...****************...

Sementara itu, di lantai dua Gedung Dosen.

Suasana Ruang Rapat Dosen DKV siang itu cukup tenang. AC berembus dingin. Beberapa dosen sedang menikmati makan siang mereka sambil berbincang santai mengenai jadwal ujian tengah semester.

Reyhan Arkananta Wijaya duduk di kursi sudut rapat dekat jendela. Setelah menyelesaikan berkas penilaian mahasiswa, pria itu meraih totebag kain warna hitam polos miliknya untuk mengambil wadah bekal makan siangnya.

Sebagai seseorang yang sangat menjaga pola makan dan kebugaran tubuh, Reyhan selalu membawa bekal buatan sendiri dengan perhitungan kalori yang tepat.

Reyhan merogoh tasnya. Jemarinya menyentuh sebuah wadah plastik bernuansa kasar dan agak kecil.

Ketika ia mengeluarkannya, alis tebal Reyhan seketika bertaut erat.

Di atas meja kerjanya yang bersih, kini tergeletak sebuah kotak makan plastik berwarna pink mencolok. Reyhan mematung di tempatnya. Pria itu menatap kotak makan tersebut tanpa berkedip selama sepuluh detik penuh.

"Nadhira..." gumam Reyhan sangat pelan, memijat pangkal hidungnya yang mendadak terasa pusing.

Gadis ceroboh itu lagi-lagi membuat masalah. Bekal makan siang mereka tertukar.

"Wah, Reyhan!"

Suara nyaring Pak Bagas mendadak terdengar dari arah pintu. Dosen animasi itu melangkah mendekati meja Reyhan membawa bungkus nasi padang. Matanya langsung tertangkap oleh keberadaan benda mencolok berwarna pink di meja kawan kaku dan dinginnya itu.

Bagas tertawa terbahak-bahak sampai hampir menjatuhkan nasi padangnya. "Anjir, Bro! lo kesambet apaan hari ini? Tempat makan lo warna pink?"

Suara tawa Bagas yang kencang sukses memancing perhatian beberapa dosen lain di ruangan itu. Bu Ratna, dosen senior Teori Seni bahkan sampai menoleh dan tersenyum geli dari mejanya.

Reyhan berusaha keras mempertahankan raut wajah datarnya yang legendaris, meski dalam hati ia sudah berjanji akan memberi Nadhira hukuman berlipat ganda nanti malam di rumah.

"Ini... bukan milik saya," sahut Reyhan tenang dan dingin, berusaha menyelamatkan harga dirinya.

"Halah, bukan milik lo gimana? Wong ada di meja lo gitu kok!" goda Bagas sambil mendaratkan bokong di kursi sebelah Reyhan.

"Punya siapa dong? Punya keponakan lo? Atau... punya gebetan lo ya? Wih, so sweet amat dibawain bekal."

Reyhan berdehem keras untuk menutupi rasa canggungnya. "Ini saya alah bawa wadah dari rumah. Tertukar."

"Tertukar sama siapa? Rumah lo kan cuma ada lo-" Bagas menghentikan kalimatnya, menyadari Reyhan tinggal sendiri (sepengetahuannya).

Reyhan cepat-cepat memotong sebelum spekulasi Bagas makin melenceng jauh. "Tertukar dengan adik sepupu saya yang tadi pagi mampir ke rumah."

"Oalah, adik sepupu," tawa Bagas percaya begitu saja. "Yaudah buka dong, gue penasaran adik sepupu lo bawa makanan apaan."

Dengan berat hati dan perasaan pasrah, Reyhan membuka dua kait pengunci kotak makan pink tersebut.

Klek.

Aroma gurih gorengan, minyak kecap manis, dan taburan bawang goreng langsung menyeruak memenuhi udara sekitar meja.

Isi kotak makan itu sangat kontras dengan kepribadian Reyhan yang serba teratur dan higienis:

Tumpukan nasi putih hangat berukuran porsi jumbo.

Empat buah chicken nugget goreng yang sedikit gosong di bagian pinggirnya.

Tiga potong sosis bakar yang dipotong mengembang menyerupai gurita, dilumuri kecap manis tebal.

Satu lembar telur dadar tebal yang berminyak dengan irisan daun bawang yang tidak merata.

Sama sekali tidak ada warna hijau sayuran satu helai pun.

Bagas melotot menatap isi bekal itu, lalu tertawa makin kencang. "WKWKWK! Anjir, Rey. Ini sih makanan junk food surga dunia. Makanan kesukaan anak SD banget,auknya nugget sama sosis gurita."

Reyhan menatap tumpukan sosis bakar dan nugget gosong itu dengan tatapan rumit. Ini adalah jenis makanan penuh minyak, tinggi sodium, dan karbohidrat berlebih yang selalu ia larang untuk dimakan Nadhira setiap malam. Namun gadis itu tetap saja nekat memasaknya secara sembunyi-sembunyi tadi pagi.

"Lo mau makan makanan begitu, Rey?" tanya Bagas masih tertawa geli. "Lo kan biasanya makan rumput rebus sama dada ayam tanpa rasa."

Reyhan mengamati sosis bentuk gurita yang dilumuri kecap manis buatan istrinya. Makanan itu memang kelihatan sangat tidak sehat bagi standar dietnya.

Namun mengingat Nadhira sudah bangun pagi-pagi sekali dan berkutat di dapur untuk menyiapkan lauk favoritnya ini, ada perasaan hangat yang aneh menyusup di dada Reyhan.

"Saya akan memakannya," jawab Reyhan datar namun mantap.

"Serius lo?!" kaget Bagas.

Reyhan meraih sendok plastik kecil warna merah muda yang terselip di dalam kotak bekal. Reyhan memotong sepotong sosis bakar berbalut kecap itu, lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Rasa gurih, manis kecap, dan aroma sedikit sangit dari sosis yang terbakar menyeruak di lidahnya. Sungguh rasa yang sangat ramah di lidah, berbeda jauh dari dada ayam rebusnya yang hambar.

"Bagaimana rasanya, Pak Dose Killer?" goda Bagas.

Reyhan mengunyahnya dengan tenang, menyembunyikan rasa nikmat yang sebenarnya mengejutkan lidahnya. "Terlalu banyak minyak dan kecap. Tapi... tidak buruk."

Di dalam hatinya, Reyhan mengakui kalau masakan gadis ceroboh itu ternyata lumayan enak.

...****************...

Pukul 13.30 WIB.

Nadhira berjalan gontai menyusuri koridor lantai dua menuju studio foto. Perutnya terasa sangat aneh. Kombinasi antara rasa hambar dada ayam dingin, rasa pahit kale mentah, dan susu protein kental yang tersangkut di tenggorokannya benar-benar membuat selera makan siang hari ininya hancur berkeping-keping.

"Duh, cacing di perut gue pasti lagi pada demo," gerutu Nadhira sambil memegangi perutnya yang lemas.

Tiba-tiba, saat melewati lorong sepi dekat tangga darurat, sebuah tangan kekar menjangkau lengan baju Nadhira dan menariknya masuk ke area tangga darurat yang terlindung dari pandangan orang.

"Kyaaaa!"

Nadhira hendak menjerit panik, namun sebuah telapak tangan hangat yang beraroma sabun kayu cendana langsung membungkam mulutnya dengan lembut.

"Ini saya. Jangan berteriak," panggil sebuah suara berat yang sangat dikenalinya.

Nadhira mendongak. Di hadapannya, berdiri Reyhan dengan kemeja biru tua yang rapi. Pria itu melepaskan tangannya dari mulut Nadhira.

"P-Pak Reyhan?" bisik Nadhira kaget, matanya membelalak. "Bapak ngapain narik-narik saya ke tangga darurat gini? Kalau ada yang lihat gimana?"

Reyhan tidak langsung menjawab. Pria itu menyandarkan punggungnya ke dinding tangga darurat, melipat tangan di dada, dan menatap Nadhira lurus-lurus dari balik kacamatanya.

"Bagaimana makan siang kamu, Nadhira?" tanya Reyhan dengan nada suara penuh sindiran halus.

Muka Nadhira seketika cemberut maksimal. "Bapak sengaja ya? Makanan Bapak hambar banget kayak air kobokan, dada ayamnya dingin, sayurnya pait, terus itu minuman cokelat kental rasanya kayak semen cair. Perut saya mules tahu nggak?"

Bukannya marah, bibir Reyhan justru menyunggingkan garis senyum tipis yang amat sangat samar, hampir tak terlihat jika Nadhira tidak menatapnya erat-erat.

"Itu namanya makanan bernutrisi tinggi, Nadhira," balas Reyhan tenang. "Bukan seperti lauk kamu yang penuh minyak, garam, dan sosis gosong."

Nadhira memonyongkan bibirnya kesal. "Tapi itu enak, lagian tempat makan pink saya pasti bikin Bapak malu kan di ruang dosen?"

Reyhan merogoh kantong celananya. Pria itu mengeluarkan sebuah paper bag berwarna cokelat dan menyodorkannya ke hadapan Nadhira.

Nadhira mengerutkan dahi bingung. "Ini apaan, Pak?"

"Ambil," perintah Reyhan singkat.

Nadhira menerima kantong kertas itu dan mengintip isinya. Di dalamnya terdapat satu tangkup sandwich daging sapi lada hitam yang masih hangat dari kafe kampus, lengkap dengan segelas jus mangga segar.

Nadhira mendongak menatap suaminya dengan mata berbinar-binar. "I-ini buat saya?"

"Saya tahu kamu tidak akan sanggup menghabiskan bekal salad saya," sahut Reyhan dingin, memalingkan pandangannya ke arah lain untuk menyembunyikan perhatian kecilnya.

"Makan itu sebelum kelas selanjutnya mulai. Jangan sampai kamu pingsan di studio dan merepotkan saya."

Nadhira memeluk kantong kertas itu erat-erat di dadanya. Perasaan geli, manis, dan hangat seketika meluap memenuhinya. Dosen killer yang kaku ini ternyata membelikannya makan siang pengganti karena tahu dia bakal kelaparan.

"Makasih," bisik Nadhira sambil menyunggingkan senyum.

Reyhan berdehem keras, merapikan letak kacamatanya untuk menutupi kedua telinganya yang mendadak agak memerah.

"Dan soal sosis gurita kecap kamu..." kata Reyhan pelan sebelum berbalik hendak pergi.

Nadhira menaikkan alisnya. "Kenapa sosis saya?"

"Rasanya... lumayan," ujar Reyhan singkat tanpa menoleh lagi, lalu melangkah cepat membuka pintu tangga darurat dan keluar menuju koridor, meninggalkan Nadhira yang berdiri membeku di tempatnya.

Satu detik. Dua detik.

Nadhira menyunggingkan senyum lebar hingga matanya membentuk garis bulan sabit. "Tuh kan, bilang aja ketagihan sama sosis gurita buatan gue," tawa Nadhira kegirangan.

...Bersambung......

1
Hajjah Mahniati
cerita nya bagus ,saya suka keren,lnjutka
Hajjah Mahniati
cerita nya bagus ,dilnjut ya
Suhirno Cilok
lanjut
Rian Moontero
mampiiirr
Hajjah Mahniati
lanjut siip
Ivana Putri
lanjut lagi dong ka seru banget
Hajjah Mahniati: ceritanya bagus keren ,lanjukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!