Indonesia
NovelToon NovelToon
Batas Obsesi Cegil

Batas Obsesi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Teen School/College / Romantis
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.

Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.

Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.

Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hilangnya Susu Kotak Coklat 13.

Loker nomor 14 di koridor utama SMA Wijaya selalu menjadi pusat perhatian setiap pukul tujuh pagi.

Bukan karena loker itu milik seorang kapten tim basket atau kapten tim basket, melainkan karena kegigihan seorang gadis bernama Olivia Renata Adhitama.

Selama hampir satu tahun penuh, loker itu tidak pernah absen dari pemandangan yang sama: satu kotak susu cokelat ukuran dua ratus mililiter, ditempeli memo kuning berbentuk hati dengan tulisan cakar ayam khas Livy yang selalu berbunyi, Semangat harinya, Galang Ganteng!

Pagi ini, Galang berdiri di depan lokernya dengan kunci yang masih menggantung di lubang besi. Cowok dengan seragam yang sengaja tidak dimasukkan itu mengerutkan kening. Pandangannya lurus menatap ruang kosong di dalam lokernya.

Tidak ada susu kotak. Tidak ada kertas memo kuning. Loker itu benar-benar bersih, hanya menyisakan beberapa buku paket tebal dan jaket hoodie hitam cadangannya yang berbau parfum mint.

Galang mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Ada rasa aneh yang mendadak menyengat ulu hatinya. Kosong. Sudut bibirnya berkedut, mencoba membentuk sebuah senyuman sinis.

"Taktik baru, nih," gumam Galang pada diri sendiri.

Dia tahu betul bagaimana otak Livy bekerja. Gadis itu dikategorikan sebagai 'cegil' alias cewek gila oleh teman-teman seangkatan mereka karena obsesinya yang berada di luar batas wajar. Tiga bulan terakhir, Livy pernah memergoki seorang siswi kelas sebelah mencoba memberikan surat cinta pada Galang, lalu yang terbaru melabrak Kiara siswi baru. Livy tidak pernah menyerah, tidak pernah tahu malu, dan selalu memiliki seribu satu cara gila untuk menarik perhatiannya.

Jadi, hilangnya susu kotak cokelat pagi ini pasti hanyalah bagian dari rencana baru.

Galang yakin, paling lambat jam istirahat pertama, Livy akan muncul di depannya sambil membawa susu kotak itu langsung, menuntut perhatian dengan senyum lebarnya yang menyebalkan.

Galang menutup pintu lokernya dengan dentingan keras, mengabaikan rasa heran yang mulai mengusik ketenangannya, lalu melangkah lebar menuju ruang kelas XII C

Pintu kelas terbuka lebar ketika Galang tiba. Suasana kelas sudah ramai oleh riuh rendah suara murid-murid yang bergosip atau menyalin tugas matematika yang lupa dikerjakan di rumah.

Galang berjalan menuju bangkunya di barisan ketiga dari belakang.

Namun, langkah kakinya melambat saat matanya secara tidak sengaja menangkap sosok yang duduk di barisan depan dekat jendela.

Livy di sana. Gadis itu mengenakan bando kain berwarna putih yang menahan rambut panjangnya agar tidak menutupi wajah.

Biasanya, begitu bayangan Galang melewati pintu kelas, Livy akan langsung berdiri, melambaikan tangan dengan heboh, atau minimal memanggil namanya dengan suara melengking yang membuat seisi kelas menoleh.

Namun, pagi ini berbeda.

Livy sedang menopang dagunya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya sibuk menggoreskan pena di atas buku catatan.

Ketika Galang berjalan melewati mejanya, jarak mereka tidak sampai setengah meter. Galang sengaja memperlambat langkahnya, bahkan sengaja menyenggol sudut meja Livy dengan tas ranselnya hingga meja itu bergeser sedikit.

"Sori," ucap Galang datar, sengaja memancing reaksi.

Livy mendongak. Sepasang mata bulat yang biasanya langsung berbinar penuh pemujaan saat menatap Galang, kini terlihat sangat datar. Gadis itu hanya melirik sekilas ke arah tas Galang, lalu kembali menatap bukunya.

"Ya," jawab Livy singkat, hampir berupa bisikan tipis yang dingin. Tidak ada senyuman. Tidak ada rona merah di pipi. Tidak ada bawelnya Livy yang buat telinga Galang hampir pecah.

Galang terpaku di tempatnya berdiri selama beberapa detik. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak biasa, dipicu oleh rasa heran yang kini bercampur dengan kekesalan yang tidak jelas ujung pangkalnya. Dia memperhatikan Livy yang kembali fokus mencatat rumus fisika seolah-olah Galang hanyalah embusan angin lalu yang tidak sengaja lewat di depannya.

"Woi, Lang! Malah bengong di tengah jalan. Sini, bantuin saya liat nomor lima!" seru bariton suara Vino dari bangku belakang, memecah keheningan aneh yang sempat tercipta di antara Galang dan Livy.

Galang mengerjapkan mata, menyembunyikan keterkejutannya, lalu melanjutkan langkah menuju bangku Vino.

Dia menjatuhkan diri di kursi kayu dengan kasar, membuat Rian yang duduk di sebelah berjengit kaget.

"Kenapa muka kamu? Kusut amat kaya baju belum disetrika," tanya Vino sambil menyodorkan buku tugasnya.

"Nggak apa-apa," jawab Galang pendek. Matanya kembali terlempar ke arah punggung Livy yang duduk tegak di barisan depan sebelah kanan bangku Rian.

Dari posisinya sekarang, Galang bisa melihat sisi samping wajah Livy. Gadis itu tampak tenang. Terlalu tenang untuk ukuran seorang Olivia Renata Adhitama yang biasanya membawa kegaduhan ke mana pun dia pergi.

Galang melipat kedua tangannya di depan dada, bersandar pada sandaran kursi sembari memikirkan kemungkinan yang sedang terjadi. Apakah ini taktik tarik-ulur yang sering dibahas di media sosial? Kalau benar begitu, Galang harus mengakui bahwa Livy berhasil membuatnya merasa terganggu. Tapi Galang bertekad tidak akan kalah. Dia tidak akan membiarkan cewek gila itu tahu bahwa hilangnya satu kotak susu cokelat dan satu sapaan pagi bisa merusak fokusnya hari ini.

......................

...****************...

To be continue,

1
Friska Zega
👌
penggemar_Uangkecil?!
👍
aku
kapol
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Akai
semangat kak membuat novel /Smile/👍
kucing kawai
lebih baik dengan kata "aku kamu kalo gk pakai lo gue" aja lebih keren thor
kucing kawai: siap thor, semangat terus ya thor 🫶
total 3 replies
kucing kawai
sedikit saran ya thor jangan pakai bahasa saya terlalu formal thor, baguss karya mu thor
kucing kawai: semangat ya author 🫶
total 2 replies
Queen Aisyah
astaga galang..🤣
Queen Aisyah
good
aku
diskon brp jd nya Lang?? 🤣🤣
Hesty
semnget💪💪💪
Hesty
bgus
Hesty
semanget💪
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!