Indonesia
NovelToon NovelToon
Keliru Mengenal Sang Kapten

Keliru Mengenal Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Helm Kebesaran dan Modus Rem Mendadak

Matahari sore mulai meredup, menyisakan semburat jingga di langit barat SMA Dirgantara.

Sebagian besar murid sudah pulang sejak satu jam yang lalu.

Hanya tersisa anak-anak panitia Pensi dan ekskul yang masih berlalu-lalang di sekitar koridor.

Amira berdiri mondar-mandir di depan gerbang utama sekolah seperti setrikaan rusak.

Tangannya sibuk memelintir ujung tali tas punggungnya dengan perasaan gelisah yang luar biasa.

"Duh, aku kabur aja kali ya?" gumam Amira merutuki kebodohannya sendiri.

Kenapa juga dia menurut seperti anak ayam yang disuruh menunggu induknya?

Harusnya tadi ia langsung lari lewat gerbang belakang dan memesan ojek online dengan ponselnya yang sudah sehat.

"Nungguin siapa lo, Mir? Belum dijemput?"

Suara Maya yang baru saja keluar dari gerbang bersama Rara membuat Amira terlonjak kaget.

"E-eh, kalian belum pulang?" Amira balas bertanya dengan senyum kaku.

"Ini baru mau jalan ke halte. Lo ngapain di sini sendirian? Nungguin ojol?" timpal Rara curiga melihat wajah Amira yang pias.

"I-iya! Nunggu ojol! Maklum, jam sibuk jadi agak lama dapetnya," dusta Amira lancar, meski jantungnya berdebar tak karuan.

Kalau sampai dua temannya ini tahu ia sedang menunggu Alfian, tamat sudah riwayat ketenangannya di sekolah.

"Oh, ya udah. Mau kita temenin dulu nggak sampai ojolnya datang?" tawar Maya baik hati.

"Nggak usah! Kalian duluan aja, nanti keburu kemalaman nunggu angkotnya!" tolak Amira cepat, bahkan setengah mendorong punggung kedua temannya agar segera menjauh.

Rara dan Maya saling pandang dengan dahi berkerut, tapi akhirnya mereka melambaikan tangan dan berjalan menuju halte.

Amira menghela napas lega, bersandar lemas pada pilar gerbang sekolah.

Vrooom!

Suara deru mesin motor ber-cc besar tiba-tiba memecah keheningan jalanan.

Amira mendongak, matanya membelalak lebar melihat sebuah motor sport hitam metalik berhenti tepat di depannya.

Pengendaranya memakai jaket kulit hitam yang membalut pas tubuh atletisnya.

Kaca helm full face itu dinaikkan, menampilkan wajah tajam nan tampan milik Alfian Pratama.

"Lama nunggu?" tanya Alfian dengan suara baritonnya yang mengalahkan suara deru mesin.

Amira mengerjap, masih shock melihat tunggangan cowok itu.

"K-kamu... bawa motor? Biasanya kan dijemput sopir pakai mobil gede itu?" tanya Amira tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Pak Tarjo lagi nganterin nyokap arisan. Gue bawa motor sendiri hari ini," jawab Alfian enteng.

Cowok itu mematikan mesin motornya, lalu mengambil sebuah helm bogo berwarna hitam matte dari tangki depan.

"Nih, pakai," Alfian menyodorkan helm itu ke arah Amira.

Amira menerimanya dengan ragu-ragu.

"Ini... helm siapa? Jangan-jangan helm pacar kamu yang nggak jadi itu ya?" selidik Amira memicingkan matanya.

Alfian langsung mendengus kasar.

"Helm nyokap gue. Jangan banyak bacot deh, buruan pakai terus naik sebelum gue tinggalin lo di sini," omel Alfian mulai kembali ke mode kulkas andalannya.

Amira mencibir pelan, menempelkan helm itu di kepalanya.

Namun, karena kepalanya lumayan kecil, helm bogo milik Mamanya Alfian itu terasa kebesaran dan sedikit longgar.

Tali pengamannya pun sulit diklik karena tangan Amira yang mendadak gemetar gugup.

"Duh, kok susah sih kunciannya," gerutu Amira sambil mengotak-atik tali helm di bawah dagunya.

Melihat Amira yang kesusahan seperti anak TK, Alfian berdecak sebal.

Cowok itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menepis pelan tangan Amira dari tali helm tersebut.

"Tangan lo nyingkir," titah Alfian datar.

Jarak mereka mendadak terkikis habis.

Aroma parfum mint maskulin milik Alfian langsung menyelimuti indra penciuman Amira, membuatnya sukses menahan napas.

Dengan sangat telaten, jari-jari panjang Alfian menarik tali helm itu, menyesuaikan ukurannya, lalu menguncinya dengan sekali bunyi klik yang pas.

"Udah," ucap Alfian, lalu menarik dirinya mundur.

Amira mematung, wajahnya sudah semerah kepiting rebus yang baru diangkat dari panci.

Sialan, cowok ini benar-benar tidak tahu bahayanya melakukan tindakan semanis itu dengan wajah datar!

"M-makasih," cicit Amira, buru-buru naik ke jok belakang motor sport yang lumayan tinggi itu.

Alfian melirik dari kaca spion, memastikan Amira sudah duduk dengan aman.

"Pegangan," perintah Alfian singkat, tangannya bersiap menarik gas.

"Nggak mau. Aku pegangan ke besi belakang aja," tolak Amira keras kepala, tangannya mencengkeram erat jok motor di belakang punggungnya.

Bukan apa-apa, kalau ia memeluk pinggang Alfian, bisa-bisa cowok itu mendengar detak jantungnya yang sudah seperti bedug masjid.

Alfian melirik lagi dari spion, mendengus melihat tingkah keras kepala gadis itu.

"Terserah lo," gumam Alfian pelan, sebuah senyum miring yang sangat menyebalkan terukir di balik helmnya.

Vrooom!

Alfian menarik gas motornya, melaju meninggalkan area sekolah.

Amira duduk tegak dengan kaku, berusaha menjaga jarak agar tubuhnya tidak menyentuh punggung Alfian.

Angin sore menerpa wajahnya dari balik kaca helm yang sengaja tidak ia turunkan penuh.

Perjalanan awalnya terasa normal dan biasa saja.

Namun, saat mereka memasuki jalan raya utama yang mulai padat, sebuah mobil sedan di depan mereka tiba-tiba mengerem mendadak.

Sebenarnya, jarak Alfian masih cukup aman untuk mengerem perlahan.

Tapi dasar kapten basket penuh taktik, Alfian justru sengaja menekan tuas rem depannya sedikit lebih keras dari yang seharusnya.

Ckiit!

Motor sport hitam itu berhenti mendadak dengan sentakan kuat ke depan.

"Kyaa!"

Sesuai hukum fisika, tubuh Amira otomatis terlempar ke depan.

Kedua tangannya yang tadi berpegangan pada behel belakang terlepas.

Bruk!

Dada Amira membentur punggung tegap Alfian, dan secara refleks, kedua tangannya langsung melingkar erat memeluk pinggang cowok itu agar tidak jatuh.

"A-astaga! Bawa motornya yang bener dong!" omel Amira dengan jantung yang nyaris copot.

Di balik kemudinya, Alfian diam-diam tersenyum puas.

"Bukan salah gue, mobil depannya ngerem mendadak," kilah Alfian tanpa rasa berdosa sedikit pun.

"Makanya, gue udah bilang pegangan dari awal. Kalau lo nyungsep ke aspal, gue yang repot."

Amira mendengus kesal, wajahnya terasa sangat panas karena posisinya yang kini memeluk pinggang Alfian dengan erat.

Ia berniat menarik tangannya kembali, namun laju motor yang kembali melesat kencang memaksanya menahan pelukan itu.

Sial, wangi banget lagi punggungnya, rutuk Amira dalam hati, setengah mati menahan diri agar tidak menyandarkan kepalanya ke sana.

Setengah jam kemudian, motor Alfian berbelok memasuki area ruko yang sepi, bukan arah menuju rumah Amira.

Alfian memarkirkan motornya tepat di depan sebuah minimarket yang terang benderang.

"Loh? Kok ke sini? Rumahku kan masih lurus ke sana?" tanya Amira bingung sambil turun dari motor dengan susah payah.

Alfian membuka helmnya, mengibaskan rambut hitamnya yang sedikit lepek namun tetap terlihat keren.

"Gue haus," jawab Alfian singkat, lalu berjalan masuk begitu saja ke dalam minimarket.

Amira mencibir, dengan terpaksa mengikuti cowok itu masuk ke dalam karena udara di luar lumayan dingin.

Udara AC minimarket langsung menyambut mereka.

Alfian berjalan menuju lemari pendingin di ujung lorong, mengambil dua botol teh melati dingin berukuran sedang.

Saat mereka berbaris di kasir, Amira berniat mengeluarkan dompetnya untuk membayar minumannya sendiri.

"Aku bayar sendiri," kata Amira, menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan.

Namun dengan sigap, Alfian menepis pelan tangan Amira, lalu menyodorkan kartu debit hitamnya ke kasir.

"Gabung aja, Mbak," ucap Alfian mutlak.

Mbak kasir yang masih muda itu sampai salah tingkah melihat ketampanan Alfian dari jarak sedekat itu.

"E-eh, iya Mas. Ditunggu sebentar ya," ucap kasir itu dengan pipi merona, diam-diam melirik iri ke arah Amira.

Amira hanya bisa memutar bola matanya malas melihat pesona sang kapten yang ternyata memakan korban di mana-mana.

Setelah selesai membayar, mereka keluar dan duduk di kursi besi panjang yang tersedia di teras minimarket.

Alfian menyodorkan sebotol teh yang sudah ia buka tutupnya ke arah Amira.

"Nih," ucap Alfian singkat.

Amira menerimanya dengan kening berkerut. "Makasih. Tapi kamu nggak usah sok manis gini deh, aku jadi ngeri tahu nggak."

Alfian terkekeh pelan, meneguk minumannya sendiri.

"Lo itu emang nggak bisa ya nerima kebaikan orang tanpa su'udzon?" balas Alfian menyandarkan punggungnya ke kursi besi.

"Bukan gitu," Amira memutar-mutar botol di tangannya, pandangannya tertuju pada jalanan malam yang mulai sepi.

"Aku cuma aneh aja. Dulu kamu benci banget sama aku, ngusir aku, bahkan ngatain aku cewek gila di depan satu kantin."

Amira menoleh, menatap tepat ke arah manik mata Alfian.

"Terus sekarang? Kamu nolongin aku dari tangga, bayarin servis HP, sampai repot-repot nganterin aku pulang. Kenapa?"

Pertanyaan blak-blakan itu menggantung di udara.

Suara kendaraan yang berlalu-lalang seolah meredup, menyisakan kesunyian di antara mereka berdua.

Alfian membalas tatapan Amira.

Matanya tak lagi memancarkan arogansi atau benteng es yang menjulang tinggi, melainkan sebuah sorot yang sulit diartikan.

Ada kebingungan, rasa penasaran, dan sebersit kehangatan di sana.

"Gue juga nggak tahu," jawab Alfian jujur, suaranya terdengar sangat rendah dan berat.

Amira sedikit terkejut mendengar jawaban yang tidak ia sangka-sangka itu.

Biasanya, cowok ini pasti akan menggunakan kartu "tanggung jawab kapten" atau "kasihan" sebagai tameng gengsinya.

"Awalnya gue emang muak sama lo," lanjut Alfian, memutar botol teh di tangannya perlahan.

"Lo berisik, ceroboh, dan selalu muncul bawa-bawa masa lalu konyol yang sama sekali nggak gue ingat."

Alfian menghela napas panjang, menundukkan kepalanya menatap ujung sepatu ketsnya.

"Tapi setiap kali gue ngelihat lo kesulitan... entah kenapa kaki gue jalan sendiri buat nyamperin lo," aku Alfian dengan gengsi yang kini sudah terkikis habis.

"Kayak ada sesuatu di dalam diri gue yang maksa gue buat mastiin lo baik-baik aja."

Deg.

Jantung Amira berdetak dengan ritme yang sangat gila.

Kata-kata Alfian barusan terdengar jauh lebih mematikan daripada gombalan romantis picisan mana pun.

"I-itu pasti karena insting kapten kamu aja," sanggah Amira terbata, mencoba menetralkan suasana hatinya yang sudah porak-poranda.

Alfian menoleh, mengukir senyum miring yang entah mengapa kini terlihat sangat menawan di mata Amira.

"Mungkin," jawab Alfian ambigu.

Cowok itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Amira, mengikis jarak di antara mereka di atas kursi besi yang sempit itu.

"Atau mungkin... karena lo emang beda dari cewek-cewek lain yang selama ini ngejar gue," bisik Alfian tepat di depan wajah Amira.

Napas Amira langsung tercekat.

Wajahnya panas luar biasa, dan ia yakin pipinya sekarang sudah semerah tomat rebus.

"A-apaan sih! Gombalnya nggak mempan, ya!" sentak Amira buru-buru berdiri, menutupi salah tingkahnya dengan nada galak.

"Ayo pulang! Keburu malam, nanti aku dicariin mama!"

Alfian tertawa lepas melihat reaksi panik gadis itu.

Tawa yang renyah dan tulus, membuat beban di kepalanya yang selama ini menumpuk seolah menguap begitu saja.

"Iya, iya, Bawel. Ayo naik," ucap Alfian ikut berdiri, kembali memakai helm full face-nya.

Malam itu, di sepanjang perjalanan pulang, Amira tak lagi menolak saat punggungnya kembali membentur dada Alfian karena rem mendadak.

Ia membiarkan tangannya melingkar erat di pinggang cowok itu, menikmati aroma mint dan kehangatan yang perlahan mulai menyembuhkan luka masa lalunya soal "Sky".

Dan di balik helmnya, sang kapten kulkas diam-diam menyadari satu hal.

Benteng es yang selama ini ia bangun untuk menjauhkan orang-orang... kini telah dihancurkan sepenuhnya oleh seorang gadis ceroboh bernama Amira.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!