Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.
Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.
Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!
Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?
Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Nyasar Ke Pelabuhan
"Woi, Reno! Bangun lo, jangan pingsan tegak begitu! Jangan berani-berani bilang ke gue kalau jiwa malas lo sekarang lagi mau bersiap pindah dimensi ghaib lagi ya!" teriak Adit histeris ketakutan mematung di tengah ruang tengah apartemennya.
Tingkat kepanikan di dalam otak sang CEO muda seketika melonjak naik mencapai tingkat dewa. Dengan langkah terburu-buru, ia segera menghampiri posisi Reno yang terkapar pasrah di atas sofa mewah, lalu kedua belah tangannya mulai melancarkan aksi penamparan brutal secara beruntun ke arah kedua pipi sahabat beban negaranya itu.
"Ren! Cepetan buka sepasang mata malas lo itu, Ren! Jangan berani-berani molor tidur dulu jam segini, ntar kalau takdir kutukan lo malah memindahkan jiwa lo masuk dideportasi ke dalem sel penjara gimana, hah?! Tolong jangan hobi nakut-nakutin gue malam-malam begini, Reno!" amuk Adit panik sebadan-badan.
Dalam kondisi kalap dan hilangnya logika berpikir sehat, Adit secara refleks langsung menyambar segulung selotip bening di atas meja nakas, lalu ia mencoba menempelkan selotip itu demi mengganjal kedua belah kelopak mata Reno agar posisinya bisa tetap dipaksa terbuka lebar.
"Tahan sekuat tenaga, Ren! Pokoknya lo harus tetep melek tahan!"
"Dit... tolongin hidup gue, Dit... pasokan cairan kopi mana kopi... cepetan..." ucap Reno lirih mengeluarkan nada suara yang sudah timbul tenggelam akibat kantuk akut.
Di dalam lubang hatinya, ia beneran mulai merasakan ada sebuah sensasi ghaib di mana jiwanya seolah-olah sedang disedot paksa masuk ke dalam pusaran ruang hampa.
Reno dilanda rasa takut yang setengah mati; gara-gara lidah sompralnya di lobi apartemen tadi sore sempat asyik membahas masalah kedatangan rombongan polisi satuan narkoba, ia mendadak parno ngeri kalau seandainya kutukan Mbah Golok Sakti malam ini bakal nekat melemparkan jiwanya mendarat tepat di tengah-tengah arena baku tembak brutal kawanan pengedar narkoba internasional.
Mendengar rintihan darurat itu, Adit langsung mengambil langkah seribu berlari kencang menuju ke arah area dapur, bergerak cepat layaknya seorang atlet pelari estafet di stadion.
Namun sialnya, karena stok bungkusan kopi instan saset di dalam lemari dapur ternyata sudah habis tak tersisa, Adit terpaksa nekat menyeduh beberapa sendok bubuk kopi murni hitam pekat tanpa campuran gula sama sekali, lalu menyiramnya menggunakan air mendidih yang suhunya masih sangat panas.
"Nih, buruan lo minum sampai habis! Biar sepasang mata malas lo itu bisa dipaksa tetep melek cerah sampe hari lusa nanti!" seru Adit sambil tangannya sibuk membantu memposisikan tubuh jangkung Reno agar terduduk tegak di sofa, lalu menyodorkan sebotol cangkir gelas yang permukaannya masih tampak mengepulkan uap panas.
Reno dengan kondisi mata setengah merem tampak meniup-niup cairan kopi hitam itu secara brutal, sebelum akhirnya ia nekat meminumnya sebanyak satu sendok makan.
"Huweeee!! Paitnya kebangetan beneran, Adit! Ini minuman kopi hitam apa air perasan empedu buaya muara sih, hah?! Sensasi rasa paitnya melekat ketat dan nyangkut lama di atas permukaan lidah gue, jahanam!"
Tepat setelah meluapkan protes vokalnya itu, tubuh Reno seketika kembali jatuh terkapar pasrah di atas bantal sofa. Serangan hawa kantuk supranatural dari sang golok warisan dirasakan jauh lebih kuat dan magnetis, mengalahkan rasa pahit ekstrem dari seduhan kopi hitam pekat buatan Adit.
"Itu jenis seduhan kopi hitam murni tanpa gula, bego! Masa cuma dipaksa minum sesendok gitu aja mental lo udah cengeng merana. Rasa paitnya kopi itu mah masih belum ada apa-apanya kalau dibandingin sama pahitnya beban sejarah hidup lo yang berstatus sebagai pengangguran abadi Jakarta Barat!" gerutu Adit mendengus kesal.
Ia pada akhirnya hanya bisa pasrah total saat melihat kondisi tubuh Reno yang kini sudah mulai lancar mengeluarkan suara dengkur halus yang suaranya mirip dengan bunyi getaran mesin cuci baju korslet.
"Semoga aja jiwa lo malam ini nggak nyasar dideportasi ke sebuah tempat dimensi lain yang level kondisinya jauh lebih parah dari kemarin ya, Ren," gumam Adit berdoa. Ia pun mulai melipir melangkah santai menuju ke arah kamar mandi utama, meninggalkan sosok Reno yang di atas sofa sudah bersiap penuh untuk "terbang ghaib" melintasi ruang dimensi.
CTAK!
BRUKK!
"Uhukk! Uhukk! Hoghh... hoekk... uhukk!"
Reno seketika langsung batuk-batuk hebat sebadan-badan. Posisi mendarat tubuh jangkungnya kali ini beneran sama sekali tidak berakhir di atas permukaan bantalan sofa empuk milik apartemen Adit, melainkan jiwanya sukses dilempar mendarat tepat di atas sebuah hamparan pasir pantai putih yang teksturnya sangat halus.
Sialnya lagi bagi Reno, karena posisi jatuh tubuhnya tadi berakhir dalam posisi wajah tampannya duluan yang menghantam tanah, separuh dari tumpukan pasir pantai itu sukses masuk menyumbat ke dalam rongga mulut dan kedua lubang hidungnya. Belum lagi ditambah bonus rasa perih yang luar biasa bukan main di kedua belah matanya akibat kemasukan butiran pasir.
"Blee... blee... aduh mampus dah ah! Isi mulut gue kenapa rasanya berubah jadi penuh pasir semua begini!"
Reno bergerak sibuk mencoba memuntahkan sisa-sisa butiran pasir dari atas permukaan lidahnya, sementara kedua tangannya bergerak lincah mengucek-ucek area mata menggunakan ujung kain jas hitam mahal milik Adit yang kini kondisinya sudah tampak penuh oleh noda air laut.
Ia mulai mendongakkan kepalanya ke atas, mencoba memfokuskan pandangan mata indahnya untuk melihat ke arah sekeliling lingkungan baru.
Hamparan pemandangan langit malam hari yang dipenuhi oleh taburan bintang-bintang indah tampak membentang luas di atas kepala, suara deburan ombak laut terdengar menderu-deru merdu membelah keheningan malam, dan embusan angin sepoi-sepoi bertiup sangat kencang meraba kulitnya.
"Gue sekarang lagi terdampar di dimensi belahan bumi mana lagi ini, woy? Sebuah pantai laut? Apa takdir kutukan ghaib ini mau bikin gue didebutkan jadi duta pariwisata dadakan, hah?" gumamnya sendirian sembari kedua kakinya dipaksa berdiri tegak, lalu tangannya sibuk membersihkan kain celana formalnya dari sisa-sisa pasir pantai yang menempel ketat.
Reno baru saja hendak bergerak mengusap sisa butiran pasir di lidahnya, namun tepat pada detik saat kepalanya menolehkan pandangan ke arah belakang, kedua bola matanya seketika langsung melotot sempurna akibat syok.
Pemandangan di hadapannya saat itu beneran bukan cuma sebatas area pantai cantik yang biasa dijadikan sebagai lokasi syuting pengambilan gambar iklan sabun mandi, melainkan terdapat deretan tumpukan kontainer besi raksasa berukuran panjang yang berjejer rapi nan angkuh, wujudnya tampak menyerupai kawanan monster besi raksasa di sebuah pelabuhan tikus terpencil.
"Beuh, perasaan dalam hati gue mendadak berubah jadi nggak enak banget nih... Bau-baunya ini bukan aroma bau ikan asin biasa, melainkan bau masalah kriminal besar," gumam Reno memasang sikap waspada tingkat tinggi.
"Analisis insting pikiranmu terbukti benar sekali, Anak Muda yang gemar sompral. Kamu diwajibkan untuk segera membantu pihak aparat kepolisian untuk menangkap gerombolan sindikat penyelundupan narkoba kelas kakap, yang saat ini sedang mencoba melarikan diri kabur melalui jalur laut di pelabuhan tikus ini."