Indonesia
NovelToon NovelToon
Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Anya memegang pistol hitam pekat itu dengan kedua tangannya yang masih sedikit gemetar.

Suara tembakan di ruang bawah tanah ini benar-benar memekakkan telinganya.

Dor.

Peluru meleset jauh dari papan target yang berjarak sepuluh meter di depannya.

"Fokuskan pandangan Anda pada pisir depan, Nona Anya."

Suara tenang itu berasal dari asisten pribadi Kenji yang bernama Bima.

Bima berdiri di samping Anya dengan sikap tubuh yang sangat tegap dan kaku.

"Tarik napas panjang, tahan sebentar, lalu tekan pelatuknya dengan lembut," instruksi Bima lagi.

Anya mengangguk mengerti lalu kembali membidik target di depannya.

Dia menarik napas panjang dan menahannya di dada.

Dor.

Kali ini pelurunya mengenai pinggiran papan target berwarna merah itu.

"Bagus sekali, kemajuan yang sangat pesat untuk seorang pemula," puji Bima dengan nada datar.

Anya menurunkan senjatanya lalu menghela napas lega.

"Tanganku rasanya mau kebas setelah menembak lima puluh kali, Bima," keluh Anya sambil memijat pergelangan tangannya.

"Ini untuk keselamatan Anda sendiri, Nona."

Bima mengambil pistol itu dari tangan Anya dan mengosongkan pelurunya dengan cekatan.

Klak. Klak.

"Tuan Muda Kenji sangat mengkhawatirkan keselamatan Anda di acara besok malam."

"Aku tahu, Paman Haris pasti akan melakukan pergerakan besar di acara perayaan itu," jawab Anya sambil mengusap keringat di dahinya.

"Bukan hanya Tuan Haris yang harus kita waspadai."

Bima menatap Anya dengan sorot mata yang tiba-tiba menjadi sangat serius.

"Intelijen kami melaporkan Tuan Leon diam-diam bertemu dengan ketua klan Naga Hitam dari kota seberang."

Anya melebarkan matanya terkejut mendengar informasi rahasia tersebut.

"Klan Naga Hitam?" ulang Anya memastikan.

"Ya, mereka adalah musuh bebuyutan klan Bratadikara sejak sepuluh tahun lalu."

Bima memasukkan pistol hitam itu ke dalam koper kecil di atas meja besi.

"Tuan Leon sepertinya berniat menjual wilayah utara kita sebagai bayaran jika Naga Hitam membantunya melakukan kudeta besok."

Anya menggigit bibir bawahnya merasa sangat cemas dengan situasi ini.

Musuh mereka ternyata tidak hanya dari dalam rumah, tapi juga dari luar.

"Apakah Kenji sudah tahu soal ini?" tanya Anya cepat.

"Tuan Muda sudah tahu dan sudah menyiapkan tindakan balasan yang sepadan."

"Tapi Anda tetap harus memegang senjata ini besok malam sebagai langkah darurat."

Bima menyerahkan sebuah pistol berukuran lebih kecil berwarna perak yang pas dimasukkan ke dalam tas tangan wanita.

Anya menerima pistol kecil itu dengan tangan yang terasa dingin.

"Aku mengerti, aku akan berhati-hati," ucap Anya mantap.

Waktu berlalu begitu cepat hingga malam perayaan pun tiba.

Suasana rumah utama Bratadikara benar-benar disulap menjadi sangat mewah dan meriah.

Lampu kristal raksasa menerangi aula utama dengan cahaya keemasan yang menyilaukan mata.

Alunan musik klasik mengalun lembut dari orkestra mini di sudut ruangan.

Anya berdiri mematung di depan cermin besar di kamarnya.

Dia mengenakan gaun malam berwarna biru tua yang memamerkan lekuk tubuhnya dengan sangat elegan.

Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan jepitan berlian kecil di sisi kanannya.

Cklek.

Pintu penghubung terbuka dan Kenji melangkah masuk.

Pria itu mengenakan setelan jas putih tulang yang membuatnya terlihat sangat mencolok namun luar biasa tampan.

Anya sampai menahan napasnya sebentar melihat ketampanan pria es di depannya ini.

"Kau siap?" tanya Kenji sambil mengulurkan tangan kirinya.

Anya mengangguk pelan lalu menyambut uluran tangan pria itu.

"Aku siap, tapi apakah kau tidak merasa gugup sama sekali?" tanya Anya penasaran.

Kenji tersenyum tipis lalu merapikan dasi kupu-kupunya dengan satu tangan.

"Seorang raja sejati tidak pernah merasa gugup di kandangnya sendiri, Anya."

Kenji menyelipkan sesuatu yang dingin ke telapak tangan Anya.

Itu adalah sebuah alat komunikasi nirkabel berukuran sangat kecil.

"Pasang ini di telingamu yang tertutup oleh rambut," bisik Kenji pelan.

Anya segera melakukan apa yang diperintahkan Kenji tanpa banyak bertanya.

"Jangan jauh-jauh dariku malam ini apa pun yang terjadi."

Kenji menatap mata Anya dalam-dalam seolah sedang menyalurkan kekuatannya.

Mereka berdua lalu berjalan keluar dari kamar dan menuruni tangga utama yang melengkung indah.

Suara obrolan ratusan tamu langsung terdengar mendengung memenuhi telinga Anya.

Saat Kenji dan Anya muncul di anak tangga terakhir, semua mata seketika tertuju pada mereka berdua.

Ruangan mendadak menjadi sedikit lebih hening dari sebelumnya.

Prok. Prok. Prok.

Paman Haris yang berdiri di tengah aula tiba-tiba bertepuk tangan dengan sangat keras.

Pria tua itu mengenakan jas hitam dengan senyuman lebar yang terlihat sangat dipaksakan dan palsu.

"Mari kita sambut ketua muda kita yang luar biasa, Kenji Bratadikara!" seru Paman Haris dengan suara lantang.

Para tamu undangan ikut bertepuk tangan menyambut kedatangan sang pemimpin klan.

Kenji hanya membalasnya dengan senyuman tipis yang sangat formal.

Anya terus menggandeng lengan Kenji sambil mempertahankan senyum manisnya di depan publik.

Mereka berjalan membelah kerumunan tamu menuju panggung kecil di depan aula.

Leon terlihat berdiri di dekat meja minuman bersama beberapa pria berwajah sangar yang tidak Anya kenal.

Anya mencuri pandang ke arah Leon dan pria itu malah mengangkat gelas anggurnya ke arah Anya.

Senyuman Leon terlihat sangat mengerikan sekaligus penuh dengan ancaman di mata Anya.

[Peringatan Sistem: Terdeteksi niat membunuh dalam radius dua puluh meter.]

Suara peringatan sistem itu membuat bulu kuduk Anya berdiri seketika.

Malam ini tidak akan berjalan dengan damai.

Kenji mengambil sebuah gelas anggur merah dari nampan pelayan yang lewat di dekatnya.

Dia mengetuk gelas itu dengan sendok perak untuk meminta perhatian semua orang yang hadir.

Ting. Ting. Ting.

Aula besar itu langsung menjadi hening sepenuhnya.

Semua tamu kini menatap ke arah Kenji yang berdiri tegak di atas panggung kecil.

"Terima kasih atas kehadiran kalian semua di malam perayaan yang ke lima puluh ini."

Suara berat Kenji menggema melalui pengeras suara ke seluruh penjuru ruangan.

"Malam ini bukan hanya tentang merayakan kejayaan masa lalu klan kita."

Kenji menatap tajam ke arah Paman Haris dan Leon secara bergantian dengan durasi yang sedikit lama.

"Tapi juga tentang membersihkan hama menjijikkan yang mencoba merusak klan kita dari dalam."

Ucapan Kenji yang sangat terang-terangan itu langsung membuat suasana berubah menjadi sangat tegang.

Terdengar suara bisik-bisik panik mulai bermunculan dari beberapa tamu undangan.

Paman Haris tidak terlihat terkejut sama sekali, dia justru tertawa meremehkan dari tempatnya berdiri.

"Kata-kata yang sangat bagus dan berani, Keponakanku," ucap Paman Haris pelan namun terdengar jelas oleh semua orang.

Paman Haris lalu mengangkat tangan kanannya ke udara memberikan sebuah kode.

Klak.

Suara sakelar utama dimatikan terdengar sangat nyaring memecah keheningan.

Seketika seluruh lampu di aula utama padam total tanpa sisa sedikit pun.

Kegelapan yang pekat langsung menyelimuti ruangan besar itu.

Kyaaa.

Suara jeritan panik dari tamu-tamu wanita terdengar bersahutan membelah kegelapan.

Prang. Brak.

Suara pecahan gelas dan meja yang terguling membuat suasana menjadi sangat kacau balau.

Anya merasakan tangan Kenji mencengkeram pinggangnya dengan sangat kuat.

Sret.

Kenji menarik tubuh Anya dengan kasar hingga menabrak dada bidangnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!