Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Dua Dunia
Keheningan masih menyelimuti ruangan itu, namun ketegangan yang tadinya mencekam dan penuh rasa takut kini perlahan berubah menjadi kebingungan yang jauh lebih dalam. Napas semua orang masih tertahan, mata mereka saling berpandangan satu sama lain, mencari jawaban yang tidak ada di wajah siapa pun. Di luar sana, sosok itu masih berdiri di depan pintu tidak pergi, tidak mendesak, hanya menunggu dengan sabar, persis seperti seseorang yang sedang menunggu tamu yang diharapkan pulang. Dan justru kesabaran itulah yang membuat perasaan di hati mereka semakin campur aduk. Jika itu roh yang sudah tiada, mengapa ia mengetuk pintu seakan-akan pintu itu masih bisa dibuka? Mengapa ia berbicara dengan nada yang begitu lembut dan sopan, seakan ia masih seorang ibu yang sedang berkunjung ke rumah tetangga? Mengapa semua yang dilakukannya terasa begitu manusiawi, begitu hidup, padahal semua orang tahu bahwa keluarga Candra Wijaya sudah lama menghilang dari dunia ini?
Pertanyaan itu berputar-putar di kepala setiap orang yang ada di ruangan itu, menimbulkan keraguan yang perlahan-lahan mengikis rasa takut mereka dan digantikan oleh rasa ingin tahu yang bercampur dengan rasa iba yang semakin dalam. Mereka merasa seakan ada sesuatu yang salah dengan asumsi mereka selama ini, seakan ada bagian dari cerita itu yang belum terungkap, sesuatu yang jauh lebih rumit dan jauh lebih menyakitkan daripada sekadar kisah hantu yang kembali menghantui tempat tinggalnya sendiri.
Dimas berdiri di dekat jendela, punggungnya membelakangi sebagian besar orang di ruangan itu. Matanya menatap lurus ke arah kegelapan di luar, ke arah tempat rumah kedelapan itu berdiri tegak di atas bukit. Cahaya lampu di dalam ruangan menerangi separuh wajahnya, memperlihatkan kerutan di dahi yang menunjukkan betapa beratnya beban yang sedang ia pikul saat ini. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan-lahan seakan sedang mengumpulkan kekuatan untuk membuka rahasia yang selama ini hanya dibisikkan orang-orang tua di kampung itu rahasia yang jarang diucapkan dengan suara keras, karena terlalu berat untuk didengar oleh siapa pun yang belum siap memahaminya.
"Kalian semua pasti bertanya-tanya," ucap Dimas pelan namun jelas, suaranya terdengar tenang namun menyembunyikan gelombang emosi yang besar di dalamnya. Kata-katanya terdengar sampai ke setiap sudut ruangan, membuat semua orang yang mendengarnya terdiam dan menyimak dengan saksama. "Kenapa ia mengetuk pintu? Bukankah roh yang sudah tiada bisa datang dan pergi sesuka hati tanpa perlu mengetuk? Kenapa ia berbicara dengan begitu sopan, seakan takut mengganggu? Dan kenapa langkah kakinya terdengar begitu nyata di atas tanah, seakan ia memiliki berat badan, seakan ia benar-benar ada di sana?"
Ia berhenti sejenak, menelan ludah, lalu berbalik perlahan dan menatap satu per satu wajah orang-orang yang menatapnya dengan penuh harap dan kebingungan. Tatapannya lembut namun penuh keseriusan yang mendalam, seakan ia sedang berbicara tentang orang-orang yang sangat ia kenal dan sangat ia sayangi.
"Kita semua terbiasa berpikir bahwa seseorang yang menghilang tanpa kabar berita pasti sudah meninggal, dan yang tersisa hanyalah arwah yang terpisah dari raganya selamanya. Kita berpikir bahwa batas antara dunia yang hidup dan dunia yang sudah tiada itu tegas dan jelas di sini atau di sana, hidup atau mati, tidak ada yang di antaranya. Tapi di tanah ini, di Kampung Pitu yang dijaga dan dilindungi oleh leluhur sejak ratusan tahun yang lalu, aturan itu tidak sesederhana itu. Garis pemisah antara dua dunia di sini sangat tipis, sangat samar, dan siapa pun yang berani melanggar batas yang sudah ditetapkan sejak dulu ia tidak akan langsung jatuh ke salah satu sisi. Ia akan terjebak di garis itu sendiri."
Dimas melangkah perlahan mendekati tengah ruangan, suaranya semakin mantap namun tetap penuh dengan rasa hormat kepada mereka yang terjebak di sana.
"Ketika keluarga Candra Wijaya membangun rumah kedelapan itu, mereka tidak hanya melanggar batas kepemilikan tanah atau aturan adat yang sudah disepakati bersama. Mereka melanggar batas yang jauh lebih tua dan jauh lebih kuat batas antara dunia manusia dan dunia yang tidak kasat mata. Rumah itu dibangun di atas tanah yang sejak dulu menjadi tempat pertemuan kedua dunia itu, tempat di mana keduanya menyatu dan saling memengaruhi. Dan ketika mereka menempati rumah itu, rumah itu perlahan-lahan menyerap keberadaan mereka bukan membunuh mereka, bukan memisahkan jiwa dari raga, melainkan mengubah keberadaan mereka menjadi sesuatu yang berbeda dari keduanya."
Ruangan itu semakin hening, seakan semua orang menahan napas agar tidak ada satu pun kata yang terlewat. Dimas melanjutkan, suaranya semakin lembut namun semakin dalam, seakan ia sedang menceritakan kisah yang paling menyedihkan yang pernah ia ketahui.
"Mereka tidak sepenuhnya mati, dan juga tidak sepenuhnya hidup. Mereka terjebak di batas yang tipis itu di antara dua dunia. Raganya masih ada, tidak hilang, tidak hancur. Jiwanya masih utuh, kesadarannya masih berjalan seperti biasa, ingatannya masih lengkap. Mereka masih merasakan lapar, masih merasakan lelah, masih merasakan dinginnya malam dan panasnya siang hari. Mereka masih merasakan rindu, kasih sayang, kecewa, dan sedih persis seperti yang kita rasakan. Tapi ada satu hal yang berubah mereka tidak bisa lagi dilihat oleh mata manusia biasa. Mereka tidak bisa lagi disentuh, tidak bisa lagi berinteraksi dengan benda-benda di dunia kita dengan mudah. Dan yang paling menyakitkan mereka tidak bisa pergi dari tempat itu. Rumah itu bukan lagi sekadar tempat tinggal mereka, melainkan batas wilayah yang tidak boleh mereka lewati. Mereka terjebak di sana, di dalam dan di sekitar rumah itu, selamanya."
Beberapa orang di ruangan itu menutup mulut mereka dengan tangan, menahan isak tangis yang hampir keluar. Betapa mengerikannya nasib itu bukan mati, bukan hidup, tidak bisa pergi, tidak bisa pulang, tidak bisa kembali ke dunia yang mereka kenal, dan tidak bisa melangkah ke dunia yang lain. Terjebak di tengah-tengah, sendirian, di antara dua kenyataan yang tidak bisa mereka jangkau.
"Karena itu," lanjut Dimas, matanya kembali menatap ke arah pintu depan, ke tempat di mana Bu Isma berdiri di luar sana, "ia mengetuk pintu bukan karena ia harus begitu, bukan karena itu aturan dari dunia mana pun. Ia mengetuk karena itu adalah kebiasaan yang ia bawa sejak masih hidup. Ia dibesarkan dengan sopan santun, diajarkan untuk selalu meminta izin sebelum masuk ke rumah orang lain, dan meskipun kini keberadaannya sudah berubah, sifat aslinya tidak hilang. Ia tidak sadar bahwa ia tidak perlu mengetuk. Ia tidak sadar bahwa kita tidak bisa melihatnya. Baginya, semuanya masih sama ia adalah Bu Isma, ibu dari Ardita dan Arlan, istri dari Pak Candra Wijaya, dan ia sedang mencari putrinya di tengah malam yang dingin. Ia mengetuk karena ia menghormati kita, sama seperti dulu ia menghormati siapa pun yang menjadi pemilik rumah yang ia datangi."
Kata-kata itu menyentuh hati setiap orang yang mendengarnya. Rasa takut yang tadinya mendominasi ruangan itu perlahan-lahan berubah menjadi rasa hormat yang bercampur dengan rasa iba yang begitu dalam. Mereka menyadari bahwa sosok di luar sana bukanlah hantu yang menyeramkan yang datang untuk menakuti mereka. Ia adalah seorang ibu, seorang istri, seorang manusia yang terjebak dalam keadaan yang tidak bisa dibayangkan betapa sulit dan menyakitkannya. Ia tetap menjadi dirinya sendiri, dengan segala kebaikan dan kesopanannya, meskipun dunia di sekelilingnya sudah berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi ia pahami.
"Jadi," gumam Budi pelan, suaranya masih bergetar namun kini bukan karena takut, melainkan karena haru yang mendalam. "Ia tidak jahat. Ia hanya... tidak tahu bahwa semuanya sudah berubah."
"Belum tentu jahat, belum tentu baik sepenuhnya juga," jawab Dimas dengan jujur, tidak ingin memberikan harapan yang salah kepada siapa pun. "Ia masih manusia dengan segala perasaannya, dengan segala kelemahannya. Jika ia merasa dicintai dan dihormati, ia akan lembut dan baik hati. Tapi jika ia merasa ditolak, diabaikan, atau disakiti, ia akan terluka dan luka itu bisa berubah menjadi kemarahan yang tidak lagi bisa dikendalikan. Karena di tempat di mana ia berada, emosi tidak lagi dibatasi oleh tubuh manusia. Rasa sakit yang biasa saja bagi kita bisa menjadi sesuatu yang luar biasa kuat di sana. Itulah yang membuatnya berbahaya bukan karena ia lahir untuk menyakiti, tapi karena rasa sakit yang ia rasakan begitu besar hingga bisa meluap tanpa kendali."
Raka mendengarkan setiap kata dengan saksama, perlahan-lahan mengerti betapa rumitnya situasi yang mereka hadapi. Ia menyadari bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan musuh, dan juga tidak sedang berhadapan dengan sekadar roh yang sudah tiada. Mereka sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih kompleks, sesuatu yang membutuhkan kebijaksanaan, rasa hormat, dan kehati-hatian yang luar biasa.
"Karena itu," kata Raka kepada semua orang, suaranya penuh ketegasan namun juga penuh kelembutan, "kita tidak boleh takut berlebihan hingga bertindak bodoh, dan kita juga tidak boleh sembarangan hingga melukai perasaannya. Kita harus menghormatinya sebagai manusia yang pernah hidup, yang masih ada di antara kita dalam cara yang berbeda. Kita harus berbicara dengan sopan, bergerak dengan hati-hati, dan tidak pernah melupakan bahwa di balik semua ini ada keluarga yang sedang menderita tanpa ada yang bisa menolong mereka."
Malam semakin larut, namun kehadiran di luar pintu itu belum pergi. Ia masih berdiri di sana, diam, seakan mendengarkan setiap kata yang diucapkan di dalam ruangan. Seakan ia tahu bahwa akhirnya ada yang memahaminya, ada yang mengerti keadaannya, dan ada yang tidak lagi menganggapnya sekadar hantu yang menakutkan. Dan di dalam rumah itu, tidak ada lagi yang berani mengatakan bahwa ia hanya bayangan atau imajinasi semata. Karena mereka semua tahu di luar sana, di antara dua dunia, ada seorang ibu yang tidak pernah berhenti mencari anaknya. Dan ia akan terus mencari, sampai ia menemukannya, atau sampai batas antara dua dunia itu akhirnya runtuh dan menyerap semuanya ke dalam kegelapan yang sama.