Ia dijodohkan dengan anak orang kaya di kampungnya. Pria lumpuh dengan latar belakang yang tak enak di dengar. Anak tunggal dari orang terkaya di kampung itu. Cap play boy yang suka mempermainkan wanita melekat sangat kuat di nama si cowok.
Namun, Aulia tetap menerima pernikahan itu karena hutang ayahnya yang besar. Iya. Singkatnya, pernikahan itu karena hutang keluarga yang besar, yang tidak bisa ayahnya kembalikan.
Namun, siapa sangka kalau hidup akan berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode *5
Beberapa saat setelah mobil berjalan, keduanya masih sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak ada satu patah kata pun yang terucap sejak masuknya Lia ke dalam mobil tersebut. Karena sejak tadi, Zihan masih fokus bahkan sangat fokus dengan laptop yang ada di pangkuannya.
Hingga pada saat Lia tiba-tiba melihat kalung yang masih ia genggam sejak tadi, dan Zihan entah bagaimana bisa langsung melirik ke arah Lia saat itu. Zihan pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah kalung tersebut dengan cepat.
"Itu ... kalung bundaku, kan Lia?"
Sontak, ucapan itu langsung membuat Lia menoleh ke arah Zihan. "Iya, Kak Zihan. Ini kalung bunda Kak Zihan. Ee ... ternyata, Kakak sungguh mengenali kalung ini dengan sangat baik ya."
"Tentu saja. Kalung ini adalah kalung kesayangan almarhumah bunda. Kalung ini ayah berikan ketika mereka baru pertama jadian. Dan, kalung ini dipesan khusus oleh ayah dari luar negeri hanya untuk bunda."
"Sekarang, ayah berikan padamu, itu tandanya, dia benar-benar sudah memilih kamu dengan sepenuh hati, Lia."
"Memilih dengan sepenuh hati? Maksud Kak Zihan apa?"
"Memilih kamu menjadi istri dari anak kesayangan satu-satunya yang ia punya. Tapi sayang, kasihan kamu karena anak kesayangan yang menjadi suamimu ini adalah pria cacat alias tidak bisa membahagiakan kamu."
"Kak Zihan ... ngomong apa sih? Sejujurnya, bahagia itu sederhana kok, Kak. Asal merasa nyaman saja, pasti hati bahagia." Lia berucap dengan nada penuh keyakinan. Hal itu membuat Zihan terdiam dengan tatapan lekat ke arah Lia.
"Kamu ... yakin dengan apa yang kamu katakan barusan? Ee ... maksud aku ... ah, sudahlah. Jangan dibahas lagi."
"Ah, iya. Aku mau bilang, jika kita sudah tiba di rumahku, maka kamu bebas melakukan apa saja. Tapi ... jangan pisah kamar saja ya. Karena aku tidak ingin Mang Mamat dan Mbok Yah melaporkan sama ayah soal hubungan kita yang sama sekali tidak seperti yang ayah mau. Apakah bisa, Lia?"
"Ee .... " Lia terlihat sedang memikirkan apa yang Zihan katakan.
'Sejujurnya, aku masih belum siap punya suami. Karena itu, aku berharap agar bisa pisah kamar setelah tiba di rumahnya. Eh, tapi ya sudahlah. Orang tidur satu ranjang saja sudah pernah aku lakukan sama dia kok.' Lia bicara dalam hati dengan melepas napas berat namun pelan.
"Mm ... iya baiklah. Aku mengerti apa yang Kakak khawatirkan. Untuk itu, Kakak jangan cemas. Aku akan mendengarkan apa yang Kakak katakan selanjutnya."
Zihan hanya tersenyum tipis saja. Kemudian, setelah itu, ia kembali fokus dengan laptopnya. Di mana layar laptop itu sedang menampilkan sebuah presentasi sebuah perusahaan.
Lia yang melihat hal itu pun langsung memahami akan kesibukan Zihan sebelumnya. Karena itu, ia pun tidak ingin mengganggu Zihan lagi. Selanjutnya, ia ingin menyimpan kalung tersebut ke dalam tas kecil yang ada di depannya.
Tapi, ketika kalung itu hampir saja ia masukkan ke dalam, suara Zihan tiba-tiba langsung menghentikan gerakan Lia. "Kamu ... tidak ingin memakai kalung itu, Lia? Jika kamu ingin mengenakannya, biar aku yang bantu."
"Eh, itu ... aku merasa kalau aku masih belum layak untuk memakai kalung ini, Kak. Kalung ini adalah kalung bundamu. Jadi, ini adalah barang yang paling berharga dalam keluarga kalian. Karena itu, aku merasa, aku belum layak untuk mengenakannya."
"Sebenarnya, jika Papa sudah memilih, berarti kamu sangat layak untuk memakai kalung itu. Namun, semua keputusan ada di tangan kamu, Lia. Aku juga tidak akan memaksa."
Lia terdiam. Apa yang Zihan katakan sedikit membuatnya percaya kalau ia adalah orang yang memang dipilih oleh juragan terkaya di kampungnya untuk menjadi menantu. Tapi, dia ingat akan alasannya menikah. Pernikahan hanya untuk melunasi hutang.
Si ayah yang banyak berhutang untuk membiayai pendidikannya juga pendidikan adiknya yang kini ada di pondok pesantren, mengharuskan ia untuk dikorbankan agar tanah sepetak yang menjadi sumber penghasilan mereka tidak habis diambil karena hutang. Dan lagian, jika pun tanah itu diambil untuk menebus hutang, itupun tidak cukup. Karena tanah mereka hanya sepetak. Sedangkan hutang mereka, cukup besar.
Mobil terus berjalan. Keduanya juga sudah kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Lia yang bosan melihat sisi jalan, lalu mengeluarkan ponsel yang sudah cukup tua baginya.
Zihan memperhatikan Lia secara diam-diam. Yah, meskipun tidak fokus memperhatikan, tapi mata tidak bisa untuk tidak mencuri pandang ke arah perempuan yang sedang duduk di sampingnya saat ini.
Beberapa jam berlalu. Jarak desa mereka dengan kota tempat Zihan tinggal cukup jauh. Lebih jauh dari kota yang Lia tinggali sebelumnya. Karena itu, Lia merasa cukup lelah sampai ia tidak sadar kalau ia tiba-tiba terlelap dengan keadaan yang masih melihat ponsel.
"Den Zihan. Nona Lia .... "
"Aku melihatnya, Mang." Zihan memotong cepat ucapan Mang Mamat.
"Apakah ... Den Zihan merasa terganggu? Jika iya, kita menepi dulu sebentar. Bagaimana?"
"Tidak apa-apa, Mang. Biarkan saja ia tidur di bahuku. Kasihan juga ia kalau kita menepi. Karena jika kita menepi, otomatis ia akan dibangunkan, bukan?"
"Iya juga sih, Den."
Yah, sekarang, Lia memang sedang tidur di bahu Zihan. Entah bagaimana bisa, tiba-tiba saja tubuh Lia condong dan jatuh ke bahu Zihan. Dan Lia malah sangat menikmati hal tersebut. Tidurnya pun jadi semakin nyenyak. Sementara Zihan, ia malah langsung menghentikan apa yang sebelumnya ia lakukan.
Beberapa waktu kemudian, akhirnya, mobil tiba juga di sebuah rumah yang megah. Rumah yang cukup besar dengan dua lantai itu pun terlihat indah dan terawat. Ada kolam renang di samping rumah. Juga ada taman. Tapi, tamannya tidak ada bunga. Hanya ada tumbuhan hijau saja.
Lia yang merasakan gerakan pelan saat Zihan menggerakkan bahunya setelah sekian lama ia bertahan, langsung terjaga dari tidur. Ia pun lagi-lagi memasang wajah panik dengan wajah tiba-tiba merona merah.
"Eh ... itu ... Kak Zihan. Apa ... apa yang sudah terjadi?" Dengan gugup karena sangat malu, Lia berusaha untuk menenangkan hatinya.
"Apa yang sedang terjadi? Mm ... tidak ada. Hanya ada orang yang lagi-lagi tidur dengan memakai bantal bahuku, itu saja. Bukan masalah besar kok." Zihan malah berucap dengan nada datar seperti tanpa beban.
Tentu saja Lia merasa semakin tak karuan. Mana ada kata lagi yang terdapat dalam ucapan Zihan barusan. Yang langsung membuat Lia semakin bertambah malu lagi dan lagi.
"Itu ... maafkan aku, Kak. Aku ... benar-benar tidak sengaja kok. Aku ... tidak sadar. Maaf." Lia berucap pelan karena merasa tidak nyaman juga terlalu canggung.