Indonesia
NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Seharga Warisan

Pernikahan Kontrak Seharga Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Identitas Tersembunyi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rey 18

Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
​Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keahlian Tempur yang Tak Terduga

​Suara deru angin sore berembus pelan di area lapangan Proyek Wibowo Park. Empat orang preman berbadan besar terkapar lemas di tanah, meringis kesakitan dengan tulang pergelangan tangan yang patah dan rahang yang retak.

​Puluhan preman tersisa bersenjata balok kayu dan rantai besi melangkah mundur secara perlahan. Keberanian mereka mendadak lenyap ditelan rasa takut tatkala menyaksikan betapa mematikannya pergerakan Arka.

​Rian berdiri mematung di samping mobil Jip miliknya. Wajahnya yang semula penuh percaya diri kini pucat pasi, pelupuk matanya bergetar hebat.

​"Bagaimana mungkin..." bisik Rian dengan suara gemetar. "Dia cuma montir gembel... bagaimana bisa dia bertarung seperti monster?!"

​Kepala mafia berambut gondrong mengusap keringat dingin di dahi. Sebagai pimpinan preman yang berpengalaman dalam puluhan pertempuran jalanan, ia tahu betul bahwa gerakan Arka tadi bukanlah teknik beladiri biasa. Setiap tumpuan kaki, reflek menghindar, dan titik serangan yang diincar Arka adalah teknik membunuh presisi milik prajurit pasukan khusus tingkat tinggi.

​"Bos," bisik sang kepala mafia kepada Rian dengan napas memburu. "Orang ini bukan lawan biasa. Dia pembunuh berdarah dingin."

​Arka melangkah maju satu titik. Sepatu kulit sederhananya menginjak kerikil tanah, menimbulkan suara gesekan pelan yang terdengar sangat menakutkan di tengah keheningan lapangan.

​"Waktu kalian sudah habis," ujar Arka dengan nada suara sangat datar dan dingin.

​"Serang!" jerit Rian histeris karena panik. "Jangan takut! Dia cuma satu orang! Serang bersamaan dan hancurkan dia!"

​Terpancing oleh teriakan Rian dan rasa terdesak, belasan preman menggeram keras lalu melompat maju secara serentak. Mereka mengayunkan rantai besi dan balok kayu tebal ke arah Arka dari berbagai penjuru.

​"Arka!" jerit Maya panik dari tepi lapangan, jantungnya serasa ingin melompat keluar.

​Namun, Arka sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar.

​Ia melangkah masuk ke dalam pusaran serangan lawan. Tubuhnya bergerak sangat lincah bagaikan bayangan. Rantai besi yang diayunkan preman pertama melayang kosong di udara, sementara Arka memanfaatkan momentum itu untuk mencengkeram dada preman tersebut dan menjadikannya tameng hidup dari sabetan balok preman lain.

​Brak!

​Balok kayu menghantam pundak preman tameng itu hingga pingsan seketika. Arka merebut rantai besi di udara, memutarnya dengan kecepatan tinggi, lalu menyabetkan ujung rantai tebal tersebut ke kaki tiga preman yang mencoba mengepungnya dari belakang.

​Krek! Krek! Krek!

​Teriakan histeris memecah udara sore saat tiga preman tersebut jatuh tersungkur dengan tulang kering yang retak. Tanpa memberi ruang untuk bernapas, Arka melompat miring, meluncurkan pukulan lurus yang amat keras tepat ke ulu hati sang kepala mafia berambut gondrong.

​Bugh!

​Pria berbadan tegap itu membelalakkan matanya, kehilangan seluruh pasokan udara di paru paru, lalu ambruk berlutut di atas tanah sebelum akhirnya pingsan tak sadarkan diri.

​Dalam waktu kurang dari dua menit, lebih dari lima belas preman paling tangguh di area tersebut tumbang berantakan. Sisa preman lainnya langsung melemparkan senjata kayu mereka ke tanah, berlari cerai berai menyelamatkan diri keluar dari gerbang proyek tanpa memedulikan Rian lagi.

​Area konstruksi kembali hening. Arka membuang rantai besi di tangannya ke tanah. Ia merapikan kembali kerah kemeja putihnya yang sedikit berantakan, lalu berbalik menatap Rian yang kini berdiri sendirian dengan tubuh gemetar hebat.

​Arka melangkah mendekati Rian.

​"Jangan... jangan mendekat!" jerit Rian ketakutan. Kakinya lemas hingga ia tersungkur di samping ban mobil Jip miliknya. "Arka! Aku ini sepupu Maya! Kalau kamu menyakitiku, Paman Gunawan tidak akan pernah melepaskanmu!"

​Arka menghentikan langkahnya tepat di hadapan Rian, menatap pria itu dari atas ke bawah dengan pandangan mata yang sarat akan kehampaan.

​"Paman Gunawanmu bahkan tidak sanggup menyelamatkan rekening banknya sendiri sore ini," kata Arka pelan.

​Arka mendongak sedikit ke arah jalan raya utama. Dari kejauhan, suara sirine mobil kepolisian berbunyi nyaring, mendekati lokasi proyek dengan kecepatan tinggi. Empat unit mobil patroli dan dua truk perintis bersenjata melaju masuk ke dalam area lapangan, mengepung lokasi tersebut secara total.

​Puluhan anggota kepolisian berseragam lengkap turun dengan senjata siap tembak, dipimpin langsung oleh Kapolres Kota.

​Rian yang melihat kedatangan polisi mendadak mendapat secercah harapan. Ia berteriak keras sambil merangkak menuju kaki sang Kapolres. "Pak Polisi! Tolong saya! Orang ini gila! Dia menyerang dan memukuli orang orang saya sampai cacat!"

​Namun, bukannya mendengarkan Rian, sang Kapolres justru melangkah melewati Rian begitu saja. Kapolres bertubuh tegap itu berjalan lurus mendekati Arka, lalu memberikan penghormatan militer yang sangat tegap dan formal.

​"Selamat sore, Tuan!" panggil Kapolres dengan suara tegas penuh rasa hormat. "Kami menerima laporan bahwa ada perusuh yang mencoba mengganggu Proyek Strategis Nasional ini. Seluruh pelaku dan otak dalang kerusuhan akan kami amankan detik ini juga!"

​Rian membelalakkan matanya tidak percaya. Suaranya tercekik di tenggorokan. "Pak... Pak Kapolres? Kenapa Bapak hormat pada montir gembel ini?!"

​Kapolres menoleh tajam ke arah Rian. "Tutup mulutmu! Tuan ini adalah perwakilan khusus Otoritas Nasional! Menyerang lokasi proyek ini sama saja dengan melakukan tindakan makar terhadap negara!"

​"Bawa dia dan seluruh sisa preman ini ke markas besar," perintah Arka singkat tanpa memandang Rian. "Pastikan hukuman mereka diproses sesuai dengan undang undang penyabotasean aset negara."

​"Siap, laksanakan Tuan!" tegas Kapolres. Dua orang petugas langsung menarik tubuh Rian yang sudah lemas dan memasukkannya ke dalam mobil tahanan secara paksa. Suara jeritan dan ampunan Rian bergema pelan sebelum pintu mobil besi itu tertutup rapat dan melaju pergi.

​Para pekerja proyek yang tadinya terkurung di dalam kantor lapangan mulai berhamburan keluar. Mereka bersorak gembira melihat area konstruksi sudah aman dan bisa beroperasi kembali.

​Maya berdiri mematung di samping mobil sedan putihnya. Seluruh rangkaian kejadian ajaib di depan matanya terasa seperti mimpi di siang bolong. Seorang suami serabutan yang menyewa kontrakan kecil bersama dirinya baru saja menumbangkan belasan preman dengan tangan kosong, dan membuat seorang Kapolres Kota memberikan penghormatan militer paling tinggi.

​Arka berjalan mendekati Maya. Raut wajahnya yang dingin dan menakutkan seketika kembali melunak, berganti dengan senyuman hangat yang biasa ia tampilkan.

​"Area proyek sudah aman, Maya," kata Arka lembut. "Para pekerja bisa melanjutkan proyek Wibowo Park tanpa gangguan lagi."

​Maya menatap Arka dengan pandangan menelisik yang sangat pekat. Ia melangkah maju, meraih tangan kanan Arka yang baru saja digunakannya untuk bertarung. Tidak ada satu pun bekas luka di jemari suaminya.

​"Keahlian beladiri militer tingkat tinggi..." bisik Maya dengan suara bergetar. "Penghormatan penuh dari Kapolres Kota... Kartu titanium pimpinan tertinggi Nusantara Group..."

​Maya mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke dalam mata Arka tanpa ada keraguan lagi.

​"Arka," ucap Maya pelan, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya menuntut kejujuran mutlak. "Rahasia apa lagi yang kamu sembunyikan dariku? Siapa kamu sebenarnya?"

1
Jamayah Tambi
Lanjut Athur,Dian ambil peluang atas nama darah dan keluarga,sombingvtan tau diri.Umur masih setahun jagung
Jamayah Tambi
Hah,kata dah tamat tp ceritanya bersambung
Jamayah Tambi
Takut kau yg terbunuh Pak Surya Wijaya.Tak masuk di akal sihat dan waras ku bila pulak Arka dan Mayavtinggal di kontrakan.Sebelum tu kan tinggal dirumah peninggalan ayah Maya..
Jamayah Tambi
Dah Arka sendiri yg pimpinan tertinggi Nusantara Group
Jamayah Tambi
Kau hentan je Rian tu.Belagak sangat.
Jamayah Tambi
Arka cepat terus terang .Maya sangat penasaran tu
Jamayah Tambi
Cepat cari tau,agar tidak penasaran terus Maya
Jamayah Tambi
Kalau ketahuan nanti kau jgn marah Maya.Kau yg menawarkan penikahan pada Arka masa itu.Jgn pula kau anggap penipu.Tidak ada untungnya bagi Arka..Kamu yg beruntung Maya,dapat harta karun
Jamayah Tambi
Maya,main saja ikut aturan Arka,nanti tau kok rahsianya
Jamayah Tambi
Rasain.Nak sangat ambil harta anak yatim kan.
Jamayah Tambi
Bola nak sampai pejabat notaris,kok masih di KUA
Jamayah Tambi
Gila, demi harta warisan.Siapa juga mau seluruh harta warisa ayah dan datuknya jatuhbke tangan pamannya dan sepupunya yg serakah itu.Bukan nak tolong anak yatim puatu
itu.
Wawan
Clue yang menarik .... Nyimak ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!