Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Tiri

Ayah Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Romansa Fantasi
Popularitas:732
Nilai: 5
Nama Author: fazamanmut

Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kejanggalan

Malam pun akhirnya tiba. Tamu-tamu perlahan mulai berpamitan pulang satu per satu, meninggalkan gedung yang tadinya riuh penuh orang hingga kini pelan-pelan menjadi sepi. Hanya tinggal kerabat dekat dan petugas yang sibuk membereskan sisa acara. Ketenangan malam mulai menyelimuti, namun rasanya masih asing sekali bagiku di tempat megah ini.

Tiba-tiba Bibi Wijaya muncul di hadapanku, tersenyum lebar seakan tak pernah lelah seharian ini.

"Malam ini kamu dan ibumu tidur di sini saja ya," ucapnya tenang. "Tadi pengawal ayahmu sudah berangkat ke rumah lama, membereskan semua barang-barang kalian dan membawanya kemari. Jadi tak perlu kembali lagi ke sana."

Aku tertegun sesaat, tak menyangka keputusan itu diambil begitu saja tanpa kami ketahui. Namun melihat Bibi Wijaya yang menatap penuh arti, aku hanya mengangguk pelan pasrah.

"Jadi begitu ya, Bi... Baiklah," jawabku singkat.

Bibi Wijaya tersenyum puas, lalu menunjuk ke arah sebuah pintu besar di sayap kanan gedung. "Kamar kalian sudah disiapkan. Luas, bersih, lengkap segalanya. Ajak ibumu istirahat ya, pasti sudah lelah sekali."

Ia berbalik pergi begitu saja, meninggalkanku berdiri mematung. Tak terasa kami benar-benar pindah. Rumah lama kami yang sederhana kini tinggal kenangan, dan di sinilah kami berada, di istana megah yang entah membawa kebahagiaan atau justru menjadi sangkar baru bagi kami berdua. Aku menarik napas panjang, berjalan perlahan menuju pelaminan untuk menjemput Ibu.

 Saat aku hendak menunduk membantu membereskan sisa sampah di meja, seorang perempuan bergegas menghampiri dan menahan tanganku.

"Sudah Nona, tidak usah. Nona istirahat saja, ini perintah Ayahmu," ucapnya sopan namun tegas.

Aku tertegun sejenak. Ayahmu... kata itu masih terasa asing di telingaku. "Baiklah," jawabku pelan lalu melepaskan tanganku.

Mataku menyapu ruangan mencari keberadaan Ibu. Pelaminan sudah kosong. Ibu tak ada di sana. Aku pun berjalan menghampiri Samudra yang sedang berdiri di sisi ruangan sambil berbincang dengan pengawalnya.

"Paman, maaf... Ibu di mana ya?" tanyaku sopan.

Samudra menoleh, tersenyum lebar. "Paman lagi? Panggil Ayah saja. Aku kan sudah jadi ayahmu sekarang."

Aku menelan ludah, merasa canggung sekali. "Iya... Ayah."

"Ibumu sedang di kamar, menghapus riasannya," jawabnya santai sambil merapikan lengan bajunya. Lalu ia mendekat sedikit, menatapku lekat-lekat dengan senyum yang tiba-tiba terasa berbeda, licik dan tak wajar. "Malam ini kami tidur berdua di kamar, tapi kalau kamu mau ikut juga tidak apa-apa. Nanti kamu tidur di tengah saja ya, di antara aku dan ibumu kamu bisa menjadi guling nyamanku."

Darahku seakan berhenti mengalir. Mataku membelalak tak percaya. Apa yang baru saja ia katakan? Jantungku berdegup kencang tak keruan, mulutku terasa kering seketika. Aku berdiri mematung, tak bisa bergerak, tak bisa bernapas, tak tahu harus menjawab apa. Senyumnya itu... bukan senyum ayah kepada anak. Itu senyum lain yang membuat bulu kudukku berdiri seketika.

 Tanpa menoleh lagi aku segera berbalik dan melangkah cepat pergi meninggalkannya. Kulacak setiap sudut rumah besar itu dengan jantung yang berdegup kencang sekali. Pintu demi pintu kubuka pelan, memanggil nama Ibu dengan suara tertahan. "Bu... Bu..."

Aku tak peduli seberapa megah dan mewah rumah ini, saat ini bagiku hanya tempat mengerikan. Pikiran buruk terus berputar di kepala. Kalau sampai sesuatu terjadi pada Ibu... tak kubayangkan. Di ujung lorong akhirnya kulihat pintu terbuka sedikit. Aku segera berlari mendekat, membukanya perlahan dan menatap ke dalam.

 

"Ada apa, nduk?" tanya Ibu lembut saat tiba-tiba ia keluar dari sebuah kamar di ujung lorong.

Aku membuka mulut hendak bercerita tentang ucapan Samudra yang mengerikan tadi, namun kata-kataku tertahan di tenggorokan. Melihat wajah Ibu yang tampak tenang dan damai begitu, aku urungkan niatku. Ini kan hari bahagia Ibu, batinku berusaha menenangkan diri. Mungkin saja... mungkin saja "Ayah" tadi cuma bercanda, hanya salah pahamku saja yang berlebihan. Tak perlu merusak kebahagiaannya malam ini.

"Eh... tidak apa-apa Bu," jawabku akhirnya tersenyum tipis. "Aku hanya mencari Ibu saja."

Ibu tersenyum lega, lalu menggenggam tanganku hangat. "Masuklah ke kamar, nduk. Sudah malam istirahat. Kita tidur di sina malam ini dan seterusnya."

Aku mengangguk pasrah, melihat Ibu masuk ke kamar luas itu. Namun di balik senyumku, hatiku tetap waspada. Semoga benar cuma salah paham saja, semoga.

 

Aku masuk ke kamar sebelah yang sudah di sediakan, menutup pintu perlahan hingga berbunyi klik pelan. Kamar ini luas dan nyaman, kasurnya empuk sekali, seprai dan bantalnya harum semerbak. Jendela besar di dinding membiarkan cahaya remang bulan masuk lembut, menerangi ruangan dengan cahaya keperakan yang peaceful.

Aku berjalan ke arah jendela, membukanya sedikit agar udara malam yang segar bisa masuk. Angin malam berhembus pelan menyisir wajahku, membuatku tersenyum sendiri. Dari balik jendela kulihat ke arah taman, bunga-bunga bermekaran indah di bawah cahaya bulan. Rumah ini memang megah, namun terasa hangat juga sekarang.

Aku berganti pakaian, lalu merebahkan diri di atas kasur empuk itu. Mataku menatap langit-langit kamar, membayangkan Ibu di sebelah sana. Pasti beliau sedang bahagia, mengobrol dan tertawa bersama suami barunya. Pikiranku tenang sepenuhnya sekarang, tak ada lagi rasa takut atau curiga. Semuanya baik-baik saja.

Aku memejamkan mata perlahan, menarik selimut hingga bahu. Malam yang damai dan indah ini pun menidurkanku dengan perasaan lega dan bahagia.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!