`KISAH CINTA YANG BERACUN`
Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.
Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.
Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.
Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.
Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`
Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.
Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.
Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.
Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8_ Panggilan Yang Terabaikan
BAB 8_ Panggilan Yang Terabaikan
Malam baru saja melingkupi apartemen elit di kawasan Jakarta Selatan yang Lea tinggali selama menjalankan aksi penyamarannya. Cahaya gemerlap lampu kota bertaburan indah di balik jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga ke langit-langit, menciptakan pantulan bayangan panjang di dalam ruangan yang sengaja dibiarkan redup.
Di atas meja kerja berbahan kayu mahoni, dua unit ponsel pintar tergeletak berdampingan dengan layar yang bergantian menyala.
Ponsel pertama—benda bernuansa perak dengan enkripsi jaringan internasional—terus-menerus bergetar tajam. Notifikasi pesan singkat dari luar negeri menumpuk tanpa henti, membanjiri bilah layar. Pesan-pesan itu berasal dari tiga pria elit yang dekat dengannya di Melbourne dan London, sosok-sosok tampan kaya raya yang terbiasa memanjakan Lea namun kini dibuat kelimpungan setengah mati karena kehilangan jejak sang gadis secara mendadak.
`"Lea, baby... kamu di mana? Aku sudah di depan apartemenmu di South Yarra tapi pintunya terkunci. Kamu bolos sekolah 3 hari berturut-turut? Tolong angkat teleponku, aku cemas banget."` — `Julian (Melbourne)`
`"Sweetheart, sekretaris Papi bilang kamu terbang ke Asia? Tanpa pengawalan? Kamu gila ya? Katakan padaku kamu di mana, aku bisa menyusul dengan jet jam 12 malam ini."` — `Ethan (London)`
`"Lea, tolong balas satu pesan saja. Teman-teman di kelas bertanya-tanya kenapa mejamu kosong. Kalau kamu ada masalah finansial atau apa pun, katakan padaku. I’m going crazy here!"` — `Liam (Melbourne)`
Lea melirik rentetan pesan manis yang penuh kepanikan itu dari sudut matanya. Sudut bibirnya terangkat tipis, mengukir senyuman yang sarat akan daya pikat sekaligus rasa tak peduli. Bagi Lea, pria-pria kaya yang mengejarnya di Australia hanyalah hiburan selingan yang mudah dikendalikan. Mereka adalah pengalih perhatian yang menyenangkan sebelum krisis kehidupan saudara kembarnya merenggut seluruh fokusnya.
Dengan gerakan santai, Lea menggeser opsi `Do Not Disturb` pada ponsel peraknya, membungkam seluruh dering dan pesan dari Julian, Ethan, dan Liam dalam seketika.
Namun, sebelum ia sempat meraih cangkir teh chamomile di meja, ponsel keduanya—nomor pribadi yang khusus terhubung dengan keluarga intinya—tiba-tiba bergetar heboh dengan nada panggil khusus yang bernada nyaring.
Nama yang tertera di layar menyala membuat jemari Lea mendadak membeku di udara.
`Mami`
Lea menatap layar yang berkedip-kedip itu untuk beberapa detik. Napasnya tertahan pelan. Ia mengusap pelipisnya seraya menghela napas panjang, menyadari bahwa keputusannya terbang mendadak ke Jakarta akhirnya menagih janji dan konsekuensi dari keluarganya.
Dengan gerakan yang diatur sangat tenang, Lea menggeser ikon hijau dan menempelkan benda tipis itu ke telinganya.
`"Halo, Mami,"` panggil Lea, mengusahakan agar intonasi suaranya terdengar seringan mungkin.
`"Lea Anggita!"` Suara di ujung telepon langsung menyambar bagaikan petir, dipenuhi oleh kombinasi rasa cemas, amarah yang membuncah, dan kekecewaan yang teramat sangat. `"Kamu ke mana saja?! Mami, Papi tiri kamu, dan seluruh orang di rumah sudah mau gila mencarimu! Kenapa semua ponselmu sulit sekali dihubungi?!"`
Lea memejamkan matanya sejenak, menerima semburan amarah itu tanpa berniat memotong. `"Lea baik-baik saja, Mi. Maaf kalau bikin Mami khawatir."`
`"Maaf kamu bilang?!"` Suara Maminya terdengar makin histeris dari balik telepon. `"Kamu pergi meninggalkan rumah di Melbourne tanpa pamit, tidak ada pesan sama sekali, dan sekarang kepala sekolahmu baru saja menelpon Papi! Kamu sudah bolos sekolah tiga hari berturut-turut, Lea! Tiga hari! Kamu tahu berapa banyak pengawal dan relasi Papi yang harus dikontak hanya untuk melacak keberadaanmu?!"`
Lea mengepalkan jemarinya di atas meja marmer. Rasa bersalah sempat menyengat dadanya saat membayangkan raut wajah khawatir Maminya.
Namun, ketika ingatan dan pikirannya berkelebat pada bayangan Alia—saudari kembarnya yang kini terisolasi di bangsal khusus Rumah Sakit Jiwa, berjuang melawan trauma berat dan ketakutan hebat akibat perundungan Teo—tekad di dalam dada Lea kembali mengeras bagaikan baja.
`"Aku punya urusan yang sangat penting yang harus diselesaikan di Jakarta, Mi,"` jawab Lea dingin, mengalihkan nada bicaranya menjadi jauh lebih serius dan dewasa.
`"Urusan apa yang lebih penting dari masa depan dan keselamatanmu, Lea?!"` pangkas Maminya, suaranya kini mulai bergetar menahan tangis kekecewaan. `"Kamu itu anak perempuan Mami yang sebentar lagi lulus! Julian, Ethan, dan Liam bahkan sampai menelpon Papi menanyakan keberadaanmu karena panik! Kenapa kamu tiba-tiba nekat kabur ke Indonesia sendirian? Pulang sekarang juga, Lea. Papi tiri kamu sudah menyiapkan jet pribadi untuk menjemputmu besok pagi."`
`"Aku tidak bisa pulang, Mi,"` potong Lea cepat, tegas, dan tak terbantahkan.
Keheningan mendadak melingkupi saluran telepon internasional tersebut. Maminya seolah tertegun dan bungkam oleh ketegasan dingin dalam suara putrinya—sebuah intonasi tajam yang sangat jarang Lea tunjukkan saat berada di rumah.
`"Lea... ada apa sebenarnya denganmu?"` bisik Maminya, kini dengan intonasi curiga yang dipenuhi kecemasan mendalam. `"Kenapa kamu jadi seperti ini? Apa yang terjadi di Jakarta?"`
Lea menatap pantulan dirinya di jendela kaca yang gelap. Ia membasahi bibirnya yang kering sebelum menjawab dengan suara rendah yang menusuk.
`"Mami ingat Alia?"` tanya Lea pelan.
Di balik telepon, napas Maminya terdengar tertahan secara tiba-tiba. `"Alia...?"`
`"Ya, kembaranku. Anak yang Mami tinggalkan bersama Ayah di Jakarta dulu waktu Mami pilih nikah lagi dan bawa aku ke Australia,"` kata Lea, menyalurkan sindiran halus yang begitu menohok hati. `"Dua tahun setelah Mami pergi, Ayah meninggal... dan Alia cuma punya Nenek untuk bertahan hidup. Mami tahu apa yang terjadi sama Alia sekarang?"`
Suara Maminya terdengar makin gemetar. `"Lea..."`
`"Alia sedang hancur, Mi. Dia dirawat di Rumah Sakit Jiwa karena mentalnya dirusak total oleh iblis di sekolahnya... terutama putra dari keluarga Ozawa,"` bisik Lea penuh kegetiran. `"Dia ditinggalkan sendirian sampai harus menanggung semua ini."`
`"Lea, Mami tidak tahu kalau... Mami pikir Ayah dan Nenek kalian—"`
`"Aku menggantikan posisinya di Ozawa School,"` potong Lea tanpa keraguan sedikit pun dalam setiap suku katanya. `"Aku memakai seragamnya, menggunakan identifikasinya, dan menghadapi orang-orang yang sudah menyiksanya. Dan aku tidak akan pernah kembali ke Melbourne sebelum orang-orang yang membuat mental Alia hancur membayar semuanya sampai tuntas. Jadi tolong... jangan cari aku, jangan kirim pengawal, dan jangan ganggu posisiku di sini."`
`"Lea! Jangan konyol! Keluarga Ozawa itu berbahaya, mereka punya—"`
`"Aku tidak peduli seberapa kaya atau berkuasanya mereka, Mi,"` potong Lea untuk terakhir kalinya. `"Di Melbourne aku mungkin anak yang manis. Tapi di sini... aku adalah mimpi buruk bagi Teo Ozawa."`
Tanpa menunggu balasan atau tangisan lebih lanjut dari Maminya, Lea langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia mematikan daya kedua ponselnya sepenuhnya, lalu melempar benda-benda itu ke atas kasur empuk di belakangnya.
Lea menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, membiarkan keheningan kamar kembali merengkuh dirinya.
Meninggalkan kehidupan mewahnya di Melbourne, mengabaikan Julian, Ethan, dan Liam yang memujanya, serta memicu amarah besar orang tua tirinya adalah harga sangat kecil yang siap ia bayar demi membalaskan dendam Alia.
Lea tersenyum tipis, merapikan blazer sekolah Ozawa School yang tergantung di dekat mejanya. Kini, panggung pembalasan dendamnya telah tertata rapi, dan permainan sesungguhnya baru saja dimulai.