Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.
Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.
Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.
"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.
Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Langkah Pertama Keluar Rumah
Matahari pagi belum sepenuhnya menembus pekatnya polusi udara kota ketika Intan Saputri sudah berdiri di ambang pintu kamar kosnya.
Udara dingin bertiup dari lorong sempit, membawa aroma asap knalpot dan minyak goreng dari warung makan di bawah.
Hari ini adalah hari pertama Intan benar-benar melangkah keluar ke tengah belantara kota sebagai sosok yang baru.
Ia mengenakan kemeja putih polos lengan panjang dan celana kain hitam—satu-satunya pakaian formal yang ia miliki, yang dulu ia beli untuk keperluan administrasi desa.
Rambut sebahu yang baru dipotongnya tertata rapi, membingkai wajah mungilnya yang bersih tanpa riasan. Intan memutuskan untuk melepas hijabnya untuk sementara.
Di tangannya, tergenggam sebuah map plastik bening berisi dokumen-dokumen penting: fotokopi KTP, ijazah SMA, dan beberapa lembar surat keterangan sederhana.
Sebelum melangkah, Intan menarik napas panjang. Dahulu, sekadar melangkah melewati pagar rumah di Desa Lao-Lao saja sudah cukup untuk membuat dadanya sesak oleh kecanggungan dan ketakutan akan tatapan tetangga.
Namun pagi ini, saat ia melangkah menyusuri tangga kayu kos yang berderit, kakinya terasa begitu mantap. Mati rasa yang membendung jiwanya telah menjelma menjadi perisai yang amat kokoh.
Tujuan utamanya hari ini ada dua: mencari pekerjaan untuk bertahan hidup dan mengumpulkan informasi tentang keberadaan Rian di kawasan industri.
Langkah pertamanya membawa Intan menyusuri trotoar jalan utama kawasan industri.
Deretan pabrik tekstil, suku cadang, dan kantor proyek berdiri megah di balik pagar-pagar besi yang tinggi.
Ribuan pekerja berhamburan dari angkutan umum, menciptakan gelombang manusia berseragam yang melaju terburu-buru menuju pintu gerbang masing-masing.
Di tengah riuhnya kerumunan itu, Intan bagaikan sebutir pasir di tengah lautan. Namun, ia tak lagi merasa kerdil.
Ia berhenti di depan sebuah papan pengumuman di dekat gerbang salah satu kompleks pergudangan besar.
Di sana, tertempel beberapa lembar kertas berisi lowongan pekerjaan: mulai dari buruh lepas, petugas kebersihan, hingga staf administrasi lapangan.
"Cari kerja juga, Mbak?"
Sebuah suara menyapa dari sampingnya. Intan menoleh dan mendapati seorang wanita muda berusia pertengahan dua puluhan, mengenakan jaket lusuh dan memegang map serupa dengan miliknya.
"Iya"
Jawab Intan singkat. Matanya tetap fokus membaca syarat-syarat di papan pengumuman.
"Lowongan di gudang ini susah, Mbak."
"Katanya harus ada 'orang dalam' atau uang pelicin."
"Saya sudah seminggu melamar ke sana-sini di kawasan ini, belum ada yang panggil."
Curhat wanita itu dengan nada lesu.
"Mbaknya kelihatannya masih kecil banget, baru lulus sekolah ya?"
Intan menatap wanita itu datar.
"Saya sudah dua puluh tiga tahun."
Wanita itu tertawa canggung, sedikit terkejut.
"Eh... maaf, Mbak."
"Wajahnya awet muda sekali, saya pikir masih belasan tahun."
Komentar tentang fisik dan usianya yang dulu selalu membuat Intan merasa minder dan sakit hati kini berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas.
Intan tidak membalas lagi, ia memutar badannya dan melangkah menuju sebuah bangunan ruko tiga lantai yang berada tak jauh dari gerbang industri.
Di depan ruko itu, terpasang spanduk kain bertuliskan: 'Dibutuhkan Segera: Staf Administrasi Warung Makan & Katering Proyek'.
Tanpa ragu, Intan mendorong pintu kaca ruko tersebut. Denting bel kecil menyambut kedatangannya.
Suasana di dalam cukup sibuk; beberapa orang tampak memindahkan kardus-kardus bahan makanan, sementara seorang pria paruh baya berkacamata tebal sedang sibuk mencatat sesuatu di balik meja kasir.
"Selamat pagi, Pak."
"Apakah lowongan staf administrasi katering masih terbuka?"
Tanya Intan dengan suara yang jelas dan tenang.
Pria berkacamata itu mendongak, menatap Intan dari atas ke bawah dengan dahi berkerut.
"Masih."
"Tapi kami butuh yang gesit, bisa ketik komputer sederhana, dan siap kerja keras."
"Kamu ada pengalaman?"
"Saya bisa mengoperasikan komputer, paham pencatatan keuangan sederhana, dan saya sangat teliti."
Jawab Intan tanpa nada menggebu-gebu, namun sarat akan keyakinan. Ia menyerahkan map plastiknya.
"Saya baru dari desa, tapi saya siap bekerja hari ini juga."
Pria itu menerima map Intan, membalik-balik ijazah SMA dan dokumen lainnya. Ia menatap nama Intan Saputri, lalu kembali menatap wajah gadis itu.
"Kamu kelihatan kecil sekali... Yakin kuat kerja di sini?"
"Kita menyuplai makanan untuk proyek-proyek konstruksi di sekitar kawasan ini."
"Tiap pagi harus rekap ratusan pesanan dan kadang ikut antar laporan ke lokasi proyek."
Ujar pemilik katering itu, menguji ketahanan Intan.
Kata 'proyek konstruksi' seketika memicu percikan listrik di dalam benak Intan. Ini adalah tempat yang sempurna.
Katering yang melayani proyek-proyek bangunan di kawasan industri jelas memiliki akses langsung ke para kontraktor, mandor, dan pekerja proyek di area ini.
Tempat ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan pintu masuk menuju informasi yang ia cari.
"Saya kuat, Pak."
"Saya terbiasa kerja keras di desa."
Jawab Intan tegas. Mata bulatnya menatap lurus sang pemilik toko tanpa ada keraguan sedikit pun.
Pria itu terdiam sejenak, mengamati sorot mata Intan yang luar biasa tenang untuk ukuran seorang gadis desa yang baru pertama kali melamar kerja di kota.
Tidak ada kesan manja atau penakut yang biasanya terlihat dari pelamar seusianya.
"Nama saya Pak Budi."
Ucap pria itu akhirnya sambil menutup map.
"Gaji bulan pertama satu setengah juta."
"Masuk jam enam pagi, pulang jam lima sore."
"Dapet makan siang."
'Mau?"
Gaji yang ditawarkan memang tergolong kecil untuk ukuran kota besar, namun bagi Intan saat ini, itu lebih dari cukup untuk membayar sewa kos dan membeli kebebasannya mengejar Rian.
"Saya mau, Pak."
"Terima kasih."
Balas Intan lurus.
"Bagus."
"Mulai besok pagi jam enam tepat kamu sudah harus ada di sini."
"Jangan terlambat."
Tegas Pak Budi.
"Baik, Pak."
Intan keluar dari ruko katering tersebut dengan perasaan yang aneh. Langkah pertamanya keluar dari rumah dan menembus kerasnya kota besar ternyata berjalan lebih lancar dari yang ia bayangkan.
Dunia luar yang selama 23 tahun ini ia takuti ternyata tidak semenakutkan itu jika ia tidak lagi membiarkan hatinya menjadi lemah.
Ia berdiri di pinggir jalan, memperhatikan lalu lalang truk-truk pengangkut bahan bangunan yang melintas di kawasan industri.
Asap hitam membubung tinggi ke udara, berbaur dengan teriknya matahari siang yang mulai membakar kulitnya.
Intan merogoh saku celananya, menyentuh buku catatan hitam kecil yang tersimpan aman di sana.
Satu langkah kecil telah berhasil ia pijak. Ia kini memiliki pekerjaan, tempat tinggal, dan lokasi berburu yang tepat.
Pria bernama Rian itu boleh saja bersembunyi di balik nama palsu dan akun maya yang telah dihapus, tetapi selama ia masih berkeliaran di dunia nyata—khususnya di kawasan proyek ini—Intan bersumpah akan menemukan jejaknya.
"Satu langkah lebih dekat, Rian."
Bisik Intan dingin seraya menyatu ke dalam kerumunan manusia di trotoar.
*
*
*
Jangan lupa like, komen dan subscribe🤗
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya