Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JAMUAN MAKAN MALAM DARI NERAKA
Rumah besar Gibran di kawasan Menteng itu tampak jauh lebih hidup malam ini, namun atmosfer di dalamnya terasa teramat mencekam bagi sang pemilik rumah.
Seminggu setelah Anindita angkat kaki membawa koper-kopernya, Gibran merasa seperti baru pertama kali menghirup udara bebas dalam tiga tahun terakhir, meskipun bangkai pengkhianatan masih menyisakan bau busuk di setiap sudut ruangan.
Ia mengenakan kemeja batik tulis bernuansa gelap yang elegan, dengan bagian lengan yang digulung rapi hingga siku memperlihatkan urat-urat tegas di lengannya.
Wajahnya tetap tampak kaku dan dingin, namun ada kegelisahan aneh yang meletup-letup di balik manik matanya.
"Om Gibran!
Kami sudah sampai di depan!" suara gembira Aris terdengar memecah keheningan dari arah pintu depan.
Gibran berdiri dari sofa empuknya, merapikan letak kacamatanya.
Pria itu menarik napas panjang, memasang ekspresi terbaiknya untuk menyambut keponakan kesayangannya beserta wanita "luar biasa" yang belakangan selalu dibanggakan Aris lewat sambungan telepon internasional.
"Masuk saja, Aris.
Pintu utama tidak dikunci," jawab Gibran dengan suara berat dan dalam.
Langkah kaki terdengar berirama mendekati ruang tamu utama.
Aris muncul terlebih dahulu dengan senyum lebar berbinar-binar, menggandeng erat tangan seorang wanita yang posisinya agak membelakangi pendar lampu kristal.
"Om, kenalkan secara resmi.
Ini Ziva, wanita hebat yang membuat Aris betah dan tidak mau pulang dari London selama tiga tahun ini," ujar Aris penuh kebanggaan yang meluap.
Ziva melangkah satu tahap maju ke arah pendar cahaya.
DEG.
Jantung Gibran seolah terhenti berdetak seketika.
Seluruh persendian di tubuh tegap sang Jenderal mendadak kaku membeku jauh lebih kaku ketimbang saat ia harus berhadapan dengan moncong senjata otomatis di zona pertempuran perbatasan.
Di hadapannya... berdiri Ziva Adriana.
Gadis cegil yang dulu gemar memakai mini skirt, bertingkah liar, dan berteriak manja padanya, kini telah bertransformasi total menjadi sosok wanita yang teramat anggun dan berkelas.
Rambut panjangnya dibiarkan tergerai indah dengan gelombang halus, mengenakan dress selutut berwarna emerald tebal yang menonjolkan kedewasaan fisiknya.
Namun, matanya... mata itu tetap sama persis mata yang pernah menatap Gibran dengan keputusasaan cinta yang mendalam sekaligus luka yang menganga.
Ziva pun terpaku di tempatnya.
Seluruh warna darah di wajah cantiknya seolah tersedot habis tanpa sisa.
Ia memang tahu bahwa Aris memiliki seorang paman berpangkat perwira militer tinggi, namun ia tidak pernah membayangkan dalam mimpi terburuknya bahwa "Om Gibran" yang selalu diceritakan Aris adalah Gibran Mahendra.
Pria yang selama tiga tahun terakhir berusaha mati-matian ia kubur hidup-hidup di tanah London.
"Ziva...?" suara Gibran pecah, serak, hampir menyerupai bisikan pria yang hancur.
"Om Gibran... sudah kenal dengan Ziva sebelumnya?" Aris menoleh bergantian ke arah paman dan kekasihnya, mendadak merasa ada gelombang hawa aneh yang amat dingin dan menusuk di antara mereka berdua.
Ziva adalah orang pertama yang berhasil menguasai diri.
Pengalamannya berhadapan dengan ruang sidang dan firma hukum kelas atas di London melatih kontrol emosinya untuk tetap tenang di bawah tekanan ekstrem.
Ia mengulurkan tangannya tangan mulus yang dulu sering mencoba menyentuh pipi dan kerah seragam Gibran dengan gesture yang sangat formal.
"Selamat malam, Bapak Letnan Jenderal Gibran Mahendra.
Apa kabar?" suara Ziva terdengar stabil, dingin, dan amat berjarak.
Tidak ada lagi panggilan "Om" yang manja dan memprovokasi.
Gibran menatap uluran tangan itu dengan dada yang terasa bagai dihantam palu godam.
Dengan jemari bergetar pelan, ia membalas genggaman tangan Ziva.
"Kabar saya... tidak terlalu baik, Ziva."
Aris tertawa canggung, mencoba mencairkan atmosfer yang mendadak terasa amat berat.
"Ah, aku baru ingat!
Ziva ini kan putri kandung dari sahabat lama Om Gibran, Pak Bramantyo!
Kalian berdua pasti sudah lama sekali tidak saling menyapa, ya?"
"Sangat lama," jawab Ziva singkat, matanya menatap lurus menembus manik mata hitam Gibran, seolah menantang pria itu untuk membongkar seluruh skenario gila di masa lalu.
Suasana di meja makan mewah berukuran panjang itu tidak ubahnya seperti medan pertempuran yang disamarkan dengan taplak putih dan hidangan berkelas.
Aris tanpa henti bercerita tentang betapa mengagumkannya Ziva selama di London, bagaimana gadis itu memenangkan kasus hukum internasional pertamanya, dan rencana manis mereka untuk menggelar pertunangan resmi bulan depan.
Setiap kali kata "pertunangan" keluar dari mulut keponakannya, rasanya seperti sabetan pisau belati yang mengiris-iris dada Gibran.
Sang Jenderal hanya menusuk-nusuk potongan daging di piringnya tanpa selera sedikit pun.
Manik matanya tak bisa lepas memandangi bagaimana jemari Aris menggenggam tangan Ziva di atas meja, dan bagaimana Aris dengan penuh kelembutan merapikan helai rambut Ziva yang terjatuh.
Itu adalah bentuk perhatian dan kehangatan yang dulu ditolak mentah-mentah oleh Gibran demi mempertahankan gengsi militernya, dan kini ia harus dipaksa menyaksikannya dilakukan oleh keponakan kandungnya sendiri.
"Mas Gibran sendiri bagaimana?" tanya Aris tiba-tiba di sela makan malam.
"Ngomong-ngomong, di mana Tante Anindita?
Dari tadi Aris tidak melihat keberadaannya."
Gibran perlahan meletakkan garpu dan pisau makannya.
Pria itu menatap Ziva lekat-lekat sebelum memberikan jawaban.
"Saya dan Anindita sudah sepakat untuk bercerai secara resmi.
Dia sudah tidak lagi berhak tinggal di rumah ini."
Ziva tersentak kaku di kursinya, meski ia berusaha keras menahan raut terkejutnya dengan meminum air putih.
'Gibran bercerai?
Pria yang dulu mengusirnya secara kejam demi sebuah pernikahan 'sempurna' dan 'pantas' itu kini berakhir sendirian?'
"Oh... maafkan Aris, Om.
Aris tidak tahu kalau situasi rumah tangga Om sedang sesulit ini," ujar Aris merasa bersalah.
"Tidak perlu minta maaf.
Lagipula, pernikahan yang dibangun atas dasar paksaan dan kepatuhan buta memang tidak akan pernah berakhir baik... bukan begitu, Ziva?" Gibran melemparkan sindiran pahit itu langsung ke hadapan Ziva.
Ziva meletakkan gelas anggurnya dengan denting halus yang tegas.
"Betul sekali, Jenderal.
Terutama jika salah satu pihak di dalamnya terlalu pengecut untuk mengakui perasaan hatinya sendiri, dan lebih memilih mengorbankan perasaan orang lain demi sekadar mempertahankan ego, gengsi, dan pangkat."
Meja makan itu seketika sunyi senyap.
Aris menelan ludah dengan susah payah; pria muda itu mulai merasa ada ketegangan personal yang amat pekat dan berbahaya berputar di antara paman dan kekasihnya.
Seusai makan malam yang menyiksa, Aris meminta izin untuk ke kamar mandi sebentar.
Ziva memanfaatkan kesempatan itu untuk melangkah cepat menuju balkon lantai dua, mencoba menghirup udara malam Jakarta agar dadanya yang menyesakkan tidak meledak saat itu juga.
Namun, langkah tegap yang amat dihafalnya terdengar menyusul dari belakang.
Gibran berdiri tepat di balik punggung Ziva.
Aroma parfum woody dan campuran maskulin khas tubuh Gibran mendadak kembali menyerbu indra penciuman Ziva aroma menusuk yang selalu ia tangisi di malam-malam sepinya di London.
"Kenapa harus Aris, Ziva...?" tanya Gibran dengan suara parau, serak, dan sarat akan penderitaan.
Ziva berbalik cepat, matanya berkilat memancarkan kemarahan dan luka yang membara.
"Karena Aris bukan kamu, Gibran!
Karena dia tidak pernah mengusirku secara kejam di tengah pertempuran!
Karena dia tidak pernah membuatku merasa seperti sampah murah yang tak berharga setelah aku menyerahkan seluruh duniaku padanya!"
"Saya melakukan semua hal kejam itu demi memproteksimu dari dunia saya yang berbahaya!" bentak Gibran menahan emosi.
"Memproteksi siapa?!
Memproteksi ego gengsimu?
Memproteksi rasa bersalah absurdmu pada almarhumah Elena?!" Ziva maju selangkah, menunjuk tepat ke tengah dada tegap Gibran.
"Lihat dirimu sekarang!
Kamu sendirian di rumah megah ini!
Kamu hancur!
Dan sekarang mau apa lagi?!
Mengacaukan hidupku lagi saat aku sudah berhasil bangkit dan tenang bersama Aris?!"
Gibran menangkap secara cepat pergelangan tangan Ziva yang menunjuk dadanya.
Cengkeramannya erat dan kuat sangat mirip dengan cengkeramannya tiga tahun lalu di zona perbatasan namun kali ini, Ziva bisa merasakan ada getaran hebat yang tak sanggup disembunyikan oleh sang Jenderal.
"Aris tidak akan pernah bisa menjagamu dan mencintaimu seperti saya, Ziva..."
"Kamu bahkan tidak pernah menjagaku!" Ziva mencoba menarik pergelangan tangannya dengan sengit, namun Gibran justru menarik tubuh gadis itu semakin rapat hingga dada mereka saling berbenturan.
"Saya mencintaimu, Ziva Adriana...
Selalu.
Dan menyaksikanmu berada di pelukan Aris... itu adalah hukuman mati yang jauh lebih menyiksa ketimbang ditembus peluru mana pun!" bisik Gibran tepat di depan wajah Ziva, napas hangatnya menerpa kulit pipi gadis itu.
Ziva membeku seketika.
Pengakuan cinta yang ia tangisi dan tunggu selama bertahun-tahun itu akhirnya terucap dari bibir sang Jenderal... namun di momen yang teramat salah.
Di saat dirinya kini adalah calon tunangan dari keponakan kandung pria itu sendiri.
"Terlambat, Jenderal..." bisik Ziva dengan air mata yang akhirnya lolos menggenang di pelupuk matanya.
"Jalur kuning itu sudah tidak akan pernah melengkung untuk kita berdua."
Ziva menghempaskan cengkeraman tangan Gibran dan berbalik masuk kembali ke dalam rumah tepat saat Aris berjalan keluar menuju balkon.
Gibran berdiri terpaku di kegelapan balkon yang dingin, menyadari dengan kepedihan mendalam bahwa ia baru saja memulai medan pertempuran paling berat dalam hidupnya: pertempuran melawan keponakannya sendiri demi merebut kembali satu-satunya wanita yang seharusnya tak pernah ia lepaskan.