kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.
yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Jafar menyandarkan punggungnya pada kursi kulit berukuran besar. Jemarinya yang panjang bergerak perlahan, mengetuk permukaan meja jati dengan irama teratur. Ruangan hening itu mendadak makin menegang saat ia menekan satu tombol di telepon interkom.
"Dako, masuk."
Tak sampai setengah menit, pintu ganda ruang kerja itu terbuka. Dako, asisten pribadi sekaligus tangan kanan Jafar yang terkenal sangat cekatan dan tidak banyak bicara, melangkah masuk lalu membungkuk hormat.
"Selidiki semua tentang gadis bernama Nina. Anak kandung Faris yang baru dibawa dari desa," perintah Jafar datar tanpa menatap asistennya. "Saya mau data lengkapnya sebelum matahari terbenam."
"Baik, Tuan," jawab Dako singkat sebelum berbalik dan menghilang di balik pintu.
Namun, di tempat terpisah, Tania sudah lebih dulu bergerak beberapa langkah di depan mereka. Sebagai istri dari Tuan Muda Ameer yang memiliki akses teknologi tanpa batas, Tania sudah mengantisipasi hal ini. Begitu Nina memutuskan masuk ke dalam sarang Faris, Tania langsung mengerahkan kemampuan nya untuk membersihkan serta memanipulasi seluruh jejak digital Nina saat masih di desa. Catatan latihan fisik militer, keahlian beladiri, hingga prestasi desainnya disapu bersih tanpa sisa.
Yang disisakan di dalam sistem hanyalah data buatan, profil Nina sebagai gadis desa polos, pemalu, dan bertubuh ringkih yang menghabiskan hari-harinya di rumah kecil tanpa didikan seorang ibu.
Sore harinya, Dako kembali ke ruang kerja Jafar, meletakkan sebuah map tebal di meja beserta sebuah diska lepas.
"Semua jejaknya bersih, Tuan. Dari data yang kami dapatkan, dia hanya gadis desa biasa yang lemah dan tidak pernah keluar dari lingkungannya. Namun, kami sempat meretas rekaman CCTV kantin kampusnya siang tadi."
Jafar meraih flashdisk itu, menghubungkannya ke monitor komputer di mejanya. Rekaman video diputar, menampilkan suasana kantin kampus yang bising. Di sana, kamera mengarah tepat ke wajah Nina yang sedang berdiri di depan kasir.
Jafar memperhatikan setiap gerak-gerik gadis di layar itu. Terlihat jelas bagaimana Nina menghitung lembaran uang tunai dengan jemari yang dibuat gemetar, dikelilingi oleh tawa cemoohan mahasiswa di sekitarnya. Wajahnya yang cantik dan bersih dibalut hijab sederhana menunduk dalam, memancarkan aura kepasrahan dan kepolosan yang begitu murni.
"Ternyata dia kuliah di sana"
Sebuah senyum licik terukir samar di balik masker hitam yang menutupi wajah Jafar. Sepasang mata tajamnya berkilat, meneliti paras manis Nina yang sama sekali belum tersentuh oleh kehidupan kota besar.
Sebagai pria yang membenci wanita karena pengkhianatan di masa lalu nya, Jafar selalu menganggap wanita sebagai makhluk manipulatif yang menjijikkan. Namun, melihat sosok Nina yang terlihat begitu murni dan belum pernah tersentuh oleh laki-laki mana pun, sebuah pemikiran lain melintas di kepalanya.
Gadis polos ini adalah jaminan yang sempurna. Setidaknya, ia bisa memanfaatkan kelemahan dan kepolosan gadis itu untuk memenuhi kebutuhan biologisnya,tanpa perlu khawatir akan dikhianati lagi.
"Atur pertemuan dengan Faris besok," gumam Jafar dengan suara berat, tatapannya masih terkunci pada wajah Nina di layar monitor. "Katakan padanya, saya menerima penawarannya."
____
Malam semakin larut. Keheningan di rumah mewah itu terasa makin menekan setelah jamuan makan malam yang dipenuhi tatapan tak nyaman dari Hadin dan keramahan palsu Anggun. Nina mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, memastikan grendel kayu dan kunci ganda terpasang sempurna sebelum merebahkan tubuhnya di tepi ranjang.
Ia menarik napas panjang, merogoh ponselnya, lalu menekan ikon panggilan terenkripsi menuju nomor Tania. Hanya butuh dua kali nada panggil sebelum suara tegas sahabatnya menyapa dari seberang telepon.
"Hallo Assalamualaikum...Nina? Gimana keadaan kamu di sana? Mereka ada macam-macam sama kamu?" tanya Tania cepat, nada khawatirnya tak mampu ditutupi.
"Waalaikumsalam....Aku masih bisa ngatasin, Tan," bisik Nina pelan, memiringkan tubuhnya sembari mengawasi ke arah pintu. "Tapi anak laki-laki ibu tiri aku... si Hadin itu, makin berani dan melampaui batas. Aku harus makin waspada."
"Kurang ajar," desis Tania dari balik telepon. "Kalau dia berani sentuh kamu lagi, bilang sama aku, Nin. Biar Mas Ameer yang suruh orang buat beresin dia."
"Jangan dulu, Tan. Aku nggak mau rencana ku berantakan cuma gara-gara bajingan itu," potong Nina tenang, namun penuh penekanan. "Bukan cuma itu yang mau aku omongin. Aku ngerasa ada yang aneh. Sejak kemarin, perasaanku nggak enak, kaya ada yang lagi ngawasin gerak-gerikku."
Di seberang sana, hening sejenak sebelum Tania menghembuskan napas berat.
"Firasatmu nggak salah, Nin," ujar Tania dengan nada yang berubah sangat serius. "Tadi sore sistem enkripsi data kamu yang di desa sempat kena jebol secara halus. Ada yang nyoba ngelacak latar belakang kamu sampai ke akar-akarnya."
Dahi Nina berkerut tajam. "Siapa? Orang suruhan Faris?"
"Bukan. Orang Faris nggak secerdas itu," sahut Tania mantap. "Pihak yang nyoba membobol ini punya akses dan keahlian tingkat tinggi. Mereka cukup pintar buat menghapus jejak digital mereka sendiri begitu selesai menyusup. Tapi tenang aja, Aku minta bantuan tim peretas kepercayaan Mas Ameer , yang udah berhasil membelokkan datanya lebih dulu. Yang berhasil mereka lihat cuma profil kamu sebagai gadis desa polos yang lemah."
Nina terdiam. Otaknya berputar cepat mencerna informasi itu. Jika bukan Faris, berarti ada pihak lain yang jauh lebih berbahaya dan tak tersentuh sedang mengamatinya dari balik layar.
"Siapa pun dia, dia punya sumber daya yang besar," gumam Nina dingin. "Makasih ya, Tan. Kalau bukan karena kamu, identitasku pasti udah dibongkar."
"Selalu, Nin. Jaga dirimu baik-baik di sana. Kalau ada hal mencurigakan lagi, langsung hubungi aku."
Setelah panggilan terputus, Nina menghembuskan napas kasar. Rasa lelah yang menumpuk seolah menekan dadanya. Ia merogoh dompet kecil lusuh yang selalu dibawanya dari desa, lalu mengeluarkan selembar foto bertepi kusam yang mulai menguning.
Foto almarhumah ibunya. Satu-satunya kenangan fisik yang tersisa dari sosok wanita lembut yang matinya sia-sia akibat pengkhianatan Faris.
Jemari Nina mengelus perlahan permukaan foto itu. Di balik hijab dan wajah polos yang sengaja ia tunjukkan pada dunia luar, matanya kini memancarkan kilat kejam dan amarah yang murni.
"Ibu..." bisik Nina dengan suara bergetar namun dingin bak es. "Nina udah sampai di sini. Rumah yang dibangun di atas penderitaan Ibu. Nina janji, mereka semua akan bayar harga yang setimpal untuk setiap tetes air mata Ibu dulu."
"Maafkan Nina kalau Nina menuntut keadilan pada ayah, Nina tidak seperti ibu yang selalu pasrah... walaupun Nina tahu, dendam itu tidak baik..., semoga Ibu tenang di sana, Nina selalu doain Ibu..."
Ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, memeluk foto itu erat di dadanya, bersiap menghadapi catur permainan mematikan yang esok hari akan dimulai.
sungguh terlalu kamu Faris
gantung banget cerita nya Thorrrr
next 💪💪🥰🥰