Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.
Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Tae-jun merenggangkan pelukannya sedikit, menghentikan usapan jemarinya di rambut Ji-eun. Matanya menatap lurus ke dalam iris mata perempuan itu. Di balik keremangan cahaya lampu sudut ruang tengah, Ji-eun bisa melihat dengan jelas bagaimana pendar ketenangan di mata Tae-jun perlahan berganti menjadi sangat serius.
"Ji-eun-a..." panggil Tae-jun dengan suara yang mendadak berubah menjadi amat rendah dan serak.
"Ya?" bisik Ji-eun. Deru napasnya mulai tak teratur saat merasakan jemari Tae-jun yang menangkup wajahnya bergerak menyusuri garis rahang hingga ke lehernya.
Tae-jun tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memajukan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Ji-eun, menyapu kulit halus itu dengan napasnya yang hangat. "Malam ini... aku tidak ingin menahannya lagi. Aku ingin memilikimu sepenuhnya. Apa kau mengizinkanku?"
Pertanyaan yang terucap penuh ketulusan dan kepasrahan itu membuat dada Ji-eun bergetar hebat. Tidak ada lagi keraguan yang tersisa di lubuk hatinya. Rasa takut akan risiko, status jabatan, atau batas-batas yang dulu memisahkan mereka telah lebur tak berbekas. Yang tersisa hanyalah rasa cinta yang membuncah dan kerinduan mendalam untuk menyatu dengan pria yang telah menjadi tempat amannya ini.
Ji-eun mengangkat kedua tangannya, melingkarkannya di leher Tae-jun, lalu mengangguk pelan. "Milikilah aku, Tae-jun-ssi."
Jawaban sederhana itu seperti kunci yang membuka slot pertahanan terakhir Tae-jun. Tanpa menunggu sedetik pun, Tae-jun menundukkan kepalanya dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang mendalam.
Ciuman kali ini sangat berbeda dari ciuman sebelum-sebelumnya. Ada tumpahan gairah yang begitu besar, kerinduan yang terpendam sekian lama, serta rasa cinta yang teramat pekat. Tae-jun menuntut dan memberi di saat yang bersamaan, meresap setiap rasa hangat dari bibir Ji-eun. Ji-eun membalas pertautan itu dengan kepasrahan yang manis, menyisipkan jemarinya di antara helai rambut hitam Tae-jun dan menarik pria itu makin rapat.
Dengan gerakan penuh kehati-hatian namun pasti, Tae-jun menyelipkan satu tangannya di bawah lipatan lutut Ji-eun dan tangan lainnya di punggung perempuan itu. Ia mengangkat Ji-eun ke dalam gendongannya tanpa memutus ciuman mereka. Ji-eun merengkuh bahu kokoh Tae-jun erat-erat saat pria itu melangkah mantap menembus kegelapan menuju kamar tidur utama.
Di dalam kamar yang hanya ada pendar samar sinar bulan dari balik jendela besar, Tae-jun membaringkan Ji-eun di atas tempat tidur berseprai lembut dengan amat hati-hati, seolah-olah Ji-eun adalah barang porselen paling berharga di dunia. Ia menyusul berdiri di atas peraduan itu, menatap Ji-eun yang terbaring dengan napas memburu dan tatapan mata yang dipenuhi kehangatan.
Tae-jun melepas kemeja santainya secara perlahan, menyingkirkannya ke lantai, memperlihatkan dada bidangnya yang kokoh. Jemari Tae-jun kemudian beralih ke kancing pakaian Ji-eun. Tangannya yang biasanya sangat tenang, kini sedikit bergetar halus, getaran dari seorang pria yang diliputi ketakjuban dan keinginan mendalam pada perempuan yang teramat dicintainya.
Satu per satu helai pakaian yang menutupi tubuh mereka menanggalkan diri, menyisakan dua jiwa yang berdiri sepenuhnya tanpa sehelai pakian apapun di hadapan cinta dan gairah. Tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi rahasia.
Tae-jun menunduk, menyusuri garis leher Ji-eun dengan ciuman-ciuman kecil yang hangat dan intens, membakar setiap jengkal kulit yang disentuhnya. Setiap kecupan, sentuhan jemari, dan bisikan lembut yang keluar dari bibir Tae-jun dipenuhi dengan pemujaan yang mendalam. Ia tidak terburu-buru, ia menikmati setiap detik perjalanan itu, memastikan Ji-eun merasakan betapa berharganya ia di mata Tae-jun.
"Kau sangat indah, Han Ji-eun," bisik Tae-jun penuh takjub di atas bibir Ji-eun, sebelum kembali menyatukan bibir mereka.
Desahan pelan terlepas dari bibir Ji-eun saat jemari Tae-jun mengusap pinggulnya, menyalurkan kehangatan yang membuat seluruh persendiannya terasa meluruh. Sentuhan Tae-jun begitu lembut namun sarat akan dominasi yang penuh perlindungan. Setiap kali napas mereka bertabrakan, Ji-eun bisa merasakan betapa dalam pria ini tenggelam dalam perasaannya. Tae-jun yang biasanya dingin dan rasional kini benar-benar bertekuk lutut di hadapan cinta untuk Ji-eun.
Ketika menyatukan tubuh mereka menjadi satu, keheningan malam pecah oleh helaan napas yang dalam dan desah bahagia yang mengalun pasrah. Tae-jun memejamkan mata sejenak, menahan napasnya saat merasakan kehangatan dan keutuhan yang menyergap jiwanya. Ia menyatukan jemarinya dengan jemari Ji-eun di atas bantal, menggenggamnya erat-erat seolah tak ingin melepaskannya lagi.
"Lihat aku, Ji-eun-a," bisik Tae-jun serak.
Ji-eun membuka kelopak matanya yang terasa berat oleh luapan emosi. Dalam keremangan malam, mata mereka saling mengunci. Di sana, di dalam peraduan yang intim itu, mereka bergerak dalam ritme yang tenang namun membakar, berpadu antara gairah yang membara dan kepasrahan emosional yang murni.
Setiap sentuhan bukan sekadar pelampiasan hasrat fisik, melainkan sebuah pengakuan tulus tanpa kata. Tae-jun menyalurkan seluruh rasa terima kasih, kerinduan, dan janji perlindungan melalui setiap ketukan ritme yang ia berikan. Sementara Ji-eun menyerap seluruh kehangatan itu, membalasnya dengan dekap erat dan kecupan-kecupan hangat di bahu serta dada Tae-jun, membuktikan bahwa ia sepenuhnya percaya dan menyerahkan hatinya tanpa rasa takut lagi.
Puncaknya adalah mereka terbawa ke awan-awan paling tinggi, meleburkan seluruh sisa beban kehidupan dalam satu ketukan napas bersama yang membuncah hebat. Desahan napas yang memburu dan pelukan erat yang tak mau terlepas menjadi saksi bisu bersatunya dua insan yang telah menemukan belahan jiwanya.
Beberapa saat setelah mereda, keheningan yang amat damai kembali menyelimuti kamar tidur. Suara deru napas mereka yang perlahan teratur menjadi irama penenang di dalam kegelapan.
Tae-jun menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua dari terpaan udara malam yang dingin. Ia kemudian memiringkan tubuhnya, merengkuh Ji-eun ke dalam pelukannya. Kepalanya Ji-eun bersandar nyaman di dada bidang Tae-jun, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup hangat dan konstan di bawah telinganya.
Tae-jun mengusap-usap punggung polos Ji-eun dengan telapak tangannya yang hangat, sesekali mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala dan dahi perempuan itu.
"Apa Kau lelah?" tanya Tae-jun lembut, suaranya terdengar sangat hangat dan dalam.
Ji-eun mengukir senyum tipis dalam dekapannya, melingkarkan satu tangannya di pinggang Tae-jun. "Sedikit... tapi aku merasa sangat bahagia."
Tae-jun terkekeh pelan, tawa renyah yang bergetar lembut di dadanya. Ia mengecup kening Ji-eun sekali lagi, kali ini lebih lama, seolah ingin mengukir perasaan malam ini di dalam memorinya selamanya.
"Terima kasih, Ji-eun-a," bisik Tae-jun tulus.
Ji-eun mendongak sedikit, menatap garis rahang Tae-jun yang tegas dalam keremangan. "Terima kasih untuk apa?"
"Untuk segalanya," jawab Tae-jun pelan namun sarat akan keseriusan. "Terima kasih karena sudah percaya padaku. Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan untuk mencintaimu seperti ini. Selama hidupku, aku tidak pernah merasa seutuh dan sedamai ini."
Hati Ji-eun tersentuh hingga matanya terasa sedikit berkaca-kaca. Ia menyatukan bibirnya ke dada Tae-jun, memberi kecupan hangat di sana. "Aku juga, Tae-jun-ssi. Dulu aku selalu berpikir bahwa aku harus berjuang sendirian untuk bertahan hidup. Tapi malam ini, aku sadar kalau aku tidak perlu takut lagi."
Tae-jun mempererat pelukannya, membawa tubuh Ji-eun makin rapat seolah ingin menyatukan mereka agar tak ada celah udara sedikit pun yang memisahkan. "Kau tidak akan pernah sendiri lagi. Mulai malam ini dan seterusnya, apa pun yang akan terjadi di luar sana, Kau punya aku."
Di luar jendela, sang surya masih enggan membiaskan cahayanya, membiarkan malam menyelimuti dunia rahasia yang telah mereka bangun bersama. Di dalam kamar yang hangat itu, di atas peraduan yang menjadi saksi tumpahan gairah dan cinta mereka, Tae-jun dan Ji-eun akhirnya memejamkan mata. Mereka tertidur berdampingan dalam dekapan erat, menyongsong hari esok bukan lagi sebagai dua jiwa yang ragu, melainkan sebagai pasangan yang telah terikat utuh oleh cinta yang tak terkoyakkan.
...****************...