"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembukaan Daurah
Habis Subuh tadi, acara pembukaan daurah tahfidz akhirnya dimulai. Aku berdiri di depan para peserta sambil membawa catatan yang sudah kusiapkan sejak semalam.
Aku menyampaikan poin-poinnya persis seperti yang disampaikan Ustadz Alam kemarin waktu rapat. Tentang tujuan daurah, target yang ingin dicapai, jadwal kegiatan, sampai beberapa aturan yang harus diperhatikan selama program berlangsung.
Aku hanya berusaha menyampaikan semuanya sebaik mungkin.
Sesekali mataku menyapu ruangan. Para santri terlihat menyimak. Beberapa mencatat, sebagian lainnya hanya duduk diam mendengarkan.
Anehnya, di tengah aku berbicara, pikiranku justru sempat melayang pada rapat kemarin.
Entah kenapa, aku sangat terkesan dengan penyampaian ustadz Alam di rapat kemaren.
Aku segera menepis pikiran itu.
Fokus. Ini bukan waktunya memikirkan hal lain.
Aku kembali melihat catatan di tangan, lalu melanjutkan penjelasan hingga seluruh rangkaian pembukaan selesai.
Setelah mengucapkan salam penutup, aku menarik napas lega.
Satu tugas selesai.
Tapi entah kenapa, sejak pagi tadi ada perasaan aneh yang belum juga hilang dari dadaku.
Setelah acara pembukaan selesai, aku pergi ke kantor. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan. Salah satunya mengambil berkas kelompok halaqah tahfizh santri.
“Assalamu’alaikum.”
Di dalam kantor, ternyata ada salah seorang ustadzah yang sedang berjaga.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.”
“Ada perlu apa, Usth?” tanyanya.
“Mau ambil berkas kelompok tahfizh, Usth.”
Aku langsung berjalan menuju meja komputer. Setelah menemukan berkas yang kucari, aku membawanya dan menempelkannya di dinding yang sudah disediakan.
Belum sempat aku beranjak, ustadzah tadi kembali bertanya.
“Antum mengampu siapa saja, Usth?”
Aku memperhatikan daftar nama yang tertempel di sana.
“Siapa ini... tidak kenal semua.”
Jawabanku membuatnya tertawa kecil.
“Ya maklum, antum kan baru.”
Kemudian beliau mendekat dan ikut memperhatikan daftar tersebut.
Tiba-tiba matanya berhenti pada satu nama.
“Wah... antum sama Auliya, Usth.”
“Auliya?”
“Iya. Dia anak spesial, Ustadzah.”
Beliau mengucapkan kata spesial sambil menggerakkan jari telunjuk dan jari tengahnya, seolah memberi tanda kutip.
Aku langsung penasaran.
“Memangnya kenapa, Usth?”
“Dia termasuk yang susah hafalan, Usth. Tapi juga agak malas.”
Aku hanya mengangguk sambil memperhatikan nama Auliya.
“Dulu dia cuma mau setoran sama Ustadzah Aisyah.”
Tanganku yang tadi sedang merapikan ujung kertas mendadak berhenti.
“Ustadzah Aisyah?”
“Iya.”
“Cucunya Umi?”
Beliau mengangguk.
“Iya. Kebetulan namanya sama kayak antum, Usth. Cuma Aisyah.”
Aku ikut mengangguk sambil tersenyum kecil.
“Aisyah…”
Nama itu kembali terdengar.
Padahal hanya nama.
Tapi entah kenapa, nama itu membuatku merasa aku bukan apa-apa.
Dan sekarang dari cerita seorang ustadzah di kantor.
Aku mencoba bersikap biasa saja.
“Oh… begitu.”
Aku kembali melihat daftar nama di dinding.
Namun di dalam hati, tiba-tiba muncul sebuah pikiran yang membuatku tersenyum getir.
Mungkin beliau memang jauh lebih baik dariku.
Aku tahu sedikit tentang dirinya.
Beliau sudah hafidzah.
Sedangkan aku?
Aku baru hafal setengah Al-Qur’an.
Aku menundukkan wajah.
Bukan karena iri.
Justru sebaliknya.
Ada rasa kagum yang sulit kujelaskan.
Bagaimana mungkin seseorang yang bahkan belum pernah kutemui bisa membuatku merasa kecil hanya dengan mendengar sedikit tentang dirinya?
Aku menarik napas pelan.
Kalau memang benar beliau sebaik yang diceritakan orang-orang... lalu aku ini siapa?
Pikiran itu membuat senyumku perlahan hilang.
Aku menatap kembali nama Auliya.
“Baiklah,” gumamku dalam hati.
“Kalau dulu dia hanya mau setoran kepada Ustadzah Aisyah, berarti tugasku sekarang adalah membuatnya mau setoran kepadaku.”
Aku tersenyum tipis.
Setidaknya untuk urusan itu, aku tidak boleh kalah.
Bukan untuk membuktikan bahwa aku lebih baik dari Ustadzah Aisyah.
Justru sebaliknya.
Mungkin dengan mengajari anak ini, aku bisa belajar sesuatu.
Tentang kesabaran.
Tentang Al-Qur’an.
Dan mungkin juga tentang diriku sendiri.
Aku kembali merapikan berkas-berkas di tanganku.
Namun satu hal tetap mengganjal di kepala.
Seperti apa sebenarnya Ustadzah Aisyah itu?
Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya.
Aku mulai memikirkan rencana untuk Auliya.
Aku tidak ingin langsung menuntutnya menambah hafalan banyak-banyak. Kalau sejak awal aku hanya mengejar target, mungkin dia justru semakin malas.
Aku ingin membangkitkan semangatnya terlebih dahulu.
Aku akan menerapkan metode yang pernah disampaikan Ustadz Alam dalam rapat. Memberikan target yang ringan, membuat santri merasa mampu mencapainya, lalu memberikan apresiasi ketika mereka berhasil.
Setelah itu, barulah sedikit demi sedikit targetnya dinaikkan.
Mungkin sederhana.
Tapi aku percaya, terkadang seorang anak bukan tidak mampu menghafal. Dia hanya belum menemukan alasan untuk bersemangat.
Dan aku ingin menjadi orang yang membantunya menemukan alasan itu.
Aku sendiri sebenarnya masih belajar.
Bahkan hafalanku belum sampai satu Al-Qur'an penuh. Masih setengah.
Tapi mungkin justru karena itu aku bisa memahami perasaan seseorang yang sedang berjuang menghafal.
Aku tahu rasanya mengulang ayat berkali-kali lalu tetap lupa.
Aku tahu rasanya membuka mushaf dengan semangat, kemudian beberapa menit kemudian pikiran sudah ke mana-mana.
Dan aku tahu betapa mudahnya seseorang merasa bahwa dirinya tidak berbakat dalam menghafal.
Aku tidak ingin Auliya merasakan itu sendirian.
Kalau dulu dia hanya mau setoran kepada Ustadzah Aisyah, tidak masalah.
Aku tidak perlu menggantikan posisi beliau.
Aku hanya perlu membuat Auliya percaya bahwa bersama aku pun dia bisa belajar.
Aku tersenyum lagi.
“Semoga berhasil.”
Namun di dalam hati, ada satu hal lain yang diam-diam membuatku semakin bersemangat.
Aku ingin tahu seperti apa metode Ustadzah Aisyah dalam membimbing Auliya dulu.
Bukan karena aku ingin membandingkan diriku dengannya.
Entah kenapa justru karena aku ingin belajar dari seseorang yang bahkan belum pernah kutemui.
Aku menghela napas.
jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏