"Aku tidak butuh pernikahan. Tak ada satupun wanita yang bisa menggantikan posisi cinta pertamaku.”
Di usianya yang sudah matang, Arsen Winston, pewaris tunggal Winston Group berada di puncak kejayaan. Namun, tekanan keluarga menuntutnya untuk segera berumah tangga. Menolak menyerah pada pendirian sang putra, Adrian, sang ayah, merancang rencana gila dengan menyewa seorang wanita malam demi mendapatkan keturunan.
Namun, sebuah kesalahan fatal terjadi. Wanita yang menghabiskan malam dengan Arsen bukanlah wanita sewaan sang ayah, melainkan seorang gadis misterius yang menghilang tanpa jejak.
Lima tahun berlalu…
Di atas kapal pesiar mewah, sebuah insiden mengerikan hampir merenggut nyawa seorang bocah perempuan. Arsen bertindak cepat untuk menyelamatkannya. Namun, saat tatapan mereka bertemu, jantung Arsen seolah berhenti berdetak.
Anak menggemaskan itu memiliki garis wajah yang sangat identik dengannya, bahkan punya alergi sepertinya.
“Hai bocah, kamu tidak suka kacang?”
“Ndak cuka, bikin gatal-gatal badan Lupia. Paman Endut ndak cuka kacang juga?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daddy Tidak Gendut!
“Lucky! Lucian! Lepaskan selotipnya!” Bram panik melihat Adrian yang matanya sudah mendelik tajam, siap meledak dari balik selotip yang menyumbat mulutnya.
Dengan gerakan cepat, Bram buru-buru melepas selotip di mulut sang kaisar bisnis itu. “Tuan Besar Winston! Maafkan mereka! Mereka masih kecil dan tidak tahu apa-apa.”
Adara mengerutkan kening, mengamati paniknya Bram dengan tatapan bingung.
“Paman Bram, kenapa harus berlebihan seperti itu?”
“Adara! Bukan dia! Bukan!” potong Bram memegang kedua bahu Adara. “Dia… Tuan Adrian Winston! Tuan Besar pendiri Winston Group! Dia bukan pria malam itu yang kau ceritakan kemarin!”
Kalimat Bram menggantung di udara seperti bom waktu.
"A-apa? Bukan dia...?"
“Bukan!” pangkas Bram cepat. “Pria yang kamu cari itu Arsen Winston, CEO Winston Group yang baru. Anak dari Tuan Besar ini. Pria bongsor dan galak yang kamu tabrak tadi... dialah ayah biologis si kembar!”
JELEGAR!
Bagai disambar petir di siang bolong, sekujur tubuh Adara membeku kaku. Potongan-potongan kejadian langsung berputar di kepalanya. Pria berbadan tegap seperti tembok yang menatapnya murka dan menangkap lengannya serta menyebutnya 'wanita gila'...
Pria bongsor itu... Arsen? Pria gagah malam itu?! Tidak mungkin! Orangnya sangat berbeda!
Sementara Adara yang masih dalam syok berat, Adrian di atas kursi kayu menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun menahan emosi. Tatapan tajam sang Tuan Besar menancap tepat ke wajah Adara dan Bram.
“Jadi... kalian menculik saya karena mengira saya ini Arsen?” decak Adrian dengan suara berat yang menakutkan, memancarkan aura intimidasi kelas tinggi.
Lucky dan Lucian saling pandang. Lalu lalu memiringkan kepalanya polos, dan menunjuk Adrian. “Jadi... Kakek tua ini bukan Daddy kita? Tapi Kakek kita?”
Adrian mencoba melonggarkan ikatan di tangannya. “Tepat sekali, anak nakal! Dan jika Arsen sampai ke sini bersama pasukannya—”
Dengan canggung, Adara membungkuk cepat di hadapan sang Tuan Besar.
“M-maafkan saya. Kami benar-benar salah orang, Tuan,” ucap Adara malu.
Adrian menghela napas panjang, meredam emosinya. “Jadi... bagaimana bisa kau berakhir dengan putraku malam itu?”
Adara melirik Bram, memberi sinyal penuh arti agar membawa si kembar menjauh. Memahami arah pembicaraan yang tidak pantas didengar telinga anak-anak, Bram langsung merangkul Lucky dan Lucian. “Ayo, kalian bantu saya bikin makan siang di dapur!” ujarnya sembari menggiring dua bocah itu keluar dari ruang tengah.
Setelah tersisa berdua, Adara mendudukkan dirinya di sofa dengan bahu terkulai. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum memulai bercerita.
“Malam itu... aku mengira Arsen adalah gigolo yang disewakan oleh bibiku agar aku bisa melupakan mantan suamiku,” aku Adara jujur dan penuh penyesalan.
“Aku sama sekali tidak tahu kalau dia adalah CEO Winston Group. Aku tidak punya niat jahat pada keluarga Anda, Tuan. Aku murni hanya ingin melampiaskan rasa sakit hatiku saat itu.”
Adrian manggut-manggut menyimak, mencerna setiap kata dari wanita di depannya. Matanya melirik sebentar ke arah dapur sebelum kembali menatap Adara. “Jadi... dua bocah ajaib di dalam itu... saudara kandung Luvia?”
“Benar, Tuan,” jawab Adara mantap.
“Gara-gara malam itu aku melahirkan tiga bayi kembar. Tapi sekarang, Luvia berada di tangan putra Anda. Saya mohon, Tuan... tolong kembalikan putri saya.”
Adrian menyipitkan mata. “Setelah Luvia kembali, apa yang akan kau lakukan?”
“Saya akan langsung membawa mereka bertiga kembali ke London. Kami tidak akan pernah muncul atau mengganggu keluarga Winston lagi. Anggap saja anak-anak ini tak pernah ada kaitannya dengan Anda,” tegas Adara.
Mendengar itu, tangan Adrian yang masih terikat spontan mengepal erat.
Enak saja! Kau mau membawa pergi tiga cucu kandungku yang lucu dan jenius itu ke luar negeri? Tidak bisa!
Sambil berusaha tetap terlihat tenang dan berwibawa, Adrian mengulas senyum misterius. “Baiklah. Aku bersedia mengembalikan Luvia kepadamu... tapi ada syaratnya.”
Adara mendongak, matanya berbinar penuh harapan. “Sebutkan, Tuan! Apa pun syaratnya, akan saya lakukan demi anak-anak saya.”
Adrian menyeringai tipis, mengutarakan syaratnya dengan nada santai tanpa beban.
“Menikahlah dengan putraku.”
EH?!
Adara meloncat berdiri dari kursinya. Matanya membulat sempurna.
“M-menikah?!”
Niat hati Adara ingin lari sejauh mungkin dari Arsen, namun Adrian justru sengaja menyodorkannya ke dalam perangkap sang putra. Bukan tanpa alasan, Adrian sudah sangat muak melihat putranya yang masih belum nikah-nikah, dan juga melupakan cinta pertamanya.
“Bagaimana? Syaratnya sangat mudah, bukan?” tawar Adrian santai, tak mempedulikan syok berat yang dialami Adara.
Adara mendadak bungkam. Otaknya bekerja keras memproses penawaran gila ini.
Menikahi pria sombong, galak, dan bongsor itu? Apa hidupku dan anak-anak akan baik-baik saja? Aku sudah pernah sekali gagal dalam rumah tangga... Aku takut luka lama ini terbuka lagi.
Di satu sisi, Adara tahu betul betapa si kembar sangat merindukan sosok seorang Ayah. Namun disisi lain, bayangan pengkhianatan Erlangga di masa lalu masih menancapkan rasa trauma yang amat dalam di dadanya.
“Apa tidak ada syarat lain? Misalnya—”
“TIDAK ADA!” pangkas Adrian cepat dan tegas.
Adara menundukkan kepalanya. Tanpa mereka sadari, dua pasang mata dari balik pintu dapur sibuk mengawasi. Sementara itu, Bram sedang asyik menerima telepon dari Rosa yang menanyakan kelanjutan misi mereka.
“Kak Lucian, kalau Kakek tua itu bukan Daddy, terus Daddy ada di mana? Beneran mirip kita tidak?” bisik Lucky bingung.
Lucian menarik tablet milik Adara dari tas ranselnya. Dengan jemari mungil yang lincah, bocah jenius itu mencari profil CEO Winston. Dalam hitungan detik, layar tablet dipenuhi foto-foto terbaru Arsen Winston. Kedua bocah itu terpaku menatap sosok pria berbadan tegap dan berpipi gempal yang jauh berbeda dari sang kakek.
“Lucky, ini Daddy!” tunjuk Lucian pada foto Arsen.
“Paman bulat ini Daddy?! Tidak mungkin! Mukanya saja tidak mirip kita, Kak!” protes Lucky menolak kenyataan.
“Lihat baik-baik! Mukanya mirip sekali sama Luvia. Dia memang Daddy kita, dan dia masih muda!” kekeh Lucian yakin.
Lucky menghentakkan kakinya ke lantai, tak terima. Mana gambaran Ayah gagah, tampan, dan berwibawa yang selama ini ada di imajinasinya? Kenapa malah berubah jadi paman-paman bulat yang menakutkan?
“TIDAAAAK! KAK LUCIAN BOHONG! Huwaaa… Daddy-ku tidak gendut begini!”
PLAK!
Lucian menepuk dahinya. Tanpa buang waktu, ia mengambil sebatang pisang dari meja dan langsung menjejalkannya ke mulut Lucky.
HAP!
Tangisan Lucky terhenti seketika.
“Tenang dulu, Lucky! Walaupun Daddy bulat begini, dia masih muda dan bisa kurusan lagi. Jangan menangis terus, manja sekali!” sentak Lucian capek menghadapi sifat adiknya.
Dengan mulut penuh pisang, Lucky bergumam, “Cawanya?”
“Kalau mau tahu, kita harus tinggal dulu bersama Daddy dan Luvia,” bisik Lucian penuh rahasia.
“Cawanya?” tanya Lucky penasaran dan mengambil satu buah pisang lagi.
Lucian berdecak gemas. “Bantu Kakek membujuk Mommy pindah!”
“Cawanya? Nyam... Nyam...”
Mendengar kata yang sama diulang untuk ketiga kalinya, Lucian memutar bola matanya malas. “Tahu ah, pikir saja sendiri!” cetus Lucian dongkol, lalu keluar dari dapur menghampiri Adara dan Adrian.
“KAK WUCIAN, TUNGWUUU!” teriak Lucky berlari dengan mulut penuh buah pisang manis.
Arsen hancur kan mereka,,, ingat yea Adara jgn mudah tertipu dan luluh sama ibu yg sudah membuang mu