Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Hanya Seorang Asing
Lampu kilat dari kamera fotografer menyambar berulang kali, menyilaukan mata dan memantulkan kilatan cahaya di studio foto yang luas itu. Musik bertempo cepat memenuhi ruangan, berpadu dengan teriakan petunjuk dari sang fotografer yang tak henti-hentinya mengarahkan gaya.
“Bagus! Ethan, sedikit lebih dekat lagi dengan Sarah! Rangkul pinggangnya, beri tatapan penuh kerinduan pada Sarah. Bayangkan seolah kalian sudah lama tidak bertemu!” seru sang fotografer dari balik kameranya.
Ethan berdiri kaku di bawah sorotan lampu lighting yang menyengat. Tangan kanannya terangkat ragu-ragu mendarat di pinggang Sarah Parker, seorang aktris papan atas yang menjadi lawan mainnya dalam proyek film drama romantik terbaru mereka.
Namun, alih-alih memberikan tatapan penuh kerinduan seperti yang diminta, tatapan mata Ethan justru kosong. Pandangannya menembus bahu Sarah, melayang jauh ke sebuah toko perhiasan yang tenang dan dingin.
“Teknisi kami sudah memeriksa pengaitnya, Tuan Ethan.”
Suara Mia kembali bergema di kepala Ethan. Datar. Dingin. Tanpa cela, namun penuh dengan jarak yang memutus segala harapan.
“Ethan! Cut!” tegur fotografer seraya menurunkan kameranya dengan raut wajah sedikit frustrasi.
“Ada apa denganmu hari ini? Tatapan matamu seperti orang yang sedang memikirkan tagihan listrik. Ini adegan puncak untuk poster film kita, man! Mana emosinya?”
Sarah menghela napas pelan, memutar tubuhnya lalu menatap Ethan dengan kening berkerut. Ia merapikan gaun malamnya yang mewah sebelum menepuk pelan dada Ethan.
“Kamu baik-baik saja, Ethan?” tanya Sarah halus, suaranya dipenuhi rasa heran.
“Sejak tadi gerakanmu kaku sekali. Ini bukan seperti Ethan Voss yang aku kenal,” imbuh Sarah.
Ethan tersentak kecil, seolah baru saja ditarik paksa kembali ke realita. Ia melepaskan pegangannya dari pinggang Sarah, lalu mengusap wajahnya yang mulai dibasahi keringat tipis dengan kasar.
“Maaf. Aku... aku cuma agak kurang tidur,” kilah Ethan dengan suara serak.
Rasa sesak yang teramat sangat tiba-tiba menghantam dadanya. Setiap kali ia mengingat mata Mia yang menatapnya lurus tanpa riak emosi pagi tadi, dadanya serasa diremas kuat. Mia tidak marah, tidak juga menangis. Wanita itu hanya memperlakukannya seperti orang asing. Seperti pelanggan biasa yang kebetulan membawa uang banyak.
Dan yang paling menyakitkan dari semua itu adalah rasa familiar yang menghantuinya. Sikap dingin Mia padanya saat ini... adalah cerminan sempurna dari sikapnya sendiri kepada Mia beberapa tahun lalu. Saat ia sibuk mengejar ambisi, saat ia memprioritaskan karier dan lampu sorot Hollywood, ia mengacuhkan Mia seolah wanita itu tidak pernah penting dalam hidupnya.
“Kita rehat sepuluh menit!” seru fotografer akhirnya, menyadari bahwa sang bintang utama sedang tidak berada dalam kondisi terbaiknya.
Ethan langsung berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Langkah kakinya membawa dirinya menjauh dari area pemotretan, mengabaikan manajernya yang baru saja berdiri hendak menyerahkan botol air mineral. Ia menerobos masuk ke dalam ruang ganti pribadinya dan mengunci pintu dari dalam.
Ia berjalan lunglai menuju meja rias bercermin tebal. Menumpukan kedua tangannya di tepi meja seraya menunduk dalam-dalam sambil mengatur napasnya yang memburu. Bayangan wajah Mia yang tersenyum formal kepadanya terus berputar di benaknya, membakar sisa-sisa ketenangannya.
“Tuan sudah melihat hampir seluruh koleksi utama kemarin bersama Nona Jane.”
Kata-kata Mia itu bukan sekadar penolakan. Itu adalah teguran telak bahwa Ethan sudah memiliki kehidupan lain, dan Mia tahu batas dirinya.
“Brengsek...” umpatnya lirih pada dirinya sendiri.
Ia mengangkat kepala, menatap pantulan dirinya sendiri dalam cermin. Pantulan Ethan Voss, seorang pria berbakat, tampan, dan dipuja jutaan orang. Namun di mata Mia, ia hanyalah pria asing yang tidak berarti apa-apa.
Ethan meremas tepi meja rias hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang merah menatap tajam pantulannya sendiri di cermin itu mencoba mencari jawaban atas kekacauan yang kini menguasai dadanya.
“Apa yang terjadi padamu, Ethan? Kenapa... kenapa baru sekarang? Kenapa sekarang aku...” bisiknya dengan suara bergetar, nyaris berupa bisikan yang tertahan di tenggorokan.
Setiap kata, setiap tatapan dingin Mia pagi tadi seperti sembilu yang menguliti kesombongannya. Dahulu, ketika Mia masih ada di jangkauannya, dengan mudah ia memalingkan wajah. Seolah Mia hanyalah debu yang beterbangan di sekitarnya.
Namun kini, ketika Mia akhirnya melangkah pergi dan menutup pintu rapat-rapat, rasa kehilangan justru datang menghantamnya tanpa ampun.
Rasa sakit ini teramat asing baginya. Hatinya seperti diremas saat menyadari bahwa tatapan tanpa riak emosi dari Mia jauh lebih menyiksa daripada kemarahan yang meluap-luap. Sikap dingin itu adalah bukti bahwa Mia benar-benar telah membuangnya dari hatinya.
“Kenapa hatiku harus sesakit ini cuma karena dia menganggapku tak ada?” gumamnya seraya memejamkan mata.
Ia terbiasa dipuja, dicintai, dan diinginkan oleh jutaan orang. Namun seluruh cinta dari dunia terasa tak bernilai saat satu-satunya wanita yang pernah tulus mencintainya kini memandangnya tak lebih dari seorang asing.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan keras di pintu kayu ruang ganti membuyarkan lamunan Ethan seketika. Suara Marcus, manajernya, terdengar dibalik pintu itu dengan nada terburu-buru.
“Ethan! Sepuluh menit sudah lewat. Fotografer dan tim sudah siap di set. Kamu harus keluar sekarang.”
Ethan memejamkan mata sejenak, menahan napas panjang untuk menetralkan rasa sesak yang masih bergelora di dadanya. Ia menghembuskan napas itu perlahan, mencoba memoles kembali topeng profesionalisme yang biasa ia kenakan.
Ia kemudian melangkah mendekati pintu, memutar kunci, dan membukanya. Marcus berdiri di luar dengan botol air mineral dan ponsel yang tak berhenti bergetar.
“Kamu baik-baik saja, Ethan?” tanya Marcus seraya memperhatikan wajah Ethan yang masih sedikit pucat.
“Kamu kelihatan kusut sekali hari ini. Kamu yakin bisa melanjutkan ini? Kalau kamu kurang enak badan, sebaiknya kita tunda saja sampai besok.”
“Aku baik-baik saja,” jawab Ethan singkat, suaranya datar dan dingin. Ia berjalan melewati Marcus kembali menuju riuhnya studio foto tanpa menoleh sedikit pun pada manajernya itu.
Marcus mengerutkan dahinya heran. Sejak Ethan bercerai dari Mia, pria itu terlihat aneh belakangan ini. Ia curiga Ethan sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Di seberang, lampu lighting kembali menyengat kulit Ethan saat pria itu berdiri di posisinya. Sarah Parker menatapnya dengan senyum tipis dan pandangan penuh tanya. Fotografer kembali bersiap membidik gambar.
“Oke, Ethan! Ingat adegannya. Tatap Sarah seolah dia adalah satu-satunya hal yang paling kamu inginkan di dunia ini!” teriak sang fotografer.
Lampu kilat menyambar lagi. Ethan merangkul pinggang Sarah dan mendongakkan kepalanya, membiarkan kamera menangkap garis wajahnya.
Namun di balik tatapan intens yang kini ia paksakan muncul di depan kamera, rasa hampa itu makin membanting jiwanya.
Ia bisa berakting menjadi pria yang jatuh cinta di depan jutaan penonton dunia. Tetapi di kehidupan nyata, satu wanita membuatnya kebingungan.
–tbc–