Indonesia
NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Konflik etika / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

Mobil melambat, lalu berhenti tepat di depan pagar rumah kontrakan Anindya yang sederhana. Reynand turun dengan langkah cepat, jantungnya berdegup tak menentu. Ia baru saja melangkah naik ke teras, mengangkat tangan hendak mengetuk, pintu kayu itu justru terbuka dari dalam lebih dulu.

‎‎Anindya berdiri di sana. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah keluar, mendekat, lalu memeluk erat-erat tubuh pria itu, seakan takut jika melepaskannya, ia akan hilang begitu saja.

‎‎"Aku merindukanmu..." suaranya teredam di dada Reynand, bergetar pelan. "Aku merindukanmu, Rey..."

‎‎Reynand tertegun sejenak, lalu perlahan kedua lengannya melingkar di punggung Anindya, membalas pelukan itu dengan lembut namun kuat, seakan ingin menenangkan segala kegelisahan yang menyelimuti wanita itu.

‎‎"Aku juga, Anindya..." bisiknya di atas ubun-ubun wanita itu. "Aku juga sangat merindukanmu."

‎‎Ia merasakan detak jantung wanita itu yang berpacu di dadanya, napasnya yang hangat, dan getaran halus yang menandakan ia masih menahan tangis. Anindya melepaskan pelukannya perlahan, menatapnya lekat-lekat. Bibirnya bergerak pelan, seakan ingin mengatakan sesuatu yang berat, namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Alih-alih, ia menarik napas panjang, lalu bergumam lirih.

‎‎"Rey..."

‎‎Ia menggenggam tangan Reynand erat, jemarinya mencengkeram seakan mencari kekuatan.

‎‎"Ibuku sudah tahu segalanya tentang kita. Dan Ibu menentang. Semua orang menyuruhku menjauh darimu..." Suaranya pecah pelan. "Apa kamu... apa kamu yakin masih mau melanjutkan ini?"

‎‎Reynand menatapnya lekat, lalu mengusap pipi Anindya lembut dengan ibu jarinya, menghapus sisa air mata yang mulai menggenang.

‎‎"Aku akan menemui ibumu," ucapnya tegas namun lembut. "Tapi nanti. Setelah kuselesaikan semua urusanku, Anindya."

‎‎Ia menatapnya dalam, menegaskan setiap kata.

‎‎"Sabar ya... aku sedang berjuang untuk kita. Untuk masa depan kita berdua."

‎‎Anindya mengangguk pelan, air mata kembali menetes namun kali ini disertai senyum tipis yang tulus. Ia kembali melingkarkan lengannya di pinggang pria itu, menyandarkan kepalanya di dada bidang tempat ia merasa paling aman.

‎"Baik..." bisiknya lembut, menutup matanya. "Aku percaya padamu, Rey. Aku akan menunggu."

‎‎Reynand membalas pelukan itu erat, mengusap punggungnya perlahan, mencium ubun-ubun wanita itu dengan penuh rasa sayang sekaligus tanggung jawab yang berat. Ia menyadari kepercayaan ini adalah hal paling berharga yang dimilikinya, dan ia tak akan menyia-nyiakannya.

-

-

-

Udara masih terasa sejuk saat Anindya melangkah masuk ke lobi gedung perkantoran tempatnya bekerja. Ia berusaha menenangkan diri, menyisir rambutnya rapi, dan melangkah tegak, seakan hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya.

‎‎Namun baru saja kakinya melangkah melewati pintu kaca putar, suasana di lobi seketika berubah. Langkah kaki orang-orang terhenti. Suara percakapan perlahan mereda, berganti menjadi bisik-bisik yang terdengar tajam.

‎‎Anindya melangkah pelan, berusaha tak memedulikan tatapan yang tertuju padanya. Namun bisikan itu makin terdengar jelas saat ia melewati sekelompok staf yang berdiri berdekatan.

‎‎"Itu dia..."

‎"Benarkah dia yang merebut suami orang?"

‎"Masih muda, cantik... kenapa harus jadi perusak rumah tangga?"

‎"Berani sekali dia menjalin hubungan dengan bos sendiri..."

‎"Memanfaatkan kedudukan, pasti..."

‎‎Kata-kata itu menghantam telinganya satu per satu. Wajahnya memerah, napasnya tertahan, namun ia terus melangkah, berusaha menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.

‎‎Seseorang berbisik tepat saat ia lewat, ‎"Jadi sekretaris pribadi Pak Reynand, malah menggodanya... dasar gatal."

‎‎Anindya berhenti sejenak. Tubuhnya menegang. Ia ingin berbalik, ingin membela diri, ingin berkata bahwa tidak seperti itu, namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Siapa yang akan mendengarkannya?

‎‎Ia menarik napas panjang, menelan ludah yang terasa pahit, lalu melangkah kembali menuju lift. Namun belum sempat ia melangkah jauh, suara langkah tegas terdengar mendekat. Semua kepala seketika menoleh.

‎‎Reynand berjalan masuk, diikuti Hansen di sampingnya. Wajahnya tenang namun garis rahangnya mengeras, menandakan kemarahan yang tertahan. Tatapannya tak mencari siapa pun selain orang-orang yang tadi berbisik sinis.

‎‎Ia berhenti tepat di tengah lobi, suaranya terdengar jelas dan tegas, memenuhi ruangan itu.

‎‎"Siapa di antara kalian yang berani menyebarkan tuduhan tanpa bukti?"

‎‎Suasana seketika hening. Tidak ada yang berani menatapnya.

‎‎"Kalian menatapnya, menuduhnya, melukainya dengan kata-kata di tempat kerja yang seharusnya profesional!" lanjut Reynand, suaranya meninggi namun terkendali. "Ingat satu hal, setiap kata yang kalian ucapkan tanpa kebenaran adalah fitnah. Dan saya tidak akan membiarkan siapa pun menindas orang yang tidak bersalah di lingkungan ini."

‎‎Ia menatap satu per satu wajah yang menunduk tak berani menatapnya.

‎‎"Siapa pun yang masih berani membicarakan hal di luar urusan pekerjaan, menyebarkan desas-desus, atau menuduh siapa pun tanpa bukti, silakan tinggalkan gedung ini sekarang juga. Saya tidak butuh karyawan yang sibuk mengurusi kehidupan pribadi orang lain."

‎‎Hening menyelimuti lobi itu. Semua orang terdiam, menunduk, tak berani mengeluarkan suara sedikit pun.

‎‎Reynand berbalik ke arah Anindya. Wajahnya seketika melembut, namun matanya masih menyiratkan kekhawatiran. Ia melangkah mendekat, mengulurkan tangan.

‎‎"Anindya... ayo kita naik."

‎‎Anindya mengangguk pelan, lalu ketiganya melangkah masuk ke dalam lift. Pintu tertutup perlahan, menyisakan keheningan yang tenang namun penuh makna. Tidak ada yang bersuara, namun kehadiran satu sama lain terasa menguatkan. Lift bergerak naik, hingga akhirnya angka di layar berhenti di lantai tiga puluh.

‎‎Pintu terbuka. Mereka melangkah keluar menuju ruangan kerja Reynand yang luas dan tertata rapi. Begitu pintu tertutup, Reynand berbalik kepada Hansen.

‎‎"Hansen, ini tugas utamamu mulai sekarang. Dengarkan baik-baik."

‎‎"Pertama, siapkan laporan lengkap seluruh proyek yang terdampak pemutusan kerja sama dengan Wijaya Group. Cantumkan anggaran, tahap pengerjaan, dan opsi penggantian pendanaannya. Aku butuh sebelum sore."

‎‎"Kedua, susun daftar nama calon mitra baru. Prioritaskan mereka yang sudah lama menjalin hubungan baik dengan perusahaan, bukan yang baru datang saat kita butuh. Sertakan profil dan kemungkinan bentuk kerja samanya."

‎‎"Ketiga, sampaikan ke kepala setiap divisi, tetap lanjutkan pekerjaan seperti biasa. Jangan terpengaruh desas-desus. Kita akan berikan pengumuman resmi kepada seluruh karyawan nanti siang."

‎‎"Dan yang paling penting..." Reynand berhenti sejenak, suaranya menjadi lebih tegas.

‎‎"Segera urus berkas perceraian. Aku sudah menandatanganinya sejak lama. Tinggal Gisella yang belum bersedia menandatangani. Apa pun yang terjadi, mau dia tanda tangan atau tidak, sampaikan kepada tim pengacara untuk tetap ajukan berkas ini ke pengadilan hari ini juga. Prosesnya harus berjalan. Aku tidak akan menunda lagi."

‎Hansen mengangguk tegas.

‎‎"Baik, Tuan. Saya sampaikan ke pengacara sekarang. Jika Nyonya Gisella menolak menandatangani, pengajuan ke pengadilan tetap bisa dilanjutkan melalui jalur gugatan. Saya pastikan prosesnya berjalan sesuai hukum."

‎‎"Bagus," jawab Reynand tegas. "Lakukan itu. Aku ingin semuanya jelas dan sah, tanpa menunggu persetujuan yang tak kunjung datang."

‎‎"Siap, Tuan. Segera saya kerjakan."

‎‎Hansen mencatat semuanya, lalu membungkuk hormat dan bergegas keluar ruangan, menutup pintu pelan.

‎‎Kini hanya tersisa mereka berdua. Anindya menatap Reynand lekat.

‎‎"Rey..." panggilnya pelan. "Kamu yakin... tanpa persetujuannya?"

‎Reynand melangkah mendekat, mengusap pipi wanita itu lembut.

‎‎"Sudah saatnya, Anindya. Keputusan ini sudah tertunda terlalu lama. Dan aku tidak akan membiarkan ketidakpastian ini merenggut kebahagiaan kita."

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
erai kan gak harus kedua belah pihak setuju
〈⎳ FT. Zira
ancamanya aja yg gak efisien🤧
〈⎳ FT. Zira
sebutannya tetep pelakor ya walau mereka saling suka dan terjebak keadaan.. mulut netizen kan emng paling bener🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
Rey sih gak bakal mundur nin
Bunda HB
bu lady yg trhormat ank mu tdr dgn pria lain yg bernama Gavin .di namakan istri gatal...makanya di cerai sama suami nya 😅😅
🔥Violetta🔥: Astaga 🤣🤣 lady Gaga 🤭🤣✌️
total 1 replies
Fay
Kutunggu lanjutannya thor biar semangat ku kasi vote deh💪💪
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih banyak kakak 🙏😘
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
ehh... gak bisa komen.. lagi revisi katanya🤧🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
dirimu punya hak apa nglarang, suami bukan/Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira
anakmu yg nyosor duluan loh nyonyaaa
〈⎳ FT. Zira
sengaja banget ngasih terapi jantung yak🤧
🍓ADIRA🍓
Ayooo cari tau Rey... 🧐
🍓ADIRA🍓
sepertinya si binik sama kekasih gelapnya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
yg salah y statusnya Reynand 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
MBOK YA JANGAN LANGSUNG PLAK TOH BUK 😎 TANYA DULU BAEK-BAEK GTU LOH 😠
🍓ADIRA🍓
iya iya yg lgi lope lope dah /Heart/🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Terbawa perasaan sesaat??? plis deh ya buk 😎 Reynand itu bukan anak 17 tahun lagi loh 🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️
🍓ADIRA🍓
maap sya klarifikasi y nyonya... anakmu itu loh yg demen ambil kesempatan dalam kesempitan dluan 😂😂😂🤣🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk calon besan tak boleh galak^ loh NyoMar 😂😂😂
kymlove...
beresin dulu aja ray hubungan mu sama gisella... cari taulah tentang gisella biar kamu tau keburukkan gisella, jadi jika beneran cerai km punya alasan yg kuat. untuk menggugat... biar semua tidak menyalahkan anindya jadi pihak ketiga terus...
kymlove...
hadeh.... udah ketebak pasti bakalan nyalahin nindya.... tapi ibuuuu..... kalau nindya pergi siapa. yang bakalan nanggung pengobatan mu!!!! mbok ya tolong jangan cuma lihat jeleknya aja!!! emang anak ibuuu jg mau terjebak sm. suami orang!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!