Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.
Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".
Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah
"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Dapur Sederhana Tekad Baru dan Aroma Kopi Pagi
Pagi hari di rumah panggung Sidoarjo terasa jauh berbeda dari biasanya. Jika hari-hari sebelumnya dapur sederhana itu hanya diisi oleh kesibukan Emak Sarni Sari dan Dika Pratama yang menyiapkan adonan gorengan, kini ada sosok tambahan yang menarik perhatian. Vanesha — mantan CEO Vanesha Group yang terbiasa dikelilingi asisten pribadi dan fasilitas mewah — kini tampak berdiri canggung di dekat tungku kayu bakar, mengenakan apron kain kusam milik Emak.
Vanesha mencoba memegang gagang teko berisi air panas dengan jari-jarinya yang lentik, berusaha menyesuaikan diri dengan suasana pedesaan yang jauh dari kesan modern.
"Pelan-pelan, Nduk. Pegangannya jangan terlalu kencang, nanti tumpah," ucap Emak Sarni Sari sabar sambil menepuk lembut bahu Vanesha dari samping.
Vanesha mengangguk patuh, tersenyum tipis di tengah rasa canggungnya.
"Iya, Mak... Maaf, saya masih belum terbiasa sama kompor kayu seperti ini," jawab Vanesha lirih.
"Dulu juga Emak begitu waktu pertama kali diboyong Bapakmu ke rumah ini," sahut Emak sambil tersenyum hangat, mencoba menenangkan hati wanita kota yang sedang beradaptasi itu.
Tak lama kemudian, Dika melangkah masuk ke ruang dapur setelah selesai membersihkan halaman depan. Pemuda bersarung itu melirik ke arah Vanesha, lalu mendengus pelan sambil tersenyum geli.
"Wah, hebat juga CEO Vanesha Group sekarang alih profesi jadi tukang masak air di Sidoarjo," goda Dika dengan nada usil khasnya.
Vanesha langsung melotot tajam, membuang muka dengan bibir mengerucut — menunjukkan sedikit sisa sifat galaknya yang justru membuat Dika terkekeh.
"Diam kamu, Dika! Sini, kalau berani bantuin, jangan cuma bisa ngeledek!" ketus Vanesha, meski matanya tidak benar-benar marah.
"Ampun, Bos... eh, Mbak Vanesha maksudnya," ralat Dika cepat sambil mengangkat kedua tangannya menyerah, sementara Emak Sarni Sari hanya bisa menggelengkan kepala melihat interaksi keduanya.
Di ruang tengah, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Bapak Joko Pratama berjalan membawa cangkir kopi hitamnya, lalu duduk bersila di amben kayu dekat dapur. Ia melirik sekilas ke arah Vanesha yang sedang meracik teh hangat.
"Heh, Vanesha," panggil Bapak Joko Pratama dengan suara baritonnya yang tegas.
Vanesha langsung menoleh sigap, menegakkan punggungnya gugup.
"Iya, Pak?"ucap vanesha
"Kemarin kamu sudah kehilangan semua fasilitas mewahmu di Surabaya," ucap Bapak Joko Pratama tenang, menyeruput kopinya perlahan. Tapi di rumah ini, selama kamu mau belajar hidup jujur dan bekerja keras dengan tangan sendiri, tidak ada yang perlu kamu takutkan. Paham?"
Mendengar kalimat itu, ketegangan di dada Vanesha seketika mencair. Ia menatap lelaki paruh baya itu dengan sorot mata penuh rasa hormat.
"Paham, Pak. Terima kasih," jawab Vanesha mantap, menyembunyikan rasa haru yang kembali bergemuruh di dadanya.
Dinda Ayu Lestari yang baru saja keluar kamar langsung ikut nimbrung sambil merenggangkan tangan.
"Wah, pagi-pagi suasananya sudah kayak sinetron keluarga nih! Jadi, kapan kita mulai bikin konten YouTube mancing bareng Mbak Vanesha, Mas?" tanya Dinda antusias.
Dika mendengus.
"Mancing apaan. Emangnya dia bisa megang cacing sawah?"sahut Dika
Vanesha mengangkat dagunya sedikit, menantang.
"Siapa bilang aku tidak bisa? Lihat saja nanti, aku bakal jadi pemancing paling jago di sungai Sidoarjo!"jawab Vanesha
Tawa renyah langsung pecah memenuhi sudut rumah panggung sederhana itu, mengawali lembaran baru hidup Vanesha yang kini terlepas dari sangkar emas korporat, menyatu dengan kehangatan cinta yang sesungguhnya di kampung halaman Dika.
Sore hari di kampung Sidoarjo menyuguhkan pemandangan matahari yang perlahan mulai turun ke peraduan, memantulkan cahaya jingga di atas permukaan air sungai desa yang mengalir tenang. Suasana sekitar tampak asri, ditemani suara jangkrik dan semilir angin sore yang menyejukkan.
Namun, ketenangan di pinggir kali itu mendadak terusik oleh suara jeritan tertahan seorang wanita.
"Ih! Jijik banget, Dika! Ini cacingnya gerak-gerak terus!" teriak Vanesha histeris, melompat mundur sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi seolah melihat makhluk paling menakutkan di bumi.
Dika Pratama yang sedang duduk bersila di atas tikar plastik sambil memakai sarung tenun dan jaket hitam andalannya hanya bisa terbahak-bahak melihat pemandangan di hadapannya. Ia sedang memegang sebotol air mineral berisi cacing sawah segar yang baru saja ia cari tadi siang.
"Namanya juga cacing sawah, Mbak Vanesha yang terhormat," jawab Dika di sela-sela tawanya. "Mana bisa mancing ikan betik batok atau nila kalau umpannya pakai permen karet? Ya harus pakai makhluk hidup dong!"
Vanesha, yang kini mengenakan kaos longgar sederhana pinjaman dari Dinda Ayu Lestari dan celana training hitam, mengerucutkan bibirnya kesal. Ia memelototi Dika dengan sisa-sisa aura galaknya sebagai mantan CEO.
"Kenapa harus cacing selicin dan sekenyal itu, sih?! Di Surabaya aku biasa pegang laporan keuangan miliaran rupiah, kenapa sekarang malah disuruh megang cacing?!" protes Vanesha, meski ada rona geli di balik wajah cemberutnya.
Dinda yang duduk tak jauh dari mereka sambil menyiapkan joran bambu terkekeh lebar.
"Makanya, Mbak Vanesha, jadi orang desa itu harus serba bisa! Kalau nggak berani megang cacing, nanti nggak bakal dapat ikan nila buat dimasak malam ini," goda Dinda sambil nyengir.
Vanesha menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya. Ia menatap wadah berisi cacing sawah itu dengan tatapan tajam, seolah cacing-cacing tersebut adalah para dewan direksi yang menentangnya.
"Baiklah!" ucap Vanesha dengan nada penuh tekad, menirukan gaya bicaranya saat memimpin rapat besar. "Demi membuktikan kalau aku bukan cuma bisa merintah di lantai sepuluh, aku bakal pasang umpan ini sendiri!"
Dengan mata setengah dipejamkan dan tangan yang sedikit bergetar, Vanesha meraih satu ekor cacing sawah dengan ujung jarinya. Saat cacing itu menggeliat di tangannya, Vanesha nyaris menjerit lagi, namun ia segera menahannya dan dengan gerakan kilat menusukkannya ke mata kail bambu milik Dika.
Pluk! Berhasil!
Dika bertepuk tangan riuh.
"Wah, keren! Mantan CEO Vanesha Group resmi naik tingkat jadi tukang umpan profesional!" puji Dika sambil tersenyum lebar.
Vanesha mengibaskan tangannya ke rumput, bernapas lega seolah baru saja memenangkan pertempuran besar.
"Jangan panggil aku CEO lagi, Dika. Mulai sekarang, panggil aku pemancing amatir paling tangguh di Sidoarjo," jawab Vanesha bangga, meski keringat dingin masih menempel di pelipisnya.
Dika melempar kail pancing bambunya ke tengah aliran sungai, disusul oleh Vanesha yang dibimbing langsung dari belakang oleh Dika. Posisi tubuh mereka yang sangat dekat — dengan tangan Dika menutupi tangan Vanesha di atas joran bambu — membuat debar jantung wanita itu kembali bergemuruh hebat, jauh lebih kencang daripada saat ia harus menghadapi cacing sawah tadi.
Di bawah temaram senja Sidoarjo, di tepi sungai kecil yang dikelilingi rumpun bambu, tawa mereka berdua berpadu dengan suara desir angin, membuktikan bahwa cinta sejati tidak butuh kemewahan gedung tinggi, melainkan kesetiaan untuk melangkah bersama dari titik nol.