Indonesia
NovelToon NovelToon
My Husband The Mafia

My Husband The Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nabilah Tisyana

Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Di atas meja besi di tepi matras, perlahan tergelar serangkaian alat pelindung diri—mulai dari rompi anti peluru berdesain khusus yang ringan namun kokoh, pelindung sikut dan lutut, hingga sabuk sarung pistol taktis. Semuanya tertata sangat rapi, menanti untuk dikenakan.

Jantung Ruby berdegup begitu kencang hingga suaranya seolah memenuhi ruang bawah tanah yang dingin itu. Jemarinya yang bergetar menyentuh permukaan rompi yang kasar dan kaku.

"Pakai semuanya," perintah Luca datar, berdiri bersedekap dada tak jauh di sampingnya. "Saya tidak punya banyak waktu untuk menunggu kamu bersiap."

Ruby menarik napas panjang, mencoba menguasai rasa takut yang merayapi dadanya. Ia menatap Luca lurus-lurus.

"Tuan... apa saya benar-benar mampu melakukan ini?" tanya Ruby pelan, menyisipkan ketakutan yang jujur dalam suaranya.

"Kemampuan itu dibentuk, Ruby, bukan ditunggu," balas Luca dingin, matanya tak lepas meneliti raut wajah gadis itu. "Di dunia luar, ketakutan kamu cuma bakal jadi makanan empuk buat Kavano. Pilihannya cuma dua: kamu belajar meluncurkan peluru, atau kamu pasrah diseret kembali ke neraka kamu yang dulu."

Mendengar nama Kavano disebut, rahang Ruby mengetat. Bayangan siksaan, rasa sakit, dan kehinaan di masa lalu seketika berputar kembali di ingatan. Perlahan, rasa takutnya tergerus oleh tekad yang membakar dari dalam. Ia sadar, Luca telah menyelamatkannya dari kematian, memberinya tempat bernaung, dan merawatnya tanpa kekurangan suatu apa pun. Ini adalah harga yang harus ia bayar.

"Saya paham, Tuan Luca," sahut Ruby, suaranya kini terdengar jauh lebih mantap. Ia meraih rompi antipeluru itu dan memasangnya ke tubuhnya. "Saya tidak akan pernah mau kembali ke tempat itu. Kalau saya harus jadi bagian dari pertempuran Tuan untuk membalas semua kebaikan Tuan... saya siap."

Luca menyunggingkan senyum tipis, sebuah ukiran kepuasan yang samar di bibirnya. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma maskulinnya menguar kuat. Tanpa ragu, tangan Luca terangkat, membantu merapikan tali pengikat rompi di pinggang Ruby dan menariknya cukup kencang.

"Ugh..." Ruby terhenyak pelan karena tarikan itu.

"Tali ini harus ketat," bisik Luca rendah tepat di samping telinganya, membuat napas Ruby tertahan seketika. "Satu celah longgar bisa jadi penentu hidup atau mati kamu di lapangan."

"S-saya tahu, Tuan..." cicit Ruby, membiarkan jemari Luca yang hangat dan cekatan menyentuh area bahu serta pinggangnya.

Luca mundur satu langkah setelah memastikan semua pelindung terpasang sempurna di tubuh mungil Ruby. Ia lalu meraih sebuah pistol latihan, mengokangnya, dan menyerahkannya kembali ke genggaman Ruby.

"Pegang dengan kedua tangan. Kunci siku kamu, dan tatap sasaran di depan," instruksi Luca seraya berdiri tepat di belakang tubuh Ruby, menuntun posisi lengan dan bahu gadis itu secara langsung. Sentuhan dadanya yang tegap di punggung Ruby mengirimkan sengatan hangat yang membakar pipi sang gadis.

"Jangan fokus pada gemetar di tangan kamu," bisik Luca lagi, suaranya begitu dalam dan menenangkan di tengah kepungan aura dingin ruangan. "Fokus pada musuh di depan kamu. Tarik napas... lalu tekan pelatuknya."

Ruby memejamkan mata sejenak, meresapi kehangatan perlindungan Luca yang mengelilinginya, lalu membukanya lebar-lebar. Tatapannya menajam menembus sasaran tembak di ujung ruangan. Untuk pertama kalinya, Ruby tidak lagi merasa sebagai korban yang lemah—ia siap menjadi senjata di tangan pria yang telah menguasai seluruh jalan hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!