Indonesia
NovelToon NovelToon
Surat Cinta Nyasar

Surat Cinta Nyasar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?

[maklumi kalau ceritanya masih kurang, karena author masih belajar, dan meski udah berpengalaman, tetaplah belajar, karena dengan belajar, kalian tetap bisa rendah hati, dan janganlah sombong meski sudah berpengalaman]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Terjebak atau dijebak?

Sementara Fajar duduk santai menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya sembari menikmati secangkir kopi hangat, kepanikan justru sedang membakar lantai bawah. Di dalam ruang kerja yang terkunci rapat, Manajer Keuangan bolak-balik melangkah dengan napas memburu dan pelipis yang dibasahi keringat dingin. Jemarinya yang gemetar menggenggam erat ponsel pintar yang terhubung ke jalur enkripsi rahasia.

Suara nada sambung di seberang sana akhirnya terputus, berganti suara berat penuh aura intimidatif.

"Pak... gimana nih... Pak Fajar tahu cacat dari chip itu," bisik Manajer Keuangan setengah panik, merendahkan suaranya agar tak terdengar hingga luar.

"Apa?! Bagaimana bisa dia tahu... Enggak becus banget lu!" semprot suara di seberang telepon dengan nada tinggi dan ketus.

Manajer Keuangan menyapu keringat di dahinya menggunakan lengan kemeja. "Jadi... gimana nih, Bos? Mau kabur? Atau gimana?"

Suara terdengar dengusan napas gusar dari sang atasan. "Hanya orang bodoh yang berpikiran langsung kabur... Kita buat Rencana B."

"Rencana B? Rencana apa itu, Bos?" tanya sang manajer dengan kening berkerut bingung.

"Jadi... saat dia lengah, kita retas laptop dia."

"Lah, kenapa diretas, Bos? Bukannya enggak ada gunanya bikin kayak gitu?"

Pria di ujung telepon terkekeh dingin, penuh rasa culas. "Kita... curi file analisis dia dan tanamkan file palsu. Dengan begitu, kita bisa membalikkan tuduhan dan kita masih dapat keuntungan raksasa dari proyek ini."

Mata Manajer Keuangan seketika berbinar cerah, rasa takutnya menguap digantikan seringai licik. "Ouhh... siap, Bos! Mau dijalankan sekarang, Bos?"

"Sudah kubilang, jalankannya nanti saat dia benar-benar lengah! Seperti saat jam istirahat makan siang atau pas dia lagi luang leave ruangan, ngerti?!" bentak suara itu menginstruksikan.

"Ahh... iya, iya, Bos! Dimengerti!" balas sang manajer patuh sebelum panggilan itu diputus sepihak.

Saat jam istirahat makan siang tiba, suasana lorong kantor mulai sepi. Fajar dengan sengaja melangkah keluar dari ruangannya, membiarkan pintu ruangan sedikit renggang. Ia sengaja tidak membawa laptopnya dan menyengajakan sistemnya tetap menyala di atas meja.

Tak berapa lama kemudian, seorang pria berbaju staf IT—yang ternyata utusan Manajer Keuangan—mengendap-endap masuk dengan cemas. Sambil mengawasi area luar, ia merogoh kantongnya dan mencolokkan sebuah flashdisk merah berkecepatan tinggi ke laptop Fajar. Pria itu menyeringai saat layar memperlihatkan proses penyalinan data analisis chip milik Fajar.

Ia tidak menyadari bahwa di sudut jam dinding ruang kerja Fajar, terdapat lensa kamera tersembunyi yang merekam seluruh aksinya secara real-time. Bahkan, program keylogger dan pelacak otomatis yang sudah disiapkan Fajar langsung menyalin identitas drive penyusup tersebut tanpa jejak.

Setelah pria itu selesai mengunduh file dan kabur tergesa-gesa, Fajar kembali melangkah masuk ke ruangannya sambil membawa secangkir kopi hitam.

Fajar duduk di kursinya, menggeser kursor, lalu melihat notifikasi merah di sudut layarnya: [Access Log Recorded: USB Flashdrive ID-8821 Connected]. Sebuah rekaman video singkat penyusupan tadi siang sudah tersimpan rapi di dalam cloud pribadinya.

Fajar menyandarkan punggungnya, memutar-mutar cangkir kopi, lalu menyunggingkan senyum dingin.

"Mereka pikir mereka yang meretas..." gumam Fajar pelan dengan tatapan tajam. "Padahal file yang mereka curi itu cuma dokumen palsu yang sudah ditanami virus pelacak lokasi."

Dengan file palsu itu, Fajar kini bisa melacak ke mana saja dokumen itu dikirim dan siapa saja atasan yang membuka file tersebut di komputer pribadi mereka. Musuh bukannya berhasil mencuri rahasia, tapi justru secara sukarela memasang GPS di leher mereka sendiri.

Fajar tidak membuang waktu. Jari-jarinya mulai menari lincah di atas keyboard mekaniknya, mengetikkan deretan kode perintah di jendela terminal yang berlatar hitam pekat. Layar monitornya terbelah menjadi dua: satu menampilkan log aktivitas jaringan lokal kantor, dan satu lagi memetakan lokasi IP secara real-time.

Hanya butuh waktu lima belas menit hingga sebuah kedipan merah muncul di layar. Ping.

"Kena kau," gumam Fajar. Ujung bibirnya tertarik ke atas.

File palsu itu baru saja dieksekusi. Namun, alih-alih hanya mengarah ke ruang kerja Pak Ardi di lantai atas, rute sinyal pelacak itu justru memantul ke sebuah server eksternal yang dienkripsi berlapis-lapis. Mata Fajar menyipit, memfokuskan pandangan. Pelacaknya berhasil menembus dinding pertahanan pertama, mengungkap sebuah nama perusahaan cangkang di luar negeri: Baskara Holdings.

Fajar menahan napas sejenak. Catatan rahasia yang pernah ia baca sekilas dari dokumen lama peninggalan pendiri perusahaan tiba-tiba terlintas di kepalanya. Baskara Holdings bukan sekadar tempat pencucian uang biasa. Perusahaan itu memegang kendali atas aset strategis yang terhubung langsung dengan warisan utuh keluarga Kirana. Jika skandal ini meledak, bukan hanya Pak Ardi yang akan dipenjara, tapi seluruh reputasi dan kekayaan keluarga Kirana bisa ikut musnah tak bersisa.

Tok. Tok. Tok.

Ketukan pintu yang tergesa-gesa membuyarkan konsentrasi Fajar. Dengan satu kombinasi tombol pintas, layar monitornya seketika berubah menampilkan spreadsheet laporan keuangan biasa.

Pintu terbuka, menampilkan sosok Kirana yang berdiri dengan raut wajah tegang. Gadis itu melangkah masuk, menutup pintu rapat-rapat di belakangnya, lalu menatap Fajar dengan sorot mata cemas penuh selidik.

"Fajar, kau sedang sibuk?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar, tidak setenang biasanya.

"Hanya memeriksa beberapa anomali anggaran, seperti biasa," jawab Fajar santai, menyembunyikan ketegangan di balik senyum ramahnya. "Ada apa, Kirana? Kau terlihat pucat."

Kirana berjalan mendekati meja Fajar, meremas map dokumen di tangannya dengan kuat. "Ada yang tidak beres hari ini. Ayah... maksudku, Pak Ardi, tiba-tiba mengunci diri di ruangannya setelah menerima telepon dari Manajer Keuangan. Jadwal rapat direksi mendadak dibatalkan, dan aku melihat orang-real staf IT berlarian panik di lantai atas. Kau... kau tidak sedang memicu perang nuklir di kantor ini, kan?"

Fajar menatap manik mata Kirana lekat-lekat. Gadis itu tajam, intuisinya mulai merangkai kepingan puzzle yang berserakan.

"Di dunia bisnis, kadang debu memang harus disapu dengan keras agar lantainya kembali bersih, Kirana," ucap Fajar diplomatis. Ia berdiri, menuangkan segelas air putih hangat dari dispenser kecilnya, lalu menyodorkannya pada gadis itu.

Saat Kirana menerima gelas itu, pandangan Fajar tanpa sengaja jatuh pada map dokumen yang diremas Kirana. Di sudut kanan bawah map plastik tersebut, terdapat sebuah stempel kecil samar berbentuk logo matahari terbit—logo yang sama persis dengan lambang Baskara Holdings yang baru saja diretasnya beberapa detik lalu.

Dada Fajar berdesir. Apakah Kirana tahu tentang perusahan itu? Atau dia hanya pion tak berdosa yang sewaktu-waktu bisa dikorbankan ayahnya sendiri?

"Aku hanya khawatir, Fajar," bisik Kirana, menunduk menatap pantulan dirinya di permukaan air gelas. "Ayahku... jika dia merasa tersudut, dia bisa melakukan hal-hal yang tidak terbayangkan demi melindungi apa yang menjadi miliknya. Dia tidak kenal ampun. Aku tidak ingin kau terluka karena terlalu berani melawan arus sendirian."

Fajar tersenyum getir, namun tatapannya menajam. Badai besar sudah tidak bisa dihentikan. Kini ia tahu, pusaran angin itu cepat atau lambat akan menghantam tepat di jantung pertahanan keluarga Kirana, dan ia harus memilih.

"Jangan khawatirkan aku," balas Fajar dengan suara rendah yang mengisyaratkan banyak hal tak terucap. "Khawatirkan saja mereka yang berdiri di tempat yang salah saat badai itu tiba."

[Bersambung]

1
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr /Good/
🍓ADIRA🍓
Ok. semangat Thor 🫰
Hamzah: di bab 32 juga aku ubah lagi, lagi direview 😅
total 2 replies
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr
Purnamanisa
keknya seru... save dulu, baca lagi nanti 😁😁
🍓ADIRA🍓
Tenang Na... selagi ada fajar apapun bisa /Smirk//Smirk//Smirk/
🍓ADIRA🍓
Wah kenapa tidak dapat kontrak Thoorr? Ok ttp semangat Thoorr 💪
🍓ADIRA🍓
suapin donk jar 😂😂
🍓ADIRA🍓
Lihat fajar nanti juga langsung menghangat kok bay 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw semangat jar 💪
🍓ADIRA🍓
Ciyyeeee mas 🤭 akwakakakaww 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Harus cerdas lah Ndrong... kan calsu Bu Direktur ☺️
🍓ADIRA🍓
wkkwkw.😂😂 fajar langsung merona tuh Bu Kir 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Ayang mbeb gtu Jar /Joyful//Joyful//Joyful/
🍓ADIRA🍓
Dirimu yg go publik loh 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk ti ati burungmu terbang jar 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw 🤣🤣🤣 dalam hatinya, Bu Direktur sebenarnya jga seneng tuh dapat pengakuan cinta dari fajar 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
salah mimpi 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Susulin gih Na, sebelum fajar semakin merajalela karena rindu 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr, perkuat lagi konfliknya biar cerita semakin menarik... semangat /Good//Good/
Hamzah: Ya.. kalau gaada kendala ya😇
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw kecewa ya jar 😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!