Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Penjemputan Sang Presdir

Air hujan memantul keras di atas permukaan payung hitam tebal yang dipegang oleh Asisten Bagas. Pria paruh baya yang merupakan kepercayaan keluarga besar Pradipta itu tetap membungkukkan badannya secara sempurna. Di belakangnya, dua pengawal berbadan tegap berseragam serba hitam melangkah keluar dari mobil pengawal kedua, berdiri bersiap dengan sikap sempurna di tengah derasnya guyuran hujan.

Rendy tidak langsung melangkah masuk. Ia berdiri diam di bawah naungan payung, membiarkan tetesan air mengalir dari ujung rambutnya menuju dagunya. Tatapannya lurus menatap lambang mahkota emas yang terukir anggun di pintu mobil Maybach tersebut.

"Pak Bagas," suara Rendy terdengar berat dan tenang, mengalahkan suara gemuruh petir di langit. "Kamu terlambat tiga menit."

Bagas seketika berlutut di atas genangan air jalanan yang dingin, membiarkan celana kain mahalnya basah kuyup tanpa sedikit pun rasa ragu. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Presdir Rendy. Kemacetan di jalur protokol dan pemeriksaan ketat di kediaman utama Pradipta sedikit menghambat kami. Saya siap menerima hukuman apa pun atas kelalaian ini."

Rendy menatap tangan kepunyaan Bagas yang bergetar di atas aspal basah. Tiga tahun lalu, Rendy menyerahkan seluruh kepemimpinan operasional Pradipta Group secara tersembunyi kepada Bagas demi menjalankan eksperimen penyamarannya. Dan malam ini, masa penyamaran itu telah berakhir secara mutlak.

"Berdirilah," kata Rendy singkat. "Urusan kita malam ini jauh lebih besar daripada sekadar keterlambatan tiga menit."

"Baik, Presdir!" Bagas bangkit dengan sigap, lalu membukakan pintu belakang sedan mewah Maybach tersebut lebar-lebar.

Rendy melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang hangat dan harum oleh aroma kayu cendana dan kulit eksklusif. Pintu menutup kedap, seketika memutus suara bising hujan deras dan gemuruh petir di luar sana.

Di dalam kabin penumpang yang luas dan mewah, pencahayaan temaram bernuansa keemasan memberikan kesan hangat yang elegan. Di kursi samping, seorang wanita muda berparas jelita dengan pakaian kantor yang sangat rapi sudah menunggu. Ia adalah Siska, sekretaris pribadi yang ditunjuk langsung oleh dewan komisaris untuk melayani sang Presdir.

"Selamat datang kembali, Tuan Presdir," tutur Siska dengan suara lembut nan merdu. Ia membungkuk hormat dari kursi sampingnya, memberikan senyuman anggun yang memikat.

Rendy menyandarkan punggungnya di atas jok kulit yang empuk. Pakaiannya yang basah kuyup mulai meneteskan air ke atas karpet wol. "Siapkan pakaian ganti."

"Sudah kami siapkan sesuai dengan ukuran dan selera Tuan," sahut Siska cekatan.

Dengan gerakan gemulai, Siska membuka sebuah koper kulit premium di sampingnya. Di dalamnya terbaring satu setel kemeja putih sutra buatan penjahit ternama Italia, jas kustom berwarna abu-abu gelap, serta dasi sutra bernuansa elegan.

Rendy melepas jaket dan kaosnya yang basah kuyup, melemparnya begitu saja ke lantai mobil. Dada bidangnya yang tegap, dengan otot-otot kokoh dan luka memar yang masih tersisa akibat peristiwa sebelumnya, kini terpapar jelas di bawah cahaya lampu kabin yang remang.

Siska terkesiap pelan. Manik matanya menatap tajam ke arah dada telanjang Rendy yang tegap. Ada desiran hangat yang mendadak mengalir di sepanjang tubuh Siska saat melihat sosok pria di hadapannya—bukan hanya seorang pemimpin bernilai puluhan triliun rupiah, tetapi juga seorang pria dengan daya pikat fisik yang amat kuat.

Siska mengambil kemeja putih sutra dari koper, lalu mendekati Rendy. Dengan jemari lentiknya yang halus dan wangi, Siska membantu menyarungkan kemeja tersebut ke lengan kekar Rendy.

"Izinkan saya membantumu merapikannya, Tuan," bisik Siska halus.

Siska menggeser duduknya hingga jarak di antara mereka menjadi sangat dekat. Aroma parfum mawar dan vanila yang mahal dari tubuh Siska mengusap indra penciuman Rendy. Jemari halus Siska mulai menyusuri bagian depan kemeja, memasangkan kancing kemeja Rendy satu per satu, dimulai dari bagian bawah hingga menuju dada atasnya.

Sentuhan kulit jemari Siska yang hangat dan lembut bergeser secara tidak sengaja di atas dada bidang Rendy yang kokoh. Siska sengaja memperlambat gerakannya saat membetulkan kerah kemeja di leher Rendy. Ia mendongak, melemparkan lirikan mata yang sarat akan godaan dan kepasrahan mendalam dari jarak yang hanya beberapa sentimeter.

Napas hangat Siska berembus halus mengenai leher Rendy. Dhadanya yang membusung di balik blender kantornya menekan pelan lengan Rendy saat wanita itu membetulkan kancing paling atas kemeja sang Presdir.

"Anda tampak sangat perkasa, Tuan Presdir," goda Siska lirih dengan sudut bibir terangkat tipis, tatapannya terkunci rapat pada bibir tebal Rendy. "Tiga tahun di luar sana sama sekali tidak mengurangi wibawa dan daya pikat Anda."

Namun Rendy tetap tak bergeming. Wajahnya datar seperti patung pualam, tak terpancing sedikit pun oleh godaan manis dari sekretaris cantiknya. Bagi Rendy, kehangatan fisik wanita lain tidak akan pernah bisa menggantikan posisi wanita yang baru saja membiarkannya diusir di tengah hujan.

"Siska," panggil Rendy dengan nada dingin yang membekukan suasana.

Siska tersentak pelan, menyadari batasan profesionalitasnya telah diterobos. Ia segera menarik tangannya kembali dengan wajah sedikit memerah oleh rasa malu. "Ma-maafkan saya, Tuan."

"Selesaikan dasinya dan laporkan perkembangan Pradipta Group selama tiga jam terakhir," perintah Rendy tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela mobil yang basah.

"Baik, Tuan Presdir," tanggap Siska cepat, merapikan sikap duduknya dan mengambil komputer tablet tipis dari tasnya. "Dewan komisaris telah menyetujui pencairan dana investasi sebesar seratus miliar rupiah untuk akuisisi aset-aset di kota ini. Selain itu, pimpinan kepolisian daerah telah memecat dua oknum petugas yang terlibat dalam penangkapan palsu Anda tadi pagi."

"Bagaimana dengan keluarga Rosma?" tanya Rendy dingin.

Bagas yang duduk di kursi depan menoleh sedikit. "Semua rekening bisnis milik Hendra telah dibekukan atas perintah lembaga keuangan utama. Sementara itu, toko kelontong dan aset usaha milik Ibu Rosma akan dieksekusi penyitaannya esok pagi karena tunggakan utang yang disengaja oleh pihak sponsor kita."

Rendy mengangguk puas. Senyum tipis berhias kejam terukir di sudut bibir tegapnya. "Biarkan mereka menikmati kemenangan semu malam ini. Esok hari, buat mereka berlutut di atas puing-puing kesombongan mereka sendiri."

Sementara itu, di dalam rumah kontrakan yang dingin dan berantakan, suasana perayaan kemenangan keluarga Rosma mendadak terasa hampa.

Ibu Rosma sedang sibuk menghitung sisa uang di dalam dompetnya di meja makan, sementara Hendra menuangkan minuman dengan senyum bangga. Dion sibuk memainkan jam tangan Rolex miliknya yang baru saja 'diselamatkan' dari jebakan false-claim tadi pagi.

"Akhirnya si pembawa sial itu pergi juga!" seru Rosma dengan tawa puas. "Besok kita cari calon suami baru untuk Clarissa. Pria kaya yang setara dengan keluarga Hendra!"

Namun di dalam kamar mandi yang gelap, Clarissa terduduk di atas lantai semen yang dingin. Air keran mengucur deras dari pancuran, membasahi tubuh dan gaun rumahannya yang lusuh. Clarissa merangkul kedua lututnya, menangis sesenggukan hingga dadanya terasa teremas nyeri.

Setiap sudut rumah ini terasa menyiksanya. Bayangan senyum hangat Rendy, sentuhan lembut jemarinya di malam-malam dingin, serta dekapan erat suaminya saat melindunginya dari gertakan Dion terus berputar seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai.

"Apa yang sudah kubuat...?" bisik Clarissa dengan suara serak yang memilukan. "Aku membiarkannya pergi... Aku membiarkannya dihina..."

Clarissa teringat ponsel tua milik Rendy—ponsel fitur tombol tekan yang tertinggal di atas meja hias kamar mereka karena Rendy tidak sempat menyentuhnya saat diusir tadi. Dengan langkah tergesa-gesa dan tubuh basah kuyup, Clarissa berlari keluar dari kamar mandi menuju kamar tidur.

Ia menyambar ponsel tua yang retak di bagian layarnya itu. Dengan jemari yang gemetaran hebat dan mata kabur oleh air mata, Clarissa menekan tombol navigasi untuk mencari satu-satunya nomor yang pernah ia simpan di sana: nomor telepon darurat milik Rendy sendiri yang biasa ia hubungi jika pria itu sedang bekerja di luar.

Clarissa menekan tombol panggil.

Di dalam sedan Maybach yang meluncur tenang membelah kegelapan malam menuju hotel bintang lima Pradipta Tower, suasana kabin yang hening mendadak terpecah.

Kringgg... Kringgg...

Suara dering nada panggil bernada monofonik yang nyaring dan klasik bergema dari dalam saku jas lama milik Rendy yang tergeletak di samping koper.

Siska dan Bagas seketika menoleh ke arah ponsel tua berlayar kuning kecil yang menyala terang di dalam kegelapan kabin.

Rendy menghentikan ketukan jarinya di atas sandaran tangan. Matanya tertuju lurus pada nama yang tertera di layar ponsel tua yang bergetar hebat tersebut:

"Istriku Clarissa"

Rendy mengulurkan tangan kekarnya, meraih ponsel murah yang sangat kontras dengan kemewahan interior Maybach tersebut. Jemarinya tertahan beberapa milimeter di atas tombol hijau, sementara dering telepon itu terus melengking menuntut jawaban di tengah kesunyian malam.

1
Dian Paramita Dewi
Semangat....terus berkarya ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!