Indonesia
NovelToon NovelToon
Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad girl
Popularitas:405
Nilai: 5
Nama Author: Xyfvxnyy

Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.

Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.

Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.

Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hubungan Tanpa Status

"Gue kan udah pernah bilang, Kayvara itu adik teman gue..." potong Damien cepat, berusaha menembus dinding keras kepala gadis di hadapannya.

"Gue juga adik teman lo!" sembur Clyrine seketika, suaranya naik memotong kalimat pria itu tanpa ampun. Dadanya bergemuruh hebat, matanya menatap Damien dengan sorot terluka bercampur amarah. "Alaric teman lo, kan? Jadi semua adik cewek teman lo bakal lo perlakuin kayak gini?! Lo atur hidupnya, lo cium sembarangan, lo kasih harapan palsu, gitu?!"

Napas Clyrine memburu. Muak dengan segala rasa campur aduk yang menghimpit dadanya, tangan kanannya langsung menyentak tuas pintu mobil.

Namun pintu itu tetap terkunci rapat.

"Buka kuncinya!" tuntut Clyrine seraya memukul pintu kaca, tubuhnya bergerak gelisah ingin segera kabur dari kabin sempit itu. "Buka sekarang, Kak!"

"Dengerin gue dulu, Cly!" bentak Damien tegas, meraih kedua pergelangan tangan Clyrine untuk menahannya agar tidak melukai diri sendiri.

"Nggak mau! Lepasin!" tolak Clyrine kalap, meronta-ronta sekuat tenaga.

"Apa harus gue cium lagi biar lo mau dengerin gue?!" ancam Damien dengan suara bariton yang teramat rendah dan tajam, wajahnya maju mengikis jarak hingga embusan napas hangatnya menerpa langsung bibir Clyrine.

Ancaman itu seketika bekerja seperti mantra pembeku.

Clyrine terdiam kaku di tempatnya. Matanya membelalak lebar, napasnya tercekat di tenggorokan. Mengingat sengatan panas dari ciuman pertama mereka di bilik restoran tadi, Clyrine tahu persis bahwa Damien sama sekali tidak sedang menggertak sambal.

Melihat gadis itu akhirnya berhenti meronta, Damien perlahan melonggarkan cengkeramannya, meski tatapannya tetap mengunci Clyrine tanpa celah.

"Gue pagi tadi udah siap dan bener-bener mau jemput lo," jelas Damien perlahan, mengatur intonasi suaranya agar terdengar sejelas mungkin. "Tapi tiba-tiba Tristan—kakaknya Kayvara—datang bawa dia ke rumah gue. Nyokap gue maksa gue buat nganterin Kayvara, karena nyokapnya Kayvara itu teman dekat nyokap gue. Kebetulan mommy gue juga mau ke rumah sakit yang sama karena nyokap Kayvara lagi dirawat di sana."

Damien menghela napas pendek, menatap manik mata Clyrine yang mulai menunjukkan secercah keraguan.

"Tristan nggak bisa nganter mereka berdua karena pagi tadi dia ada jadwal sidang skripsi, dan arah kampusnya berlawanan jauh dari rumah sakit. Kalau Tristan maksain nganter nyokap gue sama adiknya dulu, dia bakal telat dan sidangnya batal. Makanya gue yang dipaksa turun tangan buat nyetir."

Damien mencondongkan tubuhnya lebih dekat, memastikan kata-kata berikutnya tertanam mutlak di kepala gadis itu.

"Dan satu hal lagi, Clyrine... di dalam mobil itu gue sama sekali nggak berduaan sama Kayvara. Ada mommy gue yang duduk di kursi belakang."

Clyrine tertegun sejenak. Seluruh rentetan fakta logis itu mendadak meruntuhkan tuduhan liar yang sejak pagi membakar kepalanya. Tidak ada kencan diam-diam, tidak ada niat sengaja mempermainkannya.

Namun, rasa gengsi dan luka harga dirinya yang kepalang tinggi menolak untuk langsung tunduk begitu saja. Bayangan betapa akrabnya keluarga mereka justru memicu rasa getir yang baru di sudut hatinya.

Clyrine mendengus sinis, memalingkan wajahnya ke samping seraya melipat tangan di dada. "Oh... cocok dong kalau gitu. Pasti langsung direstuin kan? Orang tua kalian udah temanan dekat, keluarga setara, saling kenal baik."

Deg.

Sarkasme yang meluncur dari bibir ranum itu seketika meremukkan sisa-sisa kesabaran Damien.

Sebelum Clyrine sempat menyelesaikan dengusan sinisnya, tangan kokoh Damien sudah kembali mencengkeram tengkuknya dengan tegas. Damien menarik tubuh gadis itu mendekat tanpa memberi ruang untuk menghindar, lalu membungkam bibir Clyrine dengan ciuman yang jauh lebih dalam, menuntut, dan membara dibandingkan yang pertama.

"Mphmmm...!"

Suara protes Clyrine teredam sepenuhnya di antara tautan bibir mereka. Tangan gadis itu refleks terangkat, mendorong dada bidang Damien sekuat tenaga dengan sisa-sisa kekuatannya hingga tautan itu akhirnya terlepas.

Napas Clyrine terengah-engah, dadanya naik-turun tak beraturan. Wajahnya membakar merah padam hingga ke leher, sementara jemarinya buru-buru mengusap bibirnya yang kini berdenyut kebas dan basah. Matanya melotot tajam, menatap pria di hadapannya dengan keterkejutan bercampur rasa malu yang luar biasa.

Damien sendiri menarik tubuhnya perlahan, menyandarkan punggungnya kembali ke jok kemudi. Napasnya terdengar berat, dan manik mata gelapnya berkilat pekat menatap Clyrine yang masih syok.

"Ini kan yang lo mau?" desis Damien dengan suara baritonnya yang rendah dan parau, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis yang sarat provokasi. "Daripada lo terus-terusan ngoceh ngawur soal restu dan Kayvara."

"Mana ada!" sembur Clyrine sewot dengan suara melengking panik, berusaha menutupi detak jantungnya yang sudah berdentum seperti genderang perang. "Gue nggak pernah minta lo cium gue ya, Kak! Dasar gila!"

Alih-alih terpancing emosi, seringai di wajah Damien justru semakin kentara. Ketegangan dingin yang sejak pagi menyelimuti pria itu perlahan mencair, berganti rasa puas setelah melihat Clyrine akhirnya tak lagi memikirkan pemuda asing bernama Adrian itu.

Tanpa membalas amarah Clyrine lagi, tangan kokoh Damien terulur memindahkan tuas persneling ke posisi drive. Kaki jenjangnya menginjak pedal gas, melajukan sedan hitam mewah itu membelah jalanan kota yang mulai lengang selepas jam makan siang.

Suasana kabin mobil mendadak hening, hanya diisi deru halus mesin ber-AC dan napas Clyrine yang masih berusaha ia kendalikan. Gadis itu membuang pandangan jauh-jauh ke luar jendela, meremas sabuk pengamannya erat-erat demi meredakan gemuruh di dadanya yang kian liar.

Namun ketenangan semu itu tak bertahan lama.

Sambil memutar setir dengan satu tangan berurat tegas, pandangan Damien melirik sekilas ke arah profil samping wajah Clyrine yang masih merah padam. Senyum tipis kembali tersungging di bibirnya.

"Gimana?" celetuk Damien santai, nada bicaranya begitu menggoda dan menusuk tepat ke rasa gengsi sang gadis. "Udah nggak penasaran lagi kan sama rasa ciuman?"

"Gue aduin lo ke Kak Alaric!" ancam Clyrine dengan mata melotot berang, suaranya naik satu oktaf berusaha terdengar segarang mungkin demi menutupi rasa malunya yang sudah sampai ke ubun-ubun. "Biar tahu rasa lo dipukul sama abang gue sendiri!"

Damien sama sekali tidak gentar. Alih-alih takut atau panik, pria itu justru terkekeh rendah—tawa santai yang membuat urat leher Clyrine serasa mau putus saking kesalnya.

Sambil membelokkan setir dengan gerakan santai menembus bundaran jalan raya, Damien menoleh sekilas ke arah Clyrine dengan seringai jahil yang teramat menyebalkan.

"Aduin aja," balas Damien enteng, nada suaranya terdengar begitu datar namun sarat provokasi mematikan. "Sekalian ke Om Charles juga. Biar pas lo lulus sekolah nanti, kita langsung dinikahin."

Deg.

Kata-kata itu seketika menghantam kepala Clyrine seperti petir di siang bolong. Mulutnya yang sudah terbuka lebar untuk menyemburkan rentetan makian mendadak terkunci rapat. Lidahnya kelu seketika, dan semburat merah di pipinya menjalar kian ganas membakar hingga ke seluruh wajahnya.

"L-lo... lo bener-bener gila ya, Kak!" gumam Clyrine terbata-bata dengan napas tercekat.

Menyadari ia tak akan pernah menang adu mulut melawan pria licik dan bermuka tebal seperti Damien Vance, Clyrine buru-buru memalingkan badannya menghadap pintu jendela kaca, menyembunyikan wajahnya yang kini merah padam dengan kedua telapak tangan seraya merutuki jantungnya yang berdegup kian tak terkendali di dalam dada.

Sedan hitam itu melambat, lalu berbelok memasuki area parkir gedung pusat perbelanjaan paling mewah di pusat kota. Begitu mesin mobil mati dan lampu indikator dasbor meredup, Damien melepaskan sabuk pengamannya dengan gerakan tenang.

Ia menoleh ke arah gadis di sebelahnya yang sejak tadi masih membuang muka ke arah jendela kaca.

"Turun yuk," ujar Damien santai. Nada suaranya terdengar jauh lebih lunak, bahkan ada jeda tipis saat ia memilih kosakata barunya. "Aku belanjain, yok."

Clyrine yang tengah memeluk ranselnya di atas pangkuan mendadak tersentak. Kepalanya menoleh cepat, manik matanya membelalak kaget menatap pria 21 tahun itu. Keningnya berkerut dalam seolah baru saja mendengar bahasa asing dari planet lain.

"Tunggu... 'aku'?" ulang Clyrine dengan intonasi bingung bercampur curiga.

Damien mengangkat sebelah alisnya, tidak sedikit pun terlihat canggung dengan perubahan panggilan yang baru saja meluncur dari bibirnya. Ia justru menatap Clyrine dengan sorot mata teduh yang sarat akan intensitas tenang.

"Iya, kenapa?" sahut Damien enteng, membuka pintu mobilnya lebih dulu lalu melangkah turun. Dari luar pintu penumpang, ia membukakan pintu untuk Clyrine dan menundukkan tubuhnya sedikit. "Bebas beli apa aja hari ini. Sepatu, baju, buku, atau apa pun yang kamu mau. Anggap aja penebus salah soal tadi pagi."

Kata kamu yang diucapkan dengan suara bariton rendah itu seketika mengirim sengatan aneh ke ulu hati Clyrine. Wajahnya yang baru saja mendingin mendadak hangat kembali. Namun alih-alih luluh begitu saja dengan tawaran kartu kredit tanpa batas, isi kepala Clyrine justru mendidih oleh kekesalan yang jauh lebih mendasar.

Sialan nih cowok... geram Clyrine dalam hati, tangannya mengepal erat di tali ransel saat ia melangkah turun dari mobil. Enak banget hidupnya! Cium orang sembarangan sampai dua kali, manggil aku-kamu sesuka jidat, tapi status hubungan nggak ada kejelasan sama sekali! Dikira gue cewek gampangan yang bisa dibungkam pakai belanjaan apa?!

Clyrine melirik bibir Damien yang sempat melumatnya tadi, lalu menarik napas panjang seraya menyusun tekad di dalam batinnya.

Awas aja kalau dia berani nyosor cium gue lagi tanpa status jelas, beneran gue gampar mukanya sampai bonyok!

Damien yang tidak menyadari monolog batin penuh dendam dari gadis di sampingnya hanya menyunggingkan senyum tipis. Tangan kokohnya terulur secara alami, meraih pergelangan tangan Clyrine untuk menuntunnya melangkah menuju pintu masuk lobi mal berpendingin udara itu.

1
falea sezi
keliatan kuat ehh sama aja menye sama bokap aja g berani cupu🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!