Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Drama Pernikahan 2

Bukan Drama Pernikahan 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Shann29

Alarice Jovelyn Dav Dewantara, atau Jove, adalah putri pertama keluarga Dewantara yang hidupnya nyaris sempurna. Namun, kesempurnaan itu runtuh dua hari sebelum pernikahannya ketika ia memergoki calon suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di rumah yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah menikah.

Tanpa ragu, Jove membatalkan pernikahannya dan memilih menutup hati. Selama dua tahun, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.

Alaska Dewantara akhirnya memutuskan menjodohkan Jove dengan Nicholas Alvarendra, putra sahabat bisnisnya.

Nicholas adalah pria dingin yang juga memiliki luka yang sama. Ia pernah dikhianati tunangannya yang justru hamil dari sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Nicholas tidak lagi percaya pada cinta.

Dua hati yang sama-sama terluka akhirnya dipertemukan dalam sebuah perjodohan.

Mereka menikah tanpa cinta dan membuat kesepakatan untuk tidak saling berharap.

“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”

“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”

Tapi, bagaimana jika dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta justru perlahan menemukan kembali arti cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Perasaan Asing

Nic memutuskan untuk tidak menghampiri Jove.

Pria yang sejak tadi bersamanya itu sudah cukup membuat pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Namun, Nic tahu dirinya tidak memiliki alasan untuk datang dan mengganggu mereka. Terlebih, asistennya sudah menunggu di area parkir dan ia masih harus segera meninjau proyek pelebaran area parkir di mal tersebut.

Ia menarik napas panjang sebelum berbalik meninggalkan area restoran.

Tidak ada hubungannya denganku.

Kalimat itu terus ia ulang dalam pikirannya.

Bukankah sejak awal mereka sudah membuat kesepakatan?

Mereka tidak akan mencampuri kehidupan pribadi satu sama lain.

Jadi, seharusnya tidak ada alasan baginya untuk merasa terganggu hanya karena melihat Jove bersama seorang pria.

Namun, entah mengapa, perasaan itu tetap ada.

Dan semakin ia berusaha mengabaikannya, semakin pikirannya justru kembali kepada pemandangan tadi.

Jove yang tertawa.

Jove yang terlihat begitu akrab.

Dan tangan Jove yang menggenggam tangan pria itu.

Nic mengembuskan napas kasar sebelum berjalan menuju area parkir.

Ia harus kembali menjadi seorang CEO.

Setidaknya untuk beberapa jam ke depan, ia tidak ingin memikirkan hal lain.

Sementara itu, setelah menghabiskan waktu bersama Jayden, Jove mengantarkan sepupunya tersebut ke rumah Uncle Jidan dan Aunty Amel.

Jove hanya mampir sebentar.

Setelah memastikan Jayden sudah tiba dengan selamat, ia memilih untuk pulang ke rumah keluarga Dewantara. Entah mengapa hari ini ia merasa ingin berada di rumah orang tuanya.

Begitu mobilnya berhenti di halaman rumah, Jove turun dan masuk ke dalam.

Jihan yang kebetulan berada di ruang keluarga langsung menghampirinya.

Tanpa banyak bicara, wanita itu memeluk putrinya.

“Apa kabarmu, Sayang?” tanya Jihan lembut.

“Aku baik, Mom. Sangat baik,” jawab Jove sambil tersenyum.

“Sudah mengantar Jayden ke rumah Uncle Jid?”

“Sudah, Mom.” Jove kemudian menyerahkan sebuah paperbag kepada ibunya. “Dan ini ada titipan dari Aunty Amel.”

Jihan menerima paperbag tersebut dan melihat isinya.

“Puding leci?”

Jove mengangguk.

“Aunty Amel memberikannya tadi. Katanya untuk Mommy.”

“Wah, baik sekali Aunty Amel.”

Jihan menyerahkan paperbag itu kepada pelayan untuk disimpan di lemari es.

Sementara itu, Jove memilih naik ke lantai dua. Ia ingin membersihkan diri dan beristirahat sebentar sebelum kembali melakukan aktivitas lainnya.

Begitu membuka pintu kamar, senyum tipis muncul di wajahnya.

Kamarnya masih sama seperti dulu.

Tidak banyak yang berubah.

Barang-barangnya masih tertata dengan rapi, suasananya pun masih terasa begitu akrab. Seolah-olah meskipun dirinya sudah menikah dan tinggal di apartemen bersama Nic, kamar ini tetap menjadi tempatnya untuk kembali.

Hanya ada satu hal yang berbeda.

Beberapa pakaian Nic kini tersimpan di salah satu bagian lemari miliknya.

Jove menatap pakaian-pakaian itu sebentar.

Kemudian ia menggeleng kecil.

“Drama pernikahan,” gumamnya pelan.

Setelah itu Jove mengambil pakaian bersih dan masuk ke kamar mandi.

Beberapa waktu kemudian, Nic tiba di rumah keluarga Dewantara.

Setelah selesai meninjau proyek di mal, ia memutuskan untuk langsung datang ke rumah mertuanya.

Sebenarnya ia bisa saja kembali ke apartemen.

Namun, pikirannya masih terasa kacau.

Ia sendiri tidak mengerti mengapa.

Yang lebih mengganggunya adalah satu hal.

Mengapa ia begitu kesal melihat Jove bersama Jayden?

Begitu masuk ke dalam rumah, Jihan langsung menyambutnya.

“Hai, Nic. Sudah pulang?” tanya Jihan.

“Hai, Mom.”

Nic membalas sapaan itu dengan senyum tipis.

Kemudian, tanpa sadar, pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya justru tentang istrinya.

“Jove sudah kembali?”

Jihan tersenyum mendengar pertanyaan itu.

“Sudah. Sepertinya sedang mandi. Naiklah ke kamar.”

Nic mengangguk.

“Aku ke kamar dulu ya, Mom.”

“Iya.”

Nic segera menaiki tangga menuju lantai dua.

Begitu sampai di depan kamar Jove, ia masuk karena pintunya tidak terkunci.

Nic melepaskan jas dan dasinya, kemudian membuka beberapa kancing kemejanya. Ia bermaksud berganti pakaian agar lebih nyaman sebelum berbicara dengan Jove.

Namun, baru saja ia meletakkan jasnya ke dalam keranjang cucian, suara pintu kamar mandi terdengar.

Jove keluar.

Langkah wanita itu seketika terhenti.

Begitu pula dengan Nic.

Jove baru menyadari bahwa Nic sudah berada di dalam kamar.

“Ya Tuhan,” gumamnya terkejut.

Nic pun membeku.

Jove hanya mengenakan handuk yang melingkar di tubuhnya. Rambutnya masih basah dan beberapa helainya jatuh di sekitar wajah.

Untuk beberapa detik, Nic hanya diam menatapnya.

Sebagai seorang pria dewasa, tentu saja pemandangan itu membuat pikirannya berkelana ke arah yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan.

Jove terlihat begitu berbeda ketika baru selesai mandi.

Dan untuk sesaat, Nic bahkan harus berusaha keras mengendalikan dirinya sendiri.

Namun, akal sehatnya masih cukup kuat untuk mengingatkan bahwa mereka memiliki batas.

Jove sendiri baru menyadari keadaannya.

Ia langsung merutuki dirinya sendiri.

‘Kenapa tadi aku tidak memakai bathrobe?’

Ia berpikir kamar itu kosong.

Tidak ada seorang pun yang akan melihatnya keluar dari kamar mandi seperti ini.

“Kamu sudah pulang?” tanya Jove, berusaha bersikap biasa. “Kirain kamu masih nanti.”

“Tadi aku habis dari Mall XX. Aku mengecek progres proyek pelebaran area parkir di sana.”

“Oh, ya?” Jove menatapnya. “Jam berapa? Tadi aku juga ke sana dan makan siang di sana.”

“Saat makan siang juga.”

Nic kemudian melangkah mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Hingga jarak di antara mereka semakin dekat.

Tatapannya tertuju pada mata Jove.

Namun, sebelum ia mengatakan apa pun, Jove mulai menyadari bahwa Nic berdiri terlalu dekat.

Ia menelan ludah.

Nic berhenti tepat di hadapannya.

“Dan di sana aku melihatmu dengan seorang pria,” katanya pelan. Suaranya terdengar sedikit tercekat. “Kalian terlihat sangat akrab.”

“Nic.”

Jove refleks mengangkat tangannya dan menahan dada bidang Nic agar pria itu tidak semakin mendekat.

Sentuhan singkat itu justru membuat suasana menjadi semakin canggung.

Nic segera menyadari jarak mereka.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia melangkah dan masuk ke kamar mandi, melewati Jove begitu saja.

Jove mengembuskan napas panjang.

Ia buru-buru mengambil pakaian dan mengenakannya.

Sementara itu, di dalam kamar mandi, Nic berdiri di depan wastafel.

Tangannya mengepal.

Ia bahkan sempat memukul udara dengan kesal.

Bukan kepada Jove.

Bukan juga kepada Jayden.

Tetapi kepada dirinya sendiri.

“Kenapa aku harus kesal?”

Ia mengusap wajahnya.

Bukankah Jove bebas berteman dengan siapa saja?

Bukankah mereka sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing?

Lalu mengapa melihat Jove bersama pria lain membuat dadanya terasa panas?

Nic tidak memiliki jawabannya.

Dan justru itu yang membuatnya semakin kesal.

Tak lama kemudian, Nic keluar dari kamar mandi.

Jove sudah duduk di sofa sambil memegang tabletnya. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada laporan kerja yang baru saja dikirimkan asistennya.

Nic duduk di sisi lain sofa, masih memberikan jarak di antara mereka.

“Kamu nggak bersiap untuk pulang?” tanyanya.

Jove tidak langsung menoleh.

“Hm. Mommy minta aku menginap di sini.”

Baru setelah itu Nic memahami pakaian santai yang dikenakan Jove.

“Oh.”

Beberapa detik berlalu.

Kemudian Jove menurunkan tabletnya.

“Tadi kamu ke mal dan lihat aku, kenapa tidak nyamperin aku?”

Nic terdiam sebentar.

“Karena tadi kamu sedang bersama pria.”

Jawaban itu terdengar begitu sederhana.

Namun, Jove mengerutkan dahi.

Nic menunduk sebentar sebelum akhirnya kembali memandangnya.

“Jove.”

“Hm?”

“Aku bukan bermaksud ikut campur urusan pribadimu.” Nic menjeda ucapannya. “Tapi aku merasa perlu mengatakan sesuatu.”

Jove menatapnya.

Nic menarik napas panjang.

“Kalau memang sudah ada pria yang bisa kamu cintai, lepaskan pernikahan ini.”

Dahi Jove semakin berkerut.

“Maksudnya apa?”

“Kamu pernah tahu rasanya dikhianati, kan?”

Jove terdiam.

“Jadi, jangan mengkhianati pernikahan ini.” Suara Nic terdengar lebih berat. “Meski ada kesepakatan di dalam pernikahan kita, alangkah lebih baiknya kalau kita melepaskan pernikahan ini terlebih dahulu sebelum kamu dekat dengan pria lain.”

Entah mengapa, saat mengucapkan kalimat itu, dada Nic terasa bergemuruh.

Ia bahkan tidak tahu mengapa kalimat tersebut terasa begitu berat untuk diucapkan.

Jove semakin bingung.

“Jadi maksudmu Jayden?”

“Mau dia Jayden atau siapa pun.”

Tatapan Nic kembali tertuju pada Jove.

“Aku kira kamu tidak akan pernah mencintai pria lain. Karena itu aku mengajakmu menikah.”

Jove masih diam.

“Tapi ternyata cintamu datang lebih cepat.” Nic menghela napas. “Aku tidak menyalahkanmu. Karena hati memang tidak bisa ditahan.”

Jove justru terlihat biasa saja.

Tidak ada kepanikan.

Tidak ada rasa bersalah.

Hanya kebingungan.

“Pikiranmu terlalu jauh, Nic.”

Jove meletakkan tabletnya, kemudian berdiri.

“Jayden itu sepupuku.”

Nic terdiam.

“Ayahnya dan Mommyku adalah saudara kembar. Saat kita menikah, dia masih kuliah di Jerman. Sedari kecil kami tumbuh bersama dan memang dekat.”

Setelah mengatakan itu, Jove langsung berjalan meninggalkan Nic.

Pria itu masih duduk diam di sofa.

Jayden.

Sepupu?

Nic mengembuskan napas panjang.

Entah harus merasa lega atau justru semakin malu dengan pikirannya sendiri.

Sementara itu, Jove menuruni tangga menuju lantai bawah.

Namun, langkahnya perlahan melambat.

Pikirannya kembali pada percakapan mereka tadi.

Kenapa aku harus menjelaskan semuanya kepada Nic?

Bukankah mereka sudah membuat kesepakatan?

Tidak boleh ikut campur urusan masing-masing.

Jove menggigit bibir bawahnya pelan.

Ia sendiri tidak mengerti mengapa tadi ia merasa perlu menjelaskan hubungan dirinya dengan Jayden.

Seharusnya ia bisa saja mengatakan bahwa Nic terlalu banyak berpikir.

Atau bahkan tidak perlu menjawab sama sekali.

Namun, ia justru menjelaskan semuanya.

Jove menghela napas panjang.

“Aneh.”

Ia menyentuh dadanya sendiri.

Ada sesuatu yang terasa asing di sana.

Sesuatu yang belum bisa ia pahami.

1
Siti Chotimah
entahlah...gtw mw koment apa🤭
💪up othor
Warningsih Ningsih: semangat dong kak shann,,,, semangat terus ya
total 2 replies
Warningsih Ningsih
absen dulu ✌️✌️✌️
Miss. Shann (IG: miss.shann29): Hai Kak🤏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!