Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Pintu
Langkah kaki Freya bergemeretak panik di atas lantai marmer lobi restoran. Udara malam kota Rotterdam yang dingin menusuk tulang seolah tak ia hiraukan lagi. Pesan singkat dari Markuz terus berputar di benaknya, menciptakan gelombang ketakutan yang luar biasa hebat. Ia menolak menunggu mobil jemputan staf yang terlalu lama; detik itu juga, ia melambaikan tangan menghentikan sebuah taksi kota, menyebutkan alamat penthouse Victor dengan suara bergetar penuh cemas.
Sepanjang perjalanan di dalam taksi, pemandangan lampu-lampu kota yang berkilauan di luar jendela tampak kabur. Dada Freya terasa sesak. Bayangan tentang Victor yang terluka atau berada dalam bahaya besar membuat air mata hampir menetes di pelupuk matanya.
Setibanya di gedung pencakar langit tempat penthouse pribadi Victor berada, Freya berlari kencang menembus pintu kaca otomatis, melesat masuk ke dalam lift privat, dan menekan tombol lantai paling atas. Sesampainya di koridor lantai atas, ia melihat Markuz berdiri tegap di depan pintu ganda kayu mahoni dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan—tegas namun menyisakan ketegangan yang pekat.
Begitu melihat kedatangan Freya yang terengah-engah, Markuz langsung melangkah mendekat.
"Nona Freya, Anda sudah kembali," ucap Markuz cepat.
"Markuz! Ada apa dengan Victor? Di mana dia?" tanya Freya panik, jemarinya mencengkeram tas tangannya erat-erat. "Pesanmu tadi... itu membuatku ketakutan setengah mati!"
Markuz menatap Freya sejenak, menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu kamar utama sedikit lebar. "Masuklah ke dalam, Nona. Tuan Victor ada di dalam... dan beliau sedang mencariku—maksudku, beliau sangat membutuhkan Anda saat ini. Pastikan Anda menemaninya."
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut karena rasa khawatirnya yang sudah membuncah, Freya segera mendorong pintu kamar dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang temaram.
Suasana di dalam kamar utama penthouse terasa sangat panas dan pengap, jauh berbeda dengan suhu dingin malam di luar sana. Lampu kamar diredupkan, hanya menyisakan pendar lampu tidur kekuningan yang menyorot lantai kayu.
Freya melangkah masuk lebih dalam. "Victor...?" panggilnya lembut dengan nada cemas.
Di dekat tepi ranjang besar berseprai sutra hitam, sesosok tubuh tinggi besar berdiri dengan napas memburu berat. Victor mencengkeram tepi meja rias, kemeja putihnya sudah berantakan dengan kancing-kancing atas yang terkoyak lepas, dan rambut hitamnya basah oleh keringat dingin yang mengucur deras di pelipisnya.
Mendengar suara lembut Freya, kepala Victor mendongak perlahan. Sepasang mata biru tajam itu kini tampak memerah, dipenuhi oleh kilatan hasrat liar yang tidak terkontrol akibat sisa-sisa zat kimia perangsang sintetis berkadar tinggi yang masih mengalir membakar aliran darahnya. Efek obat biadab buatan Annelise itu belum sepenuhnya hilang; zat tersebut kini bergejolak hebat, menuntut pelepasan yang tak tertahankan.
Freya yang melihat kondisi Victor seketika mematung karena panik. Ia belum pernah melihat pria itu dalam keadaan separah dan keliaran ini.
"Victor... astaga, apa yang terjadi padamu?" bisik Freya ngeri, melangkah mendekat berniat menyentuh lengan pria itu untuk memeriksa keadaannya.
Namun, gerakan Freya justru menjadi pemicu terakhir bagi pertahanan diri Victor yang sudah berada di ambang batas kehancuran. Begitu bau tubuh Freya tertangkap oleh indra penciumannya yang dikuasai insting buas, Victor bergerak secepat kilat.
Bruk!
Sebelum Freya sempat menyadari apa yang terjadi, tangan kokoh Victor menerkam pinggangnya, menarik tubuh mungil gadis itu merapat dalam dekapannya yang sangat kuat. Freya terkesiap kaget, matanya membelalak saat Victor membenamkan wajahnya di leher jenjang sang gadis, menghirup aroma tubuhnya dengan rakus.
"Victor... lepaskan, kau kenapa...?" rintih Freya setengah takut, merasakan suhu tubuh Victor yang panas bagaikan bara api menyengat kulitnya.
"Maan..." desis Victor serak, suaranya nyaris tak dikenali—berat, dalam, dan sarat akan kebutuhan yang mendesak. "Kau... kenapa kau datang sekarang... tubuhku terbakar, Maan. Aku tidak tahan lagi..."
Sebelum Freya sempat merespons, Victor membalikkan tubuh gadis itu dan mendorongnya perlahan hingga punggung Freya bersandar lembut di atas permukaan ranjang yang empuk. Victor menindih tubuhnya dengan penuh dominasi, namun tatapan mata biru yang menatap wajah Freya dipenuhi oleh gelombang emosi yang begitu jujur dan mentah.
Victor menangkup wajah Freya dengan kedua telapak tangannya yang panas, memaksa mata cokelat jernih gadis itu menatap langsung ke dalam manik matanya.
"Dengarkan aku, Freya..." bisik Victor penuh penekanan, napasnya memburu di atas bibir gadis itu. "Aku tidak peduli apa yang terjadi di luar sana... tapi aku ingin kau tahu satu hal. Sejak pertama kali aku melihatmu, sejak hari di mana kau masuk ke dalam duniaku... aku sangat menyukaimu. Dan sekarang... aku mencintaimu, Maan. Sungguh, aku mencintaimu."
Mendengar pengakuan cinta yang terlontar begitu tulus di tengah situasi yang begitu liar dan genting, pertahanan hati Freya runtuh seketika. Air mata keharuan menetes perlahan di sudut matanya. Segala keraguan, ketakutan, dan rasa insecure yang selama ini ia pendam seolah sirna tersapu oleh ketulusan suara pria di hadapannya.
"Victor..." bisik Freya lirih, tangannya terulur merangkul leher Victor dengan penuh kelembutan. "Aku... aku juga mencintaimu. Aku pasrah... lakukan apapun yang kau inginkan padaku. Aku milikmu malam ini."
Mendengar pasrahnya sang gadis dan balasan cinta yang ia nantikan, ranting kesadaran terakhir di kepala Victor putus sepenuhnya. Pria itu menunduk, dan malam itu berubah menjadi lautan gairah yang membakar tanpa ampun.
Bibir Victor menerpa bibir Freya dalam ciuman yang dalam, menuntut, dan penuh rasa lapar yang tertahan. Freya membalas ciuman itu dengan sama terenggutnya, membiarkan dirinya tenggelam sepenuhnya ke dalam dekapan sang kekasih.
Pakaian yang membatasi tubuh mereka perlahan tersingkir dalam gerakan tergesa-gesa yang dipenuhi oleh desakan hasrat. Sentuhan tangan Victor yang hangat dan kasar menjelajahi setiap jengkal kulit mulus Freya, memicu gelombang getaran nikmat yang luar biasa kuat di sekujur tubuh sang gadis.
"Ah... Victor..." desahan lembut lolos dari bibir Freya saat ciuman pria itu turun menelusuri leher dan tulang selangkanya, meninggalkanjejak-jejak kehangatan yang membuat napas Freya tersengal-sengal.
Victor tidak memberi ampun; pengaruh obat perangsang yang masih bercampur dengan rasa cinta yang teramat besar membuat setiap sentuhannya begitu intens, menuntut, dan penuh gairah buatan yang liar. Ia menyatukan tubuh mereka dalam keintiman yang menghanyutkan. Sensasi sengatan nikmat yang luar biasa menyentak kesadaran Freya, membuat gadis itu melengkungkan punggungnya, mencengkeram seprai ranjang erat-erat sementara desahannya semakin menjadi-jadi memenuhi ruang kamar yang sunyi.
"Victor... pelan... ahh, sakit..." rintih Freya tertahan di sela desahannya ketika intensitas gerakan Victor terasa begitu mendominasi, menciptakan sensasi nyeri bercampur nikmat yang membakar bagian bawah tubuhnya.
Namun Victor, yang kesadarannya telah dikuasai sepenuhnya oleh obat dan gelombang gairah yang tak terbendung, tidak mampu menghentikan ritmenya. Ia terus menghujani Freya dengan sentuhan-sentuhan dalam dan penuh gairah, menikmati setiap desahan dan liukan tubuh gadis itu di bawah kukungannya.
Waktu seolah berhenti berputar. Menit demi menit berlalu dalam pusaran keintiman yang jauh lebih lama dari malam-malam biasa. Freya merasakan sekujur tubuhnya lemas, otot-ototnya menegang, dan rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya semakin terasa nyata akibat durasi permainan yang begitu panjang dan intens. Namun, ia tidak melawan; ia membiarkan dirinya terus terbawa arus kenikmatan bersama pria yang dicintainya.
Victor terus bergerak dengan ritme yang konstan, menuntut pelepasan yang sedari tadi menggila di dalam aliran darahnya. Keringat bercucuran membasahi tubuh atletis mereka, sementara suara napas memburu dan desahan Freya berpadu menjadi satu simfoni malam yang panas.
Hingga pada satu titik puncak yang paling menentukan, ketika ketegangan di dalam saraf Victor mencapai batas absolutnya, pria itu menghentikan gerakannya sejenak. Matanya membelalak lebar menatap langit-langit kamar, sementara seluruh otot tubuhnya menegang kaku.
Sebuah raungan berat, serak, dan penuh kelegaan mendalam lepas dari tenggorokan Victor—sebuah ledakan klimaks dahsyat yang menyapu bersih sisa-sisa racun obat perangsang di tubuhnya, menyatukan seluruh jiwa dan raganya pada diri Freya.
Ahhh...!
Freya ikut merasakan gelombang kenikmatan penutup yang menghantam kesadarannya, membuat matanya terpejam erat sementara tubuhnya melemas total di atas ranjang.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang pekat. Napas keduanya memburu hebat, mengisi ruangan yang kini kembali mendingin.
Victor merosot perlahan, merebahkan tubuh lelahnya di samping Freya. Tanpa membuang waktu, tangan kokoh pria itu langsung menarik tubuh Freya agar mendekat, memeluk erat sang gadis ke dalam dekapannya yang hangat. Ia mengecup kening Freya berulang kali dengan penuh kelembutan yang tersisa.
Freya memejamkan matanya, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Victor yang masih naik-turun perlahan. Rasa sakit di tubuhnya perlahan mereda, digantikan oleh rasa aman, nyaman, dan kehangatan yang luar biasa.
Di dalam pelukan erat satu sama lain, di tengah badai intrik dunia luar yang siap menghantam kapan saja, keduanya akhirnya terlelap dalam tidur yang pulas, saling menghangatkan di sisa malam Rotterdam yang panjang.