Indonesia
NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33

Bau tajam mesiu membakar rongga dada. Suara desing peluru yang memantul pada pilar-pilar besi gudang tua berangsur-angsur meredup, tergantikan oleh erangan tertahan dari dua orang penyerang yang berhasil dilumpuhkan di atas lantai semen yang dingin dan basah.

Nicolas Vance berdiri tegap di tengah reruntuhan kayu dan serpihan kaca. Senjata semi-otomatis di tangan kanannya masih mengeluarkan asap tipis, sementara tangan kirinya mencengkeram erat saku dalam jas hitamnya, memastikan tabung silinder plastik yang berisi kertas resep medis tua itu tetap aman di tempatnya.

Aura di sekeliling Nicolas berubah menjadi sangat mengerikan. Tatapan mata kelabunya memancarkan kilat kekejaman yang tak lagi tersembunyi.

Pengkhianatan yang baru saja terjadi di depan matanya bukan sekadar serangan fisik, melainkan sebuah konfirmasi telak bahwa ada iblis berdarah dingin yang sedang panik dan berusaha membungkam kebenaran dengan segala cara.

"Tuan Nicolas, area telah kita amankan sepenuhnya," seru Matteo seraya melangkah cepat mendekat, menyeka darah segar yang mengalir di pelipis kirinya akibat goresan pecahan semen.

"Dua penyerang tewas di tempat, dua lainnya berhasil dilumpuhkan dalam keadaan hidup. Namun... satu unit kendaraan pelari mereka berhasil menembus pintu luar."

Nicolas memutar tubuhnya perlahan. Garis rahangnya menegang keras hingga buku-buku jarinya memutih di atas gagang senjata. "Siapa yang mengomandoi unit pembunuh bayaran ini?"

Matteo berlutut di samping salah satu penyerang yang tertembak di bagian lutut, lalu merenggut paksa topeng yang menutupi wajah pria tersebut.

Tidak ada identitas resmi, tidak ada tato organisasi, tetapi di balik lipatan jaket taktis pria itu, Matteo menemukan sebuah radio komunikasi jarak pendek berspesifikasi militer dengan frekuensi terenkripsi khusus.

"Frekuensi ini terhubung ke jaringan komunikasi privat milik Ophelia Group, Tuan," ujar Matteo dengan suara berat yang dipenuhi nada kecemasan.

"Tidak salah lagi. Serangan ini diperintahkan langsung dari dalam Kediaman Utama Vance melalui jalur komunikasi Nyonya Claudia."

Sebuah hembusan napas dingin dan beracun keluar dari bibir Nicolas. Udara di dalam gudang tua itu seketika terasa membeku.

Selama belasan tahun, ia membesarkan dendamnya di atas pusara sang ibu, menyakiti orang-orang yang tidak bersalah, dan menutup matanya dari setiap kejanggalan demi menghormati wanita yang menggantikan posisi ibunya itu. Namun malam ini, topeng kebaikan itu hancur berkeping-keping di bawah hujan peluru.

Nicolas berpaling menuju sudut dinding tebal tempat Sofia meringkuk. Wanita itu gemetar hebat, napasnya terengah-engah dengan wajah pucat bagaikan mayat, namun matanya tetap memancarkan keberanian yang tak padam.

"Bawa wanita ini ke mobil," perintah Nicolas kepada Matteo.

"Pastikan dia berada di bawah pengawalan personel terbaik kita. Bawa langsung ke mansion perbukitan. Jika ada satu helai rambut pun dari kepalanya yang tergores, kalian semua yang akan bertanggung jawab."

Sofia mendongak, menatap Nicolas dengan suara parau. "Tuan Vance... kertas resep medis itu... Anda sudah memegangnya secara langsung."

Nicolas menundukkan pandangannya, menatap Sofia dari ketinggian tubuhnya yang tegap. "Aku memegang kata-kataku, Nona Sofia. Keselamatan Anda terjamin mulai detik ini. Dan bukti yang Anda serahkan akan menjadi senjata utama untuk mengakhiri kegilaan ini."

 

...****************...

Konvoi lima kendaraan hitam membelah kegelapan jalan tol menuju kawasan perbukitan tatkala garis-garis merah fajar mulai menyirat di ufuk timur.

Di dalam kabin belakang mobil SUV lapis baja yang dikendarai oleh Matteo, Nicolas duduk membisu. Di atas pangkuannya, tabung silinder plastik transparan itu terbaring. Dengan gerakan tangan yang teratur dan penuh kehati-hatian, Nicolas membuka segel kedap air tabung tersebut.

Ia merogoh bagian dalamnya, menarik keluar selembar kertas tua yang telah menguning dan rapuh di beberapa bagian tepi.

Dada Nicolas bergemuruh hebat tatkala jemarinya menyentuh permukaan kertas tersebut. Di bawah temaram lampu interior mobil, ia membaca setiap baris tulisan tangan berkerut yang terukir di sana:

Formulir Catatan Medis Rahasia (Tahun 2015)

Pasien: Christina Vance

Dokter Penanggung Jawab: Dr. Arthur Pendelton

Catatan Khusus:

Ditemukan jejak akumulasi senyawa Arsenik Trioksida dalam sampel darah dan jaringan rambut pasien secara bertahap selama 90 hari terakhir. Dosis yang diberikan bersifat mikro-subkronis, memicu kegagalan organ secara perlahan yang menyerupai gejala penyakit autoimun berat.

Instruksi Penanganan:

Pemberian senyawa penawar khusus harus dilakukan secara tertutup atas permintaan Pihak Penjamin (Claudia Ophelia). Rekam medis ini tidak dicatatkan dalam arsip publik atas perintah keluarga.

Crackkk!

Gelas kristal kecil berisi air yang berada di dekat konsol tengah mendadak retak akibat cengkeraman tangan Nicolas yang membatu.

Ibundanya, Christina Vance tidak meninggal secara mendadak akibat luka tembak murni pada malam tragedi sebelas tahun lalu.

Ibunya sedang dibunuh secara perlahan oleh wanita yang selama ini ia panggil dengan sebutan Ibu Angkat.

Penembakan yang dilakukan oleh Hans Sinclair pada malam itu hanyalah penutup tirai yang sempurna untuk menyembunyikan pembunuhan berencana yang hampir selesai.

"Tuan Nicolas..." panggil Matteo pelan melalui kaca spion tengah, melihat raut wajah atasannya yang berubah menjadi sangat mengerikan dengan pendar mata yang memerah akibat kemarahan murni.

"Apakah... apakah dokumen tersebut mengonfirmasi kebenaran dari pernyataan Nona Sienna?"

Nicolas tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melipat kertas tua itu kembali dengan sangat lembut, seolah-olah kertas itu adalah sisa-sisa jiwa sang ibu yang tertinggal, lalu memasukannya ke dalam kantong kulit bersegel di dalam jasnya.

"Matteo," panggil Nicolas dengan suara rendah yang begitu dalam, mengandung ancaman pembunuhan yang belum pernah didengar oleh Matteo sesebelumnya

"Hubungi tim peretas internal dan pengacara independen kita. Perintahkan mereka untuk menyiapkan analisis laboratorium ilmiah atas sampel kertas dan tinta ini dalam waktu dua jam. Dan satu hal lagi..."

"Apa perintah Anda, Tuan?"

"Siapkan blokade total atas seluruh aset, rekening bank, dan jalur pelarian milik keluarga Ophelia di seluruh negeri. Jangan biarkan Claudia menyadari bahwa rencana pembunuhannya di pelabuhan telah gagal total."

"Baik, Tuan Vance!"

 

...****************...

Mansion perbukitan di Bogor diselimuti kabut tipis fajar tatkala rombongan kendaraan Nicolas tiba. Pintu gerbang besi tempa terbuka lebar, membiarkan mobil-mobil hitam itu meluncur masuk ke pelataran utama yang dikelilingi rimbunan pohon pinus.

Di dalam kamar utama di lantai dua, Sienna Sinclair berdiri kaku di depan jendela kaca besar. Ia tidak tidur sepanjang malam. Setiap denting detik jam dinding terasa bagaikan siksaan yang meremas jantungnya.

Ketika ia melihat konvoi mobil Nicolas memasuki halaman, tangannya yang terbalut perban tipis meremas erat kain gorden.

Apakah Sofia selamat? Apakah bukti itu sudah sampai ke tangan Nicolas?

pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti di dalam kepalanya.

Klek.

Suara kunci pintu yang terdorong kasar membuat Sienna seketika memutar tubuhnya.

Pintu kayu jati tebal itu terbuka lebar. Nicolas Vance melangkah masuk. Pria itu tidak lagi mengenakan jas hitamnya, hanya kemeja putih yang lengan bajunya digulung kasar hingga siku, dengan noda darah kering milik penyerang yang menempel di bagian dada kemejanya. Wajah tegapnya tampak keras, dingin, dan dipenuhi oleh aura kekelaman yang teramat pekat.

Di belakang Nicolas, dua pengawal menuntun Sofia melangkah masuk.

"Sofia!" jerit Sienna, air matanya seketika pecah tatkala melihat sahabatnya berdiri di sana dalam keadaan utuh dan bernapas.

"Sienna!" Sofia hendak berlari mendekat, namun Nicolas menghentikan pergerakan mereka dengan satu lambaian tangan yang mutlak.

"Bawa Nona Sofia ke ruang peristirahatan di lantai bawah. Pastikan seluruh kebutuhan medis dan keamanannya terpenuhi," perintah Nicolas dingin kepada para pengawal.

Sofia menatap Sienna seraya mengangguk mantap. "Aku sudah menyerahkannya, Sienna. Kertas itu sudah ada pada Tuan Vance!"

Para pengawal membimbing Sofia keluar, mengunci kembali pintu kamar dari dalam, menyisakan Sienna dan Nicolas dalam keheningan yang amat mencekam.

Sienna berdiri mematung di dekat jendela, dadanya naik turun secara tak teratur. Ia menatap noda darah di kemeja putih Nicolas, lalu beralih menatap sepasang mata kelabu pria itu yang kini memancarkan kegelapan yang tak terukur.

"Tuan Vance..." bisik Sienna dengan suara bergetar namun formal. "Apakah... apakah Anda sudah membaca dokumen tersebut?"

Nicolas tidak segera menjawab. Ia mengayunkan langkahnya perlahan, mendekati posisi Sienna berdiri. Setiap derap langkah sepatu kulitnya menggema berat di atas lantai kayu jati.

Nicolas berhenti tepat satu jengkal di hadapan Sienna, mengikis seluruh jarak di antara mereka hingga Sienna dapat merasakan kehangatan napas dan aroma mesiu yang masih melekat pada tubuh pria itu.

Nicolas merogoh saku kemejanya, lalu mengeluarkan kantong kulit bersegel. Ia meletakkannya di atas meja kecil di samping Sienna.

"Dokumen resep medis asli dari Dr. Arthur Pendelton berada di dalam kantong ini," tutur Nicolas dengan intonasi rendah, dalam, dan tanpa nada kesombongan yang biasanya ia tunjukkan.

"Dokumen ini mencatatkan secara terperinci racun Arsenik Trioksida yang disuntikkan secara bertahap ke dalam tubuh ibuku oleh Claudia Ophelia."

Sienna menahan napasnya. Air matanya menetes perlahan membasahi pipinya yang pucat. Kata-kata yang diucapkannya selama belasan tahun, kata-kata yang membuatnya dicap sebagai putri seorang pembunuh, disiksa, dihina, dan dikurung di dalam sangkar—akhirnya terbukti kebenarannya di depan pria yang paling membencinya.

"Ayah saya..." cicit Sienna, suaranya pecah oleh kepedihan yang teramat sangat.

"Ayah saya, Hans Sinclair... beliau bukan pembunuh berdarah dingin sebagaimana yang Anda dan keluarga Anda tuduhkan selama sebelas tahun ini, Tuan Vance. Ayah saya mencoba menyelamatkan Nyonya Christina! Beliau mengetahui konspirasi racun itu dan mencoba merebut bukti tersebut sebelum malam penembakan terjadi!"

Nicolas menatap lurus ke dalam iris cokelat Sienna. Untuk pertama kalinya dalam belasan tahun, tidak ada pendar kebohongan, tidak ada manipulasi, dan tidak ada keraguan di dalam mata wanita itu. Hanya ada kebenaran murni yang selama ini tertutup oleh raksasa dendam buatan.

Dilema dahsyat yang meremukkan jiwa Nicolas mencapai puncaknya. Fondasi hidupnya runtuh. Seluruh kebencian, siksaan, dan penghinaan yang ia timpakan kepada Sienna Sinclair selama ini berdiri di atas kebohongan besar yang dirancang oleh wanita yang membesarkannya.

Nicolas mengepalkan tangannya di samping tubuh hingga pembuluh darah di lengannya menonjol keras.

"Kau benar, Sienna," ujar Nicolas dengan suara yang amat pelan namun sarat akan penyesalan yang membakar jiwanya. "Selama sebelas tahun ini... aku telah dipimpin oleh iblis yang sebenarnya."

Sienna tertegun. Pengakuan yang keluar dari bibir pria berdarah dingin itu terasa bagaikan pukulan besar yang melumpuhkan seluruh pertahanannya.

"Lantas..." bisik Sienna dengan tatapan menuntut.

"Apa yang akan Anda lakukan sekarang, Tuan Vance? Apakah Anda akan tetap mengurung saya di dalam sangkar emas ini, ataukah Anda akan menghadapi iblis yang sesungguhnya di dalam keluarga Anda sendiri?"

Nicolas mencondongkan tubuhnya, menatap Sienna dengan pendar mata kelabu yang berkilat penuh ketegasan yang mematikan.

"Sangkar ini tidak lagi berfungsi untuk menahanmu, Sienna," tegas Nicolas dengan bahasa tutur yang sangat formal dan dingin.

"Mansion ini mulai detik ini adalah markas pertahanan kita. Dan mengenai Claudia Ophelia..."

Nicolas memutar tubuhnya menuju pintu keluar, melangkah dengan kejam bagaikan seorang raja yang siap menuntut pembalasan atas darah ibunya.

"Aku tidak hanya akan menghancurkan kekuasaannya. Aku akan memastikan wanita itu membusuk di dalam penjara tergelap dan menyaksikan seluruh kekaisaran Ophelia runtuh menjadi abu di hadapan matanya sendiri."

...Bersambung.... ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!