Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Sial, Mau Tunangan

Takut Sial, Mau Tunangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Idola sekolah
Popularitas:275
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.

Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.

Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.

Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kado Ulang Tahun Paling Sial

Di tengah kamar Baffin yang biasanya rapi, lantai karpetnya kini berubah menjadi medan perang warna. Berbagai macam krayon dan pensil warna berserakan tanpa aturan.

Di sana, Baffin kecil dan Silva kecil yang baru berumur lima tahun sedang duduk berhadapan. Buku gambar mereka terbuka lebar, lengkap dengan segelas susu putih di dekat masing-masing anak.

Silva sedang sibuk membongkar tumpukan krayon miliknya. Jari-jari mungilnya bergerak acak, melempar warna merah dan hijau ke sembarang arah demi mencari satu warna yang dia mau.

Padahal, krayon biru yang dicarinya justru menggelinding santai di dekat kaki Baffin—akibat kecerobohan Silva sendiri yang mengacak-acak tempatnya tadi.

Silva mendongak dan menjulurkan tangan. "Apin... Cilpa mau pewarna birunya. Mau buat awan."

Baffin sama sekali tidak merespons. Fokusnya terpaku sepenuhnya pada gambar robot miliknya yang sedang diwarnai dengan sangat rapi dan teliti.

"Apin..." panggil Silva lagi, kali ini nadanya sengaja dipanjangkan.

"Ambil sendiri. Apin lagi gambar," balas Baffin datar, bahkan tanpa melirik Silva sedikit pun.

Silva mengerucutkan bibirnya kesal. Menyerah meminta bantuan, gadis kecil itu memutuskan untuk mengambilnya sendiri.

Dengan lutut mungilnya, ia mulai merangkak maju melewati rintangan krayon, menyeberangi buku gambar mereka, dan… brak!

Satu gerakan ceroboh dari lutut Silva menyenggol gelas susunya hingga tumbang. Cairan putih pekat itu langsung mengalir deras, membanjiri permukaan kertas tempat Baffin menggambar robotnya dengan susah payah.

Silva tersentak. Menyadari bencana besar yang baru saja ia perbuat, ia langsung berdiri tegak. Kedua tangan mungilnya otomatis terkatup di depan dada dengan wajah menggemaskan.

"Maap Apin, Cilpa gak sengaja..." ucapnya cepat, sebuah kalimat yang sudah terdengar seperti ritual harian di telinga Baffin

Begitu kalimat itu selesai diucapkan, Silva langsung berbalik dan berlari kencang keluar dari kamar. Bukannya pengecut atau tidak mau tanggung jawab, tapi Silva tahu diri.

Kalau dia yang ceroboh ini nekat ikut membereskan, yang ada keadaan akan tambah kacau. Dan itu pasti bakal membuat Baffin—yang sejak kecil sudah punya bakat jadi anak galak, dingin, dan jutek—makin mengamuk.

Satu jam berlalu. Kamar Baffin sudah kembali bersih, meski suasana hatinya masih mendung akibat robotnya yang hancur kebanjiran susu.

"Apin... Cilpa bawa es potek!"

Suara cempreng dari balik pintu membuat Baffin melirik ke arah pintu kamarnya yang sengaja ia kunci. Baffin menghela napas.

Setiap kali si ceroboh itu berbuat salah, polanya selalu sama: kabur seketika, lalu kembali lagi dengan membawa es lilin andalannya sebagai sogokan damai.

"Apin... Cepetan, nanti esnya cair!" panggil Silva lagi sambil mengetuk-ngetuk pintu.

Dengan langkah malas, Baffin berjalan dan membukakan pintu. Sebenarnya, Baffin tidak peduli apakah es itu mau mencair atau berubah jadi air sekalian.

Namun, entah kenapa, Baffin selalu tidak pernah tega membiarkan gadis yang selalu merusuh di kehidupannya itu menunggu terlalu lama di luar.

Begitu daun pintu terbuka, wajah Silva langsung berbinar cerah. Sebuah senyuman lebar tanpa dosa terukir di wajahnya.

Tanpa membuang waktu, tangan mungilnya dengan cekatan memotek es lilin tersebut menjadi dua bagian yang sama besar, lalu menyodorkan salah satunya ke depan wajah Baffin.

"Nih, buat Apin!"

•••

Setiap tanggal kelahiran mereka tiba, rumah Raymon dan Gilda selalu menjadi tempat berkumpul. Tradisi ini sudah berjalan selama tujuh belas tahun tanpa pernah absen sekalipun.

Sejak bayi, Baffin dan Silva selalu merayakan ulang tahun bersama. Alasan utamanya sederhana: karena orang tua mereka bersahabat sangat dekat, dan tentu saja, karena rahasia besar yang selama ini disembunyikan rapat-rapat.

Malam itu, sebuah kue ulang tahun berukuran besar diletakkan di tengah meja makan. Angka 17 berbentuk lilin menyala terang di atasnya.

"Ayo, tiup lilinnya!" seru Gilda antusias.

Baffin hanya menatap lilin itu dengan wajah datar khasnya, sama sekali tidak berminat untuk mengambil ancang-ancang.

Berbeda total dengan Silva. Gadis itu sudah tersenyum lebar dengan wajah antusias yang sangat kentara.

Baffin sendiri memiliki tipe ketampanan yang cenderung mengintimidasi. Struktur wajahnya tegas dengan garis rahang yang kokoh dan sepasang alis tebal yang hampir selalu menukik tajam, sewarna dengan rambut hitam legamnya yang sering dibiarkan sedikit berantakan.

Namun, daya tarik utamanya ada pada sepasang matanya—tatapannya yang tajam dan sedingin es selalu sukses membuat orang lain sungkan untuk mendekat, memberikan aura misterius yang justru membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih menawan

Berbeda total dengan Baffin yang berwajah kaku, Silva memiliki visual yang sangat hangat dan menggemaskan.

Wajahnya mungil dengan sepasang mata bulat jernih yang selalu berbinar penuh rasa ingin tahu. Pipi lembutnya yang sedikit chubby akan otomatis ikut terangkat naik setiap kali gadis itu memamerkan senyuman lebarnya yang secerah matahari—sebuah tipe wajah polos dan tanpa beban yang membuat siapa saja yang melihatnya akan langsung gemas, sekaligus maklum mengapa gadis secerah ini sering kali bertindak ceroboh tanpa sengaja.

Dan malam ini, keceriaan itu terpancar penuh di wajahnya. Setelah Gilda memberi izin untuk meniup lilin, Silva memejamkan mata sesaat untuk merapalkan doa, lalu—fuh!—dengan satu tiupan kuat, ia menghabiskan semua nyala lilin sendirian.

Baffin hanya mendengus pelan melihat kelakuan teman masa kecilnya itu.

Sudah menjadi tradisi tak tertulis kalau hadiah di hari ulang tahun mereka harus adil. Orang tua Silva—Baskara dan Airin—selalu membelikan hadiah yang sama persis untuk Silva dan Baffin.

Begitu pula sebaliknya, Raymon dan Gilda selaku orang tua Baffin, pasti menyiapkan hadiah kembar untuk anak kandung dan calon menantu mereka itu.

Jadi, setelah tepuk tangan meriah mereda, Silva langsung menjulurkan tangannya dengan mata berbinar.

"Hadiahnya mana? Silva mau hadiah!"

Baskara, ayah Silva, terkekeh melihat tingkah putrinya. Namun, alih-alih mengeluarkan dua bingkisan seperti biasanya, kali ini ia hanya merogoh saku kemejanya.

Sebuah kotak kecil yang elegan diletakkan di atas meja, lalu dibukanya perlahan.

Di dalamnya berkilau sepasang cincin perak yang indah. "Ini hadiahnya. Cincin tunangan kalian," ucap Baskara tenang.

Silva mengerutkan kening, mendadak bingung. Di seberang meja, Gilda langsung mengangguk bersemangat mendukung ucapan sahabatnya. "Bener. Malam ini hadiahnya adalah pertunangan kalian. Ya kan, Yah?"

Raymon ikut mengangguk tegas di samping istrinya.

"TUNANGAN?!" tanya Baffin dan Silva bersamaan.

Seketika itu juga, wajah Baffin memerah menahan amarah yang mendadak naik ke ubun-ubun. Sementara itu, ekspresi wajah Silva kembali santai, menatap kotak cincin itu dengan kepolosan yang hakiki.

"Iya... kami sudah menjodohkan kalian berdua bahkan sejak kalian baru lahir," terang Gilda dengan nada santai tanpa beban. "Dan sekarang umur kalian sudah pas untuk tunangan. Nikahnya enggak sekarang, kok. Sekarang cuman untuk masa penjajakan, biar kalian saling mengenal satu sama lain aja."

Baffin langsung protes keras. "Apaan sih, Bun... tiba-tiba banget! Selama ini Bunda selalu bilang Baffin gak boleh pacaran fokus sekolah, terus tiba-tiba sekarang disuruh tunangan?!"

"Kamu gak boleh pacaran karena kamu itu sudah dijodohin sama Silva, Baffin," sahut Raymon dengan suara beratnya yang tidak bisa dibantah.

Silva yang duduk di sebelah ibunya ikut bersuara.

"Kenapa kita dijodohin dari lahir, Nda?" tanya Silva pada Airin.

Airin menatap putrinya dengan wajah serius. "Karena kalian lahir di hari yang sama, Silva. Dalam keyakinan keluarga kita, bayi laki-laki dan perempuan yang lahir di hari, tanggal, dan jam yang sama itu membawa tanda takdir khusus. Kalian adalah penyeimbang satu sama lain. Kalau kalian bersama, hidup kalian bakal selalu sejahtera, penuh keberuntungan, dan selamat dari marabahaya. Tapi sebaliknya... kalau kalian menolak takdir ini dan berpisah, hidup kalian akan dipenuhi kesialan dan bencana bertubi-tubi."

Mendengar penjelasan ibunya, muka polos Silva yang tadinya santai langsung menegang drastis. Matanya membelalak ketakutan. "B-beneran, Nda?"

Airin mengangguk mantap, meyakinkan.

"Kalau gitu Silva mau! Biar Silva selamat!" seru Silva tanpa ragu sedikit pun.

Baffin langsung menatap Silva dengan tatapan tidak percaya. Ia mengira gadis itu setidaknya akan ikut menolak atau merasa risih.

Ternyata, Silva dengan begitu mudahnya menelan mentah-mentah mitos takhayul kuno tersebut.

"Enggak. Aku gak mau," tegas Baffin, menyilangkan dada. "Itu cuman mitos. Lagian Bunda gak mikir apa, kalau dia sampai tinggal di rumah kita, nanti semua piring dan gelas di rumah ini bakal hancur semua!"

"Ih, aku gak kayak gitu ya!" bela Silva tidak terima, mengerucutkan bibirnya.

Gilda malah tersenyum menyebalkan mendengar protes anak laki-lakinya. "Ya udah, gampang. Nanti semua gelas dan piring di rumah ini Bunda ganti jadi yang bahan plastik. Biar kalau dibanting dari lantai dua pun gak bakal pecah."

"Bunda!" Baffin semakin frustrasi.

"Kamu harus mau, Apin! Biar kita berdua selamat!" paksa Silva, mulai panik sendiri membayangkan mitos kesialan itu.

"Enggak. Hidup aku selama ini baik-baik aja," balas Baffin dingin. "Malah bakal banyak bencana kalau aku hidup sama kamu. Lagian itu cuman mitos, Cilpa."

"Mitos? Ini yang ngomong orang tua loh... masa kamu gak percaya?" Silva menatapnya tak habis pikir.

"Aku gak mau, pokoknya." Baffin memalingkan muka, mengunci keputusannya.

"Apin harus mau! Mana sini tangannya?" Silva mulai gemas sendiri. Ia menatap ibunya dan Gilda bergantian dengan bingung. "Eh, ini cincinnya langsung dipake atau disimpen dulu?"

"Dipake dong, Sayang," sahut Gilda ramah.

Silva mengangguk, lalu menatap Gilda dengan tatapan meyakinkan. "Tante... Silva itu sebenarnya sudah gak ceroboh kok sekarang."

Gilda hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum geli, tahu betul kalau kalimat itu adalah dusta terbesar abad ini.

Karena Baffin yang duduk di depannya sama sekali tidak bergerak atau menyodorkan tangan, Silva akhirnya berinisiatif.

Ia berdiri dari kursinya, lalu mencondongkan tubuhnya jauh ke depan melewati meja makan. Tangannya yang memegang cincin terulur, mencoba meraih jemari Baffin.

Namun, Baffin tetap bergeming. Cowok itu cuma diam dengan tatapan sedingin es, sengaja menjauhkan tangannya agar tidak bisa digapai.

Kesal karena tidak ada respons, Silva memajukan tubuhnya lagi hingga bagian perutnya mentok di pinggiran meja.

Tetap saja tidak sampai. Menyerah dengan posisi tidak nyaman itu, Silva memutuskan untuk menggeser posisinya agar bisa berdiri dan berjalan memutar ke arah Baffin.

Namun, karena jarak kursinya yang terlalu mepet dengan meja makan yang berat, kaki Silva yang baru saja hendak melangkah otomatis tersangkut kaki kursi. Tubuhnya langsung kehilangan keseimbangan dan limbung terjatuh ke belakang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!