Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JERAT TRADISI DAN KEHAMPAAN
Jakarta terasa teramat sempit dan menyesakkan bagi seorang Gibran Mahendra sejak kepulangannya dari perbatasan dua minggu lalu.
Luka jahitan di perut kirinya kini telah mengering, menyisakan jaringan parut tebal yang akan selalu menjadi saksi bisu malam berdarah di bunker itu.
Namun, luka fisik itu tak ada apa-apanya dibandingkan rasa hampa yang terus menggerogoti dadanya.
Rasa bersalah karena telah mengusir Ziva dengan begitu kejam merayap tajam setiap kali mobil dinasnya melintasi jalanan menuju kediaman Bramantyo.
Ziva benar-benar menepati ucapannya: gadis itu menghilang.
Tidak ada lagi teror pengiriman kopi hitam di pagi hari, tidak ada lagi aksinya menghadang mobil dinas di depan markas, bahkan seluruh akun media sosial gadis itu gelap gulita tanpa unggahan baru.
Informasi irit dari Bramantyo hanya menyebutkan bahwa Ziva mendadak berubah menjadi sangat tertutup, mengurung diri di perpustakaan kampus demi mengejar kelulusan skripsi, atau menghabiskan waktu di apartemen yang lokasinya tidak dibocorkan kepada siapa pun.
Ketenangan dan jarak yang selama ini didambakan Gibran ternyata menjelma menjadi sebuah kutukan yang dingin.
Dan di tengah kehampaan yang tak menentu itu, ibunya Ibu Ratna hadir membawa gelombang tekanan baru yang tak terelakkan.
*PERINTAH DARI IBU RATNA*
Sore itu, Gibran memenuhi panggilan wajib untuk datang ke kediaman utama keluarga besar Mahendra di kawasan Menteng.
Ibu Ratna duduk anggun di kursi jati berukir dengan raut wajah tegas yang tak bisa diganggu gugat.
Di atas meja kaca di hadapannya, tersusun beberapa lembar foto wanita berpenampilan anggun dengan latar belakang keluarga dan pendidikan yang terpandang.
"Gibran, usiamu sudah memasuki kepala empat.
Pangkatmu sudah bintang tiga, prestasimu untuk negara ini sudah lebih dari cukup," ujar Ibu Ratna tenang, namun suaranya sarat akan perintah mutlak.
"Sekarang, Ibu minta kamu menunaikan kewajibanmu sebagai seorang anak pada keluarga ini."
Gibran menghela napas panjang yang berat, meletakkan baret militernya di atas meja.
"Ibu, Gibran sedang sangat sibuk dengan penataan personel pasca-operasi di perbatasan.
Menikah sama sekali belum menjadi prioritas."
"Prioritas atau bentuk pelarian diri?" Ibu Ratna menatap putra tunggalnya itu lekat-lekat, menembus kedalaman matanya.
"Ibu tahu kamu masih menyimpan trauma dan luka mendalam soal Elena.
Tapi sepuluh tahun sudah sangat cukup untuk meratapi masa lalu, Gibran!
Ibu tidak mau memejamkan mata selamanya sebelum melihatmu memiliki pendamping hidup yang layak.
Ibu sudah memilihkan satu yang paling tepat.
Namanya Anindita."
Ibu Ratna menggeser salah satu foto ke arah Gibran.
"Dia dokter spesialis bedah tulang, putri dari rekan kerja almarhum ayahmu di Kementerian Pertahanan.
Anindita itu wanita dewasa, tenang, berkelas, dan paham betul kerasnya duniamu."
Gibran menatap foto wanita bernama Anindita tersebut.
Parasnya cantik, elegan, dan memancarkan kesan yang amat teratur kebalikan mutlak dari Ziva yang berisik, liar, impulsif, dan berani membantah setiap perintahnya.
"Gibran tidak bisa, Bu," tolak Gibran rendah.
"Ibu tidak menerima penolakan kali ini, Gibran!" tegas Ibu Ratna tanpa kompromi.
"Minggu depan, kita akan mengadakan makan malam keluarga bersama keluarganya.
Pakai seragam kebesaranmu, dan bersikaplah seperti pria dewasa yang siap membangun rumah tangga.
Jika kamu menolak, Ibu akan menganggap kamu benar-benar sudah ikut mati bersama kenangan sepuluh tahun lalu."
Malam perjodohan itu akhirnya tiba di sebuah restoran eksklusif berbintang lima di kawasan Jakarta Pusat.
Gibran hadir mengenakan Pakaian Dinas Upacara (PDU), tampak teramat gagah dan berwibawa, meski sorot matanya redup dan kosong.
Anindita memang sosok wanita yang sempurna sesuai standar norma.
Tutur katanya lembut, wawasannya luas, dan ia tidak menunjukkan gelagat kegatelan atau provokatif sedikit pun.
Ia adalah cerminan pendamping prajurit yang ideal.
Namun, di tengah pembicaraan formal tentang investasi dan kebijakan kesehatan publik, sudut mata Gibran secara tidak sengaja menangkap sosok yang sangat ia kenali di area ruang makan terbuka.
Ziva.
Gadis itu tidak lagi mengenakan mini skirt, jaket kulit, atau pakaian kurang bahan seperti biasanya.
Ziva tampil memesona dalam balutan blazer formal berwarna cream yang dipadukan dengan celana bahan berpotongan elegan.
Rambut panjangnya dicepol rapi di belakang kepala.
Ia sedang duduk di meja panjang bersama sekelompok mahasiswa hukum dan dosen muda yang tampak sedang merayakan keberhasilan sidang skripsi.
Ziva terlihat jauh lebih dewasa, lebih anggun, dan... terasa begitu jauh dari jangkauannya.
Gibran memperhatikan bagaimana Ziva tertawa renyah menanggapi ucapan seorang pria muda di sampingnya seorang pria sebaya bernampilan rapi yang tampak begitu perhatian, telaten menuangkan air minum ke gelas Ziva.
Tawa jernih itu... tawa yang dulu selalu ditunjukkan Ziva untuk menggoda dan meruntuhkan ketegangannya, kini diberikan secara cuma-cuma kepada pria lain.
Dada Gibran mendadak terasa sesak luar biasa, seolah udara di restoran itu mendadak menguap habis.
Tanpa sadar, jemari kekarnya mengepal erat di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih.
"Mas Gibran?
Anda baik-baik saja?" tanya Anindita lembut, menyadari perubahan raut wajah dan kegelisahan pria di hadapannya.
"Maaf, saya perlu udara segar sebentar," potong Gibran cepat.
Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, pria itu berdiri dan melangkah meninggalkan meja makan.
Gibran berjalan cepat menuju area lorong remang dekat balkon restoran.
Namun, langkah tegapnya terhenti seketika saat ia berpapasan langsung dengan Ziva yang baru saja keluar dari area ruang rias.
Keduanya membeku di koridor yang sunyi.
Ziva menatap seragam kebesaran yang melekat di tubuh Gibran, lalu mengalihkan pandangannya sekilas ke arah meja tempat Gibran duduk bersama Ibu Ratna dan Anindita.
Sebuah senyuman tipis senyuman tenang yang memancarkan rasa sakit yang telah mengering terukir di bibir manis Ziva.
"Selamat malam, Letnan Jenderal," sapa Ziva.
Suaranya tidak lagi dihiasi nada manja atau godaan "cegil".
Nada suaranya teratur, sopan, dan amat formal layaknya seorang warga biasa yang menyapa perwira tinggi.
"Kelihatannya makan malam Anda sangat penting.
Calon istri yang sangat cantik dan serasi."
Gibran menatap Ziva dengan raut wajah yang amat sulit diartikan.
"Ziva... bagaimana kabarmu?"
"Sangat baik, Om," jawab Ziva tenang, menatap lurus ke dalam manik mata Gibran tanpa ada kegentaran.
"Sangat baik sejak saya sadar... kalau mengejar gunung es itu cuma bikin tubuh dan hati saya kedinginan tanpa hasil.
Papa bilang Om akan segera dijodohkan.
Saya ikut senang akhirnya Om menemukan seseorang yang 'pantas', sepadan, dan tidak 'kekanak-kanakan' seperti saya."
"Ziva, ini... ini adalah perintah dari ibu saya," Gibran berusaha membela diri sebuah tindakan langka yang hampir tak pernah ia lakukan sepanjang hidupnya.
"Om selalu punya alasan yang rapi, kan?" Ziva tersenyum getir, melangkah satu tahap lebih dekat.
Aroma parfum vanilanya yang lembut masih sama, namun aura di sekelilingnya telah berubah total.
"Perintah negara, perintah Papa saya, dan sekarang perintah Ibu Om.
Kapan Om pernah melakukan sesuatu murni karena keinginan hati Om sendiri?"
Ziva menatap seragam Gibran untuk terakhir kalinya.
"Selamat menempuh hidup baru, Om Gibran.
Semoga dokter cantik itu bisa menyembuhkan luka masa lalu Om... luka yang bahkan tidak pernah diizinkan untuk saya sentuh."
Tanpa menunggu balasan, Ziva melangkah pergi melewati Gibran begitu saja.
Tidak ada lagi tarikan manja di kerah seragamnya, tidak ada lagi bisikan nakal, dan tidak ada lagi tatapan penuh obsesi.
Gibran berdiri terpaku bagai patung di tengah koridor yang dingin.
Dari kejauhan, ia menyaksikan Ziva kembali ke mejanya, dan pria muda di sana dengan sigap berdiri untuk menarikkan kursi bagi Ziva dengan penuh rasa kasih sayang.
Malam itu, di tengah rencana perjodohan sempurna yang dirancang untuknya, Letnan Jenderal Gibran Mahendra akhirnya menyadari satu kenyataan yang amat menyiksa: Ia baru saja mendapatkan ketenangan dan kepatuhan yang selama ini ia tuntut, namun ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang sanggup membuatnya merasa benar-benar hidup.