Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.
Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.
Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.
Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.
Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.
Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.
Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
PIETRA PETROVSKY
Setelah menghabiskan kopiku, aku duduk memandang ke luar jendela. Langit terlalu cerah untuk musim dingin Rusia. Langit kelabu, tapi jalanan ramai, seolah kota ini mengundangku keluar dari kepompong yang kubuat untuk diriku sendiri.
Kuputuskan menerima undangan itu.
Kukenakan sesuatu yang sederhana namun elegan. Mantel gelap, celana berpotongan rapi, bot yang nyaman. Tak ada yang mencolok. Tak ada yang rapuh. Aku tak ingin tampak tersesat... ataupun mudah didekati.
Aku keluar tanpa tujuan pasti.
Aku menyusuri jalan-jalan lebar, mengamati gedung-gedung tua yang berbaur dengan bangunan modern, etalase sederhana, dan kafe-kafe yang tersembunyi di sudut jalan.
Moskow punya keindahan yang keras, membisu, yang tak butuh izin untuk sekadar ada.
Aku masuk ke beberapa toko, lebih untuk mengamati ketimbang membeli. Toko buku, butik sederhana, sebuah toko kain. Aku senang merasa sedang mempelajari irama kota ini, sekalipun tak memahami semua katanya.
Saat itulah aku memutuskan singgah di sebuah kafe yang elegan, tapi tak berlebihan. Tempat yang dikunjungi orang-orang berpakaian rapi, percakapan bernada rendah, laptop-laptop di atas meja.
Aku duduk di dekat jendela.
Kupesan kopi pekat dan membuka laptopku, sekadar berpura-pura berkonsentrasi sambil mengamati lalu lalang di jalan. Saat itulah aku merasakannya.
Sebuah kehadiran.
Seseorang berhenti di sisiku.
"Meja ini ada yang menempati?"
Aku mengangkat pandangan.
Dan dunia seakan menyesuaikan fokusnya.
Pria itu tinggi, berpakaian sempurna, dengan mantel yang terlalu mahal untuk luput dari perhatian. Wajahnya serius, garis-garisnya tegas, matanya biru muda, dingin, dan penuh perhitungan.
Tak ada rasa ingin tahu di sana. Hanya kepastian.
"Ada," jawabku sambil menutup laptop. "Tapi silakan cari meja lain."
Ia mengangkat sebelah alis, jelas tak terbiasa ditolak.
"Aku tidak biasa mendengar kata 'tidak'."
"Kubayangkan begitu," sahutku, kembali mengalihkan perhatian ke kopiku.
Itu tampaknya menghiburnya... tepat selama dua detik.
"Kau bukan orang sini," katanya, menelisik logatku. "Turis?"
"Bukan," jawabku tenang. "Penduduk."
"Kalau begitu kau harus belajar bagaimana segalanya bekerja di sini," ucapnya dengan senyum sombong yang samar. "Tempat-tempat tertentu menuntut sebuah... standar."
Kutatap ia perlahan.
"Dan kau petugas pengawasnya?"
Senyumnya pudar.
"Aku seseorang yang bisa mengenali ketika seorang manusia berada di luar lingkungannya."
Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan sesuatu yang lama bergolak dalam diriku. Rasa takut? Bukan. Amarah yang kutahan.
"Lucu," balasku. "Kau tampak persis seperti tipe pria yang mengira uang itu sama dengan wewenang... dan kesombongan itu sama dengan kekuasaan."
Tatapannya menggelap.
"Hati-hati dengan caramu bicara padaku."
Aku tersenyum. Senyum pendek. Dingin.
"Atau apa?" tanyaku. "Kau akan menyuruh orang mengusirku dari kafe ini? Atau kau lebih suka menjelaskan bagaimana seharusnya perempuan 'selevel diriku' bersikap?"
Ia sedikit mencondongkan tubuh, suaranya merendah.
"Perempuan sepertimu biasanya menipu diri sendiri, mengira mereka pantas berada di tempat yang tak pernah diciptakan untuk mereka."
Saat itulah aku berdiri.
Tanpa terburu-buru. Tanpa teriakan.
"Dengar baik-baik," ucapku, menatap lurus ke matanya. "Aku tidak tahu kau pikir kau ini siapa. Tapi aku tahu persis siapa diriku. Dan aku tidak butuh persetujuanmu, uangmu, atau tempatmu untuk sekadar ada."
Ia membuka mulut hendak menjawab, tapi aku meneruskan.
"Pria sepertimu biasanya mengira dunia ini papan catur... sampai mereka sadar tidak semua bidak mau digerakkan."
Keheningan di sekeliling terasa terlalu berat.
Kuambil tasku, kulemparkan satu pandangan terakhir. Tegas, tak tergoyahkan.
"Nikmati kopimu," kataku menutup. "Jelas kau butuh menelan sesuatu selain egomu sendiri."
Lalu aku pergi.
Baru ketika pintu tertutup di belakangku, kusadari tanganku sedikit gemetar. Bukan karena takut.
Karena adrenalin.